Nitisemito, Taipan Pertama dalam Bisnis Rokok Kretek di Indonesia

Jumat, 29 Oktober 2021, 14:55 WIB
37

Kalangan perokok di Indonesia pasti tak asing lagi dengan istilah kretek. Meski terkesan old school, sampai sekarang eksistensinya masih tercium harum seperti aroma asapnya. Bahkan pada era modern, cukup banyak generasi muda yang mau mendedikasikan diri sebagai penikmat setia rokok kretek.

Berbicara mengenai rokok kretek, kurang lengkap rasanya bila kita tidak membahas sisi sejarahnya. Rokok jenis ini bisa ada hingga kini salah satunya dipengaruhi peran serta pria bernama Nitisemito. Beliau merupakan pengusaha rokok kretek kala Indonesia masih berada dalam periode penjajahan pemerintah kolonial Belanda. Merek dagang rokok kretek milik Nitisemito, Bal Tiga, dahulu benar-benar mendulang sukses besar lantaran mampu merajai pasaran.

Power of Thor Megaways

Sebelum melangkah jauh membedah rekam jejak Nitisemito, ada baiknya kita mengulas terlebih dahulu “apa itu rokok kretek?”. Secara sederhana dapat kita simpulkan bahwa rokok kretek merupakn rokok yang berisi campuran tembakau kering dan saus cengkih. Ketika dihisap, rokok akan mengeluarkan bunyi seperti ‘kretek-kretek’, sehingga rokok ini akhirnya dinamai rokok kretek.

Bahan dasar pembuatan rokok kretek semuanya alami. Tembakaunya asli, bukan tembakau buatan; cengkihnya pun demikian. Proses produksinya juga dibuat tanpa kehadiran bantuan mesin. Mulai dari proses peracikan, sampai tahap pelintingan, segalanya dilakukan langsung menggunakan tangan buruh rokok.

Kalau sejarah penemuan pertama kali, rokok kretek konon diciptakan oleh Haji Djamari, pria yang hidup sekitar akhir abad ke-19. Djamari yang asli warga Kudus, Jawa Tengah, memang seorang perokok aktif. Dia selalu membuat rokoknya sendiri dengan cara tingwe alias linting dewe (melintingnya sendiri).

Suatu hari, Djamari merasakan bagian dadanya terasa amat sesak. Berbekal pengetahuan tradisional, Djamari mengoleskan minyak cengkih ke bagian dadanya. Betapa terkejutnya Djamari, tiba-tiba sesak di dadanya agak mereda berkat olesan minyak cengkih.

Entah bagaimana proses dan alasannya, Djamari kemudian kepikiran untuk membuat inovasi dalam kegemarannya merokok. Tembakau kering yang biasa dilinting tanpa campuran bahan lain, ditambahkan Djamari dengan rajangan cengkih. Djamari mendapati rasa rokok campuran tembakau kering dan cengkih cukup enak.

Chronicles of Olympus X Up

Suka serta cocok terhadap cita rasa yang dihasilkan, Djamari jadi rutin memakai resep racikannya pada setiap batang rokok yang dihisap. Tanpa diduga, penyakit sesak dada yang belum sembuh total, sirna seketika setelah Djamari rutin merokok mengandalkan resep barunya. Djamari lantas menyebarkan resep rahasianya ke banyak orang dan kian terkenallah rokok kretek.

Begitulah penjelasan sederhana “apa itu rokok?” bersama “sejarah kelahirannya”. Sekarang, ayo kita masuk ke pembahasaan utama, menengok kegemilangan bisnis rokok kretek pimpinan Nitisemito pada masa silam. Penasaran bagaimana cerita lengkapnya? Simak ulasan Edisi Bonanza88 berikut!

 

Perjalanan Nitisemito Menjadi Pebisnis Rokok Kretek

Nitisemito awalnya mungkin tak pernah berpikir dirinya akan jadi pebisnis rokok kretek yang sukses besar. Sebelum menemui takdirnya, Nitisemito hanyalah seorang pedagang daging. Dia juga memiliki profesi sampingan sebagai juru tulis bagi kepala desa di tempat tinggalnya di daerah Kudus sana.

Karier Nitisemito bisa berjalan beriringan dalam dua jalur tersebut karena faktor latar belakang orang tuanya. Ayahnya menjabat posisi lurah, sehingga wajar jika Nitisemito memiliki kesempatan bekerja membantu kepala desa. Tapi passion Nitisemito sebenarnya tertuju ke ranah dagang, alasan yang membuatnya berjualan daging.

Otak dagang Nitisemito cukup encer. Pada tahun 1910, ia melihat peluang bisnis di sektor rokok. Awalnya Nitisemito hanya iseng melinting beberapa rokok kretek dan menjual ke orang-orang terdekatnya. Lama-kelamaan, peminat rokok buatan Nitisemito kian banyak. Nitisemito pun berinisiatif memperbanyak produksi rokoknya.

Nitisemito meminta bantuan para pengerajin rokok di desa-desa untuk membantunya dan tentu akan diberi upah. Kebutuhan akan meningkatkan jumlah produksi mampu terpenuhi, tapi Nitisemito belum puas seutuhnya. Nitisemito merasa rokok dagangannya tidak selalu menghasilkan kualitas terbaik akibat proses pembuatannya terpencar-pencar tanpa komando satu arah darinya.

Pelan-pelan, Nitisemito mengumpulkan keuntungan penjualan untuk modal membangun pabrik sendiri. Lokasi pabrik rokok kretek milik Nitisemito ada di Jati, Kudus. Setelah punya pabrik, target Nitisemito yang ingin menjaga kualitas setiap batang rokok dagangannya dapat terjawab baik.

Mengusung merek Bal Tiga, rokok kretek Nitisemito tak pernah sepi peminat. Puncaknya ketika pabrik Nitisemito selalu membuat rokok kretek dengan rata-rata jumlah 8 juta batang per harinya. Tahun 1934, Nitisemito tercatat mampu memperkerjakan 10 ribu orang buruh yang membantu memenuhi tingginya tuntutan jumlah produksi. Tingkat penjualannya yang fantastis menandakan bisnis rokok kretek Nitisemito meraih kesuksesan besar.

Kegemilangan Bal Tiga menguasai pasar sebenarnya didukung oleh kecerdasan strategi bisnis Nitisemito. Beliau menjalan konsep marketing yang efektif pada zamannya. Bahkan ia rela mengeluarkan modal besar hanya demi menjalankan teknik pemasaran.

Nitisemito menyewa beberapa pesawat terbang Fokker baling-baling. Biaya menyewa pesawat Fokker jelas tidak murah. Semua pesawat yang disewa nantinya diminta menerjunkan selebaran kertas dari udara ke daratan yang isinya promosi rokok kretek Bal Tiga.

Strategi marketing turut menjalar melalui sarana media massa radio. Kebetulan, Nitisemito memang memiliki stasiun radio sendiri, yakni Radio Vereniging Koedoes (RVK). Siaran RVK disisipi iklan produk rokok kretek Bal Tiga berulang kali. Kala itu, radio merupakan satu-satunya media massa yang jadi pusat hiburan masyarakat. Alhasil, jumlah orang yang mendengarkan iklan Bal Tiga lewat radio amat banyak.

Sejatinya bukan hanya Nitisemito yang menjalankan bisnis rokok kretek. Ada sejumlah merek lain yang turut menekuni jalur bisnis serupa di Kudus, contohnya  Gunung Kedu, Tebu & Cengkeh, Trio, dan Tiga Kaki. Persaingannya cukup ketat, tapi Nitisemito tetap berjaya dan dianggap sebagai pionir yang membawa rokok kretek menjadi komoditas bisnis.

Ada satu lagi kehebatan bisnis rokok Bal Tiga garapan Nitisemito. Format modern dipakai Nitisemito dalam beberapa kebijakan manajemen bisnis. Nitisemito mengadaptasi pola bisnis orang-orang Eropa, setidaknya bagi sistem pembukuan dan administrasi perusahaan Bal tiga.

 

Rintangan Bertubi Menghadang

Bisnis rokok kretek Nitisemito memang sukses besar. Setidaknya dalam periode 1922 sampai 1940, kekayaan Nitisemito meroket berkat kejayaan Bal Tiga. Meski demikian, keberlangsungan operasional bisnis Bal Tiga tetap tidak lepas dari rintangan dan cobaan.

Tahun 1936, pabrik rokok kretek Nitisemito mendapat kunjungan spesial dari Sri Susuhunan Pakubuwana X, Kesunanan Surakarta. Harusnya Nitisemito benar-benar bangga atas momen tersebut. Tapi ternyata kunjungan tadi membuat pabrik rokok Bal Tiga dikenai kebijakan baru, yakni bertambahnya beban pajak.

Padahal kondisi bisnis rokok kretek Nitisemito sedang lumayan terhimpit, walau sedang jaya-jayanya. Ancaman sesama pebisnis rokok yang turut mendapat banyak pembeli, jelas menganggu potensi keuntungan Bal Tiga. Belum lagi ada sederet orang keturunan Tionghoa yang mulai terjun merambah bisnis rokok kretek, Nitisemito kian punya banyak pesaing.

Terdesak urusan pajak seperti menghantui Bal Tiga terus-menerus. Pasca beban pajak naik, Bal Tiga malah terseret kasus penggelapan pajak. Tahun 1939 terungkap bahwa Nitisemito melakukan penggelapan pajak yang lumayan fantastis jumlahnya.

Sempat ada isu kalau Bal Tiga bakal ditutup pemerintah akibat kasus penggelapan pajak tadi. Namun kebijakan penutupan perusahaan diurungkan karena bisa menimbulkan dampak buruk serius. Maklum, karyawan yang bernaung di Bal Tiga amat banyak. Jika perusahaan Bal Tiga dicabut izin operasionalnya, pemerintah pasti kebingungan menanggulangi jumlah pengangguran yang melonjak.

Memasuki era perang pasifik, bisnis rokok kretek Nitisemito tidak mengalmi kemajuan. Situasinya kian miris saat penjajahan di Indonesia berganti dari Belanda ke Jepang. Perusahaan Bal Tiga setengah hidup.

Beruntungnya, Nitisemito punya bisnis di sektor lain. Ia punya bisnis properti dengan menyewakan rumah. Alhasil, pemasukan untuk keperluan pribadinya tetap lebih dari cukup dipenuhi Nitisemito.

Kondisi sulit terus menggerogoti Bal Tiga seiring berganti-gantinya kependudukan penjajah di Indonesia. Jepang menyerah dalam Perang Dunia II, Belanda masuk lagi melancarkan agresi militer. Ketidakstabilan situasi politik dan keamanan negara amat berpengaruh terhadap kinerja bisnis rokok kretek Bal Tiga.

Ketika Belanda sudah sepenuhnya angkat kaki meninggalkan Tanah Air, bisnis rokok kretek milik Nitisemito terlanjur lesu. Terlebih, Nitisemito sudah kian menua, tak punya banyak inovasi brilian yang dapat membangkitkan situasi perusahaan Bal Tiga. Memang Bal Tiga masih bisa berjualan, tapi jumlah produksinya sangat sedikit (dipengaruhi pula oleh langkanya cengkih).

Lama-kelamaan, bisnis rokok kretek Nitisemito tak kuat menahan ujian bertubi. Bal Tiga akhirnya jatuh dalam bencana kebangkrutan. Pada saat yang bersamaan, industri rokok Kudus dihiasi wajah baru bernama Djarum, yang sampai sekarang masih menguasai pasar.

Kiprah Nitisemito sebagai juragan rokok kretek memang akhirnya menemui kegagalan. Tapi dia sempat sekian tahun mencapai kejayaan sejati lewat rokok kretek merek Bal Tiga. Nitisemito juga selalu diabadikan sebagai salah satu Raja Rokok Kretek di Indonesia.

Nitisemito sendiri wafat pada 1953. Dia menghembuskan nafas terakhir meninggalkan warisan manis bahwa rokok kretek dapat dijadikan komoditas bisnis yang laku keras. Tanpa jasa Nitisemito, mungkin sekarang penikmat rokok tak bisa bebas membeli dan menghisap rokok kretek. Terima kasih Nitisemito!