Olahraga Skateboarding dan Jejaknya di Indonesia

Jumat, 31 Desember 2021, 10:55 WIB
49

Edisi Bonanza88, Jakarta – Jauh sebelum kegiatan berselancar dominan dilakukan di dunia maya seperti sekarang, praktiknya lebih dulu mahsyur diterapkan memakai papan. Ya, skateboarding, sebuah olahraga asal Amerika Serikat ini selalu menampilkan kelincahan para pelakunya yang lihai berseluncur di atas papan skateboard. Aksi mereka ‘mengendarai’ papan tampak makin mempesona karena kerap ditunjang dengan menghadirkan trik-trik menawan.

Indonesia termasuk negara yang sudah lama terpapar jenis olahraga ini. Globalisasi budaya mempengaruhi momen masuknya skateboarding ke Tanah Air. Menurut Boby Angthino, penulis jurnal Jogja Skatepark, titik mula skateboarding menjamah Indonesia terjadi pada era 1980-an silam. Kala masa-masa perintisan, skateboarding cenderung digemari oleh kalangan anak muda dari kota-kota besar.

Seiring berjalannya waktu, anak muda yang menggemari skateboarding jumlahnya mengalami peningkatan. Faktor globalisasi budaya lagi-lagi jadi pemicu utamanya. Pamor skateboarding diperluas oleh sarana majalah atau kaset-kaset impor yang memperlihatkan fenomena demam skateboarding di luar negeri. Tren bermain skateboarding pun akhirnya coba ditiru oleh para remaja Indonesia.

Meski peminatnya bertambah, kadarnya belum sampai ke titik masif. Skateboarding masih lekat dengan stigma sebagai olahraga ekslusif untuk kalangan tertentu saja. Maklum, zaman itu ketersediaan akses informasi masyarakat serba terbatas. Hanya mereka anak-anak muda berkantong tebal yang bisa menggelutinya.

Ketersediaan informasi perihal skateboarding cuma bisa dijangkau kalangan anak muda yang pernah pergi ke luar negeri. Saat kembali ke Indonesia, mereka membawa majalah ataupun kaset video yang berisi tentang penjelasan teknik skateboarding. Artinya, skateboarding untuk sampai bisa ditekuni hanya dilakukan remaja dengan taraf ekonomi menengah ke atas, bersama lingkungan pertemanannya yang umumnya juga diisi remaja-remaja tajir.

Bahkan bukan sektor ketersediaan informasi saja yang jadi batu penghalang meluasnya demam skateboarding di Tanah Air. Kondisi agar seseorang bisa mempunyai papan skateboard turut mencuat sebagai hal ekslusif. Belum ada produsen atau toko lokal yang menjual papan skateboard. Alhasil, memilikinya perlu membeli dari luar negeri, biasanya memanfaatkan ‘jastip’ dan pastinya secara harga amatlah mahal.

Memasuki periode 1990-an, kondisi yang serba ekslusif perlahan-lahan mampu beranjak ke kondisi lebih cair. Penandanya adalah mulai ramai bermunculan toko-toko lokal yang menjual beragam alat skateboarding. Meski harus diakui, hampir semua toko skateshop yang ada kala itu statusnya tidak memiliki lisensi sah atau izin resmi.

Ini Jadwal Pertandingan Skateboarding Olimpiade 2020 | LAzone.id

City Surf merupakan salah satu toko yang punya pengaruh kuat atas perkembangan skateboarding di Indonesia. Toko yang dimiliki seorang WNA bernama Craig Huddleston ini memberikan pengaruh yang lumayan signifikan. Banyak anak muda menjadikan City Surf sebagai kiblatnya demam skateboarding Tanah Air.

Bagaimana tidak, dua tahun pasca pertama kali berdiri, City Surf dengan berani mengadakan kompetisi skateboarding. Pada 1998, City Surf menggelar total 14 buah kompetisi yang mendapatkan animo tinggi dari anak-anak muda pecinta olahraga skateboarding. Setiap lomba rancangan City Surf mempertandingkan dua nomor berbeda, yakni street course dan mini ramp.

Awalnya memang kompetisi yang dibuat City Surf belum terlalu ramai peminat. Namun berkat konsistensi City Surf yang mau rutin membuatkan kompetisi, para pecinta skateboarding Tanah Air perlahan kian antusias. Mereka merasa ada tempat yang mewadahi kegemaran mereka, sehingga jumlah pegiat olahraga skateboarding lama-lama juga bertambah banyak.

Meningkatnya pertumbuhan jumlah pegiat skateboarding, memberikan semangat bagi City Surf untuk terus menggelar kompetisi. Pasca edisi pertama tahun 1998, City Surf kembali menyapa kembali pecinta skateboarding Tanah Air dengan kompetisi serupa dalam dua tahun beruntun, 1999 dan 2000. Kompetisi di dua tahun itu selalu City Surf namai “City Surf Open Skateboard Competition” dan bertempat di Pulo Mas, Jakarta Timur, sebagai venue lomba.

City Surf mendapati edisi lomba 1999 dan 2000 berjalan begitu sukses. Para pecinta skateboard lantas menantang City Surf agar mau menyelenggarakan wadah serupa di kota-kota di luar Jakarta. Tantangan diterima. Pada 2001, City Surf melebarkan sayap kompetisi menuju kota-kota besar lainnya, seperti Bandung dan Surabaya.

Animo yang diperlihatkan publik terhadap geliat City Surf memang tinggi. Tapi City Surf mendeteksi adanya kesenjangan antara jumlah penonton dan jumlah peserta. Penonton yang datang ke venue lomba bisa sangat banyak, beda dengan peserta yang terkesan itu-itu lagi. City Surf ternyata menyadari permasalahan utamanya; ada banyak orang yang mulai menyukai skateboarding, namun belum benar-benar lihai memainkannya, apalagi sampai mengikuti lomba.

Melihat kondisi yang demikian, City Surf berniat untuk memberikan pendekatan yang lebih jauh dalam mempopulerkan olahraga skateboarding. City Surf tahu betul, bila ke depannya semakin masif orang-orang yang bermain skateboard, itu akan membantu perkembangan bisnis mereka sendiri. Memasuki tahun 2002, City Surf memilih mengadakan lebih banyak lomba demi menunjang upaya mewujudkan misinya.

Khusus di Jakarta, City Surf memakai Kemang Skatepark sebagai venue lomba, yang merupakan skatepark permanen pertama di Jakarta. Pemilihan lokasi yang merupakan fasilitas umum bertujuan agar acara lomba bisa didatangi siapa saja sekaligus membuat skateboarding lebih memasyarakatkan diri. Intinya, City Surf berharap lebih banyak lagi orang yang mau mengikuti lomba demi berkembangnya skena skateboarding Indonesia.

Upaya City Surf makin serius lewat kebijakan mereka menambah kelas-kelas yang dipertandingkan dalam lomba. Tahun-tahun sebelumnya, City Surf hanya melombakan mereka para pecinta skateboard yang sudah lihai. Namun pada tahun 2002, City Surf secara khusus menambahtiga kelas baru, yakni kelas Pemula, kelas Amatir, dan kelas Menengah.

Chatib Basri, Mantan Menteri Keuangan yang Jadi Saksi Sejarah

The Captain - M. Chatib Basri, Menteri Keuangan Republik Indonesia - 103.8  FM Brava Radio

Penjelasan Boby Angthino dalam jurnal karyanya yang berjudul Jogja Skatepark, mengatakan bahwa skateboarding pertama kali masuk ke Indonesia pada era 1980-an. Namun ada saksi sejarah lain yang merasakan langsung kalau sebenarnya skateboarding sudah ada di Tanah Air sebelum masa itu. Saksi sejarah yang kami maksud ialah mantan Menteri Keuangan RI, Chatib Basri.

Kala masih anak-anak, Chatib punya teman bermain yang bernama Didi. Pada periode 1970-an, Chatib diperkenalkan Didi dengan olahraga skateboarding. Didi pun lantas mengajak Chatib untuk bermain dan belajar bersama agar lincah berseluncur di atas papan skateboard.

“Didi bercerita bagaimana awal olahraga skateboard mulai di Indonesia pada pertengahan hingga akhir 70an,” katanya seperti yang tertuang dalam unggahan akun Instagram @chatibbasri.

“Kita mulai dari iseng-iseng, mulai belajar bagaimana cara bermain yang benar,” imbuhnya.

Rutin berlatih, membuat kemampuan Chatib mengendarai papan skateboard makin terasah. Begitu pula Didi yang disebut Chatib punya kemampuan lebih baik darinya. Mereka berdua lantas memberanikan diri unjuk gigi ke komunitas pecinta skateboarding lainnya dengan menampilkan beberapa trik.

Bahkan Chatib mengaku pernah mengikuti perlombaan resmi. Ia dan Didi beberapa kali keluar sebagai pemenang kompetisi. Chatib merasa dirinya sangat beruntung bisa menjadi saksi sejarah dan menekuni langsung kala skateboarding awal-awal masuk ke Indonesia.

Namun, kesukaan Chatib terhadap skateboarding tidak berlangsung lama. Punya minat di bidang lain, Chatib akhirnya memilih ‘gantung papan’ pada era 1980-an. Walau demikian, Chatib tetap menghargai masa lalunya di ranah skateboarding sebagai kenangan terindah masa kecil.

“Kami pun mulai ikut lomba dan memenangkan kejuaraan,” ujar Dede, sapaan akrab Chatib.

“Saya gantung papan di awal 1980-an. Didi terus sebagai skateboarder. Saya tidak seberani, setekun, seberbakat, dan sehebat Didi, ” tuturnya.

Atlet Skateboard Indonesia Siap Taklukan Jepang di Asian Games 2018

Seperti kata Chatib, Didi terus melanjutkan hobi menekuni olahraga skateboarding. Nama Didi bahkan sekarang dikenal sebagai pengamat olahraga skateboard yang beberapa kali kerap diwawancarai media-media ternama Indonesia. Didi kerap menyuarakan dengan lantang agar pemerintah mau memperhatikan nasib para atlet skateboard Indonesia.

Didi menekankan tentang peran atlet skateboard dalam mengharumkan nama bangsa. Paling mencolok tentunya dalam ajang Asian Games 2018 lalu yang mana atlet Indonesia berhasil menyumbangkan total empat medali, dua perak dan dua perunggu. Tapi menurut Didi, kepedulian pemerintah akan nasib perkembangan olahraga skateboarding di Indonesia masih sangat minim.

”Indonesia dari segi prestasi sebenarnya bukan hanya di Asian Games kemarin (2018). Tapi, kami dari tahun 1995 sudah kirim atlet ke luar negeri. Ikut kompetisi XGames dan beberapa kompetisi internasional,” ungkap pemerhati skateboard, Didi Arifin.

“Kita nggak punya (sarana memadai) saja masih bisa berprestasi. Sayangnya juga pengurus dari olahraga ini tidak memperhatikan hal ini. Saat Asian Games baru sibuk. Sudah dekat event baru cari-cari atlet. Harusnya nggak begitu,” tegasnya.

BERITA TERKAIT