Pakubuwono X: Pemimpin Kesunanan Surakarta Nan Visioner yang Jadi Pemilik Mobil Pertama di Indonesia

Minggu, 02 Januari 2022, 02:40 WIB
52

Kesunanan Surakarta mungkin sangat berbangga pernah dipimpin Sri Susuhunan Pakubuwono X. Memimpin sejak 1893 sampai 1939 (terlama sepanjang sejarah kerajaan), kebijaksanaan Pakubuwono X mampu mengantarkan Kesunanan Surakarta kepada puncak kejayaan. Hampir seluruh periode kepemimpinan Pakubuwono X, situasi di Kesunanan Surakarta sungguh sejahtera.

Pakubuwono X punya visi yang brilian dalam memakmurkan kerajaannya. Terbukti dengan citra Kesunanan Surakarta di tangannya yang begitu diselimuti kemegahan tradisi dan budaya. Bahkan Pakubuwono X mampu menyulap suasana perpolitikan internal kerajaan menjadi sangat stabil, terbebas dari konflik yang berpotensi menimbulkan perpecahan.

Selaku kaum bangsawan, Pakubuwono X memang lekat akan unsur elegan dan kemewahan. Bagaimana tidak, sejarah mencatat bahwa Pakubuwono X merupakan orang Indonesia pertama yang memiliki mobil. Meski demikian, Pakubuwono X sama sekali tidak lupa akan kewajibannya kepada masyarakat yang dipimpinnya.

Kinerja Pakubuwono X dalam memerintah selalu mengutamakan kepentingan rakyat. Dia tak segan turun gunung untuk terlibat langsung ke pergerakan-pergerakan nasional. Campur tangannya diketahui terlibat aktif di organisasi perjuangan Boedi Oetomo. Pakubuwono X mau mendedikasikan dirinya dengan sumbangsih berupa dukungan fasilitas, dana, maupun moral.

Belum berhenti di situ, Pakubuwono X juga selalu berusaha agar masyarakat di wilayah Surakarta mendapatkan akses pendidikan serta pembangunan terbaik. Pakubuwono X yakin visinya mensejahterakan rakyat bakal berdampak ke proses pembentukan jati diri bangsa. Pakubuwono X paham betul konsep, “rakyat yang makmur adalah tanda majunya sebuah negara”.

Berbekal rekam jejaknya tersebut, tak heran jika bangsa Indonesia amat menghargai jasa-jasa yang dahulu dilakukan Pakubuwono X. Pemerintah Indonesia pun resmi menganugerahkan gelar spesial bertajuk Pahlawan Nasional untuk Pakubuwono X pada 2011 lalu. Karya Pakubuwono X dianggap telah berperan secara signifikan menjadi salah satu tokoh yang mempelopori pembangunan sistem sosial dan ekonomi negara.

 

Kelahirannya Sempat Memicu Konflik Internal Kerajaan

Pakubuwono X lahir ke dunia pada 29 November 1866. Beliau aslinya terlahir dengan nama yang menggunakan bahasa Jawa, yakni Gusti Raden Mas Sayyidin Malikul Kusna. Ia merupakan anak kandung dari pemimpin Kesunanan Surakarta, Pakubuwono IX, hasil hubungan cinta dengan permaisuri kerajaan Kanjeng Raden Ayu Kustiyah.

Ada sebuah cerita menarik yang hadir sebelum momen Pakubuwono X lahir. Ayahnya, Pakubuwono IX, amat gembira mendengar kehamilan Kustiyah. Pakubuwono IX lantas bertanya kepada pujangga kerajaan, Ranggawarsita, tentang jenis kelamin bayi yang sedang dikandung Kustiyah.

Pakubuwono IX berharap mendapatkan anak laki-laki yang nantinya akan dijadikannya putra mahkota penerus kerajaan. Akan tetapi, Ranggawarsita justru meramalkan hal yang berbeda dari harapan sang raja. Ranggawarsita memprediksi kalau anak Pakubuwono IX dan Kustiyah nantinya bakal berjenis kelamin perempuan.

Mendengar ramalam Ranggawarsita, respon Pakubuwono IX langsung menunjukkan kegusaran. Pakubuwono IX bahkan tega menuding bahwa ramalan Ranggawarsita hanyalah hal yang mengada-ada. Sejak itu, hubungan harmonis antara Pakubuwono IX dan Ranggawarsita otomatis merenggang diselimuti konflik.

Enggan termakan emosi, Pakubuwono IX memilih memfokuskan diri berpuasa supaya keinginannya memiliki anak laki-laki dapat terkabul. Pakubuwono IX puasa berhari-hari sampai Kustiyah melahirkan. Jerih payah Pakubuwono IX tidak sia-sia. Terbukti kalau ramalan Ranggawarsita salah. Anak yang dilahirkan Kustiyah ternyata berjenis kelamin laki-laki, seusai dambaan Pakubuwono IX.

Pasca Kustiyah melahirkan, Ranggawarsita coba menjelaskan lebih merinci soal ramalannya yang meleset. Dia sebenarnya membeberkan hasil ramalannya dengan istilah “hayu”. Makna “hayu” sendiri ditafsirkan Pakubuwono IX dengan kata “ayu”, yang berarti cantik. Padahal, Ranggawarsita bermaksud menggunakan istilah “hayu” sebagai sebuah singkatan dari kata “rahayu” yang artinya “selamat”.

Bagaimana pun konflik yang mencuat antara Pakubuwono IX dan Ranggawarsita, Kesunanan Surakarta akhirnya benar-benar memiliki putra mahkota berkat lahirnya Pakubuwono X. Ketika masih berumur tiga tahun, Pakubuwono X resmi diberikan oleh ayahnya statu putra mahkota tadi. Pemberian status itu diiringi oleh munculnya gelar baru bagi Pakubuwono X kecil, yaitu Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Anom (KGPAA) Amangkunagara Sudibya Rajaputra Narendra ing Mataram VI.

 

Kepemimpinan Pakubuwono X yang Gencar Laksanakan Pembangunan

16 Maret 1893, jadi hari yang membuat Pakubuwono X begitu berduka. Tepat di tanggal itu, ayah tercintanya meninggal dunia, membuat Pakubuwono X begitu terpukul. Namun selaku putra mahkota, Pakubuwono X tidak boleh larut dalam duka. Dia tahu kalau dirinya harus terus tegar demi meneruskan takhta warisan ayahnya dan menjadi pemimpin baru Kesunanan Surakarta.

Pakubuwono X sendiri akhirnya resmi dilantik jadi raja bagi Kesunanan Surakarta pada 30 Maret 1893, atau dua minggu pasca ayahnya wafat. Begitu naik ke kursi kekuasaan tertinggi Kesunanan Surakarta, Pakubuwono X sadar akan besarnya tanggung jawab yang bersandar di pundaknya. Tanpa banyak membuang waktu, Pakubuwono X coba mengevaluasi kelemahan-kelemahan kerajaan, dan meningkatkan segala hal baik yang sudah ada.

Usai proses evaluasi, Pakubuwono X mengetahui kalau Kesunanan Surakarta butuh kebijakan-kebijakan yang mengobati trauma rakyat. Maklum, tak lama sebelum Pakubuwono X menjabat, rakyat Kesunanan Surakarta cukup lama sibuk berperang. Alhasil, Pakubuwono X berusaha agar menciptakan nuansa yang menjadikan kondisi emosional, sosial, dan ekonomi rakyatnya lebih stabil lagi.

Fokus pertama yang dibenahi Pakubuwono X menyangkut urusan pembangunan. Pakubuwono X yakin bahwa cakapnya tahap pembangunan bakal banyak membantu menjaga keseimbangan dan kestabilan penduduk Kesunanan Surakarta. Program pembangunan ini dikerucutkan Pakubuwono X ke dalam tiga sektor berbeda, yaitu kesehatan, perekonomian, dan pendidikan.

Perihal pembangunan kesehatan, Pakubuwono X merancang agenda pendirian fasilitas kesehatan yang memadahi. Kalau untuk mengembangkan perekonomian, Pakubuwono X memerintahkan hadirnya bank yang memudahkan rakyat pimpinannya mendapatkan kredit. Sementara mengenai pendidikan, Pakubuwono X menginstruksikan untuk membangun sejumlah gedung sekolah dan memperbanyak tenaga pengajar.

Tiga sektor pembangunan rampung dikerjakan, Pakubuwono X segera melanjutkan pembangunan-pembangunan di sektor lainnya. Pakubuwono X mulai menyentuh ranah transportasi. Dia membangun fasilitas-fasilitas yang memudahkan mobilitas masyarakat di area Surakarta, seperti Stasiun Solo Kota dan Stasiun Solo Jebres.

Kebutuhan pokok dan hiburan masyarakat turut masuk ke agenda pembangunan rancangan Pakubuwono X. Sebuah pasar yang diberi nama Pasar Gedhe Harjonagoro didirikan demi menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok masyarakat, sekaligus meningkatkan perputaran roda perekonomian. Pakubuwono X selanjutnya membangun Kebun Binatang Jurug, Stadion Sriwedari, dan Taman Balekambang, sebagai sarana hiburan rakyat.

Kesejahteraan sosial sangatlah diperhatikan Pakubuwono X selama memimpin Kesunanan Surakarta. Pakubuwono X mempedulikan nasib rakyat kecil yang kurang beruntung alias tunawisma dengan mendirikan sebuah rumah singgah. Tak lupa, Pakubuwono X memperhatikan keberagaman suku lewat pembangunan fasilitas rumah pembakaran jenazah yang diperuntukkan bagi rakyat beretnis Tionghoa.

 

Sisi Elegan Pakubuwono X

Jati diri Pakubuwono X selaku kaum bangsawan tetap tumbuh di masa kepemimpinannya. Meski rutin menjalankan program yang merakyat, Pakubuwono X setia akan hobinya dengan berbagai hal bernada elegan. Ini menjadi bagian dari privilege Pakubuwono X selaku penguasa monarki yang secara umum dekat dekat kemewahan.

Hobi bertema elegan yang paling mudah terlihat adalah gaya berpakaian Pakubuwono X. Berbagai kesempatan, terutama acara resmi kerajaan, Pakubuwono X berusaha memastikan diri untuk tampil mengenakan pakaian-pakaian mewah. Dia juga memperindah tampilannya dengan berbagai atribut khas kaum bangsawan Kesunanan Surakarta.

Mengingat program pembangunan Pakubuwono X berjalan sukses, kas Kesunanan Surakarta amat melimpah. Hal ini turut berdampak baik kepada tingkat kekayaan pribadi Pakubuwono X yang jumlahnya fantastis. Pakubuwono X menggunakan uang pribadinya untuk merenovasi gedung-gedung Kesunanan Surakarta agar tampil lebih elegan dan dipenuhi gaya arsitektur modern (di zamannya).

Bentuk sisi elegan Pakubuwono X yang amat sensasional berkenaan dengan sejarah otomotif di Indonesia. Pakubuwono X diketahui jadi orang Indonesia pertama yang bisa membeli mobil. Ia membeli mobil mewah bermerek Benz (mobil buatan Karl Benz) dari seorang ‘sales’ asing bernama John C Potter. Pakubuwono X mempercayakan segala keperluan proses pembelian mobilnya kepada Potter yang kini mahsyur sebagai sales mobil pertama di Indonesia.

Uang yang dikeluarkan Pakubuwono X guna membeli mobil tentu tidak sedikit. Harganya kira-kira mencapai angka 10.000 gulden, nominal yang sangat mahal kala itu. Mobil Benz kepunyaan Pakubuwono X juga jadi yang tercanggih di zamannya. Mobil tersebut dilengkapi fasilitas-fasilitas terbaik, seperti mesin satu silinder yang mampu menampung kapasitas dua liter, daya mesin sebesar lima kuda, roda kayu, ban tanpa udara, serta kursi yang bisa dinaiki total delapan orang penumpang.