Patson Daka, The Next Jamie Vardy untuk Leicester City

Minggu, 26 September 2021, 18:51 WIB
160

Pada 30 Juni 2021, tepat sehari sebelum bursa transfer musim panas 2021 dibuka, malam hari, pengumuman soal pemain anyar Leicester City. Sosok pemain itu berposisi sebagai penyerang, bernama Patson Daka.

Didatangkan dari RB Salzburg dengan mahar yang tidak murah, dana sebesar 30 juta euro digelontorkan The Foxes untuk memboyongnya. Berasal dari Zambia, Daka menjadi pemain keempat dari negara yang terletak di selatan Afrika itu yang berkarir di Liga Inggris.

Jauh di Zambia sana, Daka dikenal sebagai ikon atau wajah untuk regenerasi sepak bola. Banyak harapan yang ditempatkan ke bahunya yang salah satunya bermuara kepada kontribusi untuk tim nasional Zambia.

“Leicester City dengan senang hati mengumumkan perekrutan Patson Daka dari RB Salzburg dengan mahar sebesar 23 juta poundsterling atau 30 juta euro,” bunyi laporan dari Leicester Mercury pada akhir Juni 2021 kemarin.

Lantas siapakah Patson Daka itu? Dia merupakan pemain yang berhasil mempersembahkan titel Piala Afrika kategori junior perdana untuk Zambia pada 2012. Skuat berjuluk Chipolopolo ini menaklukkan Pantai Gading lewat babak adu penalti, saat itu, Daka masih sangat belia, baru 14 tahun.

Zambia sendiri merupakan negara yang sama carut-marutnya dengan Indonesia, mereka bahkan masih menanti kapan tiba saatnya untuk mentas di kompetisi tersohor sepak bola, yakni Piala Dunia.

Ranking Zambia sendiri di FIFA terus menurun dari tahun ke tahun. Pada tahun 2012 lalu, mereka menempati posisi ke-34, namun sejak 2020 sampai sekarang, mereka terdampar hingga ke posisi 85. Kini sepak bola negara yang terletak di selatan Afrika, diapit oleh negara-negara seperti Angola dan Mozambique itu, sedang disorot.

Tidak lain, tidak bukan, karena kemunculan sederet nama pemain muda berbakat. Selain Patson Daka, ada para pemain yang sekarang tampil di Eropa, yakni Enock Mwepu, Fashion Sakala dan Kings Kangwa.

Momen mempersembahkan titel Piala Afrika perdana, meski kategori junior pada tahun 2012 untuk Zambia, menjadi awal dari perjalanan karier penyerang anyar Leicester City itu. Bakat terpendam dalam dirinya awalnya dikenal lewat sebuah program pencarian bakat muda khusus di Zambia, bernama Airtel Rising Stars. Dia bahkan hanya tampil 10 menit saat latih tanding untuk meyakinkan para pencari bakat dan beberapa pelatih yang hadir.

“Program itu (Airtel Rising Stars), memberikan diriku kesempatan untuk bisa mewakili negara ini di level junior sepak bola dunia,” ucap Daka kepada BBC.

Berkat program tersebut pula, dirinya mulai jadi langganan untuk tim nasional Zambia junior di berbagai kompetisi. Bahkan pada saat usianya masih 16 tahun, dia sudah dan mendapatkan debut untuk tampil di timnas senior Zambia, pada tahun 2015. Berselang dua tahun dari debutnya, dia baru mendapatkan gol pertamanya, saat Zambia menghadapi Aljazair di pertandingan persahabatan.

Karena bakatnya dan karir junior yang mulai beranjak ke level senior itu, Daka langsung mendapat perhatian dari sederet klub top Eropa. Apalagi pada tahun 2017 lalu, dirinya semakin harum di kalangan klub-klub top Eropa usai tampil moncer bersama Zambia di Piala Afrika U-20. Dia kembali mempersembahkan titel juara untuk Zambia, selain itu dirinya juga menyabet penghargaan pemain terbaik dan juga pencetak gol terbanyak di Piala Afrika U-20 2017.

Langkah Pertama Patson Daka ke Sepak Bola Eropa

Diincar Banyak Klub Top, Patson Daka Pilih Leicester City

Sebuah agen manajemen pemain milik bintang Sevilla, Frederic Kanoute, bernama 12Management, menyadari bakat besar Daka. Tanpa basa basi, mereka langsung mengamankan tanda tangan dan sang penyerang yang saat itu berusia 19 tahun menjadi salah satu dari talenta 12Management. Agen pemain milik Kanoute ini pun bisa dibilang punya jasa besar untuk perjalanan karir Daka.

Jasa besar itu adalah menjembatani langkah Daka ke Eropa untuk pertama kalinya pada 2017, dengan kesepakatan pinjaman ke klub Austria, FC Liefering. Klub ini boleh dibilang seperti sister-club dari RB Salzburg. Kepindahan yang masih sebatas peminjaman ini dilakukan guna memberi waktu kepada Daka untuk beradaptasi dengan kompetisi kelas Eropa, sekaligus iklim ekstrem di Austria.

Pada musim pertamanya, yakni 2016/2017, Daka sempat dipanggil ke skuat akademik Salzburg yang sedang berada di fase akhir Liga Champions usia junior. Dia bermain di babak semifinal dan final dengan mencetak dua gol penting untuk membawa RB Salzburg menjuarai Liga Champions junior itu.

Dengan bakat yang sudah dipertontonkan bersama Liefering dan juga RB Salzburg muda, Daka pun langsung dikontrak permanen oleh RB Salzburg dari klub kota kelahirannya, Kafue Celtic. Waktu bermain regular mulai dia dapatkan pada musim 2019/2020 setelah Salzburg melepas Erling Braut Haaland ke Borussia Dortmund pada Januari 2020. Pelatih Salzburg saat itu, Jesse March pun meyakini bahwa penyerang berpostur 183 cm itu mampu menjadi mesin gol baru menggantikan Haaland yang pergi.

Benar saja, pada musim 2019/2020, meski baru rutin dimainkan pada Januari 2020, Daka mampu mencetak 24 gol dari total 31 penampilannya di Bundesliga Austria. Musim selanjutnya, 2020/2021, dirinya bahkan makin produktif dengan 27 gol dari 28 pertandingannya di Liga Austria. Yang membuat dirinya mencetak sebanyak 61 gol dari 87 pertandingan dalam dua musim terakhir bersama RB Salzburg senior.

Digadang-gadang Penerus Jamie Vardy di Leicester City

PATSON DAKA, JAMIE VARDY, LEICESTER CITY V MANCHESTER CITY, 2021 Stock  Photo - Alamy

Statistik mentereng itu makin membuat nama Patson Daka makin harum sebagai salah satu striker muda bermasa depan cerah di kalangan klub-klub top Eropa. Leicester City yang dikenal sebagai klub Liga Inggris yang senang dengan bakat-bakat muda dan ingin transfer jangka panjang, terus mendekati penyerang Zambia ini.

Bahkan sebelum akhirnya bergabung pada Juli 2021 kemarin, Patson Daka digadang-gadang bisa menjadi penerus jangka panjang Jamie Vardy di King Power Stadium, jika dirinya bisa beradaptasi dengan sepak bola Inggris.

Kedua pemain ini memang punya gaya permainan yang mirip. Daka terbiasa membuat lawan-lawannya bercucuran keringan karena kecepatan dribel yang dimiliki terutama di area pertahanan lawan. Saat waktu yang tepat, dia juga tidak segan-segan untuk ‘membunuh’ para lawannya dengan tendangan yang keseringan berakhir menjadi gol. Daka dan Vardy merupakan tipikal striker yang mampu mengedepankan fleksibilitas dan kecepatannya di kotak penalti, juga kreativitas yang sangat tinggi untuk seorang penyerang.

Mengutip dari pembahasan The Analyst, Vardy dan Daka sama-sama penyerang yang sangat aktif di kotak penalti lawan. Jika Daka memiliki persentase 19 persen sentuhan pada bola di Bundesliga Austria musim lalu, Vardy lebih tinggi dengan 23 persen dari total sentuhannya terdapat di kotak penalti. Persentase sebesar 19 dan 23 persen terbilang sangat tinggi jika dibandingkan di liga-liga Eropa.

Naluri tajam untuk mencari ruang tembak yang cepat serta tepat juga dimiliki oleh Vardy maupun Daka. Statistik menjelaskan xG per pertandingan milik Daka mencapai 1,11 hanya kalah dari rekan setimnya, Sekou Koita di Bundesliga Austria. Sementara Vardy jadi pemilik xG tertinggi di Liga Inggris musim 2020/2021 kemarin, yakni 0,63.

Angka xG milik Vardy perlu diinformasikan terbantu karena delapan gol penalti sepanjang musim kemarin. Sementara Daka hanya satu tendangan penalti, yang berarti tidak lain tidak bukan, dirinya seringkali menemukan ruang tembak dan mencatat peluang dari open play langsung. Sebuah naluri yang sangat tajam untuk seorang striker modern.

Naluri tajam Daka terbantu oleh kecerdikan, kemampuan fisik dan kecepatan yang dia miliki. Mirip dengan Vardy yang sangat sulit untuk diimbangi kecepatannya oleh para pemain lawan di barisan pertahanan. Punya striker-striker seperti Vardy atau Daka membuat sebuah tim dapat punya kualitas serangan balik di atas rata-rata. Daka, mencetak empat gol musim lalu dari serangan balik cepat untuk RB Salzburg.

“Kecepatan merupakan kualitas menonjol yang membuat Daka sangat, sangat bagus di kotak penalti lawan. Dia juga pemain muda yang selalu punya keinginan besar untuk belajar dari para pelatih, siapa pun itu. Karena dia punya niatan untuk membantu tim, itu fokus utamanya selain mencetak gol untuk namanya sendiri,” ucap seorang jurnalis yang dekat dengan Salzburg, Aleksandar Andonov yang memang rajin mengikuti perkembangan Daka kala di Austria.

“Saya yakin Daka bisa menjadi penyerang masa depan Leicester City dan Liga Inggris, sama seperti Vardy. Dia sangat bisa beradaptasi dengan gaya sepak bola di Britannia Raya yang mengutamakan stamina dan kecepatan larinya. Atribut terbaiknya adalah kecepatan, dan akan menjadi senjata utamanya saat nanti berkarir bersama Leicester,” tanggapan Andonov ketika Daka gabung Leicester.

Bisa dibilang, Daka sendiri merupakan salah satu bakat besar yang memang belum pernah membuktikan kualitasnya di liga-liga elite seperti Liga Inggris. Jadi bergabung ke Leicester dan merasakan Liga Inggris sejauh ini baru menjadi indikasi bahwa Daka memang siap untuk tantangan yang lebih besar dalam karirnya.

Namun beberapa atribut yang harus diperhatikan dan harus segera diperbaiki olehnya adalah kemampuan duel dengan lawan dan juga kualitas dribel saat bola di kakinya. Buktinya ketika membela Salzburg di kancah Liga Champions, dengan kualitas para pemain lawan yang lebih baik ketimbang Bundesliga Austria, dirinya terlihat sangat kesulitan. Dia bahkan hanya mencetak satu gol dari total 10 penampilannya di Liga Champions sepanjang karirnya.

Pertanyaannya sekarang adalah, apakah Daka mampu mengulang prolific yang dia miliki ketika masih berseragam RB Salzburg di Austria? Satu hal yang pasti adalah dia membutuhkan waktu untuk beradaptasi dan menyocokkan diri dengan taktik bermain Leicester di bawah asuhan Brendan Rodgers. Dan yang paling utama juga, dia harus benar-benar belajar banyak hal dari Jamie Vardy. Kalau perlu menginap di rumahnya Vardy.