Perjalanan Tomas Ujfalusi, Bek Legendaris Ceko yang Mampu Taklukkan Eropa

Jumat, 31 Desember 2021, 19:57 WIB
49

Pada tanggal 19 Mei 2001 di Kota Gelsenkirchen, Jerman, di sekitar Parkstadion, puluhan ribu penggemar Schalke siap-siap merayakan gelar liga pertama sejak 1958. Dengan kemenangan meyakinkan 5-3 dari Unterhaching yang memang sudah terdegradasi, mereka menanti pertandingan Bayern Munchen yang bertamu ke markas Hamburg. Sambil berdoa agar tuan rumah mampu mencetak gol kemenangan menumpaskan pesaing terkuat kala itu.

Sergej Barbarz membobol gawang Bayern Munchen di menit ke-90 – sebuah hal yang menggembirakan untuk Schalke, karena mereka bisa segera merayakan gelar juara –. Tapi pertandingan itu memiliki dua menit injury time dan selama itu pula Hamburg masih memimpin 1-0. Namun sekitar 20 detik saat dua menit injury time akan habis, Bayern mendapatkan tendangan bebas tidak langsung di dalam kotak penalti. Stefan Effenberg melakukan umpan congkel ke udara yang langsung disambut oleh Patrik Andersson. Pemain asal Swedia itu menyamakan kedudukan jadi 1-1, sebuah gol yang mengunci gelar untuk Bayern Munchen, sekaligus menggagalkan Schalke.

Dalam laga dramatis di Volksparkstadion yang harus berakhir imbang itu, penyebab kegagalan Schalke juara, ada biang keroknya yakni bek Ceko yang saat itu berusia 23 tahun bernama Tomas Ujfalusi. Dialah yang memotong umpan terobosan Effenberg dan mengarahkan bola ke kiper Mathias Schober yang kemudian menangkapnya. Hal ini merupakan pelanggaran dan tendangan bebas tidak langsung di dalam kotak penalti pun diberikan untuk Bayern Munchen. Ini mungkin sering terlupakan, namun menjadi momen buruk dari awal karir Ujfalusi yang ternyata mampu jadi andalan Hamburger beberapa tahun mendatang.

Lahir pada tahun 1978 dan secara instan menunjukkan kematangan saat berkarir untuk Sigma Olomouc, pada Desember 2000, bek jangkung Ceko itu pindah ke Hamburg dengan total biaya sebesar 2 juta euro. Harga yang terbilang mahal untuk ukuran pemain sepak bola saat itu. Dengan fisiknya sekitar 185 cm, dia akan jadi palang pintu pertahanan HSV dan bermain di setiap pertandingan sisa Bundesliga musim itu. Pada pertandingan kontra Bayern, Ujfalusi memang boleh saja jadi biang kerok kegagalan Hamburg menutup musim dengan spektakuler, tapi selama tiga musim berikutnya, dia akan membuktikan dirinya sebagai salah satu bek Tangguh di Bundesliga Jerman.

 

Jadi Andalan Hamburg, Curi Perhatian Klub-klub Besar

Tiga musim hebat selanjutnya hanya diganggu oleh cedera lutut yang dia alami pada tahun 2003, yang membuat Ujfalusi absen selama sekitar dua sampai tiga bulan. Meski demikian, dia kembali pulih dan mencoba untuk tampil konsisten di dua kubu, Hamburg dan juga Timnas Republik Ceko yang saat itu memang sedang disesaki bakat-bakat luar biasa. Dia pun bermain di salah satu pertandingan kualifikasi Euro 2004 untuk Ceko, dan membantu negaranya untuk tidak terkalahkan di fase kualifikasi, hanya kebobolan lima gol.

Euro 2004 yang digelar di Portugal, Ujfalusi juga menjadi sosok kunci di jantung pertahanan Ceko dalam dua pertandingan perdana fase grup menghadapi negara-negara kuat seperti Jerman dan Belanda. Sementara saat menghadapi Latvia, dia tidak bermain karena diistirahatkan. Dia kembali dimainkan oleh Ceko pada pertandingan perempatfinal menghadapi Denmark, mendapatkan kartu kuning namun mampu menjaga gawang negaranya tetap bersih, alias menang tiga gol tanpa balas. Sayang, di babak semifinal, menghadapi Yunani – juara Euro 2004 – Ceko harus menelan pil pahit. Menahan imbang tanpa gol hingga babak perpanjangan waktu dua kali lima belas menit, gol penting dari Traianos Dellas, membuat Ujfalusi dan Ceko harus pulang lebih dulu.

Meski negaranya kalah di semifinal Euro 2004, penampilannya di turnamen antar-negara Eropa dan juga konsistensi di pertahanan Hamburg selama tiga tahun terakhir, membuat Ujfalusi menjadi target utama sejumlah klub raksasa. Mulai dari AC Milan, Inter dan Juventus menginginkan tanda tangannya, namun Fiorentina yang sedang bangkit-bangkitnya kala itu, yang berhasil memenangkan perburuan Ujfalusi. Dia didatangkan dengan transfer sebesar enam juta euro, di mana musim debutnya di Serie A Italia benar-benar gagal total. Cedera lutut menghampiri karirnya dan membuat Fiorentina terseok-seok di dasar klasemen hampir degradasi, beruntung bisa selamat di pekan terakhir.

Meski pun kembali ke level terbaiknya usai pulih dari cedera lutut di musim berikutnya, ada masalah lain yang dialami Ujfalusi. Pelatih La Viola kala itu, Cesare Prandelli, cukup puas dengan duet bek tengah Alessandro Gamberini dan Dario Dainelli. Kepuasan sang pelatih pada duet bek tengah ini, membuat pemain asal Ceko itu harus rela digeser ke pos bek kanan, yang jelas tidak nyaman baginya. Tapi seiring berjalannya waktu, Ujfalusi mampu beradaptasi dengan peran dan posisi barunya itu. Dia bahkan sesekali mampu melepaskan umpan silang berbahaya karena keterampilannya bertahan, yang memaksa dia sering melancarkan umpan-umpan panjang. Fiorentina pun menuai hasil menggembirakan berkat adaptasi Ujfalusi, mengakhiri Serie A Italia 2005/06 di posisi keempat, meski pada musim panas, harus turun ke urutan kesembilan karena skandal Calciopoli.

Setelah musim tersebut berakhir, Ujfalusi kembali ke Jerman namun sebagai bagian dari Timnas Ceko yang dipandang sebagai kuda hitam di Piala Dunia 2006. Ujfalusi juga menjadi pemain bintang yang memiliki menit bermain banyak dibandingkan semua pemain Eropa lainnya, jika ditotal dari Kualifikasi Piala Dunia 2006. Dengan kata lain, dia bermain penuh selama 90 menit tiada henti dalam 12 pertandingan grup di fase kualifikasi. Tapi sayang, kembalinya dia ke Jerman ternyata tidak diikuti kisah manis seperti sebelumnya.

Meski mampu bermain solid dan membawa Ceko menang 3-0 atas pertandingan perdana Grup E Piala Dunia 2006 kontra Amerika Serikat, Ujfalusi bakal mengalami mimpi buruk di laga kedua. Yakni menghadapi Ghana, yang baru dua menit berjalan, dia gagal menghalau umpan silang dari Stephen Appiah, yang langsung diteruskan oleh Asamoah Gyan untuk mencetak gol. Dirinya bahkan dikeluarkan oleh wasit alias kartu merah karena menjegal Matthew Amoah di dalam kotak penalti. Beruntung tendangan penalti Ghana berhasil diselamatkan oleh Petr Cech. Tapi beberapa menit kemudian, Sulley Muntari berhasil mencetak gol kedua untuk Ghana, yang membuat Ceko harus kalah 3-0.

Meski negaranya terhenti di babak grup Piala Dunia 2006 di Jerman, Ujfalusi akan kembali bangkit ke performa terbaiknya bersama Fiorentina selama dua musim ke depan. Tentu saja dengan peran barunya, yakni bek kanan. La Viola sebenarnya lolos ke Liga Champions, namun karena skandal Calciopoli, mereka harus dikurangi 15 poin sebagai sanksi. Musim berikutnya, Fiorentina berhasil mempertahankan posisi keempat untuk mereka, dan kembali ke pentas Eropa, lebih tepatnya Liga Europa. Tapi lagi-lagi Ujfalusi merasakan pilu karena Fiorentina harus kalah di semifinal Liga Europa dari Rangers.

 

Ujfalusi Taklukkan Serie A, Jadi Pemain Terbaik

Dalam liga yang stereotip dengan pertahanan kokoh, Ujfalusi pun dianggap menjadi salah satu bek terbaik di Serie A Italia. Dia terkenal bukan hanya karena kemampuannya bermain lebih dari satu posisi, tapi juga sikapnya yang seperti pejuang, mau berkompromi pada tantangan yang ada di depan matanya. Hal inilah yang membuat Fiorentina sibuk menolak berbagai macam tawaran yang datang dari klub-klub top Eropa yang meminati Ujfalusi saat itu.

Memasuki usia 30-an, pengalaman segudang yang dimiliki oleh Ujfalusi sangat dibutuhkan oleh pelatih Ceko, Karel Bruckner, yang menjadikan sang pemain sebagai kapten di Euro 2008. Sayang sekali, Euro 2004 di Portugal tidak terulang, karena serangan balik Turki di fase grup, membuat Ceko harus tersingkir lebih awal.

Penutupan turnamen musim panas antar negara lagi-lagi dihiasi oleh kepindahan Ujfalusi yang kali ini hijrah ke Atletico Madrid, dengan status kontrak habis. Pada musim pertamanya, dia membantu Atleti untuk mengakhiri Liga Spanyol di posisi keempat klasemen akhir. Dia kembali bermain di jantung pertahanan alias bek tengah, dan menjalin duet apik bersama Luis Perea. Musim perdananya di Atleti juga akan menjadi tahun di mana dirinya menyatakan pensiun dari tim nasional. Cukup aneh memang, padahal usianya belum tua-tua amat kala itu.

Namun ada kisah di balik pengumuman pensiun Ujfalusi dari Timnas Ceko. Pada April 2009, saat Ceko baru saja dipastikan gagal menembus Piala Dunia 2010, terjadi momen tidak enak. Diberitakan salah satu tabloid di Ceko, bahwa Ujfalusi dan beberapa rekan setimnya makan malam di restoran dengan beberapa wanita pelacur. Sebagai tanggapan, Ujfalusi yang sudah menikah pun memutuskan resign dari tim nasional. Dia sembari mengeluarkan pernyataan bhawa para pemain Ceko hanya digunakan sebagai kambing hitam oleh federasi sepak bola Ceko.

Semata-mata terfokus pada sepak bola klubnya, akhir dekade akan melihat Ujfaluši kembali bergerak ke pos bek kanan, sebagian karena kedatangan Juanito, tetapi juga atas desakannya sendiri. Dia akan menikmati kampanye kuat lainnya, mengakhiri dekade dengan cara terbaik dengan memenangkan Liga Europa musim 2009/10.

Dia akan tetap di Atlético untuk musim selanjutnya, sebelum dijual pada akhir 2010/11 ke Galatasaray. Istanbul akan menjadi tujuan akhir yang berarti dari perjalanan karir Ujfaluši, di mana gelar Süper Lig berturut-turut dimenangkan. Namun ternyata usai meninggalkan Galatasaray, dia kembali sebentar ke tanah airnya dan bermain untuk Sparta Prague. Namun di sana, dirinya belum sempat tampil dan hanya berusaha pulih cedera lutut saja. Yang membuatnya mengambil keputusan pensiun dari sepak bola di usia 35 tahun.

Para penggemar Schalke mungkin tidak peduli Ujfalusi pensiun pada tahun 2013. Tapi jika kita melihat karirnya, apalagi di tim nasional Ceko, sungguh miris. Mengenang apa yang sudah diukir oleh Ujfalusi untuk negaranya, tapi kemudian dijadikan kambing hitam atas kegagalan ke Piala Dunia 2010, benar-benar menyakitkan. Meski begitu, tidak ada yang bisa membantah, bahwa Ujfalusi sudah menaklukkan Eropa semasa karirnya masih terang benderang.