Persis Solo: Berawal dari Ambisi Anak Tiri, Hingga Kini Dimiliki Anak Presiden

Kamis, 23 Desember 2021, 07:28 WIB
88

Edisi Bonanza88, Jakarta – Persis Solo, eksistensi mereka sebagai klub profesional di kancah sepak bola Indonesia tak boleh terlupa sama sekali. Meski sudah lama tidak bermain di kasta tertinggi, Persis tetaplah jadi salah satu klub yang punya sejarah panjang. Keberadaan mereka bahkan sudah terekam jejaknya puluhan tahun sebelum Indonesia sebagai negara meraih kemerdekaan.

Pertama kali berdiri pada penghujung bulan Maret tahun 1923 silam, nama yang mereka gunakan belumlah Persis Solo seperti sekarang. Mengingat kala itu Indonesia masih dikuasai pemerintahan kolonial Belanda, nama yang dipakai Persis tentu masih kental akan nuansa Negeri Kincir Angin. Mereka mengusung nama Vorstelandshe Voetbal Bond (VVB) yang merupakan cikal bakal Persis.

Soal tanggal pasti lahirnya VVB memang tidak terekam jelas. Ada catatan sejarah yang menyebut VVB berdiri pada 30 Maret 1923. Ada pula catatan lain yang mengatakan 8 November 1923 sebagai hari jadinya Persis. Beragam versi tentang tanggal lahirnya seakan menandakan betul bahwa Persis memanglah merupakan klub sepak bola Indonesia yang punya sejarah amat panjang.

Sementara perihal tokoh-tokoh pionir, VVB atau Persis adalah gabungan dari beberapa subjek. VVB ternyata merupakan hasil pemikiran dari empat klub lokal kota Solo sekaligus. Keempat klub yang dimaksud ialah Perhimpoenan Djawa Voetbalen R.O.M.E.O, Legioen, De Leeuw, dan M.A.R.S. Mereka semua sepakat untuk bersatu tergabung menjadi VVB.

Alasan keempat klub tadi mau bergerak dalam satu sinergi karena masing-masing pihak didera keresahan hati yang sama. Mereka merasa ada kesenjangan sosial di kancah sepak bola. Kala itu hanya sepak bola ibarat jadi barang ekslusif bagi klub-klub yang dihuni pemain-pemain asal Belanda dan orang-orang keturunan Tionghoa. Sementara kekuatan sepak bola para pribumi alias warga asli Indonesia (Solo) kerap dipandang sebelah mata.

Faktor senasib dan sepenanggungan selaku anak tiri di pentas sepak bola, akhirnya membuat orang-orang penting dari Perhimpoenan Djawa Voetbalen R.O.M.E.O, Legioen, De Leeuw, dan M.A.R.S, berembuk. Mereka menggelar sebuah rapat khusus untuk membahas misi memajukan kesetaraan hak pribumi lewat jalur sepak bola. Acara rapat kabarnya dihelat di Hotel Slier Solo, bangunan megah yang kini aktivitasnya dipakai menjadi kantor bagi operasional Bank Indonesia Surakarta.

Hasil rapat kemudian mencapai kata sepakat kalau keempat belah pihak bersedia membentuk satu kekuatan baru, VVB. Semangat membara sejak hari pertama berdiri terus diusung demi membuktikan diri bahwa orang-orang pribumi juga punya kemampuan yang cakap dalam bermain sepak bola. Misi utama VVB secara khusus ingin menaklukkan tim-tim asal Belanda, terutama Voebal Bond Soerakarta (VBS), yang sebelumnya selalu meremehkan klub-klub pribumi.

Menariknya, pendirian VVB turut berusaha menjamah hal-hal lain di luar urusan sepak bola. VVB berusaha pula untuk memperhatikan isu-isu sosial. Beberapa orang-orang penting VVB jadi pemicu lahirnya organisasi bernama Comite Penolong Kesengsaraan Oemoem. Organisasi yang berdiri sekitar bulan Agustus 1923 ini secara garis besar mengusung misi membantu sesama. Mereka ingin memberikan pertolongan kepada kalangan pribumi yang berkesusahan, lewat jalur-jalur unik seperti musik, agama, maupun pemberdayaan anak muda.

Pernah suatu ketika Comite Penolong Kesengsaraan Oemoem menyelenggarakan acara penggalangan dana yang dikemas dengan format pasar malam. Semua pendapatan yang dikumpulkan dari pasar malam selanjutnya digunakan untuk usaha-usaha memajukan kualitas pendidikan masyarakat pribumi di Solo. Gerakan berbagi lainnya berulang kali dirancang Comite Penolong Kesengsaraan Oemoem, sekali lagi demi kepentingan membantu sesama yang membutuhkan uluran tangan.

Comite Penolong Kesengsaraan Oemoem sempat pula memanfaatkan eksistensi VVB selaku klub sepak bola dalam aksi penggalangan dana. Mereka menggelar semacam laga amal dengan meminta sumbangan seikhlasnya dari para pemain dan para penonton yang terlibat di pertandingan tersebut. Uang yang terkumpul dari laga amal ditujukan bagi perbaikan nasib kaum tentara veteran perang yang dulu pernah berjuang membela kota Solo.

Kiprah Luar Biasa Persis di Kancah Sepak Bola Zaman Dulu

Eksklusif 94 Tahun Persis Solo: Sepenggal Kisah Trofi Kejayaan yang Hilang  - bolaskor.com

VVB resmi terbentuk menjadi sebuah klub sepak bola pada 1923. Tak lama setelah berdiri, VVB langsung berinisiatif untuk ikut serta ke kompetisi guna unjuk gigi sekaligus melaksanakan misi mulianya memajukan sepak bola kalangan pribumi. VVB terdaftar sebagai satu dari empat peserta turnamen. Keempat peserta berasal dari empat kota berbeda, Jakarta, Solo, Surabaya, dan Yogyakarta. Keberadaan VVB tentunya menjadi klub yang mewakili kota Solo.

Kompetisi perdana yang VVB ikuti ternyata tak berjalan manis. Mereka kesulitan menghadapi tim-tim lain yang secara umur lebih dulu terbentuk ketimbang VVB. Alhasil, akhir kompetisi menunjukkan kalau VVB cuma duduk di peringkat terakhir klasemen. Rapor buruk ini pun jadi bahan evaluasi besar-besaran yang dibahas para petinggi VVB untuk kelangsungan tim ke depannya.

Memasuki tahun 1933 atau sedekade pasca VVB berdiri, operasional klub dipimpin oleh sosok bernama Soemokartiko. Gebrakan besar coba dibuat Soemokartiko. Sesuai dengan misi memajukan kualitas sepak bola pribumi, Soemokartiko ingin VVB berganti nama sekaligus lepas dari bayang-bayang bahasa Belanda. Soemokartiko lantas menginiasi perubahan nama VVB menjadi Persis Solo yang kita kenal sekarang. Persis Solo sendiri merupakan akronim dari kepanjangan Perikatan Sepak Raga Seloeroeh Soerakarta (Persis).

Sebelum resmi berganti nama, Persis sebenarnya sudah melakukan sejumlah pergerakan nasionalisme lewat jalur sepak bola. Contohnya pada tahun 1930, Persis terlibat aktif dalam proses pendirian PSSI yang sekarang jadi induk sepak bola Indonesia. Persis bersama tujuh klub sepak bola pribumi lainnya, sengaja mendirikan PSSI supaya masyarakat Indonesia bisa bersatu melawan kaum penjajah dengan cara yang berbeda.

Berdirinya PSSI otomatis membuat orang-orang pribumi pecinta sepak bola punya tempat yang mewadahi hobi serta semangat perjuangan mereka. Sepanjang era 1930-an, PSSI rutin menggelar kompetisi sepak bola bagi klub-klub pribumi. Awalnya, kiprah Persis secara prestasi kurang cakap. Persis berulang kali kalah mentereng dari segi kekuatan dibanding Voetballbond Indonesia Jacatra (VIJ), klub yang jadi cikal bakalnya Persija Jakarta.

Selain VIJ, kiprah Persis juga terhalang oleh kekuatan klub tetangga, PSIM Yogyakarta. Tak mau terlalu lama didera prestasi bobrok, Persis setiap tahunnya coba membenahi diri. Puncaknya terjadi pada musim 1935. Persis untuk kali perdana bisa mengungguli VIJ dan PSIM, sekaligus keluar sebagai juara kompetisi.

Musim berikutnya, Persis mampu mengulang prestasi serupa, memastikan diri meraih juara dalam dua tahun beruntun. Persis menjadi tim kedua yang meraih prestasi seperti ini, setelah sebelumnya lebih dulu dilakukan VIJ pada musim 1933 dan 1934. Persis merajai kompetisi musim 1936 usai mengalahkan Persib Bandung dengan skor 2-0 di laga final.

Tahun 1937, Persis memiliki peluang untuk mencetak hattrick gelar alias juara tiga musim beruntun. Persis masuk ke final, lagi-lagi berjumpa Persib. Namun kali ini Persis menemui kegagalan serta batal menggelar pesta juara. Mereka harus bertekuk lutut di hadapan Persib akibat kalah 0-1.

Prestasi Persis sempat begitu anjlok pada musim 1938. Mereka gagal masuk ke final dan VIJ kembali juara menambah koleksi gelarnya menjadi empat buah. Beruntungnya, Persis segera cepat bangkit dari keterpurukan. Pasalnya, kemerosotan prestasi hanya berlangsung semusim. Akhir musim 1939, Persis sukses meraih gelar ketiganya dengan mengalahkan PSIM di final.

Selepas keberhasilan musim 1939, laju Persis amat sulit disaingi tim-tim lainnya. Persis benar-benar merajai sepak bola Indonesia, bahkan dalam hitungan beberapa tahun. Ya, sedari 1940 sampai 1943, Persis selalu mampu mengakhiri kompetisi dengan prestasi gelar juara.

Sayang sekali, kegemilangan Persis hanya bisa terjadi sampai momen Indonesia sebelum merdeka. Setelah Indonesia meraih kemerdekaan, Persis entah kenapa sulit bersaing di kasta tertinggi sepak bola Indonesia. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, termasuk sekarang musim 2021, Persis cuma bisa main di kasta kedua atau Liga 2.

Kini Dipimpin Anak Presiden

Menunggu Realisasi Janji Kaesang Pasca jadi Pemilik Saham Mayoritas Persis  Solo | RADAR Banyumas

Harapan besar menanti Persis Solo pada musim Liga 2 2021. Musim ini dilalui Persis dengan sosok kepemimpinan baru di area petinggi klub. Operasional Persis kini sepenuhnya dipegang dan dipimpin oleh anak Presiden RI, Joko Widodo, yakni Kaesang Pangarep.

Kabar masuknya Kaesang sebagai pemilik Persis, pertama kali terungkap pada 20 Maret 2021. Waktu itu segenap direksi PT Persis Solo Saestu (PSS) menggelar rapat yang dihadiri oleh semua pemilik saham. Rapat yang digelar di Hotel Alila Solo diisi perilisan informasi sah bahwa saham mayoritas Persis sebesar 40 persen, sudah diakuisisi oleh Kaesang.

Geliat Kaesang membeli Persis tampaknya bekerja sama dengan dua pengusaha top lain. Kevin Nugroho yang merupakan Direktur PT Plevia Makmur Abadi, diketahui juga sudah membeli 30 persen saham Persis. Bahkan ada nama Erick Thohir, Menteri BUMN yang dulunya pernah menjadi presiden Inter Milan, dengan persentase kepemilikan saham di Persis senilai 20 persen.

Sejak Kaesang memimpin Persis, klub tampak rajin mendatangkan pemain-pemain top. Salah satunya ialah penyerang naturalisasi yang punya rekam jejak menawan di sepak bola Indonesia, Beto Goncalves. Kaesang juga berhasil mengajak pelatih kenyang pengalaman, Jacksen F. Tiago, untuk menjabat posisi Direktur Teknik.

Buah kepemimpinan Kaesang sejauh ini tampak berjalan ke arah yang benar. Saat tulisan ini disusun, Persis sedang berjuang di babak 8 besar Liga 2 untuk memperebutkan tiket promosi menuju Liga 1 tahuh depan. Apakah bersama kepemimpinan anak presiden, klub yang dulu cuma jadi anak tiri bisa mengembalikan kejayaan masa lalunya?