Pesona Indah Selandia Baru yang Jadi Tempat Paling Ramah Bagi Pelacur

Rabu, 29 September 2021, 12:27 WIB
15

Selandia Baru adalah tempat terbaik di dunia untuk menjadi seorang pelacur. Ini berkat hukum kuat yang melindungi para PSK di Selandia Baru.

Hampir selama satu setengah dekade, pekerja seks di Selandia Baru sudah dilindungi oleh Undang-Undang Reformasi Prostitusi tahun 2003 yang melegalkan prostitusi.

Undang-undang ini bertujuan untuk mencegah eksploitasi, melindungi hak-hak asasi manusia pekerja seks, mempromosikan kesehatan kerja dan keselamatan pekerja seks, dan melarang orang-orang yang berada di bawah 18 tahun memasuki industri tersebut.

Hal ini memungkinkan para pelacur untuk menikmati manfaat kerja seperti halnya profesi lain. Di antara manfaat tersebut adalah, penandatanganan kontrak, menerima gaji reguler, dan dapat mencari bantuan polisi.

Catherine Healey, koordinator nasional pekerja seks, Prostitutes’ Collective di Selandia Baru mengatakan kepada news.com.au, bahwa negara tersebut adalah tempat terbaik untuk menjadi pekerja seks karena kerangka legislatif yang dianggap paling efektif di dunia.

Healey mengatakan, para pekerja seks sekarang merasa ‘benar-benar nyaman’ melaporkan klien-klien ke polisi jika pengguna jasa pekerja seks tersebut bersikap kasar, mengancam, atau tidak mampu membayar tagihan mereka.

“Telah terjadi tiga pembunuhan di Christchurch satu dekade lalu. Polisi mengatakan, kerjasama dari perempuan dalam industri ini adalah satu-satunya cara untuk memecahkan kejahatan,” katanya.

Di Negeri Kiwi itu, prostitusi masuk ke dalam daftar profesi tenaga kerja terlatih, namun menurut Badan Asosiasi Migrasi dan Investasi Selandia Baru (NZAMI) mengajukan permohonan visa tinggal sebagai pekerja seks masih sangat sulit.

“Meski prostitusi termasuk pekerjaan yang dilindungi hukum, tapi bukan berarti para imigran bisa mengajukan visa tinggal sementara dengan profesi itu. Kalau spesifik pekerja seks diterima,” ujar Peter Moses, juru bicara NZAMI dan pengacara ahli di bidang hukum imigrasi.

Aturan yang mengakui pekerjaan para pekerja seks atau Undang-undang Reformasi Prostitusi lolos di parlemen Selandia Baru pada 2003.

Undang-undang yang melegalkan prostitusi itu disambut baik oleh banyak kalangan di negara itu. Sebelumnya prostitusi sudah menyebar luas secara diam-diam di Selandia Baru.

Undang-undang ini bertujuan memberi perlindungan hukum bagi para pekerja seks, menjamin hak-hak asasi mereka dan melindungi dari eksploitasi. Kini Selandia Baru dikenal sebagai negara dengan kondisi paling nyaman bagi pekerja seks.

‘Dijual’ Bebas

Selandia Baru Larang Mahasiswa Asing Jadi Pelacur

Perubahan aturan dari “Prostitution Reform Act”, membolehkan para pekerja seks komersial (PSK) berusia 18 tahun ke atas, mendapat pengakuan, hak-haknya serta akses perlindungan kepolisian.

Para PSK jalanan juga bebas menjajakan transaksi seks pada malam hari di beragam “red-light district” atau lokalisasi, baik di Wellington, Auckland, hingga Christchurch.

Spot-spot PSK jalanan di Auckland sendiri biasanya marak di area-area seperti Karanghape Road, Hunters Corner. Sementara di Wellington, bisnis seks berpusat di pusat kota, tepatnya di sudut Jalan Cuba dan Marion.

Adapun di Christchurch, para kupu-kupu malam ini biasanya ‘mangkal’ di Ferry Road dan Manchester Street.

Tidak hanya PSK jalanan dan rumah bordil, di Selbar juga marak terkait eksisnya biro-biro “escort” atau wanita pendamping, serta klub-klub striptis (penari telanjang), hingga klub-klub “swinger” atau pertukaran pasangan.

Meningkatnya wisata seks di Selbar juga tak lepas dari peran periklanan. Ya, prostitusi di Selbar turut diiklankan di berbagai media, baik cetak maupun elektronik sebagai pemandu singkat para turis yang “buta” akan kawasan di Selandia Bary.

Sejumlah rumah bordil dan biro wanita pendamping, relatif mudah ditemukan lewat internet, koran-koran nasional maupun lokal, majalah, hingga iklan di televisi yang biasanya ditayangkan channel-channel lokal pada tengah malam.

Di sisi lain sebagaimana di beberapa negara, prostitusi anak di bawah umur juga jadi pekerjaan rumah tersendiri buat otoritas Selbar. Beberapa waktu silam, lembaga swadaya masyarakat (LSM) penentang PSK anak, ECPAT New Zealand, sempat mencatatkan adanya 210 PSK anak.

Mereka berusia di bawah 18 tahun dan bahkan pada beberapa kasus di Auckland, ditemukan PSK anak berumur 10,11 hingga 13 tahun. Diduga kuat, kebanyakan dari mereka dijadikan PSK oleh anggota-anggota geng.

Dapat Subsidi

Selandia Baru Akui Profesi Pekerja Seks Komersial, tapi... - Global Liputan6.com

Selama musim pandemi Covid-19, para pelacur di Selandia Baru yang cuti dari profesinya diberikan subsidi dari pemerintah selama lockdown. Selandia Baru sendiri telah melakukan lockdown sejak 26 Maret 2020 untuk menekan penyebaran virus Corona.

Sebut saja Lana, PSK asal negara tersebut biasanya berhasil mengumpulkan NZ$ 2.200 per bulan dari dua atau tiga kliennya per minggu. Namun selama cuti, ia tetap mendapat pemasukan dari pemerintah.

Proses pengajuan dan pencairan subsidi sebagai PSK juga tidak menyulitkan. Hanya dua hari setelah pengajuan, bantuan dana telah masuk ke rekeningnya sejumlah NZ$ 4.200 atau setara dengan Rp 39 juta (kurs Rp 9.300/NZ$). Lumayan untuk mengganti penghasilannya.

Sebagai hasil dari dekriminalisasi, New Zealand Parliament menjelaskan bahwa PSK telah diakui sebagai profesi legal dan disahkan oleh undang-undang di Selandia Baru pada tahun 2003. Legalitas inilah yang memungkinkan Lana dan teman-teman seprofesinya berhak memperoleh subsidi upah darurat selama masa lockdown.

Subsidi upah darurat itu pun berlaku untuk semua pekerja yang penghasilannya turun 30% atau lebih akibat dampak pandemi. Mereka hanya perlu mencantumkan nomor identitas nasional seperti NIK-KTP dan informasi pribadi yang mendasar sebagai pengajuan.

Khusus pekerja penuh waktu yang rata-rata durasi kerjanya lebih dari 20 jam seminggu, mereka langsung mendapatkan sejumlah NZ$ 7.029 dalam beberapa hari setelah pengajuan.

“Fakta bahwa industri seks di Selandia Baru telah didekriminalisasi menghasilkan banyak keuntungan, dan sekarang terbukti dengan masalah virus (Corona) ini,” kata Peneliti Kriminologi di Universitas Utrecht Belanda, Joep Rottier.

Catherine Healy dan Gelar Kehormatan

Eks PSK Selandia Baru Dapat Gelar dari Ratu Elizabeth - Dunia Tempo.co

Seorang mantan pekerja seks komersial, PSK, Selandia Baru masuk dalam daftar penerimaan gelar kehormatan Ratu Elizabeth II, sebagai pengakuan atas layanannya di industri seks.

Dia adalah Catherine Healy. Wanita itu dianggap memainkan peran penting dalam melegalkan industri seks di Selandia Baru dan memperkenalkan undang-undang prostitusi paling liberal di dunia.

Menurut media di Selandia baru, Healy menerima gelar kehormatan New Zealand Order of Merit pada Senin, 4 Juni 2018. Atas kabar tersebut, Healy, 62 tahun, mengaku terkejut. Gelar itu diberikan untuk menyambut hari ulang tahun Ratu Elizabeth II.

“Ini sesuatu yang tidak saya duga dan sangat menyentuh,” kata Healy, seperti dilansir Inquirer pada 4 Juni 2018.

Healy mengepalai Prostitusi Selandia Baru Bashard sejak 1989 dan mengembangkan penyedia kesehatan publik yang dipuji secara global. Dia memimpin kampanye reformasi hukum pada 2003 yang memungkinkan prostitusi dan pelacur jalanan beroperasi secara legal.Mantan pekerja seks komersial Selandia Baru, Catherine Healy.

Reformasi itu juga memungkinkan pekerja seks dilindungi oleh undang-undang tunjangan pekerjaan, kesehatan dan keselamatan, memberi mereka hak yang belum pernah dinikmati sebelumnya. Healy mengatakan, gelar barunya menunjukkan betapa banyak sikap telah berubah.

Selandia Baru memberikan penghargaan dua kali setahun bagi mereka yang dianggap berpengaruh pada perubahan dan perkembangan sosial negara itu. Gelar itu diberikan untuk merayakan Tahun Baru dan ulang tahun resmi Ratu Elizabeth II pada awal Juni.