PGC, Pusat Grosir di Timur Jakarta yang Miliki 3 Fakta Unik

Minggu, 18 Juli 2021, 22:32 WIB
35

Beberapa waktu lalu Polisi membagikan sembilan bahan pokok (sembako) kepada para tukang servis ponsel Mal Pusat Grosir Cililitan (PGC), Jakarta Timur, yang menawarkan jasa di pinggir jalan. Diketahui, PGC Cililitan, Jakarta Timur termasuk salah satu pusat perbelanjaan yang ditutup sementara karena adanya PPKM Darurat itu.

Gates Of Olympus

Dengan demikian, tukang servis handphone yang semula ada di dalam PGC, kini menawarkan jasa mereka di pinggir jalan. Kapolsek Kramat Jati Kompol Tuti Aini mengatakan pembagian sembako dapat membantu penyedia jasa servis ponsel.

Seiring pembagian itu, Tuti juga meminta agar mereka tidak lagi menjajakan jasa servis di pinggir jalan. “InsyaAllah saya bawa lagi. Inikan terbatas, nanti saya datang lagi, saya bawa lagi. Tapi saya minta tolong yang saudara-saudara saya yang service HP jangan gelar lagi ya. Janji ya, tadi kan sudah janji sama saya. Yang belum kebagian nanti saya datang lagi, InsyaAllah,” kata Tuti seperti dikuti Edisi Bonanza88.

Dibangun pada 2002

Pusat Grosir Cililitan ( biasa disebut PGC) adalah sebuah pusat perbelanjaan yang besar di Jakarta Timur, Indonesia. PGC mulai dibangun tahun 2002 dan selesai pada tahun 2004. Sebelum PGC dibangun, lahan tersebut merupakan Terminal Cililitan. Setelah PGC dibangun Terminal tersebut dipindahkan ke samping bangunan PGC dan sekarang semenjak PGC2 dibangun, terminal tersebut berada di bawah gedung.

Tersambung dengan Halte Busway

Rise of Olympus

Sejak Januari 2007, PGC telah menjadi pusat perbelanjaan pertama yang tersambung dengan halte Transjakarta Cililitan. Halte busway bisa diakses melalui tangga dari lantai 2 PGC menuju jembatan penyeberangan yang sudah tersambung dengan tangga. Pada tahun 2009, PGC menjadi pusat perbelanjaan pertama yang mempunyai halte busway yang berada di dalam gedung.

Pedagang Turun ke Jalan

Salah satu tukang servis gawai di pusat perbelanjaan Pusat Grosir Cililitan (PGC) Teguh Siswanto menyatakan kesulitan dalam mencari suku cadang gawai. Hal itu karena Mal PGC tutup selama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Teguh mengatakan, demi memenuhi suku cadang yang diperlukan konsumen, ia harus berkeliling daerah Jakarta Timur. Ia mendatangi satu demi satu gerai servis gawai untuk memperoleh suku cadang yang ia butuhkan.

“Karena barangnya kan tidak ambil dari PGC, di PGC tidak boleh masuk,” kata Teguh.

Guna memenuhi suku cadang, Teguh mengaku harus mencari sendiri. Padahal, di zaman serba daring ini terdapat banyak layanan pesan melalui aplikasi, salah satunya melalui jasa antar ojek online.

“Dari pada sewa ojek online kan biayanya lebih mahal, mendingan kita sendiri yang jalan,” tutur Teguh.

Selama menawarkan jasa di pinggir jalan depan mal PGC, Teguh bersiap di lokasi sejak pukul 10.00 WIB hingga paling malam pukul 18.30 WIB.

Selama di buka layanan di trotoar, Teguh mengungkapkan setiap hari ada saja yang datang untuk memperbaiki gawai mereka. Yang paling banyak, dalam sehari ia bisa melayani enam konsumen.

BERITA TERKAIT