Raja Judi di Negeri Timur, Ini 3 Bos Casino Terhebat di Asia Sepanjang Sejarah

Selasa, 28 September 2021, 22:06 WIB
140

Bangsa China adalah salah satu leluhur dari permainan judi. Bagi bangsa negeri Tirai Bambu, bermain judi sudah seperti kebudayaan yang harus dilestarikan secara turun menurun. Oleh karena itu banyak raja judi di benua Asia yang berasal dari China.

Meski permainan judi lama hadir di Asia, namun untuk sebuah bisnis secara profesional seperti casino, negara-negara Barat adalah pelopornya. Casino adalah tempat bermain judi yang dilengkapi fasilitas seperti hotel, restoran, dan tempat hiburan lainnya.

Gates Of Olympus

Kendati demikian, bangsa China cepat beradaptasi. Saat ini casino semakin membanjiri benua Asia. Tidak lagi hanya di Macau, casino-casino juga terdapat di Filipina, India, Malaysia, dan Singapura.

Casino-casino di Asia juga kini tidak hanya dikuasai oleh orang-orang dari negara Barat, namun juga ada pribumi dari Asia yang menjadi penguasa casino. Bahkan beberapa dari mereka mampu menyaingi perusahaan besar seperti Wynn Resorts, Las Vegas Sands, dan MGM Mirage.

Berikut hasil riset Edisi Bonanza88 terkait 3 pengusaha Asia yang mendulang uang berlimpah dari kerajaan bisnis casino yang mereka bangun.

1. Lui Che Woo

Rise of Olympus

Lui Che Woo adalah pengusaha asal Jiangmen, China yang kini berdomisili di Hong Kong. Sebelum terjun ke dunia judi Lui Che Woo berbisnis properti, perhotelan, dan bahan baku konstruksi, dengan membangun perusahaan K. Wah International Holdings Limited pada tahun 1950.

Dan ketika pemerintah China menghapus monopoli bisnis casino di Macau, melalui perusahaan Galaxy Entertainment Group, Lui Che Woo mencoba peruntungan dari bisnis judi. Ternyata, tak butuh waktu lama bagi pria kelahiran 1930 itu untuk meraih keuntungan.

Galaxy Entertainment Group memiliki banyak casino Macau, dan yang paling terkenal adalah Galaxy Macau, sebuah casino resor yang memiliki 2.300 kamar, 50 restoran, 450 meja judi, pantai buatan, dan kolam berenang berombak.

Dan dari keuntungan bisnis judi tersebut, menurut Majalah Forbes menjadikan Lui Che Woo sebagai orang kaya nomor enam di Hong Kong pada awal 2017.

2. Lim Goh Tong

Lim Goh Tong adalah pengusaha kelahiran Fujian, China yang memiliki kewarganegaraan Malaysia. Lim bukanlah keturunan orang kaya, dia pergi ke Malaysia karena kondisi politik China yang sedang memanas ketika usianya baru 19 tahun pada 1937.

Awal karier Lim Goh Tong di Malaysia dimulai sebagai tukang kayu bersama pamannya. Kemudian memulai usaha properti dengan membangun sekolah bertingkat. Sayang ketika Jepang menginvasi Malaysia pada Perang Dunia II, membuat bisnis Lim Goh Tong berantakan.

Namun setelah Malaysia merdeka, karier Lim Goh Tong mulai meroket. Pada tahun 1965 dia membangun Genting Group yang terinspirasi dari pengunungan di Cameron Highlands.

Perusahaan tersebut kemudian membangun hotel dan pusat hiburan di Pegunungan Titiwangsa, Pahan, yang diberi nama Genting Highlands.

Hotel mewah yang kerap disebut Resorts World Genting itu mulai mengoperasikan casino setelah Perdana Menteri pertama Malaysia, Tunku Abdul Rahman, menjadikan Genting Highlands sebagai satu-satunya tempat di Malaysia yang melegalkan permainan judi.

Alasannya, menurut Tunku Abdul Rahman usaha Lim Goh Tong membangun Genting Highlands telah meningkatkan pariwisata Malaysia.

Melihat besarnya keuntungan dari casino, Lim Goh Tong melalui Genting Group membangun casino resor di luar Malaysia. Sekarang Genting Group memiliki casino resor di Singapura (Resorts World Sentosa) dan Filipina (Resorts World Manila).

Lalu juga ada Resorts World New York City, sebuah casino yang memiliki pacuan kuda, dan Resorts World Las Vegas yang baru akan dibuka pada 2019.

3. Stanley Ho

Stanley Ho adalah pengusaha kelahiran Hong Kong yang mendapat hak monopoli bisnis tempat judi di Macau selama empat dekade, hingga 2001. Tentu bisa dibayangkan seberapa besar kekayaan Stanley Ho yang mendulang uang dari kerajaan casino yang dia kelola.

Pada awal usahanya membangun kerajaan casino Macau, Stanley Ho tentu tidak sendirian. Dia membangun sebuah perusahaan pariwisata dan hiburan dengan bantuan konglomerat asal Hong Kong, Henry Fok, pejudi lokal Yip Hon, dan saudara iparnya yang berasal dari Indonesia, Teddy Yip.

Pada 1961, perusahaan yang mereka bangun berganti nama menjadi Sociedade de Turismo e Diversoes de Macau (STDM). Dan sejak saat itu pula STDM menjadi perusahaan yang memonopoli tempat hiburan dan pariwisata di Macau.

Baru pada 1970, STDM resmi membuka Casino Lisboa, sebuah casino resor mewah seperti di Las Vegas. Lalu pundi-pundi uang Stanley Ho tidak hanya dari Casino Lisboa, namun juga dari tempat-tempat judi lainnya seperti permainan fan-tan, mahjong, pacuan kuda, dan balap anjing greyhound.

Stanley Ho diperkirakan mendapatkan 70 persen dari seluruh pendapatan tempat judi di Macau. Dari jumlah kekayaan tersebut, Stanley Ho pun melebarkan sayapnya ke bisnis properti, perhotelan, dan shipping dengan mendirikan perusahaan Shun Tak Holdings.

Bahkan tidak hanya di Macau, pria yang sudah berusia 95 tahun itu berinvestasi di Inggris, Portugal, bahkan juga di Indonesia. Puncaknya, Stanley Ho pun sempat berkecimpung ke dunia politik ketika Portugal mengembalikan Macau ke China pada tahun 1999.

Namun ketika Macau kembali ke pangkuan Republik Rakyat China pada tahun 2000, monopoli bisnis casino dihapuskan. Namun meski kini mendapat saingan dari perusahaan asing seperti Wynn Resorts, Las Vegas Sands, dan MGM Mirage, kekayaan Stanley Ho tak berkurang.

Pria yang memiliki istri empat itu mendirikan Grand Lisboa di bawah naungan nama baru STDM, yakni SJM Holdings Limited.