Ramon Abbas Alias Hushpuppi, Selebgram Dubai yang Jadi Penipu Paling Dicari FBI: Hampir Perdayai Klub Liga Inggris!

Jumat, 31 Desember 2021, 10:33 WIB
44

Edisi Bonanza88, Jakarta – Dunia maya memang menjadi elemen sosial baru bagi kehidupan masyarakat modern. Mau dari negara mana pun, semua orang kini tak bisa lepas akan pesona kecanggihan teknologi yang disokong tingkat kemajuan internet. Terutama perihal media sosial, sesuatu yang sekiranya menarik untuk jadi topik pembicaraan khalayak luas, sering kali dipicu olehnya.

Sirkulasi media sosial juga memunculkan fenomena lain, yakni artis-artis baru, atau yang biasa disebut selebgram. Indikasi seseorang dapat dikategorikan sebagai selebgram biasanya berpatokan kepada jumlah pengikut atau followers. Selebgram pasti punya jumlah followers begitu banyak, ratusan ribu, hingga jutaan.

Eksistensi selebgram ramai mengundang ketertarikan netizen. Tak heran kalau selebgram pada akhirnya bisa punya banyak followers. Gaya hidup dan rutinitas sehari-hari yang terkesan serba elegan, kerap para selebgram pamerkan di media sosial sehingga membuat netizen terpikat.

Sialnya, pesona selebgram tidak sepenuhnya ‘lurus-lurus’ saja. Ada segelintir selebgram yang tersandung kontroversi akibat kegiatan tercela yang mereka perbuat di kehidupan nyata. Salah satu contoh yang dapat kita ambil mengenai selebgram kontroversial ialah pria bernama Ramon Abbas.

Singkat cerita, Ramon Abbas merupakan selebgram yang tenar dengan nama akun Hushpuppi. Jumlah pengikutnya sebelum tersandung masalah lumayan banyak, menyentuh angka 2,5 juta followers. Netizen mungkin menyukai foto atau video yang dibagikan Hushpuppi karena hampir semua kontennya menunjukkan kehidupan super mewah.

Kalau melihat feed akun Instagram Huspuppi, terlihat jelas bagaimana elegannya kehidupan Ramon Abbas. Dia sangat sering berpose dengan barang-barang mewah, seperti mobil dan jet pribadi. Tak jarang pula Ramon Abbas membagikan tampilan fashion serba mahal yang ia kenakan. Kehidupan seperti Ramon Abbas jelas mudah menimbulkan kekaguman netizen.

Namun Ramon Abbas mendapatkan semua kemewahan itu dari cara haram. Di kehidupan nyata, Ramon Abbas hanyalah seorang pelaku kejahatan kelas berat. Ia berulang kali melakukan tindak penipuan yang menghadirkan pundi-pundi uang melimpah untuknya.

Aksi penipuan yang digawangi Ramon Abbas bukanlah kategori kejahatan biasa. Buktinya, FBI (Biro Penyelidikan Federal Amerika Serikat) sampai berani menjatuhkan julukan bagi Ramon Abbas selaku penipu paling ulung di dunia. Ramon Abbas menjalankan kejahatannya lewat dunia maya, alias penipun siber, yang mana hasilnya bisa mengeruk jutaan dolar AS.

Penangkapan Ramon Abbas

Selebgram Nigeria Curi Uang Rp 21 T Dan Bantu Hacker Korea Utara

Ramon Abbas sudah tidak bisa lagi menjalankan aksi penipuan yang mendatangkan hidup mewah untuknya. Segala operasi kejahatan Ramon Abbas telah tercium dan diungkap oleh penegak hukum. Laporan BBC menyebut kalau Ramon Abbas telah diciduk aparat FBI pada bulan Juni tahun 2020 lalu.

Penangkapan Ramon Abbas oleh FBI terjadi di kediaman sang tersangka yang bertempat di sebuah apartemen mewah di Dubai. Pengakapan tersebut membuat FBI juga berhasil meringkus kerabat Ramon Abbas yang sekaligus tersangka lain, yakni Olalekan Jacob Ponle. Keduanya diduga kuat telah jadi otak di balik serangkaian kasus penipuan dan pencucian uang secara siber.

Usai penangkapan terjadi, pengacara Ramon Abbas, Gal Pissetzky melancarkan pembelaan atas nama kliennya. Menurut Gal Pissetzky, Ramon Abbas bukanlah orang jahat seperti yang dituduhkan FBI. Lebih jauh, Gal Pissetzky menyebut kalau segala kemewahan yang didapat Ramon Abbas berasal dari cara halal, bukan tindak kejahatan penipuan.

“Ia adalah pemengaruh media sosial dengan jutaan pengikut. Mereka menyukai dan menghormatinya dan ia pun suka dengan para pengikutnya. Itu saja. Di era sekarang, itu adalah bisnis,” kata Pissetzky kepada wartawan teknologi BBC, Larry Madowo.

Pembelaan Gal Pissetzky bukan hanya perihal nama baik Ramon Abbas. Gal Pissetzky turut menjelaskan ada kecacatan hukum dalam penangkapan Ramon Abbas yang dilakukan FBI. Maklum, FBI merupakan otoritas hukum Amerika Serikat, yang dinilai Gal Pissetzky tidak punya kewenangan menangkap seseorang di daerah Dubai.

“Dalam pandangan saya, tindakan FBI dan pemerintah di sini [di Dubai] saat menculiknya tak punya dasar hukum,” kata Pissetzky.

“Ia bukan warga negara AS. AS tak punya kewenangan hukum untuk menangkapnya,” kata Pissetzky.

Gal Pissetzky terus mencari-cari cara agar penangkapan kliennya terbukti sebagai bentuk kecacatan hukum. Setelah ditelusuri lebih jauh, ternyata tidak ada jalinan kerjasama hukum ataupun ekstradisi antara pemerintah Amerika Serikat dan Uni Emirat Arab (Dubai). Menariknya, kepolisisan Dubai pada kemudian hari merilis informasi resmi kalau FBI menangkap Ramon Abbas merupakan kebijakan ekstradisi pemerintah Uni Emirat Arab.

Sementara pihak penegak hukum Amerika Serikat, tepatnya juru bicara Departemen Kehakiman AS, ikutan memberi pernyataan resmi. Menurut pernyataan itu, FBI sama sekali tidak melanggar hukum dalam aksi penangkapan Ramon Abbas. Bahkan FBI punya hak penuh menciduk dan mengadili Ramon Abbas ke Amerika Serikat.

“Anda harus bertanya ke mereka (polisi di Dubai), mengapa mereka menyebutnya ekstradisi.”

“Agen-agen khusus FBI memiliki kewenangan menahan Abbas dan membawanya ke AS”, bunyi pernyataan resmi Amerika Serikat.

Melihat segala penjelasan yang ada, Gal Pissetzky jelas dibuat begitu geram. Gal Pissetzky menjelaskan bahwa Ramon Abbas status kewarganegaraan aslinya berasal dari Nigeria. Berbekal latar belakang itu, Gal Pissetzky menyebut kalau kliennya seharunya ditangkap dan diekstradisi ke Nigeria, bukan ke Amerika Serikat.

“Jika Dubai ingin mengusirnya, maka ia harus diusir ke Nigeria. Saya tak pernah mendengar kasus seperti ini sebelumnya,” kata Pissetzky.

Terlepas benar atau tidaknya prosedur penangkapan, FBI benar-benar telah mencium adanya tindak kejahatan yang dilakukan Ramon Abbas. Nama Ramon Abbas diduga kuat sebagai sosok yang memimpin pergerakan kejahatan penipuan siber berskala internasional. Target yang sering jadi korban penipuan dari organisasi pimpinan Ramon Abbas biasanya berkategori kelas kakap, seperti pengusaha, firma hukum, bank asing, hingga satu klub sepak bola di Liga Inggris.

Mengingat korban-korbannya yang berstatus kalangan elite, wajar kalau FBI menemukan banyak sekali harta mewah di lokasi penangkapan Ramon Abbas. FBI setidaknya mengamankan barang bukti berupa uang tunai senilai 40 juta dolar AS atau kira-kira setara Rp 560 miliar. Selain itu, ada pula 13 mobil super mewah yang kalau dikalkulasi total harganya berjumlah 6,8 juta dolar.

Tak cukup bukti-bukti yang berupa barang mewah. FBI turut menemukan barang bukti yang diduga kuat jadi ‘senjata’ Ramon Abbas untuk menjalankan aksi penipuan. Barang-barang bukti yang dimaksud adalah 21 komputer, 47 ponsel pintar, dan catatan alamat dari hampir dua juta orang (kemungkinan daftar para korban penipuan Ramon Abbas).

Pada penjelasan tahap awal, Ramon Abbas menjalankan aksi penipuan dengan metode mencuri informasi rahasia. Isi informasi yang dibobol biasanya mengarah kepada rekan bisnis korban-korbannya. Begitu informasi rahasia bisa didapat, Ramon Abbas akan mengaku diri seolah-olah sebagai rekanan bisnis korban, dan meminta korban mengirimkan sejumlah uang.

Rekam Jejak Kejahatan Ramon Abbas

Gaya Ramon Abbas, Selebgram yang Hidup Hedon dari Hasil Menipu - Foto  Tempo.co

Setahun pasca ditangkap, Ramon Abbas tentu telah intens menjalani proses penyelidikan. Dia akhirnya mengakui kejahatannya atas tuduhan tindak penipuan dan pencucian uang. Kini, Ramon Abbas pun harus siap menghadapi tuntutan hukum pengadilan AS yang maksimal berisi masa kurungan penjara selama 20 tahun.

Sebenarnya, Ramon Abbas sudah memulai aksi kejahatan siber sedari ia remaja. Kala itu Ramon Abbas masih tinggal di kampung halamannya di Nigeria. Ramon Abbas yang bukan berasal dari keluarga kaya raya, tiba-tiba jadi sering berbuat baik ke teman-temannya dengan membayari mereka minuman atau makanan.

Kawan-kawan Ramon Abbas akhirnya tahu kalau semua uang yang didapat untuk metraktir berasal dari tindakan scamming. Ramon Abbas mula-mula hanya menjadi scammer asmara, menipu wanita-wanita cantik nan kaya raya lewat email. Modusnya sama, Ramon Abbas mencuri identitas orang lain, kemudian memanfaatkannya guna mengeruk uang.

“Mereka punya ide untuk mencuri identitas orang lain. Lalu dengan identitas yang dicuri itu, mereka melakukan penipuan [scam] romansa,” terang Dr Adedeji Oyenuga, ahli kejahatan siber di Universitas Negeri Lagos.

Aksi Ramon Abbas sebenarnya sudah cukup umum di kalangan scammer asmara. Polanya juga sama; pasti seorang scammer asmara ingin melebarkan sayap ke negara lain, biasanya ke Malaysia. Ramon Abbas sendiri diketahui sempat pindah ke Malaysia pada tahun 2014.

Puas menipu orang-orang Malaysia, Ramon Abbas kembali memperlebar sayapnya dengan pindah ke Dubai pada 2017. Momen menetap di Dubai jadi awal mulai tingkat kejahatan Ramon Abbas berjalan ke arah yang lebih serius. Ia tak lagi hanya sekedar menjadi scammer asmara, tapi mulai berani menyasar korban-korban kalangan elite.

Sekitar bulan Februari 2019, Ramon Abbas dan komplotannya berhasil mencuri uang sebanyak 13 juta euro atau setara Rp 214 miliar. Setelah ditelusuri, ternyata uang sebanyak itu dicuri dari sebuah bank di Maltese. Aksi pencurian yang sungguh sensasional, karena kehilangan uang sebegitu banyak sempat membuat perekonomian Maltese lumpuh total.

Masuk ke bulan Mei 2019, Ramon Abbas hampir saja berhasil menipu salah satu klub sepak bola top Liga Inggris. Namun tidak jelas siapa klub sepak bola yang dimaksudkan itu. Ramon Abbas bersama komplotannya sudah menyiapkan segalanya agar klub tersebut mengirimkan uang senilai 100 juta pounds.

Kegagalan terjadi karena rekening yang dipakai untuk menerima uang berasal dari Meksiko. Pihak klub sejatinya sudah bersedia mengirimkan uang 100 juta pounds. Namun tiba-tiba transaksi gagal lantaran bank di Inggris mengharamkan transfer uang sebanyak itu ke rekening asal Meksiko.

 

Tags:

BERITA TERKAIT