Rangnick ke Manchester United adalah Jawaban Atas Revolusi Tuchel di Chelsea

Kamis, 02 Desember 2021, 03:15 WIB
126

Ed Woodward selalu mendapatkan orang pilihannya. Atau setidaknya dalam momen sekarang, Ed Woodward selalu mendapatkan pelatih. Berikan haknya selaku kepala eksekutif Manchester United. Orang-orang di kursi pelatih pasti terus bermunculan.

Mungkin ada semacam metode dalam keputusan untuk mengganti Ole Gunnar Solskjær dengan Ralf Rangnick. Lompatan dari gaya manajerial yang didasarkan pada getaran, DNA, dan perasaan emosional hangat ke pelatih yang mengutamakan proses berusia 63 tahun, pelatih yang paling tak kenal ampun kepada para pemainnya di Eropa.

Mungkin tergoda untuk bertanya-tanya mengapa ada dorongan seperti itu di saat mencopot jabatan pelatih dari Solskjær. Satu minggu kemudian, banyak yang sadar, ternyata yang sebenarnya dibutuhkan Setan Merah adalah kamp pelatihan taktis dengan rasa sakit jadi menu utamanya. Atau untuk menikmati prospek menggiurkan dari Cristiano Ronaldo dewasa yang diinstruksikan dalam seni gegenpressing Jerman yang kejam oleh seorang pelatih yang terlihat seperti seorang desainer furnitur, tiba-tiba dituntut mampu mengendarai mobil bertenaga kuda.

Berita bahwa Rangnick telah menyetujui persyaratan untuk menjadi manajer sementara menunggu manajer permanen yang belum diketahui siapa, dan setelah itu mengambil peran teknis, salah satu direktur di manajemen Man United.

Tapi itu adalah langkah menarik yang tak dapat disangkal, dan salah satu yang memegang keunggulan ekstra saat United, tanpa pelatih interim, melakukan segala yang diperlukan untuk memperbaiki performa tim yang anjlok di bawah kepelatihan Solskjaer. Rangnick mungkin seorang pelatih yang tidak terlalu taktis. Mungkin ada tingkat kelonggaran yang harus dibikin ketat di Old Trafford jika dia diminta menanamkan ritme kerja kerasnya yang terkenal itu.

Stigma soal Pelatih Liga Inggris di Zaman Sekarang

Pencapaian luar biasa Thomas Tuchel dalam 10 bulan terakhir menjadi pemicu kesepakatan di salah satu belahan kota Manchester baru-baru ini. Kesuksesan datang begitu cepat bagi pria bertopi dan suka memakai baju olahraga yang pas. Hal yang tidak dapat diulang ini: ini adalah standar sekarang, seolah-olah sepak bola Inggris butuh pelatih dengan pendekatan taktik dan gaya melatih yang segar. Banyak dari mereka dituntut untuk membuat dampak instan saat menjabat di tengah musim seperti sekarang.

Seperempat abad yang lalu ada Arsene Wenger memiliki metode pelatihan para pemainnya harus makan makanan sehat, seperti brokoli, lalu yoga, dan dilarang menikmati cokelat. Sementara José Mourinho memberi para pemain di klub yang pernah dilatih semacam kekuatan kepribadian. Dalam lima tahun terakhir Pep Guardiola dan sekarang Tuchel, telah memberikan revolusi dengan sistem, teori dan akademisi.

Dua nama terakhir membuat para manajer yang ditunjuk paling pertama sekali, harus membicarakan soal “filosofi” dalam bermain. Dengan kata lain, penjelasan ini menuntut semua pelatih harus bisa memamerkan intelektualisme baru di sebuah liga.

Ini tentu saja sedikit berlebihan. Sukses bergantung pada begitu banyak faktor lain, tidak terkecuali uang dan bakat. Kompetensi di tingkat eksekutif ternyata juga membantu. Mungkin pada hari Minggu, Woodward akan berjalan-jalan ke kantor Marina Granovskaia dan membandingkan catatan tentang bagaimana Chelsea berhasil sukses melalui sembilan pelatih dalam satu dekade terakhir, terutama untuk menyalip United sebagai kekuatan pemenang trofi prestisius.

Tentu saja dewan Chelsea harus mengangkat alis pada sikap klub Man United yang terlalu memanjakan dan memberikan Solskjær begitu banyak kesempatan. Saat itulah, tahun lalu mantra legenda-manajer-pemimpin seperti Frank Lampard yang dicoba sendiri oleh Chelsea, malah berakhir gagal. Hanya lima kekalahan dalam sembilan pertandingan terakhirnya sebelum angkat kaki dari Stamford Bridge.

Tidak ada persaudaraan atau dukungan tentang kesuksesan Tuchel di bulan-bulan berikutnya sejak pemecatan seorang Lampard. Jarang ada manajer sepakbola yang membuat kasus yang meyakinkan untuk pemecatan manajer di klub lain. Tapi ada catatan aneh tentang sirkularitas dalam perekrutan Rangnick.

Kesuksesan Tuchel, Jadi Pemicu Rangnick Latih Man United

Sama seperti karir Tuchel yang didorong oleh ide-ide dan intensitas kerja-keras Rangnick, maka keinginan United sekarang adalah sang pelatih bisa memberikan segalanya terutama otak supernya di pertengahan musim – jelas dipengaruhi oleh kesuksesan Tuchel, bukan?

Masuk akal di level lain. Akan selalu ada tempat untuk tokoh besar, motivator, manajer seolah-olah bak selebritas tampan. Tetapi dengan Tuchel dan Rangnick, dan Guardiola dan Jürgen Klopp dalam hal ini, kualitas yang paling menonjol adalah kecerdasan mereka yang gusar, obsesi terhadap detail, dengan sepak bola sebagai permainan yang bergantung pada permainan indah, lalu angka baru kemudian ide.

Ketiga hal tersebut adalah syarat mutlak yang harus dimiliki seorang pelatih untuk bisa menang di olahraga terpopuler ini. Kualitas kebugaran dan teknis pemain elit sangat cocok sehingga ini telah menjadi olahraga yang mengutamakan detail-detail kecil, otak bekerja keras, dan – sejak dulu kala – pertempuran fisik. Dengan pemikiran ini, kepergian Solskjær telah mengakhiri semua pemandangan yang memang kontras.

Kontras itu hadir dalam begitu banyak detail yang dibenahi secara terus-menerus sebelum hari pertandingan. Pertimbangkan sejenak, bek sayap, posisi yang sekarang menjadi indikator yang dapat diandalkan untuk sebuah tim menemukan identitas diri mereka sendiri.

Full-back adalah pembawa pesan dari masa depan akhir-akhir ini, punya kecepatan, lincah, peran yang tidak mengikat pada satu posisi. Full-back menawarkan permainan melebar, tapi juga kedalaman, hampir segalanya, jika permainan klub diibaratkan mesin, dia seperti roda gigi lainnya. Luke Shaw tampil bagus musim lalu. Aaron Wan-Bissaka berusaha sangat keras. Tapi bandingkan bek-bek sayap United dengan kecemerlangan Reece James, mungkin bek kanan terbaik di dunia saat ini.

Full-back United bahkan belum mencetak gol musim ini. Chelsea punya sembilan dari para pemain bertahannya. Ada 25 gol dicetak oleh The Blues, dengan di antaranya 13 gol dicetak oleh pemain bertahan.

Di atas segalanya, tim Chelsea ini adalah satu kesatuan, entitas, dengan setiap pemain yakin akan perannya masing-masing. Melawan Juventus, gol ketiga Chelsea adalah miniatur yang sempurna, bukan hanya untuk eksekusinya – sebuah skema permainan pendek dimulai dari gol luar biasa dari Reece James, tendangan Ruben Loftus-Cheek – tetapi faktanya itu adalah karya tiga pemain akademi asli Chelsea.

“Tendangan luar biasa dari Reece James. Dia menendang bola sangat keras setelah mengontrol umpan dengan dada. Tendangan itu sangat kencang, tapi lebih dari itu semua, serangan yang dibangun secara kolektif oleh Chelsea sangat mengesankan,” ucap Karen Carney, eks punggawa Timnas Wanita Inggris kepada BBC, menggambarkan gol James ke gawang Juventus di Liga Champions.

Rangnick Itu Gurunya Tuchel, Loh

Rangnick juga seorang ahli sistem. Dia merancang sistem, atau setidaknya versi pendiri atau ‘bapak’ sepak bola yang berjalan keras dan menekan menyerang, tentunya lewat permainan sprint. Akan menarik untuk melihat bagaimana dia menggunakan Ronaldo ke dalam skema tim mengingat waktunya sebagai pelatih kepala tidak permanen.

“Jika Anda ingin meningkatkan kecepatan permainan, Anda harus berpikir lebih cepat dari kaki yang cepat. Seperti sepak bola di Playstation, tapi kalian memainkannya dengan kaki di dunia nyata,” ucap Rangnick kepada Manchester Evening News belum lama ini.

Atau memang, bagaimana Rangnick sendiri beradaptasi, untuk pertama kalinya, untuk bertanggung jawab atas monster besar yang lapar akan trofi, dari sebuah klub yang punya branding sudah mendunia, banyak fans tidak sabar dan kritikan-kritikan di setiap pekannya.

Tugasnya adalah memperketat fokus tim pada detail-detail kecil, membuat setiap lini permainan tim United ini berbicara satu sama lain – seperti Chelsea asuhan Tuchel. Jika dirinya mampu membuat koneksi antar-lini permainan dan mencampurkannya dengan gaya bermain menyerangnya – gegenpressing, tentunya para rival Manchester United harus waspada mulai dari sekarang.

Sekarang harapannya adalah Rangnick bisa menduplikasikan apa yang sudah dilakukan anak didiknya (Tuchel), di Old Trafford, masuk di pertengahan musim dan berhasil memberikan trofi, bahkan gelar juara Liga Champions secara mengejutkan.

Tuchel juga baru-baru ini mengakui peran besar seorang Rangnick dalam mendidik dirinya menjadi salah satu pelatih top seperti sekarang.

“Dia sangat membantu, Rangnick pelatih saya dan meyakinkan saya kenapa meniti karir di dunia kepelatihan,” ucap Tuchel di laman resmi Chelsea.