Rentetan Kisah Para Pendaki yang Meregang Nyawa di Gunung Semeru

Jumat, 31 Desember 2021, 18:35 WIB
47

Edisi Bonanza88, Jakarta – Gunung Semeru belakangan ramai diperbincangkan masyarakat Indonesia bahkan dunia. Hal ini tak lepas dari tragedi erupsi yang terjadi pada hari Sabtu, 4 Desember 2021 kemarin. Gunung yang letaknya ada di sekitaran area perbatasan Kabupaten Malang dan Lumajang ini meletus sekaligus menyemburkan awan panas.

Momen puncak erupsi Gunung Semeru kira-kira saat waktu menunjukkan pukul 15.00 sore WIB. Namun menurut pihak Koordinator Mitigasi Gunungapi Pusat Vulkanologi, dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Kristianto, tanda-tanda akan meletusnya Gunung Semeru sebenarnya sudah mencuat beberapa jam sebelumnya. Kristanto menekankan bahwa Gunung Semeru telah mengeluarkan lahar panas terlebih dahulu mulai pukul 13.30 siang WIB, baru kemudian benar-benar meletus.

Kala lahar panas pertama menyembur keluar, area puncak Gunung Semeru yang terkenal dengan sebutan Puncak Mahameru, sama sekali tak terlihat. Pemicunya lantaran adanya kabut asap tebal sehingga petugas yang berada di pos PVMBG dekat gunung kesulitan mendeteksi bencana sedari dini. Gunung Semeru pun akhirnya meletus, menyemburkan awan panas yang bergerak menuju daerah pemukiman warga.

Laporan sejauh ini menyebut kalau awan panas menyerang setidaknya total delapan buah desa. Kedelapan desa yang dimaksud ialah Desa Sumber Mujur, Desa Sumber Wulu, Desa Penanggal, Desa Candipuro, Desa Sumber Rejo, Desa Supiturang, Desa Sumber Urip, serta Desa Oro Ombo. Namun ada satu desa yang dikabarkan menjadi area terdampak paling parah akibat semburan awan panas, yakni Desa Supiturang, tepatnya di dusun Curah Kobokan.

Berdasarkan pengamatan banyak media yang bertugas meliput di sana, Curah Kobokan sungguh hancur dilalap awan panas. Hampir semua rumah maupun area pemukiman lainnya yang tadinya berdiri di Curah Kobokan kini hancur luluh lantak. Korban jiwa yang meninggal juga disebut-sebut paling banyak dari dusun Curah Kobokan ini.

Segenap aparat berwenang maupun relawan tentu sudah bergerak memberikan pertolongan pasca bencana. Tenda-tenda pengungsian didirikan untuk menampung sementara para korban erupsi yang selamat. Total jumlah warga yang sekarang berlindung di pengungsian sudah lebih dari 1.300 orang.

Bagaimana dengan korban yang meninggal dunia? Sampai detik ini tim penyelamat terus berusaha mencari semua jasad korban yang tertimbun abu bekas semburan vulkanik dan puing-puing rumah. Tim evakuasi turut berharap proses pencarian berhasil menemukan korban-korban yang masih dapat bertahan hidup.

Mengutip laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana ( BNPB ) per hari Senin, 6 Desember 2021 kemarin, total korban jiwa dalam tragedi erupsi Gunung Semeru ada 22 orang. Isi laporan menyebutkan pula jumlah korban-korban yang hilang alias tidak diketahui keberadaannya, yaitu 27 orang. Dari semua korban meninggal yang berhasil dievakuasi, ada lima jenazah yang belum bisa diidentifikasi identitasnya.

Pilu tragedi erupsi tadi memang memaparkan kengerian wajah Gunung Semeru yang sejatinya kerap jadi primadona kalangan pecinta alam. Pesona Gunung Semeru yang area puncaknya berstatus puncak tertinggi di Pulau Jawa, sering memikat hati para pecinta alam untuk pergi menjalani pendakian. Terlebih daya tarik panorama alam Gunung Semeru juga menjanjikan keindahan luar biasa, salah satunya Danau Ranu Kumbolo yang terkenal itu.

Namun kalau ditelusuri mendalam, sebenarnya Gunung Semeru tidak sepenuhnya ramah bagi semua pendaki. Sejarah mencatat sudah ada rentetan kisah pendaki yang hilang dan akhirnya meninggal dunia saat mendaki Gunung Semeru. Bahkan salah satunya merupakan tokoh mahsyur nasional di era Orde Lama silam, yaitu aktivis kenamaan Soe Hok Gie.

Edisi Bonanza kali ini hendak membahas sekaligus mengulas deretan kisah pendaki yang meregang nyawa kala menjelajahi Gunung Semeru. Tujuannya bukan untuk megungkit duka lama, melainkan lebih sebagai bentuk kenangan akan mereka. Lantas, siapa saja dan bagaimana kisah tragis pendaki yang meninggal dunia di Gunung Semeru? Berikut kisah lengkapnya!

Korban Pertama, Soe Hok Gie

Tentang Soe Hok Gie, Pemuda Indonesia Pahlawan Bagi Para Pendaki Gunung

Soe Hok Gie akan selalu dikenang sebagai sosok aktivis mahasiswa yang lantang menyuarakan kritik terhadap pemerintah pada era Orde Lama silam. Namanya juga kerap diapresiasi lewat karya-karya tulisannya oleh kalangan pecinta seni, khususnya seni menulis. Semasa hidupnya, Soe Hok Gie memang gemar mendokumentasikan perjalanan hidupnya lewat tulisan-tulisan, termasuk puisi.

Kenangan akan nama besar Gie tentunya tidak berhenti sampai di situ saja. Gie juga memiliki kedekatan tersendiri dengan Gunung Semeru yang beberapa waktu lalu mengalami erupsi dan banyak memakan korban jiwa. Punya minat spesial terhadap kegiatan di alam bebas, Gie aktif bergerak sebagai mahasiwa pecinta alam (mapala) di kampusnya, Universitas Indonesia (UI) dan sering menggelar kegiatan pendakian gunung.

Kemegahan Gunung Semeru jelas tak mungkin ditolak daya pikatnya oleh Gie yang sungguh menyukai alam bebas. Namun, pendakian Gunung Semeru yang dia dan beberapa temannya lakukan berujung petaka untuknya sendiri. Kisahnya bermula pada 12 Desember 1969, Gie bersama beberapa kawannya sesama anggota Mapala UI berangkat dari Jakarta menuju Gunung Semeru.

Rombongan Gie dkk sebenarnya diketuai oleh pria bernama Herman Lantang. Namun Gie selaku ‘pentolan’ Mapala UI seakan tak mau kalah dari Herman dalam memandu rombongan. Mulai dari pos awal pendakian Gunung Semeru, Gie dan Herman kerap berdebat tentang jalur pendakian.

Herman merasa rombongan sebaiknya menggunakan jalur yang sudah ada. Sedangkan Gie berpendapat lain dengan mengusulkan mencari jalur lain sekaligus membuka rute pendakian baru. Perdebatan ini akhirnya membuat rombongan terbagi ke dalam dua kelompok; pimpinan Herman dan pimpinan Gie.

Meski dibumbui perdebatan, rombongan tetap cair dalam canda tawa selama perjalanan, termasuk Gie dan Herman. Bahkan Herman turut tertawa saat Gie mengungkapkan hasratnya yang ingin merayakan ulang tahun ke-27 di atas puncak Gunung Semeru pada 17 Desember 1969. Sepintas, ini masih menjadi perjalanan pendakian yang mengasyikan.

Ketika mereka semua ada di area datar terakhir sebelum Puncak Mahameru, perjalanan kembali diputuskan terbagi jadi dua kelompok. Regu pimpinan Gie meraih puncak lebih dulu, baru kemudian regu pimpinan Herman menyusul. Namun waktu tempuh rombongan Herman berjalan mendaki cukup lama, sehingga membuat Gie dan regunya dibuat menunggu sembari menikmati keindahan alam puncak Gunung Semeru.

Tak sabar menunggu, semua orang yang ada di regu pimpinan Gie memilih turun lebih dulu. Sementara Gie tetap berdiam di puncak untuk menunggu rombongan Herman datang. Selagi menunggu, Gie mendapati cuaca sekitar puncak Gunung Semeru makin tak bersahabat ditutupi awan mendung serta hujan gerimis.

Herman dan regunya akhirnya sampai ke puncak. Baru sebentar menginjakkan kaki di Puncak Mahameru, Herman terkaget melihat tubuh Gie tiba-tiba terkapar. Rekan di rombongan Herman, Idhan Lubis, juga mengalami nasib serupa.

Seketika Herman coba memberikan pertolongan melihat Gie dan Lubis yang sudah tidak sadarkan diri. Inisiatif Herman langsung mengecek denyut nadi kedua rekannya dan ternyata sudah tiada. Herman yang tahu kalau Gie dan Lubis sudah meninggal segera turun mencari bantuan.

Setelah dievakuasi, diketahui kalau Gie dan Lubis meninggal dunia akibat menghirup gas beracun. Kejadian ini membuat nama Gie pun tercatat dalam sejarah sebagai pendaki pertama yang meninggal dunia di Gunung Semeru. Gie yang mencintai gunung, selamanya abadi bersama tempat favoritnya itu.

Nasib Para Pendaki Lain yang Wafat di Gunung Semeru

5 Pendaki yang Tewas di Gunung, karena Hipotermia, Terpeleset, hingga  Serangan Jantung - Tribunnews.com Mobile

Juli tahun 2009, seorang pendaki Gunung Semeru dinyatakan hilang. Pendaki yang dimaksud itu bernama Andika Listyono Putra. Kala itu Andika yang masih berusia 20 tahun, mendadak terpisah dari rombongan dan lenyap jejaknya setelah terkena badai pasir di area Puncak Mahameru.

Sebelum kejadian Andika mencuat, Gunung Semeru telah cukup banyak menelan korban dari kalangan para pendaki. Mengutip data yang dipunya Tempo, sejak tahun 1969 hingga momen sebelum tragedi hilangnya Andika, sudah ada 24 pendaki meninggal dunia dan tiga yang hilang saat mendaki Gunung Semeru. Andika lantas menjadi korban yang ke-28 dari keganasan rute pendakian Gunung Semeru.

Beranjak ke tahun 2014, ada seorang mahasiswa pasca sarjana yang meninggal di Gunung Semeru, yaitu Achmad Fauzy. Ia meregang nyawa setelah gagal menyelamatkan diri dari bencana batu longsor di trek berpasir yang merupakan rute menuju puncak Gunung Semeru. Tim SAR berhasil mengevakuasi jasad Fauzy yang diketemukan pada 3 November 2014 dalam kondisi tak bernyawa.

Maju lagi ke tahun 2016, menjelang penutupan rute pendakian Gunung Semeru pada awal tahun, terjadi tragedi yang memakan tiga korban jiwa pendaki. Ketiga pendaki yang meninggal ini diduga tak selamat karena sedang dalam kondisi tidak fit selama perjalanan mendaki. Akibatnya, kondisi tubuh mereka kian memburuk ketika di atas dan akhirnya nyawa mereka tidak tertolong.

Bahkan keganasan Gunung Semeru sempat pula menelan korban dari pendaki luar negeri. Lionel Du Creaux, WNA asal Swiss hilang saat menjalani pendakian Gunung Semeru pada 2016. Lionel ternyata menempuh rute pendakian secara ilegal karena tidak melakukan pendaftaran ke pos penjaga terlebih dahulu.

 

Tags:

BERITA TERKAIT