Romansa “Il Gemelli del Gol” Mancini-Vialli, Duet Legendaris Sampdoria yang Sukses Bawa Italia Juara

Sabtu, 24 Juli 2021, 13:04 WIB
72

Italia merajai Eropa pada gelaran Euro 2020. Gli Azzurri menjadi raja Eropa setelah mengalahkan Inggris dalam laga final, Senin (14/7/21) belum lama ini.

Prestasi yang sungguh indah, lantaran trofi Euro 2020 menjadi pemutus puasa gelar Italia di level internasional. Negeri Pizza terakhir kali menghasilkan prestasi kala menjuarai Piala Dunia 2006. Khusus ajang Euro bahkan lebih lama lagi, Italia sebelumnya baru punya satu gelar dan itu diraih tahun 1968 silam.

Gates Of Olympus

Seluruh publik Italia tentu amat bahagia menyambut keberhasilan tim nasional sepak bola negara mereka. Salah satu pihak yang mungkin dipenuhi rasa senang berlebih ialah Sampdoria, klub peserta Serie A Italia.

Memang betul komposisi skuat Italia yang menjuarai Euro 2020 nihil pemain Sampdoria. Namun kalau menengok deretan nama yang menduduki staf kepelatihan, Sampdoria patut begitu bangga.

Ada Roberto Mancini serta Gianluca Vialli, duet legendaris Sampdoria yang berada di belakang layar kesuksesan Italia. Mancini bertindak sebagai pelatih kepala, sementara Gianluca Vialli menjabat ketua delegasi tim.

Pada masa jayanya silam, Mancini dan Vialli terkenal amat padu mengisi barisan penyerangan Sampdoria. Saking kompaknya kerjasama Mancini-Vialli, sampai membuat keduanya mendapat julukan khusus, yakni “Il Gemelli del Gol”, alias “Kembar Gol”.

Perkenalan Mancini-Vialli dengan Sepak Bola dan Sampdoria

Rise of Olympus

Wembley-verdriet als brandstof bij EK voor boezemvrienden Mancini en Vialli  | NOS

Tahun 1964 ditandai sebagai momen besar dalam sejarah persepakbolaan Italia. Pada tahun tersebut, Inter Milan yang dilatih Helenio Herrera, menutup musim 1963/64 dengan gelar juara Liga Champions.

Helenio Herrera sampai sekarang dikenang atas jasanya mencetuskan strategi sepak bola bertajuk Catenaccio. Strategi ini menitikberatkan kepada ketangguhan sektor pertahanan untuk memenangkan pertandingan. Catenaccio kemudian menjadi identitas sekaligus ciri khas sepak bola Italia.

Masih tahun yang sama, momen besar lainnya terjadi. Dua pesepak bola hebat Italia terlahir ke muka bumi.

9 Juli 1964, Gianluca Vialli dilahirkan dari orang tua kaya raya yang tinggal di daerah Lombardy, kawasan Italia bagian utara. Lima bulan setelahnya, bergeser 400 kilometer ke arah selatan Lombardy, Roberto Mancini lahir dalam kehangatan keluarga pemeluk agama Katolik yang taat.

Data yang dihimpun Edisi Bonanza88, latar belakang keluarga Mancini dan Vialli memanglah berbeda. Tapi keduanya seakan sudah ditakdirkan alam untuk sama-sama mencintai sepak bola sejak usia dini.

Mancini mulai mengasah kemampuan sepak bola pada usia enam tahun. Ia menimba ilmu bersama klub lokal sekitar tempat tinggalnya, Aurora Jesi.

Sementara Vialli, menempa bakat olah bolanya dengan masuk klub amatir, AS Pizzighettone. Vialli rutin berlatih bersama Pizzighettone semenjak berusia sembilan tahun. Lapangan latihan Pizzighettone cuma membutuhkan waktu tempuh 45 menit dari kediaman mewah Vialli.

Perkembangan kemampuan Mancini terbilang memesona. Kala menginjak usia 13 tahun, Mancini dilirik klub raksasa Italia sekelas AC Milan.

Namun Mancini tidak menandatangani kontrak level junior dengan Rossoneri. Mancini lebih memilih peserta Serie A lainnya, Bologna sebagai klub profesional pertamanya.

Kalau Vialli, perkembangannya mungkin tidak sementereng Mancini. Vialli di usianya yang ke-13, hanya dikontrak tim kasta ketiga Serie C, Cremonese.

Walau begitu, Vialli pada usia 16 tahun lebih dulu mendapatkan kesempatan promosi di skuat senior timnya.

Sedangkan Mancini, baru debut di tim utama Bologna pada 13 September 1981, tiga bulan sebelum dirinya berulang tahun yang ke-17.

Waktu terus berjalan. Mancini dan Vialli menjalani banyak momen berharga dalam tumbuh kembang mereka selaku pesepak bola remaja.

Mancini hingga umur 18 tahun mencatatkan 30 penampilan bagi Bologna dan mencetak sembilan gol. Berkat catatan demikian, nama Mancini otomatis diselimuti label sebagai pemain muda terbaik Italia.

Banyak klub yang lebih besar daripada Bologna kemudian mendekati Mancini. Pada 1982, Mancini lantas hijrah ke Sampdoria yang dimiliki konglomerat Paolo Mantovani, lewat biaya transfer senilai 2,2 juta euro.

Vialli jalannya lebih terjal ketimbang Mancini. Empat tahun lamanya sampai 1984, dibutuhkan Vialli untuk membuktikan kualitas diri sebagai pemuda masa depan Timnas Italia.

Musim 1983/84, Vialli yang jadi tumpuan lini depan Cremonese, berhasil membawa timnya menempati peringkat tiga Serie B, sekaligus mendapatkan tiket promosi ke Serie A. Sepanjang musim tersebut, Vialli juga menyabet penghargaan top skor Serie B, sehingga namanya kian sensasional.

Tepat setelah mengantarkan Cremonese promosi, Vialli diincar sejumlah tim top Serie A. Sampdoria kemudian yang dipilih Vialli dan membuat dia akhirnya bertemu dengan Mancini.

Romansa Mancini-Vialli di Sampdoria

Happy Birthday bro', de boodschap van Mancini aan Vialli - Football Italia

Musim 1984/85 jadi musim perdana Mancini dan Vialli menjadi rekan setim di Sampdoria. Keduanya kala itu sama-sama belum genap berusia 20 tahun.

Walau tergolong masih amat muda, Mancini dan Vialli langsung dipercaya pelatih Sampdoria, Eugenio Bersellini, untuk bermain secara reguler.

Eugenio Bersellini gemar memainkan pola 4-3-3, Mancini serta Vialli sering ditempatkan di lini depan bareng satu penyerang lagi, entah Fausto Salsano atau Trevor Francis.

Laga pembuka Serie A 1984/85, Sampdoria bertemu mantan klub Vialli, Cremonese. Vialli dijadikan starter bersama Francis dan Salsano, sementara Mancini duduk di bangku cadangan. Mancini baru masuk saat laga menyentuh menit ke-83 menggantikan peran Vialli.

Hasil pertandingan kemudian dimenangkan Sampdoria dengan skor tipis 1-0. Gol tunggal kemenangan bukan dicetak Mancini maupun Vialli, melainkan eks gelandang Liverpool, Graeme Souness.

Singkat cerita, duet Mancini-Vialli mengantarkan Sampdoria menempati peringkat empat klasemen akhir. Kiprah keduanya di Serie A 1984/85 mencatatkan torehan serupa, yakni tiga gol.

Lebih manis lagi, Mancini-Vialli sukses memberikan trofi juara Coppa Italia 1984/85. Bermain dua leg kontra AC Milan di final, Sampdoria menang agregat 3-1.

Khusus dalam laga leg kedua yang berkesudahan 2-1 untuk kemenangan Sampdoria, Mancini-Vialli tampil fenomenal. Mereka masing-masing mencetak satu gol.

Musim kedua kebersamaan Mancini-Vialli, Sampdoria secara tim mengalami penurunan. Akhir musim 1985/86, Sampdoria cuma bisa menempati peringkat 11 klasemen.

Status juara bertahan Copa Italia juga gagal dilanjutkan. Sudah masuk final, Sampdoria kalah agregat dari AS Roma 2-3.

Meski demikian, ada peningkatan yang diperlihatkan Mancini dan Vialli. Kontribusi gol mereka bertambah baik di kala timnya mengalami musim yang tergolong buruk.

Mancini sepanjang satu musim mencetak 12 gol sekaligus menjadi top skor klub. Sementara Vialli menyumbangkan 8 gol, runner-up top skor Sampdoria.

Berlanjut ke musim 1986/87, Sampdoria mendepak pelatih Eugenio Bersellini dan menggantinya dengan juru taktik Serbia, Vujadin Boskov. Samp juga membuat perubahan besar lewat penjualan dua bintang senior, Souness dan Francis.

Perubahan-perubahan tadi lantas menjadikan peran Mancini-Vialli kian vokal. Akhir musim 1986/87, Sampdoria finish di urutan lima; Vialli mencetak 16 gol dan Mancini 6 gol.

Setelah musim 1986/87, segalanya menjadi luar biasa untuk Mancini-Vialli. Kinerja keduanya di lini depan Samp begitu rajin melahirkan gol, sampai-sampai publik menjuluki duet mereka dengan sebutan “Il Gemelli del Gol”.

Fantastisnya duet Mancini-Vialli pun berdampak signifikan terhadap prestasi Sampdoria. Musim 1987/88 dan 1988/89 Samp berturut menjuarai Coppa Italia; musim 1989/90 Samp merajai Piala Winners.

Bahkan pada musim 1990/91, “Il Gemelli del Gol” memberikan sesuatu yang dulunya terkesan mustahil, akhirnya bisa diwujudkan Sampdoria. Ya, Mancini-Vialli berhasil mengantarkan Sampdoria untuk kali pertama menjuarai Serie A.

Sampdoria memuncaki klasemen akhir musim, mengungguli tim runner-up, AC Milan. Vialli mencetak 19 gol dan Mancini 12 gol.

Pasca juara, musim berikutnya Samp kembali tergelincir. Samp hanya menduduki peringkat enam klasemen, gagal mempertahankan takhtanya.

Tapi Sampdoria dibawa Mancini-Vialli melangkah jauh dalam ajang Liga Champions. Sampdoria lolos ke final, kemudian bersua Barcelona racikan Johan Cruyff di Wembley Stadium.

Sampdoria yang statusnya kuda hitam, berhasil mengimbangi permainan menawan Barcelona yang digawangi Pep Guardiola, Ronald Koeman, Michael Laudrup, dan Hristo Stoichkov. Laga 90 menit waktu normal berakhir imbang 0-0. Pertandingan harus dilanjutkan ke babak tambahan waktu.

Mancini yang bertindak sebagai kapten tim, berusaha memompa semangat rekan-rekannya agar menciptakan sejarah. Sayang sekali, menit ke-112 laga yang masih memakai sistem golden goal mendadak rampung lantaran Barcelona bisa mencetak gol lewat aksi Ronald Koeman.

Mancini-Vialli menangis di ribuan pendukung Sampdoria yang memadati Wembley Stadium. Pedihnya lagi, kekalahan di final Liga Champions 1991/92 jadi laga terakhir duet Mancini-Vialli di Sampdoria.

Bursa transfer musim panas 1992, Vialli pindah ke Juventus. Mancini-Vialli tak pernah bersama lagi sejak itu dalam level tim, sampai keduanya pensiun dari lapangan hijau.

Mancini-Vialli Membayar Kegagalan Masa Lalu

EURO 2020 | De bevrijdende knuffel van Mancini en Vialli - Football Italia

Mancini-Vialli tak pernah bersama lagi dalam level tim sejak kekalahan Sampdoria di final Liga Champions 1991/92. Namun perpisahan yang teramat pahit tersebut kini akhirnya bisa mereka bayar tuntas.

Ya, Mancini-Vialli kembali berduet di jajaran staf pelatih Timnas Italia untuk ajang Euro 2020. Mancini yang menduduki jabatan pelatih kepala, berhasil meracik taktik ampuh yang mengantarkan Gli Azzurri juara.

Italia dipastikan berhak menyabet gelar Euro 2020 setelah mengalahkan Inggris lewat drama adu penalti. Lebih manis lagi, momen keberhasilan Mancini-Vialli membawa Italia juara tercipta di Wembley Stadium, tempat di mana keduanya terakhir kali bersama sebagai “Il Gemelli del Gol” Sampdoria.