Romario, Striker Legendaris yang Suka Main Cewek tapi Tetap Moncer

Kamis, 30 September 2021, 16:58 WIB
21

Ketika Olimpiade mulai terlihat pada musim panas 1988, Uni Soviet dianggap sangat siap untuk mengambil alih turnamen tersebut. Uni Soviet terdaftar di antara favorit kompetisi karena suatu alasan; tidak ada starting line-up yang lebih kuat, skuad yang memiliki kualitas mendalam dan berlapis, atau negara yang bertekad untuk meninggalkan jejak mereka di turnamen besar seperti ini. Soviet juga gagal ditolak emas Olimpiade di kandang sendiri delapan tahun sebelumnya, harus puas dengan medali perunggu di belakang Cekoslowakia dan Jerman Timur. Mereka tentu saja tidak lupa.

Karena itu, hampir tidak ada yang terkejut ketika mereka menang. Tim asuhan Anatoly Byshovets memuncaki fase grup di depan tuan rumah Korea Selatan, Amerika Serikat dan Argentina, sebelum mengalahkan Australia di perempat final dan dua kali memanfaatkan perpanjangan waktu untuk menyingkirkan Italia di semifinal dan pada partai final bertemu dengan Brasil.

Gates Of Olympus

Meskipun dalam perjalanan ke mahkota Olimpiade mereka, Soviet memang sangat bersinar kala itu– orang-orang seperti Igor Dobrovolski, Oleksiy Mykhaylychenko dan Arminas Narbekovas, terutama, kerumunan yang mempesona di Busan, Daegu dan Seoul – bukan pemain Soviet yang akan dipuji sebagai pemenang turnamen. Yang dapat eluk-elukan adalah pemain baru yang sangat misterius. Lampu sorot mengarah kepada pemain muda dengan talenta luar biasa yang berada di skuat Brasil, finalis yang kalah. Dia masih berusia 22 tahun dengan nama punggung Romário, yang kebetulan mengakhiri turnamen Olimpiade sebagai pencetak gol terbanyaknya.

Romario sebenarnya bukan striker antah-berantah yang tiba-tiba dipanggil Timnas Brasil untuk Olimpiade 1988. Jumlah gol-gol yang dia kantongi selama tujuh tahun di klub masa kecilnya, Vasco da Gama, telah membuat dia menjadi salah satu komoditi panas di Amerika Latin. Daya pikat yang begitu kuat bahkan membuat Vasco da Gama mengakui kesalahan mereka yang sempat menolaknya di awal karena tinggi badannya yang kurang dari rata-rata. Tapi, Romário tidak baper dan menggunakannya sebagai motivasi untuk berkontribusi pada klub masa kecilnya itu.

Saat Romario mendaftarkan diri ke klub masa kecilnya itu, Vasco da Gama adalah salah satu klub yang merasa badan pendek sang pemain akan mencegahnya menjadi striker hebat. Kenyataan berbeda dan mengejutkan, meski jadi yang terpendek di skuat, dia sering menjadi pemain yang paling cepatngotot, berbakat secara teknis di lapangan, mampu melakukan hal-hal yang hanya bisa diimpikan oleh orang lain.

Romário membalikkan kepalanya apa yang mungkin dianggap oleh beberapa orang sebagai kelemahandengan semangat juang tinggi, dia menggunakannya sebagai salah satu kekuatan yang menentukanPendeknya badan atau fisik yang terlihat mungil, membuat para bek lawan jelas tidak pernah menggertak atau menganggapnya sebagai momok, dan itu salah.

Rise of Olympus

 

PSV, Klub Eropa Pertama Romario

Setelah aksinya yang memukau dunia di Olimpiade 1988 di Korea Selatan, PSV Eindhoven menjadi klub pertama yang membuat langkah untuk mengamankan tanda tangan pemain muda yang luar biasa itu. Seperti yang ditulis Nick Miller untuk The Guardian, “Didorong oleh kemenangan Piala Eropa mereka pada tahun 1988 dan ambisi sponsor dan pendukung utama mereka Philips, [PSV] mengambil kesempatan tersebut.”

Apa yang diharapkan oleh Rood-witten –julukan PSV, adalah pencetak gol alami dengan kemampuan untuk secara efektif mentransfer bakatnya dari liga Brasil ke liga-liga di panggung Eropa dan sekitarnya. Apa yang mereka dapatkan adalah salah satu penyerang dengan bakat paling natural di  generasinya. Tidak lupa juga, dia memiliki tingkat kepercayaan diri dan keberanian yang saat itu, jarang dimiliki oleh pemain senegaranya atau seusianya.

Realita seringkali berkata bahwa semua orang yang dilahirkan dengan bakat juga harus berjuang keras untuk meraih kesuksesan. Berliter-liter darah, keringat dan air mata harus keluar agar bisa menjadi yang terbaik di bidangnya. Namun, bagi Romário, realita yang meminta orang-orang seperti itu adalah omong kosong. Pandangan sekilas pada orang-orang saat itu seperti mengucilkan dirinya yang sudah mungil, bahkan dia seringkali diabaikan oleh bek-bek lawan. Tapi yang sebenarnya dimiliki oleh Romario adalah segala bakat yang dibutuhkan untuk jadi penyerang kelas top.

Satu-satunya kelemahan Romário adalah kegemarannya pada sisi kehidupan yang lebih liar. Seperti yang pernah dia akui, “Malam selalu menjadi temanku. Ketika saya keluar, saya senang dan ketika saya senang saya mencetak gol.”

 

Kecanduan Bar, Main Cewek, tapi Romario Toh Tetap Moncer

Mengingat kecanduan akut terhadap bar, lantai dansa, dan wanita dalam genggaman seorang pria dengan ketenaran dan kekayaan yang signifikan, sebuah panggung besar sepak bola tidak akan cukup untuknya. Syukurlah untuk Romário, dan juga PSV, minggu demi minggu, saat dia membuktikan berulang kali, dengan atau tanpa mabuk, tidak ada seorang pun yang bisa bermain seindah dirinyaDia seperti pemain dengan jiwa yang bebas, seperti berasal dari dunia lain. Dan dia milik PSV.

Sepanjang kampanye debutnya dengan seragam merah putih, musim Eredivisie 1988/89, Romário tidak membuang waktu untuk menetap di Philips Stadion. Beberapa orang merenungkan apakah perlu waktu bagi pemain Brasil itu untuk menyesuaikan diri tidak hanya dengan rumah baru – liga baru, negara baru, benua baru, tapi juga tekanan besar untuk tim yang sering menang seperti PSV saat itu. Apalagi saat dia bergabung, skuat PSV saat itu baru saja meraih treble. Yakni gelar juara Eredivisi, Piala KNVB dan Piala Eropa berjejer berkilauan di lemari trofi mereka.

Tanggapan Romário atas semua keraguan terhadap dirinya adalah langsung masuk ke starting line-up pelatih Guus Hiddink dan mengakhiri musim sebagai pencetak gol terbanyak klubnya, dengan lebih dari 26 gol dalam 34 pertandingan di semua kompetisi. Beberapa pihak pun mengira dia akan meninggalkan hobinya berpesta pada malam harinamun semua tanggapan itu salah. Yang dilakukan Romário malah lebih sering berpesta dari sebelumnya.

Selain hobi, faktor lainnya adalah terdapat begitu banyak tempat-tempat hiburan malam di pusat kota Eindhoven untuk dinikmati olehnya. Pengenalannya yang luar biasa terhadap sepak bola Belanda sangat cepat sempat dianggap kebetulan, tapi tidak juga. Jauh dari itu, musim berikutnyaRomário mencetak 31 gol dalam 27 pertandingan, sebelum mengangonti 30 gol dalam 30 penampilan di musim setelahnya.

Angka yang tidak masuk akal untuk penyerang mana pun, apalagi seorang pemuda yang bermain jauh dari negara asalnya untuk pertama kalinya. Apalagi melihat kebiasaan buruknya di luar lapangan yang langsung diketahui pers Eropa. Romario bisa dibilang hampir tidak terlihat atau bertindak kurang peduli, sampai peluit pertama wasit berbunyi dan, seperti seorang sukarelawan yang ditransformasikan oleh jentikan jari seorang penghipnotis, dia secepat kilat seperti berganti kepribadian. Dari seorang Romário yang playboy di klub malam menjadi Romário mesin gol, penuh selama 90 menit pertandingan di atas lapangan.

Dengan pusat gravitasi yang rendah –karena tubuh pendeknyatubuh yang lincah, kaki cepat seperti kilat dan bakat sejak lahir, dia mampu mengukur ruang dan waktu serta sudut dan Teknik, semuanya hanya dalam satu kejapan mata, sangat cepat dan akurat. Romário cukup sederhana sebagai mesin pencetak gol. Artinya, dia bermain seolah-olah dia dibangun dengan hanya satu tujuan, yakni untuk mencetak gol. Sangat sedikit pesepakbola di planet ini yang bisa menyelesaikan bola di kakinya dengan gol seperti kualitas yang dimiliki Romário. Dia bisa melesat ke tiang dekat dan menjentikkan bola ke dalam gawang dengan kiper hanya termangu menatapnya. Dia juga bisa berputar kembali menghindari bek-bek lawan, dan menyelesaikan bola dengan tendangan lurus dari tepi area penalti.

Tidak hanya jago menyelesaikan bola dan memasukkannya ke dalam gawang. Dia juga bisa dengan efektif menggiring bola ke gawang, berlari di sisi sayap dan memutar melewati para pemain bertahan lawan menggunakan kecepatan di atas rata-rata. Stepover atau flip-flap atau istilah rumit lainnya, seringkali dipakai Romario untuk mengecoh lawan-lawannya, sebelum mencetak gol.

 

Pengakuan Para Pelatih Top soal Kualitas Romario

Kekuatannya hampir tak terbatas, kemampuan mencetak golnya tak terbatas, dan keinginannya yang tak henti-hentinya untuk menikmati kehidupan malam juga sungguh luar biasa. Almarhum Sir Bobby Robson, pelatih dan pemain legendaris sempat melatih Romário selama dua tahun saat menggantikan Guus Hiddink di PSV. Pelatih kelas top sepertinya saja mengaku bahwa melatih Romario membuatnya sesekali sakit kepala“Ada hari-hari ketika dia sangat malas,” kenang Robson kepada The Observer pada tahun 1994 silam.

Tetapi Anda harus memilihnya sebagai starter karena, jika Anda berani mencoretnyatim mungkin kehilangan pemain yang dengan mudah mencetak tiga gol! Dia bahkan mampu menendang bola melewati kiper dari sudut yang awalnya Anda berpikir, ‘Ah, tidak mungkin bisa’.” Tulis Robson dalam halaman otobiografinya untuk mengenang masa-masa dirinya melatih striker legendaris Brasil itu.

“Bagi Romário, Jumat malam adalah malam pesta, bahkan jika kami memiliki pertandingan pada hari berikutnya. Dia akan keluar sampai jam empat pagi dan tidur sepanjang hari sebelum kick-off pukul 19:30. Kami akan menerima telepon dari orang-orang yang mengatakan ‘Romário keluar sepanjang malam. Dia sampai di Rumah jam empat pagi.’ Dia akan menari, mengobrol, bertemu dengan seorang wanita lokal, bermain-main dengannya dan kemudian tidur sepanjang hari agar ‘segar’ untuk permainan.” Anda dapat percaya atau tidakdengan pola hidup seperti itu, Romário menjadi pemain yang akan menentukan nasib pertandingan PSV pada hari berikutnya,” jelas Robson lagi di bukunya.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh salah satu mantan pelatih PSV, Hiddink, yang melatihnya selama tiga tahun pertama Romario di klub.

“Jika dia melihat saya lebih gugup dari biasanya menjelang pertandingan besar, dia akan mendatangi saya dan berkata, ‘Tenang saja, pelatih, saya akan mencetak gol dan kami akan menang’Yang luar biasa adalah delapan dari sepuluh kali dia mengatakan itu kepada saya, dia benar-benar mencetak gol dan kami benar-benar menang,” ucap Hiddink mengenangnya pada tahun 2011.

Pada tahun 1990, Romario sempat mengalami patah kaki dan langkahnya terhenti sejenak. Tetapi Romário pulih dengan cepat dan kembali bermain serta kembali ke penampilan impresifnya, seperti tidak terjadi apa-apa. Perannya di Piala Dunia 1990 di Italia secara tragis terbatas karena cedera tersebut. Tapi, usai kembali ke PSV, dia mampu mengemas 32 gol yang luar biasa dalam 39 pertandingan di musim setelahnya.

 

Lima Musim Romario yang Singkat Bersama PSV

Akhirnya, setelah lima musim, kisah legenda Romário menaklukkan Eindhoven sebagai Cruyff dari Brasil, harus mengucapkan salam perpisahan kepada PSV. Dan satu klub yang sedang memiliki ‘tim impian’ alias Barcelona, yang diperkuat para pemain legendaris seperti Hristo Stoichkov, José Mari Bakero, Pep Guardiola, Michael Laudrup dan Ronald Koeman – sedang menunggunya untuk bergabung.

PSV menerima tawaran tiga juta euro yang cukup besar saat itu, dan dengan demikian, pemain Brasil itu bergabung ke klub Catalonia, dengan statistik mentereng yakni 165 gol dalam 167 pertandingan disertai dengan tiga medali juara Eredivisie dan tiga trofi piala domestic bersama PSV.

Dengan kepergian Romario, PSV pun benar-benar merasakan lubang besar menganga di lini depan mereka. Sempat beberapa tahun berlalu, mereka tak kunjung mendapatkan penyerang haus gol namun hobi main cewek seperti Romario.

Begitu juga dengan Romario, yang mungkin tidak akan jadi striker hebat seperti yang dikenal sekarang ini. Namanya akan kekal sebagai salah satu penyerang legendaris di dunia sepak bola, karena jasa PSV yang berulang kali mencoba sabar dengan sikapnya yang urakan sebagai atlit professional.