Sarang Kartel Narkotik dan Budaya Klub Sepak Bola di Kolombia

Jumat, 31 Desember 2021, 21:43 WIB
53

Edisi Bonanza88, Jakarta – Jika klub sepak bola di berbagai belahan dunia lain banyak diurus oleh pebisnis kaya raya yang rela menyuntikkan dana, namun berbeda di Kolombia. Beberapa klub di negara ini mampu menjelma menjadi klub sukses dan kuat di Amerika Selatan berkat diasuh oleh penjahat, pembunuh dan gembong narkoba paling terkenal di dunia.

Pada periode 1980an hingga 1990an adalah tahun-tahun yang kacau di Kolombia. Aksi kekerasan yang tak berujung selalu menghiasi pemberitaan media massa lokal dan internasional. Penjualan narkoba, pencucian uang dan pembunuhan adalah fenomena yang sangat marak terjadi.

Pablo Escobar, nama ini sangat terkenal pada periode tersebut. Namanya dikenal sebagai penjahat paling kaya sepanjang sejarah. Kamu tahu apa yang membuat Escobar sangat sukses dan mulus melakukan kejahatannya? Ya, jawabannya adalah sepak bola. Escobar menjadikan sepak bola sebagai strategi untuk memuluskan transaksi bisnis ilegal yang ia lakukan. Juga sebagai strategi untuk mengambil hati masyarakat lewat sepak bola.

Sepak bola bukan sekadar kedok bagi Escobar. Ia memang sangat mencintai olahraga ini bahkan mungkin sejak sebelum memutuskan jadi penjahat. Pablo Escobar bukanlah seorang atlet atau pemain bola. Namun karena kecintaannya tersebut, ia membangun lapangan di desa yang kumuh hanya untuk melihat lapangan itu dipakai bermain bola oleh masyarakat sekitar.

Pablo mulai membangun kekaisarannya di dunia sepak bola mulai tahun 1973. Saat itu, ia melihat Atletico Nacional, tim asal kota kelahirannya di Medellin, baru saja memenangkan Liga Kolombia kedua kalinya sepanjang sejarah klub. Hal ini menarik perhatian Escobar untuk mendanai klub tersebut. Ia bertekad membawa Nacional tak cuma berjaya di Kolombia saja namun menjadi salah satu yang terbaik di Amerika Selatan.

Escobar kemudian menyalurkan hasil perdagangan obat-obatan terlarang itu untuk memperoleh, mengembangkan dan mempertahankan bakat sepak bola terbaik yang bisa ia temukan.

Sebagai penyumbang dana terbesar klub, Escobar tidak serta merta menunjuk dirinya sendiri sebagai direktur dari Atletico Nacional. Namun, keterlibatan pria berjuluk El Patron ini telah menjadi rahasia umum dan dia adalah otak dari Atletico Nacional saat itu. Escobar mengambil alih klub ini bukan hanya karena passion-nya di dunia sepak bola. Melainkan ia telah melihat celah di klub ini sebagai alat untuk pencucian uang dalam jumlah besar.

El Patron kemudian tanpa ragu sering menggelontorkan uang haramnya kepada klub ini. Keterlibatan Escobar sangat dirasakan oleh Pacho Maturana, manajer Nacional dari 1987 hingga 1990. Pada film dokumenter The Two Escobars, Nacho mengatakan bahwa dengan uang dari hasil penjualan narkoba yang Escobar berikan kepada klub, membuat Nacional bisa mendatangkan pemain-pemain asing yang hebat.

Keserakahan Escobar untuk menguasai klub sepak bola membuat ia juga mengambil alih klub saingan sekota Nacional, Deportivo Independiente Medellin (DIM). Sementara itu, Nacional dan DIM bukan hanya dua contoh klub yang dikuasai oleh gembong narkoba. Rekan Escobar, Jose Gacha ‘El Mexicano’ menyuntikkan dana besar-besaran ke klub Millonarios yang berbasis di Bogota. Sementara saingan Escobar, Miguel Rodriguez Orejuela menjadi penyumbang dana terbesar di klub America de Cali. Setidaknya total ada enam klub Liga Kolombia yang di belakangnya ada nama dari gembong narkoba terbesar.

Para gembong narkoba tersebut beraksi dengan cara mensponsori program pengembangan pemain muda dan membangun fasilitas sepak bola untuk klub yang mereka ambil alih. Sementara untuk mendapatkan simpati masyarakat, Escobar dan gembong narkoba lain menggelontorkan sejumlah dana ke pemukiman kumuh yang bisa dipakai untuk pengembangan daerah mereka. Sementara dari segi bisnis, mereka mencuci uang kotor mereka dengan membiayai waralaba sepak bola.

Prestasi yang tercapai berkat uang haram

From Colombia to New York City: the Economics of Cocaine

Meski beberapa klub disponsori oleh gembong narkoba kelas elite Kolombia, namun Atletico Nacional menjadi yang paling sukses. Berkat investasi besar-besaran yang diberikan Pablo Escobar, klub ini mampu memenangkan Copa Libertadores pada 1989. Saat itu, Nacional menjadi klub Kolombia pertama yang berhasil meraih gelar bergengsi se-Amerika Selatan tersebut.

Pada tahun yang sama, klub ini juga mengklaim gelar juara Copa Interamericana dan menjadi runner up Intercontinental Cup. Prestasi ini secara tak langsung mempengaruhi performa timnas Kolombia juga. Setelah absen selama 28 tahun dari Piala Dunia, Kolombia kembali lolos dalam tiga edisi Piala Dunia yakni 1990, 1994 dan 1998.

Delapan dari 22 pemain timnas Kolombia saat itu adalah pemain Atletico Nacional termasuk pemain-pemain bintang seperti Faustino Asprilla, Andres Escobar dan Rene Higuita. Bahkan pelatih Kolombia saat itu, Francisco Maturana menyebutkan kalau suntikan uang narkoba ke dalam sistem terbukti mengangkat derajat sepak bola Kolombia.

Sepak bola di Kolombia yang dikuasai oleh orang-orang jahat tentu berdampak kepada orang yang bermain sepak bola itu sendiri. Penguasa narkoba seringkali terlibat dalam aksi perjudian skala besar. Pengaturan skor pertandingan sudah jadi rahasia umum yang sering terjadi hingga melibatkan wasit dan pemain.

Pada 1989, seorang wasit bernama Alvaro Ortega memimpin pertandingan antar dua klub yang dimiliki oleh dua gembong narkoba yakni America de Cali Orejuela milik Miguel Rodriguez melawam DIM yang pemiliknya adalah Pablo Escobar. Pertandingan itu sudah jelas berlangsung dengan tidak bersih. Pertandingan ini kemudian berakhir dengan Alvaro Ortega yang mati ditembak kepalanya karena dia melakukan keputusan atau mengakhiri pertandingan dengan hasil yang tidak sesuai kesepakatan.

Kejadian ini membuat heboh seluruh dunia. Kemudian FIFA dipaksa untuk menggugurkan kepesertaan Kolombia pada Piala Dunia 1990 karena kasus ini. Selain itu, FIFA dan Federasi Sepak Bola Amerika Selatan (CONMEBOL) mendesak agar Liga Kolombia pada musim itu segera dihentikan hingga kasus penembakan tersebut diselesaikan.

Kematian Pablo Escobar

Pablo Escobar - Teror Berdarah Pablo Escobar Berujung di Penjara dan  Kematian

Pada 1991, Pablo Escobar terpaksa menyepakati perjanjian penahanan dari pemerintah Kolombia agar tidak diekstradisi ke Amerika Serikat. Meski ditahan, Escobar nyatanya terkurung di penjara ‘emas’. Dari balik penjara mewahnya ini Escobar masih bisa terus mengatur dan menghamburkan uang ke dua klub yang ia miliki.

Penjara yang dibuat khusus untuk Escobar ini memiliki sebutan La Catedral. Penjara ini memiliki berbagai fasilitas super VVIP di mana di dalamnya ada lapangan sepak bola, bar dan jacuzzi. Diego Maradona pernah diundang ke La Catedral untuk memainkan pertandingan persahabatan dengan pemain Kolombia pilihan.

Dua tahun kemudian yakni pada 1993, adalah akhir dari perjalanan gembong narkoba terkenal Kolombia. Pablo Escobar dikabarkan dibunuh oleh polisi dalam pelariannya. Ia disebutkan meninggal dalam keadaan memakai sepatu sepak bola. Fakta menarik lainnya adalah, Escobar mati sebelum ia benar-benar bisa melihat Kolombia berlaga di Piala Dunia 1994. Padahal, ia mengembangkan sepak bola Kolombia dengan uang haramnya itu demi bisa melihat negaranya tampil di Piala Dunia.

Namun ketika banyak orang yang percaya bahwa kekerasan di Kolombia akan reda setelah kematian Pablo Escobar, ternyata itu salah besar. Skuat timnas Kolombia 1994 digadang-gadang sebagai yang terbaik sepanjang sejarah. Mereka tak terkalahkan pada babak kualifikasi Piala Dunia 1994 termasuk ketika membantai Argentina 5-0. Legenda Brasil, Pele sampai yakin dan ikhlas jika Kolombia keluar sebagai juara dunia.

Namun kenyataan tak sesuai harapan. Pada pertandingan pembuka, Kolombia justru kalah dari Amerika Serikat 1-2. Salah satu gol tercipta karena bunuh diri Andres Escobar. Tendangan pemain lawan yang ia blok secara tak sengaja malah berbelok ke gawangnya sendiri. Selain itu, Kolombia yang digadang-gadang bakal juara malah berakhir masuk kotak alias tidak lolos dari fase grup Piala Dunia 1994.

Seminggu kemudian, Andres Escobar yang juga kapten timnas Kolombia ditemukan tewas ditembak di luar sebuah klub malam di Kolombia. Kematian ini diklaim sebagai pembalasan dendam karena gol bunuh dirinya itu. Andres Escobar yang tidak memiliki hubungan darah dengan Pablo Escobar ini memiliki julukan The Gentlemen. Julukan ini diberikan berkat permainannya yang bersih.

Andres juga disebutkan bakal bergabung dengan AC Milan usai Piala Dunia 1994. Namun kariernya justru berakhir di tangan pembunuh sadis. Lebih dari 120.000 orang menghadiri pemakaman pahlawan sepak bola Kolombia ini.

Kematian Andres Escobar mengawali awal dan akhir periode kekerasan pada sepak bola Kolombia. Sejak saat itu, banyak pemain yang berhenti atau memilih berkarier di luar Kolombia. Para pejabat dan pemerintah juga mulai menanggulangi kekerasan, penjualan narkoba dan pencucian uang yang marak terjadi di negara tersebut.

Nasib Atletico Nacional usai sepeninggal Pablo Escobar pun akhirnya diserahkan kepada pemilik baru. Kemudian peringkat timnas Kolombia yang semula ada di peringkat 4 anjlok menjadi peringkat 34 selama dekade tersebut.

Pada akhir kariernya sebagai gembong narkoba terkemuka di Kolombia, Pablo Escobar bertanggung jawab atas sebagian besar peredaran kokain yang memasuki Amerika Serikat. Kekayaan bersihnya mencapai 25 miliar USD hingga 30 miliar USD. Jumlah ini menjadikan El Patron sebagai penjahat terkaya dalam sejarah.

Kebaikan hati Pablo Escobar dan kepeduliannya terhadap sepak bola negaranya sebenarnya patut diacungi jempol. Namun sayang, saat itu kekayaan Pablo Escobar kebetulan berasal dari bisnis haram yang ia jalankan. Coba kalau ketika itu pria asal Kolombia ini suksesnya sebagai penjual gudeg beromzet miliaran USD, pasti penggunaan uangnya jadi lebih berkah.

Relasi Sepakbola Latin dengan Sindikat Kejahatan

The Dark Side of Colombia's Beautiful Game: Narco-Football, Money  Laundering, and Mass Murder – Breaking The Lines

Pada 1983, Menteri Kehakiman Kolombia, Rodrigo Lara Bonilla, menyebut ada enam klub sepakbola di negara tersebut yang dimiliki oleh kartel. Atletico Nacional (Pablo Escobar, kartel Medellin). Millonarios (Jose Gonzalo Rodriguez Gacha, kartel Medellin), dan Lara (Miguel dan Gilberto Rodriguez Orejuela bersaudara, dua dari empat pemimpin kartel Cali, kompetitor utama kartel Medellin).

Pada 21 Juli 1998, salah satu pemain legendaris Kolombia, Anthony de Avila—biasa dijuluki “Smurf”—bahkan pernah mendedikasikan golnya ke gawang Ekuador yang meloloskan mereka ke Piala Dunia 1998, kepada Miguel dan Gilberto Rodriguez Orejuela. Avila ketika itu bermain untuk MetroStars, sebuah klub sepakbola Amerika yang kini berubah nama menjadi New York Red Bulls. Kasus kriminalitas dalam wilayah sepakbola Amerika Latin juga pernah melibatkan ayah dari Lionel Messi, Jorge Messi.

Pada 2014 lalu, Jorge pernah diperiksa otoritas perpajakan di Spanyol sehubungan dengan terungkapnya kasus pencucian uang yang dilakukan kartel narkoba Kolombia dalam sebuah laga amal. Berdasarkan berita yang dilansir El Mundo, kartel terkait menggunakan pengaruh Jorge agar dapat melibatkan Messi dan sejumlah pemain bintang lainnya dalam laga amal bertajuk “Messi and Friends Vs The Rest of the World”.

Sebelumnya laga akan dilangsungkan di Medellin pada 29 Juni 2013, tapi kemudian dipindah ke Chicago, AS, 3 Juli 2013. Kartel Kolombia tersebut ditengarai telah memborong tiket dalam jumlah besar pada laga tersebut dan Jorge mendapat keuntungan 10-20 persen. Juni 2015 lalu, seturut laporan El Comercio, setidaknya ada delapan klub sepakbola di Kolombia yang terindikasi memiliki relasi dengan kartel narkotika.

Lima klub bermain di divisi teratas Liga Kolombia: Once Caldas, Aguilas Doradas, Envigado FC, Boyaca Chico FC, dan Cortulua. Sementara tiga lainnya berada di divisi kedua: Union Magdalena, Valledupar FC, dan Depor FC. Kini, kelima klub tersebut tengah dalam penyelidikan pihak berwenang. Kejaksaan Agung Kolombia mengatakan penyelidikan itu “berpusat pada hubungan antara klub dengan uang dari kartel obat bius,” sekaligus memastikan apakah uang yang dihasilkan turut digunakan dalam transfer pemain.

Khusus Envigado FC, klub tersebut sejak dulu sudah termasuk ke dalam daftar yang sudah ada dalam “US Kingpin List” (kebijakan AS mengenai sanksi kejahatan narkotika di Amerika Latin) yang diduga terlibat pencucian uang dan memiliki relasi dengan sindikat kriminal Envigado dan Urabeños.

Pada 26 September 2018 lalu, pihak berwenang Argentina menciduk 15 suporter asal Kolombia yang tergabung dalam “Barras Bravas”—istilah ini bisa diartikan kelompok suporter yang terorganisir dari klub sepakbola di Amerika Latin, sering pula dianggap sebagai istilah untuk suporter garis keras di Argentina—karena kedapatan membawa narkotika untuk dijual di Buenos Aires.

Dalam beberapa tahun belakangan, banyak suporter “Barras Bravas” di Amerika Latin yang bersalin rupa menjadi kartel dengan memanfaatkan jejaring mereka. Hal ini jamak ditemui di berbagai negara Amerika Latin dengan kultur sepakbola yang kuat seperti Argentina, Brazil, hingga Uruguay.

Kasus kriminal yang berasal dari kartel-suporter tersebut juga melibatkan beberapa klub sepakbola. Lagi-lagi di Argentina, pada April 2016, sebuah klub bernama El Porvenir yang bermarkas di Buenos Aires pernah diselidiki otoritas setempat karena diduga kuat terlibat kasus pencucian uang milik kartel Kolombia.

Pada Piala Dunia 2018 ini, kartel narkotika juga kembali menjadikan sepakbola sebagai salah satu media untuk bertransaksi. Di bandara Bogota, Kolombia, 22 Juni 2018, polisi menyita 14 seragam Kolombia palsu berbahan kokain. Pelaku yang ditangkap mengatakan bahwa masing-masing seragam itu terbuat dari lima kilogram kokain dan akan dikirim ke Belanda.

Setelah tiba di Belanda, seragam tersebut akan diekstraksi, lalu diubah menjadi bubuk, sebelum didistribusikan kembali ke para pembeli. Pada tanggal yang sama, pihak berwenang Argentina juga menemukan beberapa kilogram kokain yang disembunyikan di dalam delapan trofi replika Piala Dunia. Rencananya, kokain tersebut akan diedarkan untuk pasar pemadat di Buenos Aires.

Apa boleh bikin, dengan atau melibatkan kartel narkotika, hingga kini sepakbola Amerika Latin masih diseraki dengan berbagai kasus kriminal. Mereka seolah tidak pernah belajar dari masa silam sehingga, mengutip George Santayana, “dikutuk untuk mengulanginya.”