Seni Cita Rasa Tinggi Total Football yang Bukan Sekedar Taktik Timnas Belanda

Selasa, 05 Oktober 2021, 22:18 WIB
32

Taktik toaalvoetbal atau Total Football secara internasional pertama kali dimainkan oleh kesebelasan sepakbola Belanda pada Piala Dunia FIFA 1974. Dengan menerapkan taktik ini Belanda mencapai babak final untuk pertama kalinya.

Pada final itu kesebelasan Belanda berhadapan dengan kesebelasan Jerman Barat dan kalah dengan skor 1-2. Meski gagal mendapatkan trofi Piala Dunia 1974, sejak saat itu kesebelasan sepakbola Belanda mendapatkan respek yang besar dari publik sepakbola dunia.

Gates Of Olympus

Toaalvoetbal digagas oleh Rinus Michels pada tahun 1970. Sistem permainan tersebut mengedepankan pemanfaatan luas lapangan dengan formasi awal 4-3-3.

Menurut Johan Cruyff, dalam sistem permainan toaalvoetbal tidak ada seorang pemain pun yang memiliki posisi tetap. Setiap pemain, kecuali penjaga gawang, harus bisa berperan dengan baik sebagai bek, gelandang ataupun penyerang. Selain itu pemain juga dituntut melakukan mobilitas yang tinggi agar dapat memperdayai pemain lawan.

Taktik ini seperti yang dikenal orang pada awal kemunculannya saat ini sudah tidak lagi dimainkan secara utuh. Tingginya tuntutan kepada setiap pemain terkait ketangguhan fisik, kecerdasan otak dan penguasaan teknik sepakbola yang baik ditengarai menjadi kendala. Meski demikian, jejak-jejak pengaruh toaalvoetbal masih dapat dicermati dalam taktik tiki-taka yang dikembangkan oleh Johan Cruyff di klub Barcelona, Spanyol.

The Origin Of TOTAL FOOTBALL | KASKUS

Jejak tersebut terlihat jelas pada final Piala Dunia FIFA 2010 di Afrika Selatan. Partai puncak itu mempertemukan Spanyol dengan Belanda. Menarik untuk mencermati kenyataan bahwa ketika Spanyol memainkan taktik tiki-taka yang berakar dari toaalvoetbal, Belanda justru meninggalkan taktik itu. Hasil pertandingan membuktikan taktik tiki-taka mampu memperdayai Belanda, Spanyol muncul sebagai juara.

Rise of Olympus

Kekalahan tersebut menimbulkan ketertarikan untuk melihat kaitan antara toaalvoetbal dengan identitas Belanda. Dari penelusuran penelitian yang dilakukan, ditemukan banyak artikel sepakbola mengenai toaalvoetbal. Namun belum ada yang mengaitkan taktik toaalvoetbal dengan identitas Belanda.

Oleh karena itu dalam tulisan ini yang menjadi pertanyaan untuk dijawab adalah: bagaimana identitas Belanda direpresentasikan dalam taktik toaalvoetbal? Bagaimana prestasi Belanda sejak tidak memainkan taktik tersebut pada 2010? Tulisan ini bertujuan untuk memaparkan kaitan toaalvoetbal dengan identitas Belanda dan memberikan gambaran prestasi sejak Piala Dunia FIFA 2010.

Toaalvoetbal Sebagai Identitas Budaya

Antara "Total Football" dan 'Perang Total' Pilpres | SwaMedium

Stuart Hall menjelaskan bahwa identitas budaya dapat dilihat melalui dua cara pandang, yaitu sebagai sebuah wujud (identity as being) dan sebagai sebuah proses (identity as becoming). Dalam cara pandang yang pertama identitas budaya dilihat sebagai suatu kesatuan yang dimiliki bersama, dan merupakan ‘bentuk asli’ seseorang.

Identitas ini ditemukan pada banyak orang yang memiliki kesamaan sejarah dan leluhur. Identitas budaya merupakan cermin kesamaan sejarah dan kode budaya, ia membentuk sekelompok orang menjadi satu. Selain kesamaan sejarah dan kode budaya yang menyatukan, ciri fisik atau lahiriah juga mengidentifikasikan orang sebagai suatu kelompok.

Toaalvoetbal menuntut setiap pemain, kecuali penjaga gawang, untuk mampu berperan dengan baik sebagai bek, gelandang ataupun penyerang. Selain itu pemain juga dituntut melakukan mobilitas yang tinggi agar dapat memperdayai pemain lawan. Oleh karena itu dalam taktik ini diperlukan ketangguhan fisik, kecerdasan, dan penguasaan teknik sepakbola yang baik.

Taktik toaalvoetbal menuntut setiap pemain mampu membuat keputusan yang tepat kemana akan meneruskan umpan pada saat mengontrol bola. Ruang untuk menyerang sudah terbangun jika pemain lawan mendekati daerah pertahanan.

Total Football” Jelang 20 Oktober - Opini Indonesia | Seword

Lapangan tengah hingga daerah pertahanan lawan dijadikan wilayah yang lebih luas untuk kesebelasan. Dimainkan dalam formasi 4-3-3, penjaga gawang ikut membangun serangan dari posisinya berdiri. Seorang bek harus menggiring bola ke lapangan tengah.

Siapapun pemain yang berada di lapangan tengah bertugas untuk menggiring bola ke daerah pertahanan lawan, dan selanjutnya melepaskan tendangan ke arah gawang. Dengan sistem permainan seperti ini kesebelasan memiliki peluang lebih besar untuk memenangkan pertandingan.

Taktik dalam toaalvoetbal dibangun dengan pemikiran kritis terkait keluasan sebuah ruang. Sebuah pemikiran yang tidak bisa dilepaskan dengan keberadaan negeri Belanda dan penduduknya. Paparan berikut menyarikan kaitan toaalvoetbal dengan identitas Belanda melalui pengamatan terhadap geografi dan demografi, pemanfaatan ruang, serta ajaran Calvinisme yang telah menjadi cara hidup masyarakat Belanda.

Secara geografis Belanda berada di wilayah Eropa Barat. Di sebelah timur berbatasan dengan Jerman, di selatan berbatasan dengan Belgia, di sebelah utara dan barat berbatasan dengan Laut Utara. Belanda disebut juga dengan Nederland yang artinya tanah rendah.

Permukaan tanah terendah ada di Rotterdam dengan ketinggian 6,76 meter di bawah permukaan air laut. Sedangkan titik tertinggi ada di Maastricht dengan ketinggian 323 meter di atas permukaan air laut.

Luas daratan Belanda hanya 41.528 kilometer persegi dan ditinggali oleh 16.829.491 jiwa. Kepadatan penduduknya mencapai 405 jiwa per kilometer persegi (Bakker, 2015). Angka tersebut lebih padat jika dibandingkan dengan Swiss dan Kamerun. Swiss memiliki luas wilayah hampir sama namun penduduknya tidak mencapai setengah dari total penduduk di Belanda.

Jumlah penduduk Kamerun di Afrika hampir sama dengan Belanda, namun memiliki luas wilayah sepuluh kali lipat. Berikut ini disarikan tabel perbandingan kepadatan penduduk Belanda, Swiss, dan Kamerun.

Kepadatan penduduk ini menuntut Belanda untuk cermat mengelola ruang agar dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Di daratan yang sempit dibuat hunian deret dengan penyusunan ruang bertingkat, optimalisasi ruang itu bertujuan untuk menampung jumlah penduduk yang lebih tinggi dari luas daratan yang dimiliki. Hasilnya ruang yang sempit tetap tertata rapi meski angka kepadatan penduduk tinggi.

Pengelolaan ruang yang baik dicontohkan oleh Totaal. Organisasi ini menata kehidupan perkotaan secara menyeluruh, mereka mengatur urbanisasi, menata lingkungan, dan memanfaatkan energi dalam satu totalitas, sehingga ruang yang tersedia bisa dimanfaatkan secara maksimal.

Nama organisasi inilah yang menginspirasi pemilihan istilah dalam toaalvoetbal, secara menyeluruh sistem dalam taktik itu menuntut totalitas pemanfaatan ruang untuk memperluas daerah penyerangan dan membatasi pergerakan lawan.

Kuliah di Amsterdam

Totalitas pemanfaatan ruang seperti yang digagas oleh organisasi Totaal tidak lepas dari kenyataan bahwa Belanda merupakan bangsa spatial neurotic. Toaalvoetbal merupakan persoalan lapangan dan eksploitasinya. Fleksibilitas posisi pemain dan pergerakan pemain merupakan upaya menciptakan ruang agar bisa digunakan semaksimal mungkin, bukan berarti pemain menambah ukuran lapangan secara nyata melainkan memperluasnya dalam abstraksi mereka.

Ukuran lapangan pertandingan secara abstrak dapat diubah. Ketika Belanda mengontrol bola, pemain harus bergerak ke setiap ruang di lapangan, dalam abstraksi pemain lawan lapangan menjadi lebih luas. Sebaliknya ketika lawan mengontrol bola, pemain terdekat secepat mungkin merepresi. Represi ini menjadikan lapangan lebih sempit di dalam abstraksi lawan.

Dengan demikian, formasi 4-3-3 menjadi lentur dan dinamis, sehingga memudahkan kesebelasan meraih kemenangan. Kelenturan dan sifat dinamis toaalvoetbal dapat diibaratkan bak identitas budaya. Identitas seringkali tidak jelas dan bukannya tanpa masalah. Identitas budaya selalu bergerak dinamis dan berproses.

Untuk mewujudkan abstraksi dalam lapangan permainan, setiap pemain dituntut memiliki kualitas kemampuan dan daya tahan yang baik. Kemampuan dan ketahanan fisik pemain menjadi ciri yang mengidentifikasi mereka sebagai sebuah kelompok.

Selain totalitas pemanfaatan lapangan, kesuksesan toaalvoetbal diujudkan melalui kerja keras, pemanfaatan waktu, serta produktifitas. Semua hal itu sebenarnya telah ada dalam cara hidup masyarakat Belanda yang dipengaruhi oleh ajaran Calvinisme.

Ajaran Calvinisme melindungi hak setiap manusia untuk bebas, dan berkreasi dalam wilayah masing-masing tanpa tekanan dari pemerintah ataupun gereja. Calvinisme membentuk masyarakat beretos kerja baik karena menekankan prinsip bekerja untuk Tuhan.

Situasi Persepakbolaan Belanda

Total Football: Netherlands' Football Culture And Philosophy

Sebelum memainkan taktik toaalvoetbal tahun 1974 kesebelasan sepakbola Belanda sulit lolos kualifikasi Piala Dunia dan Piala Eropa. Seringkali langkah mereka terhenti pada babak penyisihan grup.

Pada Piala Dunia 1974 kesebelasan Belanda memainkan taktik toaalvoetbal secara internasional untuk pertama kalinya. Pencapaian kesebelasan Belanda meningkat secara signifikan dibandingkan keikutsertaan pada tahun-tahun sebelumnya setelah menerapkan taktik tersebut.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, kesebelasan Belanda juga mendapatkan respek besar dari publik sepakbola. Mantan pelatih Brasil Carlos Alberto yang memberikan pujian terhadap kesebelasan Belanda.

Tim Oranje saat itu dianggap sebagai inovator terbesar dalam hal taktik sepakbola. Kapten Brasil di Piala Dunia 1970, Carlos Alberto, pernah berkata, “Satu-satunya tim yang membuat saya telah melihat segalanya di sepakbola adalah tim Belanda di Piala Dunia 1974 di Jerman. Gaya permainan mereka menakjubkan untuk ditonton dan sangat luar biasa untuk dimainkan”.

Tim nasional Belanda tahun 1974 adalah tim dengan bakat, keahlian, dan kesenian, yang mengubah wajah taktik sepakbola dunia. Maka tak mengherankan ketika para pengamat sepakbola gaek ditanya siapa tim terbaik sepanjang masa, tim Belanda 1974 adalah jawabannya. Ironisnya, ‘tim terbaik’ ini sesungguhnya tak pernah memenangkan Piala Dunia.

Dari kutipan di atas dapat disarikan pandangan Carlos Alberto sebagai pihak luar terhadap kesebelasan sepakbola Belanda. Pemain Belanda di Piala Dunia FIFA 1974 sudah merepresentasikan toaalvoetbal sebagai permainan yang indah untuk ditonton. Penguasaan bola, totalitas pemanfaatan lapangan, represi terhadap lawan, dan fleksibilitas posisi itu telah memperlihatkan permainan sepakbola model baru yang digagas oleh Belanda, yang pada saat itu bukan negara terkemuka dalam sepakbola.

Dalam berbagai pertandingan Belanda menghadapi situasi yang berbeda. Seringkali terjadi pergantian pelatih dan komposisi pemain, taktik toaalvoetbal pun mengalami pasang surut, terkadang bahkan tidak dimainkan. Salah satu dampak yang paling signifikan dalam persepakbolaan Belanda terjadii pada final Piala Dunia FIFA 2010. Saat itu Belanda dikalahkan Spanyol yang mengadaptasi taktik yang bertumpu pada pemanfaatan ruang khas Belanda.

Kegagalan demi kegagalan yang dialami kesebelasan Belanda ditengarai menjadi alasan bagi para pelatih untuk tidak menerapkan taktik itu lagi. Van Marwijk, pelatih Belanda, barangkali lebih mementingkan kemenangan. Sepertinya keindahan permainan dalam toaalvoetbal tidak lagi menjadi pemikiran yang utama. Hal itu tercermin dalam kutipan di bawah ini.

Keelokan tiki-taka Spanyol dikepung oleh keganasan para prajurit Negeri Kincir Angin. Tak pernah terbayangkan, di sepanjang turnamen, Belanda yang sejak 1974 identik dengan beautiful football bermain nyaris tanpa menyisakan keindahan, kecuali hanya memburu gol lalu mengamankan hasil. Itulah sikap praktis Van Marwijk. Pilihannya adalah konsekuensi dari realitas betapa keindahan Belanda selalu dikenang dan ditunggu di tiap turnamen, namun tak berkompensasi formalitas trofi untuk ‘pengorbanan’ itu.

Kelenturan khas toaalvoetbal ‘dikakukan’ oleh kesebelasan Belanda pada Final Piala Dunia 2010. Pelatih dan pemain tidak lagi bermain luwes dan indah untuk ditonton. Arjen Robben, salah satu pemain, beranggapan tidak perlu memainkan toaalvoetbal.

Piala Dunia Tanpa Belanda: Kemana Perginya Total Football? — SERUJI

Pada Piala Eropa tahun 2012 Belanda lagi-lagi gagal. Kesebelasan langsung tersingkir setelah babak penyisihan grup berakhir karena tiga kekalahan. Koninklijke Nederlandse Voetbal Bond (KNVB) menunjuk Louis Van Gaal untuk menggantikan Van Marvijk sebagai pelatih Belanda pada Juli 2012. Taktik permainan Van Gaal merupakan pengembangan dari formasi 4-3-3 khas toaalvoetbal.

Cedera gelandang Kevin Strootman mendorong Van Gaal kembali ke gaya lama, 5-3-2, yang menjadi 3-5-2 atau 4-3-3 saat menyerang. Perubahan formasi itu membuat lini belakang Belanda menonjol, hanya kemasukan empat gol.

Taktik bertahan dan menyerang balik ini tertutup oleh ketajaman penyelesaian akhir. Belanda menciptakan 15 gol, termasuk kemenangan 5-1 atas Spanyol di laga pertama. Juga kemenangan 3-0 atas tuan rumah Brasil pada laga terakhir mereka dalam perebutan peringkat ketiga yang berlangsung di Stadion Nacional, Brasilia, Sabtu 12 Juli 2014.

Dengan komposisi kualitas pemain yang berbeda dari kesebelasan tahun 1974, permainan yang diterapkan mampu mengantarkan Belanda ke posisi 3 Piala Dunia FIFA 2014 di Brazil. Prestasi dalam kejuaraan tingkat dunia tidak menyurutkan keinginan Van Gaal untuk mengundurkan diri. Penunjukan Guus Hiddink dan Danny Blind dilakukan KNVB sebelum Van Gaal benar-benar mengundurkan diri. Guus Hiddink diproyeksikan untuk Piala Eropa 2016 dan Danny Blind untuk Piala Dunia FIFA 2018.

Dalam proses kualifikasi Piala Eropa 2016, Hiddink memainkan taktik total football pada pertandingan pertama saat berhadapan dengan Italia. Hiddink menerapkan formasi 4-3-3 dengan pola permainan menyerang. Hasilnya Belanda kalah 2-0 dari Italia. Kekalahan ini menunjukkan ada sesuatu yang tidak tepat dalam pemilihan pola permainan. Hiddink kemudian memainkan formasi lima bek saat menghadapi Ceko, pada saat Ceko menciptakan gol di babak pertama, Hiddink langsung mengganti taktik lagi.

Is Total Football, the Holy Grail of the modern game, still alive in the  sport today?

Identitas budaya Belanda yang direpresentasikan dalam taktik toaalvoetbal tidak hanya mencakup totalitas pemanfaatan ruang. Penerapan taktik ini juga terkait dengan etos kerja keras, produktif, dan disiplin.

Etos tersebut merupakan cara hidup masyarakat Belanda yang terbentuk antara lain dari ajaran Calvinisme. Prestasi sepakbola Belanda yang inkonsisten sejak Piala Dunia 2010 ditengarai karena munculnya pemahaman yang keliru terkait dengan total football.

Kesebelasan Belanda, pelatih dan pemainnya, memandang toaalvoetbal sebatas perwujudan dari pemanfaatan ruang. Padahal etos kerja keras, produktif, dan disiplin juga berperan penting dalam mewujudkan kesuksesan taktik toaalvoetbal.