Seto Nurdiantoro: Karier Sepak Bola yang Menerjang Rivalitas Panas PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta

Rabu, 22 Desember 2021, 10:21 WIB
62

Edisi Bonanza88, Jakarta – Seto Nurdiantoro, namanya tak mungkin bisa dilepaskan dari sejarah sepak bola Indonesia. Ia sampai sekarang masih aktif terlibat dalam pentas lapangan hijau Tanah Air sebagai pelatih. Dahulu, Seto juga pernah berkiprah menjadi pemain dengan rekam jejak karier lumayan mentereng. Tapi, dari sekian banyak perjalanan yang dilaluinya, ada satu premis menarik, dia mampu menerjang rivalitas panas sepak bola Mataram.

Seto lahir pada 14 April 1974 dengan nama lengkap Matheus Seto Nurdiantoro. Sejak kecil, Seto sudah kenal betul kultur sepak bola Yogyakarta. Wajar saja, ia memang lahir dan tumbuh besar di sana. Masa-masa awal Seto menimba ilmu sekaligus merintis karier sepak bola pun dilalui bersama klub lokal amatir sekitar tempa tinggalnya, PSK Kalasan.

Ingin mendapatkan peningkatan kemampuan, Seto lantas memilih meninggalkan PSK Kalasan untuk gabung akademi sepak bola PSS Sleman. Teknik olah bola Seto ternyata benar-benar makin terasah setelah ditempa intens oleh tim berjuluk Elang Jawa. Puncaknya ketika Seto dipercaya masuk tim utama PSS Sleman pada 1990 untuk mengarungi kerasnya kompetisi level senior.

Wajah Seto lekat menggunakan kostum hijau kebanggan PSS Sleman hingga tahun 1995. Seto kembali ingin merasakan peningkatan karier sepak bola. Ia kemudian memilih pindah ke sesama klub asal Kota Gudeg, PSIM Yogyakarta. Reputasi PSIM Yogyakarta kala itu terbilang jauh lebih mentereng ketimbang PSS Sleman, sehingga Seto meyakini keputusannya bakal berbuah manis.

Karier Seto di PSIM Yogyakarta pelan-pelan berjalan menuju harapannya. Berposisi sebagai gelandang serang, Seto perlahan jadi pemain muda potensial yang disegani di kancah sepak bola Indonesia. Kemampuannya tak hanya piawai membagi bola ke penyerang ataupun membongkar area pertahanan lawan. Kecerdasan permainan Seto berkembang drastis hingga juga cukup tajam dalam urusan mencetak gol.

PSS Sleman Depak Seto Nurdiantoro, #BCSMELAWAN Trending Topic di Twitter

Apa yang dilakukan Seto bersama PSIM Yogyakarta, mendapat pantauan dari klub-klub besar Liga Indonesia. Tawaran untuk pindah klub tak henti-hentinya datang menghampiri Seto agar mau meninggalkan PSIM Yogyakarta. Seto sendiri akhirnya luluh ketika Pelita Solo mengajaknya bergabung pada tahun 1998. Waktu itu kekuatan Pelita Solo amat menjanjikan karena dihuni banyak pemain bintang.

Seto pun merasa kalau keputusannya pindah ke Pelita Solo lagi-lagi akan memberikannya peningkatan level karier. Pelita Solo sudah punya sistem yang mumpuni guna mewadahi pemain-pemain untuk mengembangkan potensi terbaiknya. Kehadiran Seto di sana hanya perlu tampil semaksimal mungkin supaya prestasi dan kecemerlangan karier bisa didapat dengan sendirinya.

Harapan yang dibarengi kerja keras, berhasil mengantarkan Seto menuju cap pemain bintang. Kariernya benar-benar mendapat sorotan berkat penampilan apik Seto mengisi lini tengah. Panggilan Timnas Indonesia pun mulai dirasakan Seto setahun setelah pertama kali gabung Pelita Solo.

“PSIM memang punya cerita bagus dalam perjalanan karir saya. Saat bermain, karir cemerlang saya muncul saat di tim itu. Lalu bergabung dengan Pelita Solo sebagai langkah untuk mengembangkan permainan,” kata Seto.

Sampai 2001, Seto menjadi pemain langganan Timnas Indonesia. Namanya bahkan masuk ke daftar pemain yang dibawa Skuat Garuda untuk berlaga di ajang Piala Tiger (kini Piala AFF) 2000. Manisnya, peran Seto di Piala Tiger 2000 mampu mengantarkan Timnas Indonesia melangkah hingga partai final. Sayang sekali, Timnas Indonesia menyerah dari Thailand di laga puncak dan harus puas menyandang gelar runner-up.

Ada satu cerita unik nan ikonik yang menghiasi perjalanan karier Seto selama berseragam Pelita Solo. Tanggal 8 Agustus 2001, Seto bersama seluruh skuat Pelita Solo harus menjalani laga krusial melawan PSS Sleman. Bagi Seto, ini merupakan laga emosional mengingat PSS Sleman adalah klub yang mengorbitkannya dahulu. Sementara bagi Pelita Solo, pertandingan jumpa PSS Sleman merupakan matchday pekan terakhir Grup Timur dan bakal sangat menentukan nasib tim yang terancam masuk jurang degradasi.

Sejak awal laga, Seto dkk. bermain ngotot demi meraih kemenangan. Ya, hanya hasil menang yang nantinya bisa menyelamatkan Pelita Solo. Buah kerja keras para pemain akhirnya mengantarkan Pelita Solo menang telak 4-1 sekaligus memastikan diri lepas dari bayang-bayang ancaman jurang degradasi.

Seto Nurdiantoro Beberkan Kunci Sukses PSS Sleman di Liga 1 2019 -  Bolasport.com

Seto secara spesial jadi bintang dalam pertandingan tersebut. Ia memborong kesemua gol Pelita Solo alias mencetak quattrick. Keempat gol Seto msing-masing dicetak pada menit ke 22, 49′, 77′, dan 84′. Pasca laga rampung, sanjungan dan pujian bertubi otomatis menghujani Seto yang tampil luar biasa mengesankan, hingga disambut bak pahlawan.

“Empat gol itu jadi torehan pertama saya selama berkarier di Liga Indonesia. Tentu jadi sebuah kebanggaan, apalagi posisi kami saat itu benar-benar kritis dan hampir degradasi,” kata Seto.

Musim 2001 berakhir, manajemen Pelita Solo gagal mempertahankan Seto yang sudah menyelamatkan mereka. Pelita Solo berpindah markas ke Cilegon, keputusan yang kurang disukai Seto. Tidak menemui titik tengah ketika diskusi perpanjangan kontrak, Seto akhirnya memilih meninggalkan Pelita Solo.

Seto hanya ingin gabung ke klub yang punya markas dekat dengan domisili keluarganya di Yogyakarta. Selepas angkat kaki dari Pelita Solo, Seto memilih kembali gabung klub pertamanya, PSS Sleman. Seto seakan ingin menebus dosanya lantaran sudah amat menyakiti PSS Sleman lewat borongan empat gol yang ditorehkannya saat masih membela Pelita Solo.

“Karena setelah musim berakhir, Pelita kan pindah ke Cilegon. Saya ingin klub yang dekat dengan keluarga dan kebetulan PSS memberikan tawaran,” ujar Seto.

Kesempatan kedua berseragam PSS Sleman, kemampuan olah bola yang dimiliki Seto tergolong telah benar-benar matang. Ia jadi tumpuan PSS Sleman yang mulai konsisten berlaga di kompetisi kasta tertinggi. Bahkan Seto ambil kontribusi vital di dua musim beruntun, 2003 dan 2004, yang mana PSS Sleman meraih prestasi mentereng, menembus empat besar papan atas klasemen.

Seto bertahan membela PSS Sleman sampai 2005. Selanjutnya Seto pindah lagi ke PSIM Yogyakarta. Kurang lebih empat tahun lamanya Seto menjalani momen kedua kariernya berseragam klub berjuluk Laskar Mataram. Selepas musim 2009 rampung, Seto pindah ke Persiba Bantul.

Fokus Seto di Persiba Bantul tak sepenuhnya bertindak sebagai pemain. Kala itu Seto sudah memulai masa merintis karier menjadi pelatih. Alhasil, status Seto bersama Persiba merangkap dua jabatan sekaligus, yakni pelatih dan pemain.

Dua tahun mengabdi untuk Persiba Bantul, Seto kembali gabung PSIM Yogyakarta. Kiprah yang ketiga kali Seto di PSIM Yogyakarta menjadi akhi cerita karier sepak bolanya. Pada tahun 2013, Seto resmi gantung sepatu dengan PSIM Yogyakarta sebagai klub terakhirnya.

Perpisahan Menyesakkan Seto Nurdiantoro dengan PSS Sleman | Football Tribe  Indonesia

Rivalitas PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta

Karier sepak bola Seto Nurdiantoro semasa masih jadi pemain, menunjukkan kalau dirinya senang membela klub-klub yang dekat dengan tanah kelahirannya, Yogyakarta. Tapi ada dua klub yang rasanya begitu berarti bagi Seto sendiri, yakni PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta. Seto mengawali karier bersama PSS Sleman, kemudian gantung sepatu dengan menjadikan PSIM Yogyakarta sebagai klub terakhirnya.

Hati Seto yang terbelah untuk PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta juga tertera dalam keputusannya bolak-balik membela kedua klub itu. Seto tercatat sudah dua kali berkesempatan memperkuat PSS Sleman. Sedangkan di PSIM Yogyakarta lebih banyak lagi, Seto melakukannya sampai tiga kali.

Padahal kalau mengulik sejarah sepak bola Indonesia secara kultur sosial, PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta terlibat rivalitas panas. Suporter setia kedua klub tampak saling menyimpan rasa benci dan permusuhan. Pemicunya diperkirakan berawal dari momen PSS Sleman yang berhasil meraih tiket promosi ke kasta tertinggi pada musim 1999/2000. Musim yang sama, PSIM Yogyakarta justru mengalami nasib buruk terdegradasi dari kasta tertinggi.

Perbedaan nasib membuat kelompok suporter PSIM Yogyakarta seakan kehilangan muka di depan para pendukung PSS Sleman. Apalagi PSS Sleman sejatinya masih berstatus junior dibandingkan PSIM Yogyakarta yang sudah berdiri sebelum Indonesia merdeka. Rasa iri dan kecemburuan di antara suporter memunculkan permusuhan abadi yang terbilang masih berlangsung hingga sekarang.

Bahkan rivalitas antara suporter PSIM Yogyakarta dan PSS Sleman sempat menimbulkan kericuhan yang memakan korban jiwa. Beberapa kejadian rusuh suporter mungkin tak disorot media. Namun yang pasti, suporter kedua belah pihak cukup sering terlibat aksi saling serang.

Seto sendiri ternyata tetap berdiri menerjang rivalitas panas PSS Sleman vs PSIM Yogyakarta ketika dia sudah alih profesi jadi pelatih. Sempat berjaya mengantarkan PSS Sleman promosi ke Liga 1 pada musim 2019, Seto kini diketahui sedang bertugas bersama PSIM Yogyakarta. Seto sekarang tengah berjuang menangani PSIM Yogyakarta yang berlaga di babak 8 besar Liga 2.

Bagi Seto, rivalitas panas dua klub Yogyakarta yang pernah dibelanya tidak pernah dia pusingkan sama sekali. Seto selalu berusaha mengedepankan prinsip profesional ketika membela sebuah klub. Terlebih, Seto menyimpan cita-cita agar perseteruan tak sehat antara PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta bisa segera berakhir dan menemui kata damai.

“Saya tidak pernah memikirkan soal rivalitas seperti itu. Setiap berkarier di klub manapun, saya bekerja profesional dan ingin memberikan yang terbaik,” ungkap Seto.

“Saya juga berusaha merangkul dan berdiskusi dengan semua pihak agar tidak terjadi konflik. Apalagi saya memang mengutamakan hal teknis yakni program latihan dan strategi,” ucapnya.

BERITA TERKAIT