‘Si Maknyus’ Bondan Winarno, Presenter Acara Kuliner “Maknyus” yang Pernah Lahirkan Liputan Investigasi Sensasional

Jumat, 31 Desember 2021, 18:08 WIB
44

Edisi Bonanza88, Jakarta – Bondan Winarno, namanya lekat dengan profesi presenter sebuah acara kuliner di televisi. Tahun-tahun terakhir hidupnya, Bondan rutin tampil menghiasi layar kaca memandu siaran berjudul “Wisata Kuliner”. Kala tampil menjalankan tugasnya, Bondan selalu menjelajah dan mencicipi berbagai hidangan kuliner khas Nusantara. Sembari menyantap hidangan, Bondan pasti menceritakan bagaimana cita rasa makanan yang dikunyahnya kepada penonton.

Pria yang tutup usia pada 2017 ini pun punya jargon unik tersendiri selaku presenter makan-makan. Setiap kali Bondan mendapati cita rasa makanannya luar biasa enak, ia hampir selalu mengeluarkan ucapan ikonik, yakni “Maknyus”. Tak heran jika publik Tanah Air sering memanggilnya dengan julukan Pak Bondan ‘Maknyus’, sesuai jargon khasnya tadi.

Eksistensi Bondan secara garis besar tampak berbeda dengan fenomena acara makan-makan zaman sekarang. Bondan merupakan seorang bapak-bapak yang sudah berusia lanjut, sedangkan kini mayoritas presenter acara makan-makan umumnya generasi muda. Meski demikian, Bondan seakan meninggalkan warisan perihal penggunaan jargon yang mana banyak diikuti presenter acara makan-makan kekinian.

Hampir semua konten kreator platform Youtube yang mengambil genre kuliner memunculkan jargon ikoniknya masing-masing, mengulangi apa yang dulu dilakukan Bondan. Nex Carlos misalnya. Food Vlooger yang punya lebih dari 4 juta subscribers ini mahsyur dengan jargon “Makan Cuy!”.

Sama halnya bila melihat konten kreator kuliner lainnya, Magdalena Fridawati. Sepanjang mengudara di platform Youtube membawakan video bertema kuliner dan makan-makan, Magdalena Fridawati begitu ikonik lewat jargon khasnya, “Bar-bar Kuy!”. Sejak Bondan, jargon khas ibarat jadi senjata utama presenter atau Youtuber kuliner guna mendapatkan banyak atensi khalayak ataupun fans.

Mungkin persoalan, apakah Bondan ‘Maknyus’ benar-benar merupakan pelopor penggunaan jargon unik di acara-acara kuliner, memang masih layak untuk diperbebatkan. Tapi yang pasti, istilah Maknyus sudah begitu melegenda dan semua orang Indonesia tahu itu adalah jargon khasnya Bondan Winarno. Level legendarisnya bisa dibilang sama dengan jargon “Spontan Uhuy” yang dahulu dipopulerkan oleh komedian Komeng di acara layar kaca berjudul “Spontan”.

Awal Kemunculan Jargon Maknyus

Istilah 'Maknyus' yang Dipopulerkan oleh Bondan Winarno

Sesuatu yang hebat kadang lahir dari sebuah ketidaksengajaan. Premis tersebut rasanya cocok bila diterapkan ke dalam kasus betapa legendarisnya jargon Maknyus yang menjadi warisan Bondan Winarno. Proses yang dilalui Pak Bondan hingga akhirnya menemukan istilah Maknyus memang terjadi secara kebetulan.

Kisahnya begini, diksi Maknyus ternyata terinspirasi oleh momen makan-makan biasa yang pernah dijalani Bondan bersama teman-temannya. Tepatnya saat Bondan sering makan bersama dengan salah satu rekannya yang bernama Umar Kayam. Bondan melihat Umar sering melontarkan kata-kata serta ekspresi unik begitu mendapati sajian kuliner yang amat lezat.

“Setiap menemukan makanan yang enak, Pak Umar Kayam selalu bilang, “Ini maknyus, mantap,” ucap Bondan melansir Popbela.

Gaya ekspresi Umar lantas diikuti Bondan di pekerjaannya sebagai presenter acara Wisata Kuliner. Bondan tanpa sengaja mengucapkan kata Maknyus setelah lidahnya merasakan kenikmatan makanan yang luar biasa enak. Jargon Maknyus ternyata dinilai kru tv sangatlah catchy, sehingga meminta Bondan untuk terus memakainya.

Naluri kru tv yang menyukai istilah Maknyus selanjutnya menemui keberhasilan. Para penonton layar kaca ikutan tergugah dengan jargon Maknyus yang terus-menerus dikeluarkan dari mulut Pak Bondan. Ahasil, Pak Bondan lama-kelamaan dengan sendirinya punya ciri khas jargon Maknyus.

“Waktu syuting di Wisata Kuliner, saya keceplosan bilang ‘maknyus’ dan ditayangkan. Ternyata, banyak yang suka jadi saya lanjutkan saja. Menurut kru, saya itu Mr one take oke, sekali ambil gambar sudah oke, tidak akan diulang lagi,” ungkap Bondan.

Karier Bondan Winarno di Ranah Kuliner

Tagar Maknyus Menyertai Ucapan Duka Cita untuk Bondan Winarno - Gaya  Tempo.co

Sedikit tambahan informasi yang nanti akan kita ulas lebih dalam, Bondan Winarno memiliki keahlian lain di luar ranah kuliner, yakni menulis. Profesi terdahulunya merupakan seorang wartawan. Bahkan ia pernah menciptakan karya jurnalistik sensasional berupa liputan investigasi.

Namun kita tak akan langsung masuk ke soal kiprah Bondan di jurnalistik. Kita masih membahas bagaimana kiprah Pak Bondan dalam mengarungi kariernya di ranah kuliner. Hal yang menarik, kemampuan jurnalistik Bondan memiliki keterkaitan tersendiri dengan awal kariernya membedah makanan-makanan lezat Nusantara.

Sekitar tahun 2000 silam, Bondan pernah dipercaya oleh sebuah media cetak untuk mengisi kolom khusus yang isinya membahas cita rasa makanan Indonesia. Tiga tahun berselang, Bondan berinisiatif membangun komunitas diskusi di internet (milis) yang dinamainya Jalansutra. Komunitas ini mampu mengumpulkan setidaknya 8.000 orang aktif. Mereka semua, termasuk Bondan, mengisi kolom diskusi Jalansutra dengan pembahasan mengenai wisata kuliner Indonesia.

Memasuki tahun 2005, jadi momen kali perdana Bondan muncul sebagai pembawa acara makan-makan di layar kaca. Ia ditunjuk sebagai host dalam acara bertajuk Bango Cita Rasa Nusantara yang disponsori langsung oleh sebuah merek kecap manis ternama di Tanah Air. Isi acara Bango Cita Rasa kurang lebih seperti Wisata Kuliner. Bondan bersama kru televisi akan meliput sekaligus menjelajahi makanan-makanan lezat Nusantara demi tujuan untuk terus melestarikannya ke khalayak luas.

Hal yang perlu dicatat, acara berkonsep jalan-jalan menjelajahi dan mencicipi masakan tradisional masih jarang ada kala itu. Artinya, bisa dibilang Bondan jadi salah satu pionir presenter acara makan-makan. Namun kebersamaan Bondan dengan acara Bango Cita Rasa Nusantara hanya sebentar. Setelah 15 bulan lamanya bekerja sama, Bondan memilih undur diri.

Belum hitungan tahun pasca mundur dari pekerjaan di Bango Cita Rasa Nusantara, Bondan kembali menekuni profesi presenter acara makan-makan. Kali ini, acara yang dibawakan Bondan adalah Wisata Kuliner, acara yang di kemudian hari mampu melambungkan namanya.

Mulailah Pak Bondan memperkenalkan jargon Maknyus dengan versi lengkapnya “Pokoke Maknyus!”. Setiap kali diksi andalan Bondan itu keluar dari mulutnya, berarti cita rasa makanan yang dicicipinya sangatlah lezat. Karier Bondan pun di ranah kuliner makin melejit lagi berkat jargon Maknyus yang jadi ciri khasnya.

Acara Wisata Kuliner yang dibawakan Pak Bondan terus disiarkan stasiun televisi selama beberapa tahun. Namun Bondan tak selamanya bisa terus eksis sebagai host. Beralasan ingin pensiun berkarier sembari menikmati masa tua, Bondan akhirnya memutuskan undur diri dari Wisata Kuliner.

Momen pensiun tak benar-benar membuat Pak Bondan meninggalkan kecintaannya terhadap ranah kuliner. Bondan tetap menggeluti kuliner tapi dengan cara berbeda, yaitu membuka sebuah kedai kopi. Nama kedai kopi milik Bondan ialah Kopitiam Oey yang punya desain interior berciri khas ornamen-ornamen zaman dulu. Kata Oey sendiri ternyata berasal dari nama lengkap Bondan sendiri yang memakai ejaan lama Bahasa Indonesia, Bondan Oeynarno.

Bondan kembali melahirkan jargon unik dalam siasat pemasarannya mendirikan Kopitiam Oey. Jargon unik yang diusung Bondan untuk promosi Kopitiam Oey adalah “Koffie Mantep, Harganja Djoedjoer”. Strategi bisnis demikian ternyata membuat Kopitiam Oey mampu berkembang pesat. Per tahun 2017, Kopitiam Oey tercatat sudah memiliki 24 cabang yang dibuka di berbagai kota di Indonesia.

Ibarat makin tua makin jadi, Bondan enggan berhenti berkarya setelah Kopitiam Oey sukses. Tahun 2013, Bondan melahirkan karya tulisan yang dipadukan dengan kecintaannya terhadap ranah kuliner. Ya, Bondan menulis dan merilis bukunya yang berjudul “100 Maknyus Bondan Winarno”. Isi buku tersebut menjelaskan resep-resep makanan lezat khas Indonesia.

Keahlian Bondan Winarno dalam Menulis

Berita: Bondan Winarno: Wartawan Investigasi yang Maknyus - Tempo Institute

Kalau kamu pikir Bondan Winarno hanyalah seorang bapak-bapak yang gemar makan, kamu salah besar. Jauh sebelum terkenal dengan jargon Maknyus di acara Wisata Kuliner, Bondan Winarno telah lebih dulu eksis dengan keahliannya dalam menulis. Sejak usia remaja, hasil tulisannya sudah sering dipublikasikan ke sejumlah perusahaan media cetak top Indonesia.

Kemampuannya perihal menulis semakin hari semakin berkembang. Terbukti lewat jabatan-jabatan penting yang pernah diembannya, seperti redaktur kepala majalah SWA (1984-1987) dan pengasuh rubrik kiat Tempo pada 1984. Tapi satu karya jurnalistik Bondan yang paling mahsyur adalah ketika dirinya berhasil melahirkan sebuah liputan investigasi mendalam pada penghujung 1990-an silam.

Bondan menginvestigasi sebuah perusahaan asing tambang emas yang operasionalnya ada di Indonesia, Bre X Minerals Ltd. Poin utama investigasinya berusaha mengungkap kebenaran dalam kasus kematian Manajer Eksplorasi Bre-X Corp Michael Antonio Tuason de Guzman yang penuh kejanggalan. Guzman awalnya dilaporkan meninggal dunia akibat bunuh diri, tapi Bondan tidak lantas mudah percaya begitu saja.

Inisiatif Bondan kemudian berjalan menghampiri pemakaman yang katanya jadi tempat peristirahatan terakhir Guzman. Betapa terkejutnya Bondan melihat makam Guzman yang nihil dari benda-benda seperti bunga atau lilin tanda berkabung. Padahal kedatangan Bondan ke kuburan belum lama setelah Guzman meninggal. Seharusnya ada setidaknya bekas bunga di makam Guzman yang berasal dari kerabat-kerabatnya ketika berziarah.

Bondan terus berusaha mengungkap apa yang sebenarnya terjadi. Dia sampai rela berpergian ke berbagai kota di luar negeri, seperti Manila, Toronto, dan Kanada. Total ada setidaknya 30 narasumber yang sudah diwawancarai Bondan dalam upaya investigasinya itu.

Kesemua hasil investigasi Bondan kemudian dikemasnya menjadi buku berjudul “Bre X: Sebungkah Emas di Kaki Pelangi”. Isi buku memang belum berhasil secara pasti mengungkap kondisi yang sebenar-benarnya dari Guzman. Namun ada sebuah keyakinan Bondan kalau sosok Guzman kemungkinan masih hidup dan kabar kematiannya hanyalah hoax. Guzman diduga sengaja memalsukan kematiannya setelah terlibat dalam skandal Bre X perihal pengeboran emas.

Karya investigasi Bondan sendiri pada 2003 mendapat penghargaan spesial. Institut Studi Arus Informasi (ISA) menjatuhkan “Bre X: Sebungkah Emas di Kaki Pelangi” sebagai buku karya juranalistik investigasi terbaik. Sampai sekarang, buku tersebut masih kerap dijadikan referensi oleh para mahasiswa atau wartawan dalam tata cara melakukan peliputan investigasi.

BERITA TERKAIT