Siapapun Bisa Menjadi Seorang Muncikari di Era Digital

Rabu, 29 September 2021, 19:43 WIB
19

Muncikari, germo, atau lelaki hidung belang adalah orang yang berperan sebagai pengasuh, perantara, dan/atau pemilik pekerja seks komersial. PSK bisa saja tidak tinggal bersama dengan muncikari (umpamanya di dalam suatu bordil), namun selalu berhubungan dengannya.

Muncikari dapat pula berperan dalam memberi perlindungan kepada pekerja seks komersial dari pengguna jasa yang berbuat kurang ajar atau merugikan pekerja seks komersial. Dalam kebanyakan prostitusi, khususnya yang bersifat massal, pekerja seks biasanya tidak berhubungan langsung dengan pengguna jasa.

Gates Of Olympus

Muncikari berperan sebagai penghubung kedua pihak ini dan akan mendapat komisi dari penerimaan pekerja seks komersial yang persentasenya dibagi berdasarkan perjanjian. Muncikari biasanya amat dominan dalam mengatur hubungan ini, karena banyak pekerja seks komersial yang “berhutang budi” kepadanya.

Banyak pekerja seks komersial yang diangkat dari kemiskinan oleh muncikari, walaupun dapat terjadi eksploitasi oleh muncikari kepada pelacur asuhannya. Di kebanyakan negara praktik muncikari adalah ilegal karena potensi penyalahgunaan yang tinggi.

Kisah Keyko, Muncikari yang Miliki 2000 PSK

Keiko : Jangan Sebut Saya Mucikari Besar – Beritalima.com

Muncikari lain yang tidak kalah hebatnya. Yunita, nama aslinya, nama pasarannya Keyko. Perempuan yang saat ditangkap 2012 lalu berumur 34 tahun memimpin jaringan prostitusi di berbagai kota di Pulau Jawa dan Kalimantan. Kliennya tersebar di sejumlah kota.

Rise of Olympus

Ketika ditangkap Keyko mengaku memiliki 2.000 lebih pelacur yang tersebar di berbagai kota: mulai Surabaya, Malang, Semarang, Jakarta, Bandung, hingga Banjarmasin. Dalam mengoperasikan jaringan ini, Keyko dibantu 50 germo. Para germo ini siang-malam siap menyuplai para perempuan panggilan. Tak ayal, sejumlah media massa pun menabalkan gelar ”Ratu Prostitusi” kepada perempuan itu.

Seorang anak buah Keyko kepada Tempo menceritakan, pelanggan baru yang mau nge-book anak asuh Keyko harus mendapat rekomendasi dahulu dari pelanggan lain. Kata sandi yang dipakai, biasanya nama depan si germo.

Prinsip kehati-hatian yang dipegang Keyko yang lain adalah ia tak pernah bertemu dengan germo dan pelacur di bawah jaringan germo tersebut. ”Mereka hanya berkomunikasi lewat telepon tanpa tatap muka,” kata Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Jawa Timur Komisaris Besar Hilman Thayib.

Keyko mempunyai katalog ”anak asuh” nya. Setiap file foto diberi nama sesuai dengan nama si pelacur, lokasi, dan tarifnya. Kebanyakan berasal dari Surabaya, Bandung, Malang, dan Semarang. Di sana tercantum tarif mulai Rp 1,5 juta hingga Rp 15 juta.

Paras ”anak asuh” Keyko tak kalah cantik dibanding artis sinetron yang kerap muncul di layar televisi. Rambut terawat segar dan baju yang dikenakan terlihat mewah. Sebagian berpose seperti sengaja menampilkan dada.

Gosipnya Sih...: Mucikari Keyko

Rata-rata mereka berusia 19-23 tahun. Kebanyakan masih berstatus mahasiswa dan karyawan berbagai perusahaan, termasuk bank swasta.

Anehnya ketika masuk persidangan, Keyko hanya didakwa mempunyai ”anak asuh” 30 orang. “Ia menerima order dari terdakwa melalui BlackBerry Messenger. Tarif sekali kencan Rp 1,5 juta, dipotong untuk terdakwa Rp 500 ribu,” kata Jaksa penuntut, Djauharul Fushus. Hasilnya pada Januari 2013 Keyko hanya dihukum satu tahun penjara.

Cara Mucikari di Era Digital

Rendevu - Capture the moment | FreelancerEtalase

Di Australia ada aplikasi bernama Rendevu. Itu merupakan aplikasi pemesanan penjaja seks yang didirikan oleh Reuben Coppa pada 2017. Dalam laman ABC, Coppa mengatakan Rendevu memudahkan orang yang butuh seks “memeriksa mana penjaja seks yang bisa melayani dan berapa menit waktu yang dibutuhkan untuk tiba di lokasi yang dikehendaki.”

Di aplikasi itu, ada semacam sistem “review” bagi pembeli juga penjaja seks, yang memudahkan pembeli untuk mengetahui bagaimana kualitas penjaja seks yang diincarnya, dan memudahkan penjaja seks menilai bagaimana kelakuan calon pelanggannya. Secara umum, tak banyak aplikasi serupa Peppr dan Rendevu. Kedua aplikasi itu hadir di negara yang melegalkan praktik prostitusi.

Di Jerman, tempat lahir Peppr, misalnya, sejak 2002, Pemerintah Jerman melegalkan prostitusi. Kala itu, diperkirakan ada 400 ribu pekerja seks, yang tak hanya berasal dari warga lokal tetapi juga pendatang seperti Bulgaria dan Romania. Nilai industri seks di Jerman berada di angka $8,3 miliar per tahun. Di negara-negara yang menetapkan kegiatan prostitusi adalah ilegal, aplikasi khusus seks tentu saja sulit hadir.

Biasanya para pengguna jasa menggunakan aplikasi pertemanan dan kencan seperti Tinder, Whisper, Badoo dan lainnya sebagai alternatif. Selain aplikasi kencan, WeChat, yang merupakan aplikasi pesan instan, disalahgunakan sebagai media pencarian dan pemesanan layanan seks secara online. Negara-negara yang melegalkan prostitusi jumlahnya pun masih terbatas.

Selain faktor legalitas yang menjadi hambatan utama kemunculan aplikasi prostitusi di suatu negara, dalam “Why There’s No Uber for Sex Work” disebut secara tersirat bahwa aplikasi khusus prostitusi merupakan ancaman bagi penjual dan pembeli prostitusi.

Ungkap Prostitusi Online Melalui Aplikasi Michat, Satreskrim Polrestabes  Surabaya Ringkus 7 Mucikari – Cakra News

Ini terjadi karena dalam tiap aplikasi umumnya terpasang beragam alat perekam jejak, yang senada dalam “Estimating the Size and Structure of the Underground Commercial Sex Economy in Eight Major US Cities” laporan dari The Urban Institute, memudahkan siapapun untuk melacak aktivitas prostitusi yang dilakukan, tak terkecuali aparat.

Emma Caterine, penulis buku “Criminal, Victim, or Worker?” yang dikutip Vice dalam laporannya itu, menegaskan bahwa kehadiran aplikasi khusus seks akan memudahkan siapapun menganalisis identitas para pengguna.

Sialnya, penjaja seks dan sebagai besar pelanggannya merupakan pekerja rendahan dan umumnya “mereka lebih berhati-hati karena biasanya merekalah yang ditargetkan untuk ditangkap oleh aparat,” kata Caterine. Selain masalah legalitas, ada juga kebijakan dari perusahaan teknologi.

Google maupun Apple sebagai pemilik platform tak menghendaki adanya aplikasi-aplikasi berkonten porno hadir di sistem operasi milik mereka. Kondisi ini menjadikan aplikasi prostitusi sukar berkembang. Dalam “Prostitution 2.0: The Changing Face of Sex Work”, paper yang ditulis Scott Cunningham, penggunaan aplikasi smartphone untuk memperoleh seks hanya merupakan kepanjangan atau pembaruan di bidang seks online.

Dalam paper itu, kemunculan seks online tidak lama terjadi selepas komputer menjadi kebutuhan dan Internet menjadi tempat yang populer. Penyedia seks independen dan para mucikari menemukan potensi dari teknologi tersebut, dengan menciptakan semacam “Yellow Pages” bagi penjaja seks, yang bisa dilihat para calon pembelinya di berbagai belahan dunia.

Menurut Cunningham, yang pertama memperkenalkan seks online ialah sebuah situsweb yang dirilis pada Desember 1996 di Dallas, Amerika Serikat. Pada 1997, muncul website Eros.com, sebagai situsweb penyedia jasa esek-esek besar kala itu.

🥇 ▷ 5 aplikasi Craigslist terbaik dan aplikasi browser Craigslist untuk  Android! » ✓

Pada pertengahan 2000an para penjaja seks menemukan platform baru yakni Craigslist.org, suatu website iklan online. Tanpa perlu modal banyak, penjaja seks dapat mengiklankan jasa mereka memanfaatkan sub-tema “erotic service” pada Craigslist.org. Menjaja kebutuhan birahi secara online punya keunggulan.

Dalam paper itu, keunggulan-keunggulannya seperti jangkauan yang luas. Lalu, memanfaatkan platform teknologi, penjaja-pembeli bisa membangun reputasi, mirip seperti sistem interaksi pengemudi-penumpang dalam aplikasi ride-sharing. Mereka membangun reputasi dengan data-data matrik seperti seberapa sering melakukan pesanan, seberapa sering menerima pesanan, hingga seberapa sering membatalkan pesanan.

Terakhir, pemanfaatan teknologi untuk bertransaksi birahi dianggap lebih aman. Dalam paper tersebut disebutkan bahwa kini penjaja seks secara online lebih banyak dibandingkan cara konvensional, menjaja di jalanan. Penjaja seks jalanan hanya menyumbang 15 persen dari keseluruhan.

Namun, meski lebih besar, penjaja seks online jarang ditangkap aparat. 85 hingga 90 persen pekerja seks yang ditangkap aparat berasal dari penjaja seks jalanan. “Pekerjaan seks tak ubahnya seperti pekerjaan lain, sopir taksi atau petugas keamanan misalnya.

Ketika bekerja mereka keluar dan bekerja sendirian di tempat orang lain. Keamanan sangat penting,” tutur Cam Cox, pemimpin Sex Workers Outreach Project, lembaga yang membantu hak-hak pekerja seks.

Sosok Advenso Dollyres Chavit

Sosok Advenso Dollyres Chavit, Legenda Germo Paling Tersohor di Indonesia -  Semua Halaman - Grid Hot

Kawasan Dolly atau gang Dolly di Pasar Kembang Durabaya dahulu amat terkenal karena hiburan malamnya. Tempat yang sempat ditasbihkan sebagai lokalisasi terbesar di Asia Tenggara kini hanya meninggalkan cerita karena sudah ditutup.

Kini disana sudah menjadi kawasan ekonomi baru yakni menjadi kampung laundry. Rupanya ada sejarah tersendiri bagaimana Dolly bisa berdiri.

Dolly sebenarnya adalah nama panggilan. Nama lengkapnya Advenso Dollyres Chavit. Chavit adalah nama ayahnya, seorang Filipina. Ibunya bernama Herliah, orang Jawa. Dolly lahir sekitar tahun 1929.

“Aku ini hanya sekolah mindho (level SMP). Itu pun tidak tamat karena ada perang. Ibuku pun bukan orang yang mampu. Maka hidupku biasa-biasa saja, tidak ada peningkatan,” tutur Dolly kepada Bambang Andrias, kontributor Majalah Jakarta-Jakarta, 27 tahun silam.

Dolly sendiri terlahir di keluarga yang cukup religius. “Orangtua mendidikku untuk sering ke geraja. Pokoknya harus selalu ingat Tuhan,” tambahnya.

Tapi entah sebab apa perangai Dolly menjadi tomboy dan pemberontak. Ia pun mulai merokok di usia 16 tahun yang saat itu dianggap tabu.

“Umur 16 tahun aku mulai merokok. Waktu itu (rokok) yang terkenal Escort, Commodore atau Kansas,” kenangnya.

Umur 20 tahun, Dolly lanyas menikah dengan seorang kelasi Belanda bernama Soukup alias Yakup dan dikaruniai seorang anak lelaki. Namun ketika anak mereka menginjak usia 5 tahun, Yakup meninggal.

Tak ada yang menafkahi, Dolly dan anaknya mulai kesulitan ekonomi. Bermodal tubuh seksinya, Dolly mulai memasuki dunia gemerlap, dunia prostitusi awal tahun 1950.

Kecantikan Dolly dan kefasihannya berbahasa Belanda membuat banyak laki-laki mencarinya. Sekejap ia menjadi idola, khususnya bagi para eksptariat yang baru turun dari kapal.

“Aku ini cantik. Tubuhku tinggi-ramping. Banyak lelaki tergila-gila,” jelas Dolly.

Ketika jasanya dipakai, ia biasanya melayani klien di Hotel Simpang atau LMS. Namun ia tak mau meminta bayaran uang usai berkencan dengan kliennya.

“Aku ini pelacur kelas atas. Aku enggak pernah mau dibayar,” jelasnya. Kompensasinya adalah: ia hanya mau menerima berbagai barang mahal. Dalam istilah Dolly, “Aku cuma menerima ‘kado’.”

Banyak klien yang ingin menikahi Dolly, namun ia tak mau lantaran tidak ingin nanti anak semata wayangnya menerima perlakukan kasar dari ayah tiri.

Sosok Advenso Dollyres Chavit, Legenda Germo Paling Tersohor di Indonesia -  Semua Halaman - Grid Hot

Tahun 1960, Dolly hujrah ke Kembang Kuning di mana adalah kompleks pelacuran Surabaya. Di sana ia diasuh oleh Tante Beng, muncikari tersohor pada saat itu selama delapan tahun.

Selama diasuh tersebut Dolly belajar ngegermo dari Tante Beng sembari mengumpulkan aset. Tahun 1969 ia kemudian pindah ke Kupang Gunung. Di sana Dolly membangun sebuah rumah di bekas lahan kuburan Cina. Rumah yang ia bangun disebut ‘wisma’ alias rumah Bordil.

Dari satu wisma, berkembang hingga empat. Ada Istana Remaja, Mamamia, Nirmala, lalu Wisma Tentrem. Setiap wisma menampung sekitar 28 pekerja seks komersial (PSK).

Menurut pengakuan Dolly, wisma-wisma itu dibangun tanpa bantuan pemborong maupun arsitek. Dolly lah yang memandori pembangunan itu sesuai dengan apa yang ia pelajari dari orang tuanya.

Dari pelacur lantas menjadi germo, namun Dolly tak mau dianggap demikian. “Aku memang mbangun bordil. Tetapi aku tidak mengelola sendiri. Habis mbangun tak sewakan,” kisahnya.