Sirkuit Mandalika dan Misi Indonesia Terlibat Lebih di Gemerlap Ajang MotoGP

Kamis, 30 September 2021, 16:51 WIB
39

Tahun 2019 menjadi salah satu tahun bersejarah bagi Indonesia. Sebab, di tahun tersebut menjadi tonggak dimulainya lobi-lobi menjadi tuan rumah gelaran balap motor paling bergengsi di dunia, MotoGP.

Kawasan eksotik Mandalika di Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi titik yang dipilih oleh Pemerintah Indonesia dalam membangunn sirkuit MotoGP berkonsep jalan raya, sebagai keseriusan Indonesia menjadi salah satu tuan rumah di kalender MotoGP.

Gates Of Olympus

Setelah melakukan negosiasi dan kontrak dengan pihak Dorna, pembangunan sirkuit langsung dimulai sejak akhir tahun 2019 dan ditargetkan rampung pada tahun 2021.

Direktur Utama PT Pengembangan Pariwisata Indonesia atau Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC), Abdulbar M Mansoer mengatakan, pihaknya menggandeng perusahaan asal Prancis, Vinci Contruction Grands Projects dalam membangun Sirkuit Mandalika.

Sementara itu untuk pembiayaan, pembangunan Sirkuit Mandalika mendapat pendanaan dari Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB).

“Kita bersaing dengan Brasil, tapi kita yang menang dan langsung menandatangani kontrak kerja sama setelah itu. Kami langsung siapkan tempat dan bangun lintasan balapan,” tutur Abdulbar pada Selasa (19/02/2019).

“Kita punya waktu 2 tahun. Diharapkan selesai 2021. Ini panjangnya 4,3 km ada 18 tikungan dan dikelilingi oleh bukti dan pantai,” tandas dia.

Rise of Olympus

Namun munculnya pandemi virus corona (Covid-19) pada pertengahan 2020 lalu, membuat progres pembangunan sirkuit sedikit terganggu. Akibatnya, Indonesia harus menunda debut menjadi tuan rumah MotoGp tahun 2021.

Sebagai gantinya, Dorna memasukan Indonesia menjadi salah satu tuan rumah di kalender MotoGP musim 2022 mendatang, dengan diawali tes pramusim pada Februari tahun depan.

 

Alasan Dorna Pilih Indonesia

Tiga bulan setelah Indonesia menandatangani kontrak dengan pihak Dorna selaku penyelenggara MotoGP, sang CEO Dorna, Carmelo Ezpeleta langsung menemui Presiden Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) pada Maret 2019 lalu.

Ezpeleta memuji antusias Indonesia menjadi tuan rumah MotoGP, karena banyaknya fans MotoGP di Tanah Air. Hal tersebut dinilai sangat penting untuk mendongkrak nama Indonesia di dunia Internasional, dan juga mengangkat potensi sektor pariwisata.

“Sudah bertemu dengan mereka (Presiden dan Menpora). Mereka berkomintmen untuk melakukan persiapan yang maksimal dan sebaik mungkin,” ujar Ezpeleta dilansir dari laman resmi MotoGP.

“Di satu sisi kami melayani area baru untuk pariwisata dan dampak ekonomi, di sisi lain kami akan membuat sirkuit yang benar-benar aman di tempat yang sangat bagus. Sirkuit ini merupakan sirkuit permanen yang tepat dibangun di Mandalika,” sambungnya.

 

Progres Pembangunan Sirkuit Mandalika

Sempat terganggu akibat pandemi virus corona (Covid-19) yang dua kali angka kasusnya melonjak, kini pembangunan Sirkuit Mandalika di Nusa Tenggara Barat, sudah terlihat bentuknya.

Jalanan sirkuit sudah mulai teraspal, dan pembangunan sudah mencapai 92 persen per Agustus 2021 lalu. Sebelum digunakan untuk tes pramusim MotoGP 2022, Sirkuit Mandalika lebih dahulu dijajal untuk final ajang balap World Super Bike (WSBK) Indonesia pada November 2021 nanti.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia, Bambang Soesatyo lewat konferensi pers virtual di Sirkuit Mandalika, Kamis (12/08/2021).

“Lintasan sirkuit juga dipastikan super aman bagi para pembalap. Kepercayaan mereka terhadap progres pembangunan sirkuit dan kawasan Mandalika juga sangat tinggi,” katanya dilansir dari Detik Sport.

Pria yang juga menjabat sebagai Ketua MPR RI ini menjelaskan, Sirkuit Mandalika sebentar lagi siap digunakan untuk ajang balap resmi Internasional. Sebab hampir seluruh fasilitan sirkuit akan segera rampung.

“Aksen penonton ke sirkuit sudah selesai dikerjakan. Begitu juga dengan fasilitas seperti dipasangnya concrete barrier, tunnel, service area, hotel dan beberapa fasilitas pendukung lain juga, sudah selesai dikerjakan 100 persen,” papar Bamsoet.

“Secara keseluruhan, pekerjaan konstruksi pembangunan Sirkuit Internasional Mandalika sudah sekitar 92 persen,” jelasnya.

Selain itu, pengaspalan lintasan juga sudah mencapai 98 persen terdiri dari pengaspalan outer and inner service road.

Sementara, pengaspalan track lane 68 persen, pengaspalan run-off 37 persen, run-off gravel 99 persen dan run-off grass 98 persen.

 

Merawat Sirkuit Mandalika

Ambisi Indonesia menjadi tuan rumah ajang balap Internasional seperti MotoGP, tidak lama lagi akan menjadi kenyataan sekaligus mengakhiri penantian selama 27 tahun lamanya untuk kembali melihat para rider MotoGP berlaga.

Terakhir kali Indonesia menggelar MotoGP tahun 1996 lalu. Kala itu balapan digelar di Sirkuit Internasional Sentul, Bogor, Jawa Barat, dengan kapasitan motor paling tinggi adalah GP 500, GP 250, dan GP 125.

Untuk menjadi tuan rumah kali ini, Indonesia telah menyiapkan Sirkuit Mandalika di Nusa Tenggara Barat yang dibangun dari awal sepanjang 4,31 km berkonsep sirkuit jalan raya, dengan menelan biaya hingga Rp1,1 triliun.

Dengan dana sebesar itu, Sirkuit Mandalika diharapkan menjadi salah satu sirkuit balap terbaik di dunia. Akan tetapi tidak hanya membangun, masalah lain akan muncul menjadi pekerjaan rumah bagi pihak-pihak terkait Sirkuit Mandalika, yakni merawat dan mengelola sirkuit.

Jika Dorna, IMI dan FIM sudah memberikan restu penggunaan Sirkuit Mandalika, itu artinya pengelola harus siap untuk melakukan pemeliharaan. Sebab, maintenance sangat vital untuk keberlangsungan pengunaan sirkuit jangka panjang.

Sirkuit tak bisa sekadar dibangun lalu selesai. Karena trek tidak setiap hari menggelar balapan, perawatan rutin dibutuhkan agar sirkuit tetap terjaga dan itu butuh biaya besar.

Di Tanah Air sendiri sirkuit Mandalika yang berkonsep jalan raya bukanlah pertama kali ada di Indonesia. Sejak tahun 70-an, Indonesia sudah melangsungkan balapan di sirkuit jalan raya. Contohnya di Pangkalan Kalijati pada tahun 1970-an, di Tugu Muda Semarang pada tahun 1975, dan juga di Gelora Senayan.

Namun setelah itu jarang sekali ada balapan di sirkuit jalan raya, hingga akhirnya muncul Sirkuit Internasional Jalan Raya yang dinamai Lippo Village Internasional Formula Circuit (LVIFC).

Sirkuit sepajang 3,2 km itu menduplikat sirkuit jalan raya milik Kota Monako, yang dirancang oleh perancang sirkuit balap kenamaan asal Jerman, Hemann Tilke pada 29 Agustus 2008.

Ia sudah mendesain berbagai macam sirkuit di dunia. Sebut saja salah satunya adalah sirkuit jalan raya Formula One Marina Bay di Singapura. Sirkuit Marina Bay tersebut dibangun pada tahun 2008.

Namun sayang sirkuit yang dibangun di kawasan Karawaci, Tangerang, itu kini hanyalah tinggal kenangan. Sirkuit tersebut tadinya dibuat untuk menjadi tuan rumah A1 Grand Prix 2008-2009. Tetapi, dibatalkan karena hingga tenggat waktu yang ditentukan lintasan belum siap.

Tak ingin sia-sia, James Riady selaku bos grup Lippo akhirnya memilih menggelar kejuaraan balapan lokal yang mereka selenggarakan bernama Lippo Village GT Car Championship.

Event tersebut digarap serius oleh bos Lippo dengan mengerahkan 50 direkturnya untuk mengawal acara ini. Acara sendiri berjalan sukses, dengan membludaknya penonton mencapai 115.000 orang yang hadir selama dua hari gelaran.

Sebelumnya gelaran dimulai, banyak pihak yang melontarkan nada sinis terakit keamanan sirkuit yang belum optimal karena pembangunan belum sepenuhnya rampung.

Akan tetapi kekhawatiran terkait sisi safety itu tidak terbukti. Sebab, acara berjalan aman. Malah saat ada mobil melintir dan menabrak pagar pembatas, risiko pebalap terluka dan mobil rusak parah mampu dihindari.

Sayangnya, itu menjadi event pertama terbesar dan terakhir di Sirkuit Lippo Village karena kini terbengkalai sejak tahun 2012. Padahal, letaknya berada di lokasi yang sangat strategis.

Kini sebagian besar area trek digunakan untuk mengakomodasi Universitas Pelita Harapan sebagai tempat parkir dan untuk perluasan kampus, termasuk bangunan paddock.

Pemeliharaan Sirkuit Sentul mungkin contoh yang baik. Pihak pengelola, PT Sarana Sirkuitindo Utama, menggandeng Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dan PT Pertamina (BUMN).

Sentul mengoptimalkan proyek maintenance lintasannya dengan aspal yang diproduksi oleh Pertamina, sebagai perusahaan energi yang juga membuat produk asphalt.

Intinya, sinergi serta kolaborasi antara pengelola, pemerintah daerah dan pusat diperlukan demi menjaga kelangsungan sirkuit. Sehingga dapat rutin menggelar balapan MotoGP atau F1.

Kita tentu berharap pemerintah Indonesia dan juga semua pihak terkait Sirkuit Mandalika, mampu merawat dan mengelola dengan baik untuk bisa digunakan jangka panjang sebagai salah satu sirkuit balap kebanggaan Indonesia. 

Sementara itu MotoGP Indonesia 2022 sendiri berpeluang digelar pada 13 atau 20 Maret mendatang. 

Dilansir dari Speedweek, Dorna telah membuat draf jadwal MotoGP 2022 yang akan menggelar 21 balapan. Seperti biasa, balapan dibuka di Sirkuit Losail, Qatar pada 06 Maret 2022.

MotoGP Indonesia di Sirkuit Mandalika akan menjadi seri kedua. Balapan di sirkuit jalan raya pertama untuk ajang MotoGP itu diklaim berpeluang digelar pada 13 Maret atau 20 Maret 2022.