Sisi Lain yang Tersembunyi dari Game Warcraft III : Frozen Throne

Jumat, 31 Desember 2021, 11:37 WIB
50

Edisi Bonanza88, Jakarta – Blizzard menepati janjinya untuk merilis versi remastered dari game real-time strategy ternamanya yaitu Warcraft III: Reforged. Game ini resmi dirilis hari ini untuk global dan bisa dimiliki via Battle.net.

Masih sama dengan pengumuman di acara BlizzCon 2019, di dalam game ini akan langsung tersedia dua ekspansi. Warcraft III: Reforged akan langsung menyediakan ekspansi dari Reign of Chaos dan The Frozen Throne. Di dalamnya akan tersedia tujuh ekspedisi singleplayer yang terdiri lebih dari 60 misi.

Grafis dan audio di versi remastered ini juga diklaim lebih menarik dengan peningkatan signifikan. Game tersebut juga masih akan mendukung mode multiplayer antar versi. Jadi versi remastered alias Reforged masih bisa terhubung ke Warcraft III orisinil.

Dikutip dari TechPowerUp, Blizzard juga sudah merilis spesifikasi untuk memainkan game ini. Mengingat game Warcraft III: Reforged merupakan versi remastered dari game lawas maka spesifikasi yang dibutuhkan tidak tinggi.

Pertama di sisi prosesor, dibutuhkan minimal adalah Intel Core i3-530 atau AMD Athlon Phenom II X4. Kedua adalah kapasitas RAM, minimal PC gaming tersebut harus memiliki 4GB RAM. Ketiga adalah kartu grafisnya yang sudah bisa berjalan di NVIDIA GeForce GTX 450 atau AMD Radeon HD 5750.

Bagi gamer yang ingin memainkan game ini di kualitas maksimal, spesifikasinya juga masih berada dikelas game AAA. Gamer diimbau untuk menyedikana prosesor paling rendah adalah Intel Core i5-6400 atau AMD Ryzen 7 1700X.

Kapasitas RAM yang dibutuhkan sebesar 8GB dengan kartu grafis cukup mengandalkan NVIDIA GeForce GTX 960 atau AMD Radeon R9 280X.  Spesifikasi barusan akan mendukung gamer untuk memainkan game Warcraft III: Reforged di resolusi 4K.

Pihak Blizzard menyebutkan ada dua versi yang akan dirilis, standard edition dan edisi Spoils of War. Standard Edition diibanderol USD29,99 atau senilai Rp400 ribu. Edisi Spoils of War dibanderol USD39,99 atau kisaran Rp559 ribu yang berisi skin untuk hero Arthas, Cenarius, Jaina, dan Thrall.

Beberapa waktu lalu juga dilaporkan ESL dan DreamHack mengumumkan kesepakatan tiga tahun dengan Blizzard Entertainment. Perusahaan esports terbesar di dunia dan penyelenggara festival game terkemuka ini akan menggelar ESL Pro Tour baru untuk StarCraft II dan Warcraft III: Reforged.

Sisi lain game ini dan alur cerita

Archimonde image - Return of the Storm mod for Warcraft III: Frozen Throne  - Mod DB

Tidak lama sesudah Archimonde tewas usai gagal mengklaim kekuatan dari Pohon Dunia, pasukan Burning Legion yang masih ada pun kini tercerai-berai. Di tempat lain, Illidan yang sudah diusir dari Kalimdor karena dituduh berkhianat & mengkonsumsi kekuatan iblis kini merenung sendirian di tepi samudera.

Di tengah-tengah renungannya, ia memanggil ras yang sebelumnya merupakan bagian dari ras peri (Elf), namun sekarang memiliki wujud seperti reptil & hidup bersembunyi di dasar samudera karena nafsu mereka yang begitu besar akan sihir : ras Naga. Di bawah perintah Illidan, para naga pun bersiap menjalankan sebuah rencana besar yang misterius.

Bangkitnya para Naga Samudera

World of WarCraft The Frozen Throne Frost Dragon HD wallpaper | Wallpaper  Flare

Di tempat lain di tengah hutan, Maiev Shadowsong – seorang prajurit Night Elf penjaga penjara (warden) – sedang bergerak bersama pasukannya menembus hutan untuk mencari Illidan & mengembalikannya ke penjara. Maiev akhirnya menemukan Illidan bersama serombongan Naga, namun Illidan berhasil melarikan diri dengan berlayar ke tengah lautan.

Usai mengalahkan serombongan kecil Naga yang mengawal Illidan, Maiev & pasukannya pun kemudian menaiki kapal lain untuk berlayar ke tengah lautan mengejar Illidan. Rombongan Maiev akhirnya berlabuh di suatu pulang asing di tengah laut yang tak pernah tercatat dalam peta. Di tengah rasa kebingungannya, Maiev & pasukannya berhasil menemukan Illidan yang ternyata sedang mencari artefak terlarang Mata Sargeras (Eye of Sargeras) di pulau tersebut.

Maiev berusaha menghentikan Illidan, namun Illidan terlalu kuat sehingga Maiev terpaksa melarikan diri sebelum kuil di pulau tersebut akhirnya tenggelam. Merasa tidak bisa mengalahkan Illidan sendirian, Maiev pun kemudian meminta bantuan Malfurion & Tyrande, 2 pemimpin pasukan Night Elf saat menghentikan pasukan Burning Legion.

Maiev & Tyrande – di tengah rasa benci mereka satu sama lain karena Maiev tidak menyukai tindakan Tyrande melepaskan Illidan dari penjara – selanjutnya menelusuri jejak Illidan bersama-sama. Di perjalanan, mereka bertemu kelompok Blood Elf – ras peri dengan cara hidup mirip manusia – yang dipimpin oleh Pangeran Kael’thas & sedang mengungsi dari pemukiman mereka.

Pasukan Maiev & Tyrande kemudian setuju untuk membantu rombongan tersebut mengungsi sambil melindungi mereka dari ancaman sisa-sisa pasukan Burning Legion (Undead). Ketika semakin banyak pasukan Burning Legion yang bermunculan & mengancam mereka, Tyrande akhirnya mengorbankan diri dengan cara memanggil hujan meteor (Starfall) di atas jembatan sehingga Tyrande jatuh terseret arus sungai & pasukan Burning Legion tidak bisa mengejar rombongan High Elf lebih jauh.

Maiev beserta rombongan Hign Elf kemudian menemui rombongan Malfurion yang berhasil mengetahui bahwa Illidan & pasukan Naganya berencana memanfaatkan Mata Sargeras untuk melelehkan daerah kutub utara (Northrend). Di lain pihak, Maiev berkata pada Malfurion bahwa Tyrande sudah meninggal terseret arus sungai – meskipun saat itu belum diketahui apakah Tyrande sudah tewas atau belum – sambil mengatakan menangkap Illidan adalah cara untuk membalaskan kematian Tyrande.

Mendengar kabar itu, Malfurion yang terbakar emosi kemudian memerintahkan serangan besar-besaran untuk menggagalkan proses ritual pengaktifan Mata Sargeras yang dilakukan Illidan. Illidan yang kini menjadi tawanan Malfurion mengatakan bahwa ia ingin melelehkan kutub utara untuk menghentikan Lich King yang juga merupakan musuh Night Elf, namun Malfurion menolak pembelaan Illidan sambil mengatakan ia menyebabkan kematian Tyrande secara tak langsung.

Di tengah perdebatan mereka, Kael’thas mengabarkan bahwa pasukannya melihat Tyrande masih hidup. Merasa dibohongi oleh Maiev, Malfurion kemudian mengusir Maiev & membebaskan Illidan. Pasukan naga Illidan & pasukan Night Elf milik malfurion kemudian bekerja sama untuk menyelamatkan Tyrande yang saat itu berada dalam ancaman pasukan Undead. Setelah berhasil menyelamatkan Tyrande, Illidan lalu pergi meninggalkan Malfurion & Tyrande ke dimensi lain. Tak lama sesudah Illidan pergi, Maiev & pasukannya muncul kembali untuk mengejar Illidan & menjebloskannya kembali ke penjara.

Perebutan Kekuasaan di Dunia Neraka

Warcraft III: The Frozen Throne GAME MOD Warcraft 3 Extended Edition  v.Alpha 1.1.2 - download | gamepressure.com

Kael’thas yang berhasil mengungsi dengan bantuan Night Elf kini sudah tiba di pemukiman manusia (Human) yang dipimpin oleh Garithos, seorang ksatria manusia yang memiliki sifat rasis & tidak menyukai ras selain manusia. Kael’thas lalu diperintahkan Garithos untuk melindungi wilayah Dalaran dari serbuan pasukan Undead dengan pasukan seadanya.

Ketika merasa terdesak, pasukan Naga pimpinan Putri vashj kemudian muncul & membantu pasukan Blood Elf pimpinan Kael’thas. Tak lama setelah berhasil memukul balik pasukan Undead tersebut, pasukan Garithos muncul & ketika ia melihat pasukan Kael’thas bekerja sama dengan naga, ia pun menjebloskan Kael’thas & kelompok High Elf pengikutnya ke penjara dengan tuduhan mengkhianati kelompok manusia.

Di penjara, Putri Vashj & pasukannya muncul kembali untuk membebaskan Kael’thas & pasukannya. Ia pun kemudian membawa Kael’thas beserta pasukannya ke Outland, sebuah wilayah di dimensi lain yang miliki suasana gersang seperti neraka. Ketika Putri Vashj akan memperkenalkan rombongan Kael’thas ke tuan mereka Illidan, mereka justru menemukan pemukiman Night Elf milik Maiev & Illidan sedang dikurung dalam sebuah kereta. Pasukan Naga & Blood Elf kemudian menyandera kereta yang membawa Illidan dari kawalan pasukan Night Elf.

Illidan yang baru bebas kemudian bercerita mengenai penyebab ia berada di Outland sebelum ditangkap oleh rombongan Night Elf pimpinan Maiev. Tak lama setelah dibebaskan Tyrande & diusir Malfurion, Illidan membuat perjanjian dengan salah satu iblis pemimpin Burning Legion bernama Kil’jaeden. Kil’jaeden memerintahkan Illidan untuk menghancurkan Lich King di kutub utara untuk mencegahnya membelot dari Burning Legion. Sebagai gantinya, Illidan akan mendapatkan kekuatan untuk memuaskan rasa hausnya dari sihir.

Rencana Illidan tersebut gagal karena saat menjalankan ritual memakai Mata Sargeras, pasukan Night Elf muncul & menggagalkan rencananya sehingga setelah ia berhasil menyelamatkan Tyrande, ia pun melarikan diri ke wilayah Outland yang terpencil dengan harapan terhindar dari kemarahan Kil’jaeden karena Illidan gagal melaksanakan perintahnya.

Untuk menguasai wilayah Outland & mencegah Kil’jaeden menemukan dirinya, Illidan & para pengikutnya pun kemudian merancang siasat untuk menghancurkan markas dari Magtheridon – iblis raksasa penguasa Outland – beserta portal-portal antar dimensi yang menghubungkan Outland dengan dunia luar. Rencana tersebut berhasil & Illidan pun menjadi penguasa tunggal Outland, namun ternyata Kil’jaeden tetap berhasil menemukan Illidan.

Illidan terpaksa memohon ampun & meminta satu kesempatan lagi untuk menghancurkan Lich King. Kil’jaeden yang melihat para pengikut baru Illidan – termasuk pasukan milik Kael’thas – menerima permohonan Illidan sambil memberi ancaman bila Illidan gagal lagi. Tak lama setelah Kil’jaeden pergi, Illidan mengumpulkan para pengikutnya untuk bersiap meninggalkan Outland & menuju tempat Lich King.

Perang Saudara di Kubu Undead

WarCraft 3 Reforged - UNDEAD Gameplay - YouTube

Di wilayah Lordaeron yang kini dikuasai oleh pengaruh Undead, Arthas yang sudah mengetahui kabar kematian Archimonde mengklaim dirinya sebagai raja yang baru. Tindakan Arthas itu menimbulkan rasa tidak suka dari trio iblis Dreadlord yang masih loyal terhadap Burning Legion (Balnazzar, Detheroc, & Varimathras) karena mereka tidak suka bila yang berkuasa atas mereka adalah anak manusia.

Maka, ketiga iblis Dreadlord itupun merencanakan upaya pembunuhan. Sebagai permulaan, mereka menghubungi Sylvanas Windrunner – jenderal High Elf yang dikutuk menjadi Undead oleh Arthas – agar mau bekerja sama dengan mereka. Usai melakukan kesepakatan dengan Sylvanas, trio Dreadlord tersebut memanggil Arthas untuk menemui mereka.

Tanpa curiga Arthas yang ditemani Kel’thuzad datang memenuhi undangan mereka, namun sesampainya di sana Arthas langsung disekap dalam suatu bangunan sebelum akhirnya berhasil keluar dengan dibantu oleh pasukan Undead yang loyal terhadap Lich King. Namun usai berhasil keluar dari bangunan tempatnya disekap, Arthas dicegat oleh Sylvanas yang memanahnya dengan panah pelumpuh saraf sehingga Arthas tidak bisa melarikan diri.

Tepat sebelum Sylvanas mulai menyiksa & membunuh Arthas, Kel’thuzad mendadak muncul kembali sehingga Sylvanas terpaksa melarikan diri. Kel’thuzad lalu meminta Arthas untuk segera pergi ke Northrend (kutub utara) untuk membantu Lich King yang kekuatannya melemah usai ritual pelelehan es yang dilakukan Illidan. Arthas beserta pasukan pengawalnya pun berlayar pergi, sementara Kel’thuzad tetap tinggal bersama pasukan Undead di Lordaeron yang masih tersisa.

Varimarthas – salah satu dari trio Dreadlord yang mengajak Sylvanas bekerja sama – muncul kembali ke hadapan Sylvanas & mengajaknya agar bergabung dengan mereka, namun Sylvanas menolak permintaannya sambil mengatakan bahwa ia tidak ingin dikendalikan siapapun. Merasa tersinggung, Varimarthas pun memerintahkan pasukannya untuk menghabisi Sylvanas beserta para pengikutnya.

Perang Penentuan Nasib Lich King

Nikmati Petualangan World of Warcraft: Wrath of the Lich King Indogamers

Ketika Arthas tiba di Northrend, ia & pasukannya disambut oleh sesosok Undead berwujud kumbang raksasa bernama Anub’arak. Ia berkata bahwa ia dikirim oleh Lich King untuk membantu misi Arthas di Northrend. Setelah berhasil menghancurkan pemukiman milik rombongan High Elf yang bermukim di sana & sekumpulan naga-naga kutub raksasa, pasukan Undead yang dipimpin oleh Arthas & Anub’arak memutuskan untuk bergerak lewat kompleks bawah tanah yang sebelumnya merupakan tempat tinggal dari ras Nerubian – ras misterius dengan wujud manusia mirip laba-laba – untuk mempersingkat waktu ke tempat bersemayamnya Lich King.

Setibanya di dekat menara tempat roh Lich King bersemayam, Arthas & pasukannya menemukan bahwa Illidan & para pengikutnya berada di dekat sana untuk melaksanakan perintah dari Kil’jaeden : membinasakan Lich King. Roh Lich King sendiri tersimpan dalam suatu jubah yang tersimpan di dalam suatu menara. Pintu masuk menuju menara tersebut hanya bisa dibuka bila ada yang berhasil menguasai keempat obelisk (semacam tiang raksasa) ajaib yang berada di sekitar menara tersebut.

Maka, baik Arthas maupun Illidan mulai mempersiapkan pasukannya untuk menguasai obelisk-obelisk tersebut demi keberhasilan misi mereka masing-masing. Perang antara pasukan milik Arthas dengan pasukan Illidan pun pecah. Masing-masing kubu saling serang & saling bergantian menguasai obelisk-oblelisk di sekitar menara. Meskipun pasukan Arthas sempat terdesak oleh pasukan gabungan Naga & Blood Elf milik Illidan, Arthas akhirnya berhasil menguasai seluruh obelisk yang ada di sekitar menara sehingga pintu masuk menuju menara pun kini terbuka.

Tepat sebelum Arthas masuk ke dalam menara, ia & Illidan sempat terlibat duel sengit yang berhasil dimenangkan oleh Arthas. Saat Arthas berjalan menaiki tangga ke atas menara, suara-suara yang merupakan ingatan dari masa lalunya mengenai bagaimana ia mengkhianati teman-teman lamanya sendiri untuk kemudian menjadi bagian dari kelompok Undead terus-menerus terngiang dalam dirinya.

Perang Baru Antara Manusia Melawan Orc

5 GAME SEPERTI WARCRAFT: ORC & MANUSIA UNTUK PC - GAME STRATEGI

Bagian ini diambil dari bonus campaign yang berjudul “The Founding of Durotar”. Alur cerita dari bagian ini masih seputar suasana yang terjadi dalam Frozen Throne, namun tidak memiliki kaitan langsung dengan campaign Frozen Throne yang lain.

Rexxar adalah seorang Orc dengan darah Ogre di tubuhnya yang sangat ahli dalam bertarung & menjinakkan monster (beastmaster). Sekarang ia tinggal di hutan dengan hanya ditemani beruangnya yang setia, Misa. Suatu hari, ia berpapasan dengan seorang prajurit dari suku Orc yang dikeroyok oleh monster-monster hutan.

Rexxar berhasil membantu prajurit Orc tersebut mengusir monster-monster hutan yang menyerangnya, namun prajurit Orc tersebut sudah terluka parah lebih dulu. Sebelum meninggal akibat luka-lukanya, prajurit Orc tersebut meminta Rexxar mengantarkan pesan ke Durotar, pemukiman baru Orc yang dipimpin oleh Thrall. Rexxar menyanggupi permintaan tersebut & ia pun kini pergi ke Durotar bersama dengan Misa.

Di Durotar, Thrall menerima pesan dari Rexxar & meminta Rexxar untuk berjalan-jalan menjelajah Durotar terlebih dahulu sambil membantu para penduduk yang mungkin membutuhkan bantuannya. Selama berkeliling di sekitar Durotar, ia melakukan aneka tugas yang diberikan oleh orang-orang yang ditemuinya.

Semuanya berjalan baik-baik saja hingga ia menemukan sejumlah keanehan seperti adanya pasukan-pasukan manusia di dekat Durotar, sementara Orc saat itu tidak sedang berperang dengan manusia (Human). Setelah melakukan aneka penyelidikan, ia pun akhirnya menemukan bahwa ras manusia sedang merencakan penyerbuan ke Durotar.

Mendengar informasi yang diberikan Rexxar, Thrall pun meminta Rexxar untuk mengumpulkan kelompok-kelompok yang menjadi sekutu lama Orc, yaitu kelompok Tauren (manusia berkepala banteng) & Ogre (manusia raksasa). Rexxar akhirnya berhasil meminta mereka bergabung dengan pasukan Orc.

Tepat ketika mereka tiba di Durotar, pasukan manusia ternyata sudah membangun markas di dekat Durotar untuk menginvasi Durotar. Pertempuran yang sengit pun tak terhindarkan. Pasukan manusia yang dipimpin oleh Admiral Proudmoore sangatlah tangguh, namun Rexxar yang dibantu oleh pasukan koalisi Orc pada akhirnya berhasil menghancurkan markas kaum manusia tersebut & memaksa mereka pergi.

Meskipun berhasil mengalahkan kelompok manusia, Thrall merasa bahwa kaum manusia bisa kembali menyerang lagi sewaktu-waktu sehingga Thrall pun memutuskan untuk menyerbu Theramore, kerajaan manusia yang dipimpin Admiral Proudmoore demi membunuh sang admiral & mengakhiri permusuhan antara manusia dengan Orc.

Basis pertahanan milik kaum manusia di Theramore sangatlah kokoh, namun melalui upaya penyerangan tiada henti, pasukan Orc akhirnya berhasil menerobos Theramore & menyerbu masuk ke kastil tempat Admiral Proudmoore berada. Admiral Proudmoore sempat memberikan perlawanan terakhir, namun Rexxar dengan dibantu oleh pasukan koalisi Orc yang lain akhirnya berhasil menghabisi sang Admiral.

Thrall berterima kasih atas bantuan Rexxar usai kemenangan tersebut & memintanya untuk menjadi bagian dari Orc, namun Rexxar menolak sambil berkata bahwa ia lebih nyaman hidup bebas sebagai pengembara di hutan. Di tempat lain, penyihir Jaina Proudmoore yang sempat bersekutu dengan Thrall saat menghetikan invasi Burning Legion & tidak menyetujui tindakan ayahnya untuk menyerang pemukiman Orc hanya bisa menyesali kekerasan hati & kematian ayahnya, Admiral Proudmoore. Ia pun menggantikan ayahnya untuk memimpin kerajaan manusia di Theramore & hidup berdampingan secara damai dengan kaum Orc.

BERITA TERKAIT