Sosok Penakluk Timur Lenk dan Kisah Pertempuran Gajah vs Unta

Jumat, 31 Desember 2021, 20:13 WIB
40

Edisi Bonanza88, Jakarta – Gajah adalah hewan darat terbesar di dunia. Berkat ukurannya yang besar, hewan ini pun memiliki tenaga yang juga tidak kalah besar. Oleh karena itulah hewan tersebut lantas dijinakkan oleh manusia untuk beragam keperluan, termasuk untuk keperluan perang. Tenaganya yang perkasa menyebabkan hewan ini bisa dengan mudah mengobrak-abrik pasukan musuh. Bahkan pasukan berkuda pun merasa gentar saat berhadapan dengan gajah karena kuda menjadi gelisah & sulit dikendalikan saat mencium bau gajah.

Kendati terlihat menakutkan, gajah bukanlah hewan yang tidak memiliki kelemahan sama sekali. Pertempuran Delhi yang terjadi di tahun 1398 bisa menjadi contoh bagus mengenai bagaimana cara mengalahkan gajah di medan perang. Pertempuran itu sendiri membenturkan pasukan Kesultanan Delhi yang diperkuat oleh gajah, melawan pasukan Dinasti Timur yang terkenal dengan keterampilan pasukan berkudanya. Di India sendiri, pertempuran ini dikenang sebagai salah satu peristiwa tersuram dalam sejarah mereka akibat adanya peristiwa pembantaian massal yang berlangsung sebelum & sesudah terjadinya pertempuran.

Faktor Pecahnya Perah Gajah vs Unta

Dalam Perang Sehari 2.000 Pasukan Muslim Sahid, 10.000 Pasukan Persia Tewas

Di abad ke-13, sebagian besar wilayah Asia berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Mongol. Namun konflik perebutan tahta menyebabkan Kekaisaran Mongol secara berangsur-angsur melemah & akhirnya terpecah belah menjadi negara-negara kecil. Kendati Kekaisaran Mongol pada akhirnya mengalami keruntuhan, kelompok-kelompok suku Mongol sudah terlanjur menyebar & menetap di bekas wilayah kekaisaran. Satu dari sekian banyak kelompok suku tersebut adalah kelompok suku Barlas, di mana mereka menetap di wilayah Asia Tengah.

Di wilayah itulah, Timur Lenk / Tamerlane lahir ke dunia pada tahun 1370. Saat dirinya sudah beranjak dewasa, Timur memiliki ambisi untuk menghidupkan kembali Kekaisaran Mongol. Untuk mewujudkan hal tersebut, ia pun membangun aliansi dengan iming-iming pembagian harta rampasan perang & melakukan penaklukan ke kawasan Persia / Iran. Berkat kelihaiannya sebagai ahli strategi & seringnya pasukan yang dipimpinnya melakukan pembantaian kepada warga sipil, kerajaan yang didirikannya sukses berkembang dengan cepat.

Sukses memantapkan kedudukannya di Asia Barat, Timur kemudian mengalihkan fokusnya ke arah timur. Awalnya Timur memiliki niat menginvasi Cina karena di masa silam, wilayah Cina termasuk dalam wilayah Kekaisaran Mongol. Namun karena lokasi Cina yang berjarak cukup jauh dari kerajaan yang dikuasainya (Dinasti Timur), ia pun memutuskan untuk melakukan invasi terlebih dahulu ke India yang terkenal dengan kekayaannya yang melimpah. Tepatnya ke Kesultanan Delhi yang saat itu tengah menguasai wilayah India utara & kondisi internalnya sedang melemah akibat perang saudara.

Timur kemudian mengumpulkan para pangeran & panglima bawahannya untuk meminta pendapat mereka terkait rencana menginvasi Delhi. Awalnya sebagian besar dari mereka menyatakan penolakannya karena baik Dinasti Timur maupun Kesultanan Delhi sama-sama merupakan kerajaan Islam. Mereka juga merasa gentar karena bangsa India terkenal akan pasukan gajahnya yang perkasa & wilayahnya penuh dengan bentang alam yang sulit seperti pegunungan, sungai, hingga padang pasir.

Beruntung bagi Timur, tidak semua bawahannya menolak wacananya tersebut. Salah seorang pangeran bawahan Timur yang bernama Muhammad Sultan berpendapat kalau Delhi tetap pantas diserbu. Pasalnya kendati kesultanan tersebut dipimpin oleh orang Islam, pemimpin Delhi dianggap bersikap terlalu lunak kepada penganut Hindu di wilayahnya, sehingga wilayah yang bersangkutan tetap penuh dengan orang-orang yang menganut agama selain Islam. Putra Timur yang bernama Shahrukh Mirza turut menimpali dengan menyatakan kalau siapapun yang berhasil menaklukkan India bakal menjadi penguasa dunia.

Sukses meyakinkan para pangeran & panglima bawahannya untuk menginvasi Delhi, Timur kemudian mulai menyiapkan pasukannya untuk keperluan penyerbuan. Tidak diketahui secara pasti jumlah prajurit yang dikerahkan oleh Timur untuk menginvasi India. Namun jumlahnya diperkirakan berkisar antara 40.000- 100.000 personil, di mana hampir semuanya adalah pasukan berkuda. Bulan Maret 1398, pasukan Timur mulai bertolak ke India & menjarah desa-desa di sepanjang rute yang dilewatinya.

Banjir Darah saat Pertempuran

Perang Punisia Kedua, Saat Italia Diserbu Pasukan Gajah | RE Tawon

Bulan Desember 1398, pasukan Timur sudah berjarak tidak jauh dari ibukota Delhi. Karena pasukannya melakukan penjarahan tanpa henti di sepanjang perjalanan, pasukan Timur berada dalam kondisi penuh dengan harta jarahan & budak yang jumlahnya mencapai 100.000 orang karena. Khawatir kalau budak-budak tersebut mungkin bakal memberontak di saat pertempuran melawan pasukan Delhi tengah berlangsung, Timur kemudian memerintahkan supaya semua budak tersebut dibunuh. Ia juga mengancam bakal menghukum mati siapapun yang menolak melaksanakan perintahnya.

Tanggal 17 Desember, pertempuran yang dinanti-nantikan akhirnya tiba. Sisi kanan formasi pasukan Timur dipimpin oleh cucunya yang bernama Pir Muhammad. Sementara sisi kirinya dipimpin oleh Pangeran Sultan Hussein & Khalil Sultan. Timur sendiri memimpin pasukan yang berada di bagian tengah. Di sisi yang berseberangan, pasukan Delhi dipimpin langsung oleh sultannya yang bernama Mahmud Tughluk. Selain diperkuat oleh pasukan gajah berbaju zirah yang jumlahnya mencapai 125 ekor, pasukan Delhi juga diperkuat oleh 40.000 infantri & 10.000 kavaleri / pasukan berkuda.

Timur sadar kalau pasukannya berada dalam kondisi cemas mengingat sebelum ini mereka belum pernah berhadapan dengan pasukan gajah. Untuk mengakalinya, Timur kemudian menggunakan elemen yang juga merupakan titik lemah gajah : api. Menurut salah satu sumber, pasukan Timur mengikat jerami kering pada tubuh unta, kemudian membakar jerami tersebut & menghalau unta-unta tadi ke arah pasukan gajah. Mereka juga menggunakan ketapel raksasa yang melontarkan wadah berisi cairan berapi. Hasilnya manjur. Diserbu oleh kobaran api, gajah-gajah tersebut menjadi panik & kemudian malah berbalik menginjak-injak sesama prajurit Delhi.

Masalah gajah sukses diatasi, Timur kemudian memerintahkan pasukannya untuk menyerbu formasi pasukan Delhi. Di sisi kanan, pasukan Timur menghujani pasukan Delhi dengan anak panah sehingga pasukan Delhi di sisi tersebut merasa tertekan & terpaksa melarikan diri. Sementara di sisi kiri, pasukan Timur sempat terlibat pertarungan jarak dekat sebelum kemudian berhasil mendesak mundur pasukan Delhi.

Di sisi tengah, pasukan Delhi yang dilengkapi dengan gajah mencoba membalikkan situasi dengan cara menyerbu formasi pasukan Timur. Namun dengan cerdik, pasukan Timur melukai belalai gajah supaya sang gajah meronta-ronta kesakitan & tidak bisa dikendalikan. Kewalahan karena harus menjaga keseimbangannya sendiri di atas punggung gajah, konsentrasi sang  penunggang gajah menjadi terganggu sehingga ia menjadi lebih mudah untuk dipanah. Sadar kalau pihaknya tidak mungkin lagi memenangkan pertempuran, Sultan Mahmud pun memilih untuk melarikan diri dari medan tempur, sehingga Pertempuran Delhi berakhir dengan kemenangan gemilang pasukan Timur.

Keberhasilan mengalahkan pasukan Delhi sekaligus membuat upaya pasukan Timur untuk menggapai ibukota menjadi tak terbendung. Saat mereka akhirnya tiba di ibukota Delhi, warga lokal Delhi sempat mencoba memberikan perlawanan terakhir. Namun karena mereka bukan tandingan bagi pasukan Timur, yang terjadi kemudian adalah pembantaian & penjarahan besar-besaran. Sejumlah keluarga Hindu setempat dilaporkan sampai nekat membakar rumah & diri mereka sendiri. Ketika Timur akhirnya meninggalkan Delhi 2 minggu berselang, kota tersebut sudah berada dalam kondisi porak poranda & penuh dengan lautan mayat.

Seusai meninggalkan Delhi, Timur & pasukannya sempat melakukan penaklukan ke daerah-daerah lain di India utara. Saat mereka akhirnya pergi meninggalkan India di tahun 1399, mereka kembali ke negaranya sambil membawa ribuan budak, 90 ekor gajah, & timbunan logam mulia yang jumlahnya tak terhitung. Gajah-gajah tersebut nantinya bakal kembali merasakan alotnya peperangan – kali ini sebagai bagian dari pasukan Timur – saat pasukan Timur terlibat pertempuran melawan pasukan Ottoman di Ankara pada tahun 1402. Timur juga memanfaatkan jasa para ahli bangunan yang dibawanya dari India untuk membantu membangun Samarkand, ibukota Dinasti Timur.

Kampanye militer yang dilakukan oleh Timur membawa dampak yang sangat serius bagi wilayah India utara. Bencana kelaparan & wabah penyakit menimpa penduduk di sekitar kota Delhi akibat timbunan mayat yang ditinggalkan oleh pasukan Timur. Kesultanan Delhi sendiri tetap berdiri seusai pertempuran ini, namun kali ini kesultanan tersebut berada dalam kondisi yang jauh lebih lemah. Butuh waktu hingga seabad bagi kota Delhi untuk memulihkan diri hingga bisa kembali makmur seperti sebelum pertempuran. Sementara di pihak yang berseberangan, konflik perebutan tahta langsung melanda Dinasti Timur setelah Timur meninggal di tahun 1405

Sepak Terjang Timur Lenk

Mengenal Timur Lenk, Pemimpin Berkaki Pincang Pendiri Dinasti Timurid -  Dailysia

Pada saat kondisi fisiknya mulai lemah, Jengis Khan membagi wilayah kekuasaannya menjadi empat bagian kepada empat orang putranya, yaitu Juchi, Chagathai, Ogotai, dan Tuli. Dari keempat orang itu, muncul dinasti-dinasti yang secara langsung berpengaruh dalam memberikan warna dalam perkembangan Islam di Semenanjung Mongolia. Diantara dinasti-dinasti tersebut ialah Dinasti Chaghatai, Dinasti Golden Horde, dan Dinasti Ilkhan.

Dinasti Chaghatai terdiri dari wilayah-wilayah yang dikuasai oleh Chaghatai Khan (ejaan alternative: Chagata, Chagta, Djagatai, Jagatai). Chaghatai (w. 1242) merupakan anak kedua dari Jengis Khan yang diberi wilayah kekaisaran Mongol yang membentang dari sungai Illi di bagian Timur Kazakhstan) dan Kashgaria (sebelah Barat Tarim Basin) sampai Transoxiana (Uzbekisthan dan Turkmenistan).

Setelah ayahnya meninggal, ia mewarisi lebih dari apa yang sekarang disebut lima Negara Asia Tengah dan Iran Utara. Chaghatai sangat taat kepada UUD Mongol dan membenci dengan aturan Islam dan membenci Umat Islam. Tetapi walau pun demikian, dalam pemerintahannya ia mempunyai seorang menteri Muslim yang bernama Qutub al Din Habs, yang di kemudian hari mempunyai peranan dalam perkembangan Islam di wilayah ini.

Menurut Bosworth, daerah kekuasaan dinasti Chaghatai membentang ke Timur dari Transoxania sampai Turkistan Timur atau Turkistan China. Cabang Barat keturunan Chaghatai di Transoxania segera masuk dalam lingkungan pengaruh Islam, namun ditumbangkan oleh Timur, Cabang Timur di Semirechye dan Illi serta T’ien Syan di Tarim, lebih tahan terhadap Islam. Namun, keturunan Chaghatai di Timur pada akhirnya membantu menyebarkan Islam di Turkistan China, dan mereka bertahan sampai abad XVII M.

Atas nama Chaghatai, dinasti yang berkembang dan dikendalikan oleh keturunannya, disebut Dinasti Chaghatai yang hampir 150 tahun (1227-1369 M) berkuasa di Tsansoxiana sebagai basis daerah politik mereka.

Yang menarik dari dinasti di atas adalah dinasti Timur, karena ibunya berdarah Chaghatai dan ia juga sebagai penyambung dinasti tersebut di samping bapaknya adalah darah keturunan Turki. Karena Timur dipandang yang mempertahankan, memajukan, dan menerapkan syariat Islam di kalangan Chaghatai Islam, maka berikut secara khusus dijelaskan tentangnya secara singkat:

Tamerlane (1336 – 14 Februari 1405) (Bahasa Turki Chagatai: Tçmôr, “besi”), juga dikenal sebagai Temur, Timur Lenk, Taimur, atau Timuri Leng, yang artinya “Timur si Pincang”, karena kaki kirinya yang pincang sejak lahir adalah seorang penakluk dan penguasa keturunan Turki-Mongol dari wilayah Asia Tengah, yang terkenal pada abad ke- 14, terutama di Rusia Selatan dan Persia Timur, 4 Monumen Timur Lenk di Samarkand, Uzbekistan.

Timur dilahirkan di Kesh (kini bernama Shahr-i-Sabz, ‘kota hijau’), yang terletak sekitar 50 mil di sebelah Selatan kota Samarkand di Uzbekistan. Ayahnya bernama Turghai yang merupakan ketua kaum Barlas. Ia adalah cicit dari Karachar Nevian (menteri dari Chaghatai Khan, yaitu anak Jenghis Khan sekaligus komandan pasukan tempurnya), dan Karachar terkenal di antara kaumnya sebagai yang pertama memeluk agama Islam.

Turghai mungkin saja mewarisi pangkat yang tinggi di ketentaraan; tetapi seperti ayahnya Burkul, ia menggemari kehidupan beragama dan belajar.  Di bawah bimbingan yang baik, Timur ketika berusia dua puluh tahun bukan saja mahir dalam kegiatan-kegiatan luar ruangan, tetapi juga mempunyai reputasi sebagai pembaca Al-Qur’an yang tekun.

TIMUR LENK

Timur Lenk merupakan keturunan Mongol yang sudah masuk Islam, dimana sisa-sisa kebiadaban dan kekejaman masih melekat kuat. Dia berhasil menaklukkan Tughluk Temur dan Ilyas Khoja, dan kemudian dia juga melawan Amir Hussain (iparnya sendiri). Dan dia memproklamirkan dirinya sebagai penguasa tunggal di Transoxiana, pelanjut Jagati dan keturunan Jengis Khan.

Timur Lenk adalah seorang yang sangat ambisius, merasa dirinya sangat kuat dan ingin menguasai seluruh dunia seperti Chengis Khan dan Alexander Agung. Ia pernah berkata, “Penguasa Tunggal di angkasa adalah Allah dan bumi pun hanya ada seorang penguasa tunggal, dan dia adalah saya, Timur Lenk”.

Setelah lebih dari satu abad umat Islam menderita dan berusaha bangkit dari kehancuran akibat serangan bangsa Mongol di bawah Hulagu Khan, malapetaka yang tidak kurang dahsyatnya datang kembali, yaitu serangan yang juga dari keturunan bangsa Mongol. Berbeda dari Hulagu Khan dan keturunannya pada dinasti Ilkhan, penyerang kali ini sudah masuk Islam, tetapi sisa-sisa kebiadaban dan kekejaman masih melekat kuat. Serangan itu dipimpin oleh Timur Lenk.

Sejak usia masih sangat muda, keberanian dan keperkasaannya yang luar biasa sudah terlihat. Ia sering diberi tugas untuk menjinakkan kuda-kuda binal yang sulit ditunggangi dan memburu binatang-binatang liar. Sewaktu berumur 12 tahun, ia sudah terlibat dalam banyak peperangan dan menunjukkan kehebatan dan keberanian yang mengangkat dan mengharumkan namanya di kalangan bangsanya.

Akan tetapi, baru setelah ayahnya meninggal, sejarah keperkasaannya bermula setelah Jagatai wafat, masing-masing Amir melepaskan diri dari pemerintahan pusat. Timur Lenk mengabdikan diri pada Gubernur Transoxiana, Amir Qazaghan Ketika Qazaghan meninggal dunia, datang serbuan dari Tughluq Temur Khan, pemimpin Moghulistan, yang menjarah dan menduduki Transoxiana.

Timur Lenk bangkit memimpin perlawanan untuk membela nasib kaumnya yang tertindas. Tughluq Temur setelah melihat keberanian dan kehebatan Timur, menawarkan kepadanya jabatan Gubernur di negeri kelahirannya. Tawaran itu diterima, akan tetapi setahun setelah Timur Lenk diangkat menjadi Gubernur pada tahun 1361 M, Tughluq Temur mengangkat puteranya, Ilyas Khoja menjadi Gubernur Samarkand dan Timur Lenk menjadi Wazir-nya. Tentu saja Timur Lenk menjadi berang. Ia segera bergabung dengan cucu Qazaghan, Amir Husain, mengangkat senjata memberontak terhadap Tughluq Temur.

Timur Lenk berhasil mengalahkan Tughluq Temur dan Ilyas Khoja. Keduanya dibinasakan dalam pertempuran. Ambisi Timur Lenk untuk menjadi raja besar segera muncul. Karena ambisi itulah ia kemudian berbalik memaklumkan perang melawan Amir Husain, walaupun iparnya sendiri.

Dalam pertempuran antara keduanya, ia berhasil mengalahkan dan membunuh Amir Husain di Balkh. Setelah itu, ia memproklamirkan dirinya sebagai penguasa tunggal di Transoxiana, pelanjut Jagatai dan turunan Jengis Khan, pada 10 April 1370 M. Sepuluh tahun pertama pemerintahannya, ia berhasil menaklukkan Jata dan Khawarizm dengan sembilan ekspedisi.

Tags:

BERITA TERKAIT