Suka Main Perempuan dan Minum-minum, Legenda Itu Bernama Garrincha

Minggu, 26 September 2021, 19:04 WIB
366

Diego Maradona dan Piala Dunia 1986 adalah sebuah memori yang tertanam rapih di benak hampir semua fans sepak bola di seluruh dunia. Sinar matahari yang terik di negara Meksiko dan jersey bernomor punggung 10 ikonik dari skuat Timnas Argentina, yang seolah menyihir semua orang yang menyaksikannya langsung. Tidak diragukan lagi, bahwa Maradona meraih penghargaan Pemain Terbaik di Piala Dunia 1986 silam.

Namun kita seringkali lupa bahwa Maradona bukanlah pemain pertama yang begitu bersinar sendirian di sebuah Piala Dunia. Kita mundur kembali 24 tahun dari 1986 ke 1962, saat Piala Dunia yang digelar di pesisir benua Amerika Latin, di negara Chile.

Piala Dunia edisi tahun 1962 ini bisa dibilang agak carut-marut –atau bisa dibilang yang terburuk sepanjang sejarah karena memang pasca Perang Dunia II. Namun, meski dianggap tidak ideal untuk disebut sebagai sebuah Piala Dunia, kita patutnya mengenang kehebatan seorang pemain dengan tubuh mungil, yang kemudian menjadi seorang legenda sepak bola Brasil, namanya adalah Garrincha.

Banyak artikel yang telah ditulis tentang Garrincha dan kehidupannya yang penuh warna, dan tampaknya tidak ada buku lain yang lebih lengkap dari karya Ruy Castro. Anda akan mendapatkan penjelasan mendalam yang akan membuat Anda tertawa satu menit dan menangi, semua campur aduk.

Seperti halnya George Best atau Paul Gascoigne, Garrincha mudah terseret ke sisi kehidupan dari yang menyehatkan ke kegelapan dunia malam. Yang bahkan itu punya andil besar dalam penurunan karirnya, seolah menyia-nyiakan bakat besar dan kejeniusan yang dimiliki.

Kisah main perempuan dan minum minuman keras telah menjadi tajuk utama berbagai surat kabar selama beberapa dekade jika membicarakan seorang pesepakbola. Seperti Best dan Gascoigne, kehidupan Garrincha jelas tidak lepas dari kisah-kisah kelam seperti itu. Tapi, seperti Best dan Gascoigne, dia juga salah satu pemain terhebat di planet ini pada era-nya. Dan penampilannya tidak pernah lebih baik dari yang dia tunjukkan semasa Piala Dunia 1962 di Chile.

Garrincha adalah pemain yang sangat senang menggiring bola dan mengalahkan lawannya satu per satu. Sering dikomentari bahkan setelah mengalahkan para lawannya, dia kadang-kadang berbalik dan melakukannya lagi, semuanya semata-mata hanya untuk kesenangan belaka. Jika ditanya siapa salah satu pemain yang sangat identic dengan gaya dribel samba, dia adalah Garrincha.

Keterampilannya ditemukan dan diasah oleh klub professional Brasil, bernama Botafogo. Kiprahnya bersama Botafogo langsung membuatnya dipanggil ke tim nasional sebagai bagian dari skuad Piala Dunia 1958. Sementara Garrincha telah memikat penonton Brasil, ia memiliki persaingan untuk mendapatkan tempatnya, terutama dengan nama-nama besar saat itu, Joel, pemain sayap Flamengo, dan Julinho, yang sudah berkarir di Italia bersama Fiorentina.

Orang-orang saat itu memfavoritkan Julinho, yang telah bermain selama Piala Dunia 1954. Tepat sebelum berangkat ke Swedia untuk Piala Dunia 1958, manajer Brasil saat itu, Feola memutuskan untuk mencoba Garrincha dalam pertandingan persahabatan melawan Bulgaria bersama seorang remaja muda bernama Pele. Brasil menang 3-1 dan, sejak saat itu, mereka tidak pernah kalah dalam pertandingan di mana kedua keajaiban (Garrincha dan Pele) tersebut bermain bersama.

Pertandingan pemanasan terakhir adalah pertandingan Fiorentina dan di sinilah Garrincha mencetak salah satu golnya yang paling terkenal. Menerima bola, ia menggiring melewati empat pemain bertahan dan berhadapan satu lawan satu dengan kiper.

Tapi kemudian dia tidak bisa menahan diri – dia berhenti di garis gawang, menunggu beberapa saat menunggu para bek lawan bangkit, lalu menceploskan bola ke gawang yang kosong dan gol. Meskipun merupakan bagian dari keterampilan dan pertunjukan yang luar biasa, sayangnya hal itu menimbulkan kekhawatiran bagi staf pelatih Brasil bahwa mungkin Garrincha tidak selalu menganggap pertandingan sepak bola dengan serius.

Pembuktian Diri di Panggung Dunia Pertama Kali

Mané Garrincha - Player profile | Transfermarkt

Meski di atas kertas, Feola adalah manajer dan pelatih kepala Brasil saat itu, pemilihan tim melibatkan para staf lainnya, seperti Nascimento, Gosling dan Paulo Amaral. Dalam pemilihan starting line-up untuk pertandingan pembuka Piala Dunia 1958 menghadapi Austria, para pelatih yang disebutkan meyakini bahwa Austria mungkin akan memainkan empat pemain sekaligus di lini tengah.

Sehingga Brasil akan membutuhkan pemain sayap kanan yang mau kembali mundur ke lini tengah seusai menyerang. Saat itulah, salah satu pelatih,  Amaral, yang mengenal baik Garrincha dari Botafogo, merasa bahwa winger itu tidak akan mengikuti instruksi tersebut karena sifatnya yang tidak dapat diprediksi – dan juga tampak tidak serius di atas lapangan. Joel, yang lebih disiplin secara taktis pun dipilih untuk jadi starter, sementara Garrincha duduk di bangku cadangan di partai pembuka Piala Dunia 1958. Kemenangan atas Austria dan hasil imbang menghadapi Inggris (yang lagi-lagi Garrincha tidak dimainkan), membuat Brasil harus melakoni laga hidup-mati lawan Uni Soviet yang begitu kuat saat itu.

Para analisis permainan saat itu mengatakan tim Uni Soviet yang sangat bugar dan unggul secara fisik mengharuskan Brasil harus bermain cepat sejak detik pertama. Akhirnya, Garrincha terpilih sebagai starter di laga ketiga grup Piala Dunia 1958. Dengan kecepatan dan kemampuannya menipu para bek lawan, dia mampu mengelilingi pertahanan Soviet. Baru 40 detik laga dimulai, Garrincha sudah melepaskan tembakan pertamanya yang sayangnya, membentur tiang gawang.

Bahkan Pele, 15 detik kemudian mendapati peluang yang dia selesaikan juga membentur tiang. Hingga akhirnya Selecao unggul 1-0 berkat gol Vava di menit ketiga. Garrincha yang terus berlarian sepanjang laga, membuat pertahanan Uni Soviet benar-benar kewalahan. Hingga akhirnya Brasil menang 2-0 saat Vava kembali mencetak gol keduanya di menit ke-77.

Garrincha, meski tidak mencetak gol, penampilannya benar-benar kuat dan debut yang sangat gemilang di panggung dunia. Sejak penampilan perdananya di Piala Dunia 1958, dia terus dipakai oleh Brasil di setiap pertandingan. Hingga akhirnya tiba di partai pamungkas alias final, di mana Selecao bertemu tuan rumah Swedia. Garrincha, saat itu dikisahkan tidak tahu siapa lawan mereka selanjutnya, sampai-sampai harus bertanya kepada NIlton Santos. Bukannya dia tidak peduli atau menganggap remeh, sifatnya selalu sama siapapun lawannya. Yakni dirinya hanya senang berlari menggunakan kecepatannya di barisan pertahanan lawan.

Menit-menit awal partai final terasa begitu menakutkan saat Swedia mencetak keunggulan 1-0 lebih dulu. Namun Garrincha lagi-lagi jadi penyentik harapan, saat dirinya menerobos sisi sayap kanan pertahanan Swedia. Dia melewati semua pemain bertahan dan memberi umpan silang yang langsung disambut Vava untuk membuat skor jadi imbang 1-1. Sejak skor imbang, Garrincha terus menyiksa bek kiri Swedia itu sampai, setelah 30 menit, dia sekali lagi berlari sampai garis terakhir lapangan, sebelum kembali melakukan crossing untuk Vava yang lagi-lagi mencetak gol. Penampilan yang konsisten selama 90 menit penuh, Brasil pun meraih kemenangan 5-2 dan menyegel gelar juara.

Secara keseluruhan pertandingan final tersebut, Garrincha bisa dibilang mencapai garis terakhir lapangan atau byline sebanyak 15 kali, yang kebanyakan diselesaikan dengan umpan silang. Keberhasilan Piala Dunia membuat selebriti instan dari skuat Brasil bermunculan, khususnya Pele yang masih berusia 17 tahun dan Garrincha yang ajaib. Dia telah melewatkan dua pertandingan pertama tapi semua terbayarkan dengan penampilannya secara keseluruhan.

Pele Cedera, Piala Dunia 1962 Benar-benar Jadi Panggung Garrincha

Ketika Pele `Melupakan` Sosok Garrincha | Pandit Football Indonesia

Memasuki Piala Dunia 1962 sebagai juara bertahan dan tentu saja jadi tim favorit, membuat Brasil berada di bawah tekanan, dan itu tercermin dalam pertandingan pembukaan mereka. Di mana, Brasil yang saat itu dilatih oleh Aymore Moreira, meski mencatatkan kemenangan 2-0 atas Meksiko, penampilan mereka sebenarnya tidak menjanjikan. Selanjutnya adalah Cekoslowakia, dan di laga inilah terlihat benar-benar bahwa skuat Brasil berada dalam tekanan besar.

Entah kenapa, magis dari Pele dan juga tuah Garrincha tidak dapat menghasilkan satu gol pun. Laga berakhir imbang tanpa gol untuk pertandingan kedua grup ini. Bahkan sialnya lagi, Pele sampai harus keluar dari lapangan karena mengalami masalah pada otot pangkal pahanya. Slot pergantian pemain sudah habis, alhasil Brasil bermain dengan 10 orang saja.

Pertandingan grup terakhir melawan Spanyol, Pele jelas tidak bermain dan digantikan oleh Amarildo, yang mencetak dua gol membuat Selecao menang 2-1. Dan pada saat inilah Garrincha menjadi sorotan. Penampilannya sungguh tenang dan dewasa, Dia menerima bola di tengah lapangan lawan, menggoda dua pemain bertahan sebelum mengalahkan mereka berdua dan memberikan umpan silang sempurna untuk gol kedua Amarildo yang memenangkan pertandingan.

Brasil kini melaju ke perempat final – dan Garrincha jadi starter di laga ini serta menjadikannya sebagai momen terbaiknya sepanjang membela negara kelahirannya. Inggris adalah lawan Brasil, tim yang senang bermain lepas tanpa struktur dan terorganisir, bisa dibilang sulit diprediksi. Sial bagi Inggris, Garrincha berada di level penampilan terbaiknya, bermain dengan ganas di lini serang, padahal laga-laga sebelumnya, dia lebih seperti pelayan yang suka membantu para penyerang lainnya mencetak gol.

Dia mencetak gol pertama dengan tandukan keras dari sepakan pojok menit ke-31. Lalu, dia juga mendapati tendangan bebasnya yang keras ditepis oleh kiper Inggris, yang kemudian disambar oleh Vava dan berakhir gol. Gol ketiga Brasil lagi-lagi dicetak oleh Garrincha dengan tembakan indah ke sudut atas gawang dari luar kotak penalti. Brasil terlihat mampu mengatasi kehilangan Pele yang cedera, dan itu semua karena Garrincha.

Pada semi final, mereka bertemu tuan rumah, Chili. Sekali lagi, Garrincha sedang dalam mood dan sekali lagi, dia mencetak dua gol. Tembakan kaki kiri yang ganas dan sundulan dari Garrincha membuat Brasil unggul 2-1 di babak pertama. Setelahnya, dia juga memberikan assist untuk gol ketiga Vava. Namun berbeda dengan laga Inggris, kali ini Garrincha harus tampil bercucuran keringat karena mendapat pengawalan ketat dari bek Chile, Rojas.

Namun penjagaan ekstra yang dihadirkan Rojas benar-benar membuat Garrincha kehilangan mood terbaiknya. Setelah beberapa pelanggaran dilakukan oleh bek Chile itu, pemain berpostur mungil 169 cm ini akhirnya kehilangan kesabaran. Dirinya pun membalas dengan menendang punggung Rojas dengan lutut. Pelanggaran itu membuat Rojas pingsan dan langsung dilarikan ke Rumah sakit. Wasit, tanpa babibu, langsung mengeluarkan Garrincha dari arena pertarungan.

Lebih buruknya lagi, Garrincha dilempari batu dari tribun dan menghantam kepalanya sehingga membuat dirinya sempoyongan berjalan ke Lorong ruang ganti. Namun tetap saja, dengan keunggulan yang digenggam, Brasil berhasil lolos ke final dengan skor akhir 4-2. Tapi, Garrincha harus absen di final karena mendapatkan kartu merah di semifinal.

Namun, pada tahun 1962, kartu merah seperti itu bukan otomatis sebagai larangan bermain di laga selanjutnya, hukumannya akan menjadi keputusan penuh dari komite disiplin FIFA. Pejabat Brasil meminta bantuan sebanyak mungkin dari rekan-rekannya di organisasi induk sepak bola dunia itu. Beruntung, akhirnya banding FA Brasil dikabulkan. Wasit saat itu meralat aksinya memberi kartu merah kepada Garrincha karena dua hakim garis lainnya, mengatakan pemain sayap itu berulang kali lebih dulu dilanggar oleh bek Chile.

Sementara Garrincha bisa kembali bermain di partai final, Pele belum. Meski sudah mulai pulih, memainkannya di partai sepenting final sangatlah berisiko. Akhirnya Garrincha menjadi satu-satunya tumpuan Selecao di partai final menghadapi Ceko. Namun perkiraan tersebut keliru, Brasil tidak benar-benar bergantung pada sang winger saat meraih kemenangan 3-1 dan mempertahankan trofi di Piala Dunia 1962. Garrincha, meski tidak terlalu menonjol di partai final, dia tetap saja sudah mencetak empat gol. Yang membuat dirinya menerima Sepatu Emas dan juga penghargaan Pemain Terbaik Turnamen.

Garrincha Mulai Suka Main Perempuan dan Minum-minum

Garrincha di Mata Putra Swedia-nya Halaman all - Kompas.com

Setelah kejayaan di dua Piala Dunia berturut-turut yakni 1958 dan 1962, sinar Garrincha tiba-tiba langsung memudar begitu saja, sebagian besar karena cedera lutut dan sebagiannya lagi karena faktor eksternal. Dirinya sempat tampil starter di partai pembuka Piala Dunia 1966 dan mencetak gol luar biasa dari tendangan bebas.

Namun dirinya memainkan penampilan terakhirnya untuk Timnas Brasil saat kalah dari Hungaria. Selecao juga tersingkir lebih cepat dari Piala Dunia 1966 yang begitu mengecewakan.

Sejak saat itu, hidup seorang Garrincha benar-benar berubah secara drastic. Dia terjerembab ke dalam lembah hitam sebagai alkoholisme kronis, kecelakaan di jalan raya yang menyebabkan ibu mertuanya meninggal dunia.

Belum lagi urusan soal perempuan yang seringkali berganti dan membuatnya sempat digosipkan setidaknya punya 14 anak dari ibu yang berbeda-beda. Garrincha lalu meninggal dunia karena sirosis hati pada usia 49 di tahun 1983 silam.

Dari kehidupannya yang buruk setelah kegagalan Brasil di Piala Dunia 1966, Garrincha tetaplah sebuah keajaiban seperti Maradona di Argentina. Penampilannya di atas lapangan, meliuk-liuk, menipu bek-bek lawan, bahkan sampai melewati kiper, menceploskan bola ke gawang kosong, hanya membuat penonton tersenyum dan terhibur. Garrincha, nama yang harus dikenang sebagai legenda sepak bola dari Tanah Brasil.