Suku Basque dengan Segala Keanehannya yang Penuh Tanda Tanya

Jumat, 31 Desember 2021, 22:04 WIB
58

Edisi Bonanza88, Jakarta – Asal muasal Etnik Basque atau Suku Basque (dibaca: bask), dan juga bahasa Basque yang mereka gunakan, adalah topik kontroversial yang telah melahirkan banyak hipotesis di dunia hingga kini.

Suku yang sudah bermukim paling tidak sekitar 9000 tahun sebelum masehi di Eropa Barat ini, sudah ada jauh sebelum, yang kini mengaku sebagai bangsa Eropa atau kulit putih (Kaukasian), akhirnya datang di wilayah mereka.

Selain itu, ilmuwan juga sudah meneliti tipe dan jenis serta golongan darah etnis Basqu ini. Hasilnya, ada yang berbeda dari darah manusia biasa di seluruh planet Bumi. Darah etnis Basque juga berbeda dengan darah manusia kebanyakan.

Tak hanya asalnya dan darahnya yang misterius, namun begitu pula bahasa yang dipakainya. Bahasa Suku Basque berbeda dengan bahasa lingustik yang dipakai oleh etnik dan suku di seluruh daratan Eropa.

Karena tak ada rumpun lingustik untuk bahasa Basque, demikian pula dengan genetika yang dibawa oleh mereka yang sudah sangat kuno dan tua, maka terjadilah kontroversi dikalangan para peneliti. Dari manakah mereka berasal? Siapa nenek moyang mereka?

Etnik atau Suku Basque adalah suku yang pada masa kini sudah terbelah wilayahnya dan tinggal di dua negara, yaitu di Spanyol dan Perancis.

Lebih tepatnya, mereka berada timur laut Spanyol, dan barat laut Perancis. Di Perancis suku Basque ini menduduki 3 provinsi yaitu Labour, Basse-Navarre, dan Soule.

Juga, jika dilihat dari pakaian tradisionalnya dari ujung rambut sampai ujung kaki, baik pria ataupun wanitanya, tampak pakaian tradisional suku Basque seperti pakaian tradisional Eropa yang biasa dipakai juga di Portugal, Spanyol, Perancis, Belanda, Jerman, bahkan hingga Inggris, Scotlandia dan Irlandia, atau mungkin lebih luas lagi.

Nama “Basque” berasal dari kata bahasa Perancis abad pertengahan. Dalam beberapa bahasa, Basque dalam bahasa Spanyol disebut Vasco (dibaca: vasko), berasal dari Celtic, bhar-s, yang berarti titik dan mengacu pula pada kata barscunes yaitu orang-orang gunung. Namun etnik Basque menyebut diri mereka bukan Basque, melainkan etnis atau suku Euskera.

Misteri Etnis Basque Memiliki Darah Yang Berbeda

Video Stok Lesaka – Basque Country – (100% Tanpa Royalti) 21231571 |  Shutterstock

Darah etnis Basque juga berbeda dengan darah manusia kebanyakan. Seperti kita ketahui bahwa golingan darah manusia terdiri dari golongan darah O, A, B dan AB. Seku Basque juga memiliki golongan darah yang sama seperti manusia lainnya, O, A, B dan AB.  Jadi apa yang membuat mereka disebut memiliki jenis darah yang misterius karena berbeda?

Selain jenis golongan darah tersebut, dalam darah manusia ada yang dikenal sebagai “Rh” atau lebih dikenal dengan “Resus”. Penemu sistem golongan darah “resus” adalah Karl Landsteiner pada tahun 1939 oleh karena ada “suatu  resus atau penolakan atau kebalikannya” dari darah yang selama ini ada.

“Keanehan” darah yang terdapat dalam manusia ini baru diketahui di era tahun 1940-an, atau setelah sistim Resus ini diketahui, akibat terjadi keanehan di setiap transfusi darah dengan golongan yang sama, akhirnya tetap meninggal.

Pada awal sebalumnya, dari semua etnik, ras dan suku bangsa di dunia, para ilmuwan meyakini bahwa manusia hanya memiliki apa yang kini disebut sebagai Rh positif (Rh+) saja, karena tak pernah ditemui pada semua ras termasuk semua suku di seluruh benua Afrika, Amerika, dan Asia.

Namun hanya ada satu etnik suku di Eropa yang memiliki jenis Rh berbeda, bahkan kebalikannya, yaitu Rh negatif (Rh-), yaitu dari suku Basque ini.

Sistem penggolongan darah Rh atau Rh blood group system ini didasarkan atas ada atau tidaknya aglutinogen, yaitu senyawa yang menjadi faktor penggumpalan darah, pada resus di dalam darah.

Pada masa kini, sistem penggolongan darah ini juga berguna untuk membantu transfusi darah. Jika dilakukan transfusi darah dari orang yang bergolongan darah resus positif (Rh+) kepada orang yang bergolongan darah resus negatif (Rh-), maka akan terjadi rangsangan untuk pembentukan antibodi Rh.

Bila resipien mendapatkan transfusi darah lagi dengan golongan resus positif (Rh+), maka akan terjadi hemaglutinasi (penggumpalan darah) yang berakibat pada kematian.

Itu sebabnya pada era sebelum tahun 1940-an, banyak orang meninggal secara misterius di Eropa setelah ditransfusi dengan golongan darah yang sama.

Dan ilmuwan pada saat itu masih tak mengerti tentang adanya “Rh berbeda” yang misterius pada darah manusia yang berasal dari keturunan Suku Basque ini.

Kemudian dengan berjalannya waktu dan berkembangnya manusia akibat kawin campur, menusia pemilik Rh negatif (Rh-), dalam hal ini adalah keturunan dari darah Etnik Basque, “baru” mulai menyebar di sekitar wilayah Eroa.

Kemudian setelah populasi, transportasi dan teknologi semakin berkembang, pemilik Rh negatif (Rh-) mulai menyebar ke serluruh dunia.

Misalnya ke benua Eropa di era Colombus, ke benua Afrika dan Asia untuk berdagang dan melalukan kolonisasi dari bangsa Eropa ini, dan terjadilah kawin campuran di daerah-daerah tersebut.

Sejak itu hingga kini, pemilik darah Rh negatif (Rh-) sudah sangat banyak. Dari seluruh manusia pemilik Rh positif (Rh+), penduduk dunia yang memiliki Rh negatif (Rh-) ada sekitar 15%.

Etnis Indo-Eropa Tertua di Wilayah Eropa

Apa yang anda ketahui tentang suku Basque ? - Antropologi - Dictio Community

Suku yang sudah bermukim paling lama di Eropa ini berada di wilayah Eropa Barat, dan dulunya berupa negara, yaitu negara Navarre (kini Navarre Country) atau dalam bahasa Basque: Euskal Herria, yang kemudian berada di bawah Kerajaan Pamplona, dari sanalah tempat orang Basque awalnya bermukim sejak ribuan tahun lalu.

Kini negara Navarre sudah musnah dan terbelah, lokasi itu terbagi menjadi dua negara, di barat adalah wilayah Spanyol dan di bagian timur adalah wilayah Perancis. Pada masa lalu ibu kotanya kini berada di wilayah  Spanyol di daerah sektor Cantabria.

Suku Basques sudah disebutkan dalam catatan perjalanan Pliny pada awal abad pertengahan. Suku Basque memiliki kepercayaan atau agama pagan sendiri sesuai mitologi mereka, sebelum misionaris Kristen msuk ke wilayah ini pada abad 10 – 17 Masehi.

Bahkan pada masa lalu di Basque Country, mereka yang memberikan hadiah kepada anak-anak pada tanggal 24-25 Desember bukan Papa Noel (sebutan mereka untuk Santa Claus), namun yang memberikan hadiah adalah “Olentzero”.

Persamaan “Olentzero” dengan Papa Noel atau Santa Claus adalah, sama-sama membawa karung besar sebagai tempat hadiah.

Perbedaannya ialah Olentzero memakai cangklong untuk merokok, berjenggot coklat tua, menggunakan pakaian dan topi ala Basque, dan membawa tongkat. Dalam beberapa figur, terkadang ia juga membawa lampu lentera dan gerobaknya ditarik oleh seekor keledai, bukan delapan ekor rusa.

Setelah pasukan Muslim dan Franksih menguasai daerah Spanyol, maka daerah ini yang pada masa kini disebut sebagai daerah Vasconia, masuk ke dalam Kerajaan Pamplona yang dikuasai oleh Duke of Vasconia.

Sejak itu, Negara Navarre tempat asli Suku Basque berada, mulai menghadapi feudalisme sang Raja Vasconia, dan terpengaruh Aragon, Kastille, dan Perancis.

Pada saat pasukan Muslim mulai disingkirkan dari Spanyol pada abad ke-15, akhirnya Basque terpecah menjadi dua bagian dibawah dua kerajaan, yaitu Spanyol dan Perancis.

Meskipun begitu, suku Basque tetap berusaha agar kemerdekaan bagi negara mereka “Navarre” dapat tetap mereka capai. Diantaranya, mereka memanfaatkan Revolusi Perancis dan Perang Karlis.

Tapi tetap saja, Basque tidak bisa mendeka karena menghadapi dua negara besar, Spanyol dan Perancis. Namun akhirnya wilayahnya hanya menjadi bagian otonomi atau provinsi dari negara tersebut.

Menurut Stephen Oppenheimer, sejak 16.000 Sebelum Masehi, iklim yang lebih hangat memungkinkan perluasan kelompok proto-Basque, atau proto-Europeans, menjelajah ke utara Afrika dan seluruh benua Eropa, dan memperluas budaya Magdalenian di seluruh Eropa.

Pada masa kini suku Basque sudah berjumlah sekitar tiga juta jiwa dan menyebar yang kebanyakan ke wilayah Eropa, Amerika Selatan dan Amerika Utara, dan menganut agama Kristen, Katolik dan Islam.

Bahasa Basque yang misterius

Misteri Etnik “Basque”: DNA & Bahasanya Tiada Yang Menyamai, Turunan Alien?  | Mysterious Thing • Conspiracy • Controversy • UFO & Alien • Archeology •  Science • Universe • • • • • • • • • • • •

Lagi-lagi, asal-muasal bahasa Basque juga menjadi topik kontroversial dan telah melahirkan banyak hipotesis. Bahasa kuno yang asli dari orang-orang Basque adalah bahasa Proto-Basque, yaitu bahasa Basque itu sendiri yang tidak berkembang atau bercabang ke bahasa lainnya

Bahasa yang dipakai Suku Basque adalah satu-satunya bahasa Pra-Indo-Eropa (Pre-Indo-Europe) yaitu sebelum bahasa Indo-Eropa, namun bahasa Basque masih ada dan bertahan hingga zaman Eropa kontemporer, bahkan hingga saat kini.

Jadi, Bahasa Basque telah menjadi satu-satunya sisa bahasa murni dari populasi Pra-Indo-Eropa, dan bahasa itu berbeda dengan bahasa lainnya yang dipakai oleh semua etnis di seluruh Eropa.

Bahasa Basque memiliki enam dialek dan tidak ada jalur linguistik untuk Bahasa Basque ini, maka hal inilah yang membuatnya menjadi menarik dan spesial bagi para peneliti. Dari jalur mana bahasa ini berasal?

Namun pada beberapa tahun belakangan, beberapa peneliti mengaitkan bahwa Bahasa Basque ada hubungan linguistik dengan rumpun bahasa lainnya di Eropa.

Tapi sebagian besar peneliti tetap tidak mempercayai hipotesa ini, karena Suku Basque sudah ada di Eropa Barat ribuan tahun sebelum masehi, jauh sebelum adanya suku atau etnis Eropa lainnya.

Pada tahun 2008, ahli bahasa Finlandia, Kalevi Wiik, mengusulkan teori bahwa bahasa Basque saat ini adalah sisa dari kelompok “bahasa Basque” (Basque languages) yang dipakai sejak masa Paleolitikum di seluruh Eropa barat

Kemudian penggunaannya menjadi semakin mengecil dan sedikit akibat adanya kemajuan dari bahasa Indo-Eropa. Wiik juga menyatakan bahwa teorinya bertepatan dengan distribusi homogen dari Haplogroup R1b di Atlantic Eropa.

Ludomir R. Lozny menyatakan bahwa “ide-ide kontroversial” Wiik ini ditolak oleh mayoritas masyarakat ilmiah (the scholarly community), tetapi teori ini menarik minat besar terhadap khalayak yang lebih luas.

Teori tentang adanya kemungkinan akar bahasa Basque juga telah dikemukakan oleh Louis Lucien Bonaparte, Miguel de Unamuno, Julio Caro Baroja dan lain-lain. Salah satu kesimpulan dari etimologi hipotetis dan kontroversial ini adalah bahwa beberapa aspek dari bahasa Basque telah stabil dan tidak dipengaruhi oleh bahasa lain sejak Zaman Batu (Stone Age).

Banyak yang menyimpulkan bahwa bahasa Basque sudah digunakan sejak manusia masih hidup di dalam goa. Sangat mudah membayangkannya ketika itu, jika kita mengerti bahasa mereka yang masih sangat simple dan ada hubungannya dengan zaman batu dan juga mudah untuk diucapkan.

Tapi jangan salah, walau begitu, Bahasa Basque termasuk bahasa yang sulit dipelajari di dunia. Perkataannya mudah, tapi susunan kalimatnyalah yang membuat bahasa ini menjadi susah.

Bahasa Basque masuk Level-4 dalam kelas susahnya bahasa di dunia untuk dipelajari, Bahasa Basque ada dibawah bahasa Jepang yang lebih sulit dalam pengucapan, tulisan dan vokabularinya, yaitu pada Level-5. Sedangkan Bahasa Indonesia masuk Level-3, jauh lebih mudah dari kedua bahasa tersebut.

Beberapa contoh bahasa Basque yang sangat kuno, misalnya: ur/iz (air / water) ;  su (api / fire) ; zur (kayu / wood) ; aiz (batu / rock) ; lur (tanah / ground) ; ke (asap / smoke) ; jo (pukul / hit) ; jan (makan / eat) ; lan (kerja / work).

Contoh pertama: Misalnya kata “kampak” (dalam bahasa Inggris: Axe) dalam bahasa Basque diucapkan “aizkora” , yang mana kata “aiz” berarti batu. Apa hubungannya antara kampak dan batu? Hal ini sebagai salah satu bukti bahwa bahasa ini telah diucapkan ketika kampak masih terbuat dari batu, yaitu ketika manusia masih tinggal di dalam goa pada Zaman Batu.

Walaupun kemudian pada masa Zaman Besi kampak sudah dibuat dari logam, namun hal ini juga bisa membuktikan bahwa kampak pertama kali dibuat oleh suku Basque sejak Zaman Batu, hanya dari perkataan bahasanya.

Hal ini sudah menjadi kebiasaan suku Basque sejak masa lalu, bahwa ketika suku Basque pulang ke rumah dan ingin makan apel atau buah lainnya, maka mereka harus mendekati atau melakukan pertemuan (dalam bahasa Inggris: gathering) mendekati pohon apel atau pohon buah lainnya.

Pengertian itu berlaku juga untuk pohon-pohon buah lainnya, seperti “madar” (buah pir), madariondo (pohon pir / pear-tree) ;  “intxaur” (buah kacang polong), intxaurrondo (pohon kacang polong / nut-tree), “gerezi” (buah ceri), gereziondo (pohon ceri / cherry-tree), dan pohon buah lainnya. Semua pengertian dari bahasa Basque tentang “nama pohon buah” tersebut adalah sama, yaitu berarti: “mendekat ke (nama pohon buah)”.

Jadi, perkataan “pohon-buah” yang terbentuk dalam bahasa Basque yang artinya harus “mendekat” ke pohon itu, mengingatkan pada masa kuno ketika penanaman pohon buah belum dilakukan manusia, maka belum ada orang yang harus mendekat ke pohon buah atau harus berkumpul di dekatnya. Contoh-contoh tersebut diatas diutarakan oleh Jose Miguel Barandiaran, salah satu pakar arkeologi terkenal dari Basque Country.

DNA Suku Basque yang misterius

Basque ingin memisahkan diri dari Spanyol

Pada bulan Mei 2012 lalu, National Geographic Society Genographic Project merilis sebuah studi yang menunjukkan analisis rinci DNA suku Basque, sampel diambil dari kedua wilayah Basque, baik itu di wilayah Perancis dan juga di wilayah Spanyol.

Ternyata suku Basque memiliki pola genetik unik yang membedakan mereka dari populasi non-Basque di sekitarnya. Hasil penelitian dengan jelas mendukung hipotesis dari kontinuitas genetik parsial Basque kontemporer sebelum era Paleolitik / Mesolithik, yaitu sebagai pemukim awal yang asli di tanah air mereka.

Investigasi paleo-genetic oleh Universitas Complutense Madrid menunjukkan bahwa orang-orang Basque memiliki ketepatan profil genetik dengan sisa penduduk Eropa yang kembali ke era Prasejarah!

Haplotype dari DNA mitokondria yang dikenal sebagai U5 masuk di Eropa selama Upper Paleolithic dan varietas yang dikembangkan sebagai U8a, ternyata asli dari wilayahnya, Basque Country, yang dianggap Prasejarah, dan dari J-group mereka ternyata juga merupakan populasi asli dari wilayah Basque.

Sementara itu, karya-karya Alzualde A, Izagirre N, Alonso S, Alonso A dan de la Rua C. tentang DNA mitokondria dari manusia yang ditemukan di kuburan-kuburan prasejarah dari Alaieta di wilayah Alava memperlihatkan, bahwa tidak ada perbedaan antara DNA dari fosil manusia prasejarah dengan suku Basque ini, begitu pula dengan manusia prasejarah lainnya yang pernah ditemukan di wilayah Atlantik dan Eropa.

Studi yang didasarkan pada kromosom Y dari suku Basque, secara genetik berhubungan dengan Celtic Welsh dan Irlandia, artinya mereka adalah turunan dari Basque.

Stephen Oppenheimer dari Universitas Oxford mengatakan bahwa penduduk di Kepulauan Inggris saat ini memiliki asal-usul nenek moyang mereka dari pengungsi Basque selama zaman es terakhir.

Oppenheimer mencapai kesimpulan ini melalui studi korespondensi dalam frekuensi penanda genetik antara berbagai daerah di Eropa.

Haplogroup R1b, yang berasal selama zaman es terakhir setidaknya 18.500 tahun yang lalu, ketika kelompok-kelompok manusia menetap di selatan Eropa dan yang saat ini menjadi umum pada populasi Eropa, dapat ditemukan paling sering di Basque Country (91 %), Wales (89%) dan Irlandia (81%).

Populasi di Eropa saat ini melalui R1b dari Eropa Barat mungkin saja datang dari pengungsi akibat perubahan iklim di Semenanjung Iberia, di mana haplogroup R1b1c (R1b1b2 atau R1b3) berasal.

Selama osilasi Allerød, sekitar 12.000 tahun yang lalu, keturunan populasi ini kembali memenuhi Eropa Barat.  Kelangkaan varietas R1b1c4 (R1b1b2a2c) hampir selalu ditemukan di antara orang-orang Basque, baik di Utara dan Selatan dari Basque Country.

Berbagai R1b1c6 (R1b1b2a2d) memperlihatkan terjadinya insiden tinggi pada populasi Basque, 19%. The Y-DNA haplogroup R-M269 (R1b1a2) juga menonjol di antara Bashkirs dari Volga.

Tags:

BERITA TERKAIT