Surganya Para Pemburu Lendir dan Penjudi, Geliat Kota Dosa di Cina

Selasa, 05 Oktober 2021, 16:49 WIB
32

Kota Dosa atau Sin City adalah julukan bagi sebuah wilayah urban yang banyak melakukan aktivitas ‘dosa’, contohnya yang terkenal adalah Las Vegas. Perbuatan ini dibolehkan tergantung batas wilayah atau aktivitas ilegal yang diizinkan berdasarkan ketentuannya.

Contoh perbuatan tercela tersebut seperti layanan yang berkaitan dengan seks antara lain prostitusi, klub strip, dan toko seks serta perjudian atau penggunaan obat-obatan terlarang, dan aktivitas geng berlebihan. Bila luas daerahnya kecil, kadang-kadang disebut distrik lampu merah.

Gates Of Olympus

Postitusi menjadi aktivitas ilegal berdasarkan hukum Tiongkok. Meski demikian, perdagangan wanita masih marak, bahkan terorganisir dengan rapi. Sejumlah laporan media lokal menyebut jumlah pekerja seks komersial di Tiongkok mencapai angka 4 juta sampai 6 juta.

Berdasarkan hasil investigasi tim BBC, ditemukan kelompok mafia dan tindak prostitusi di sejumlah lokasi, seperti tempat spa dan bar. Jaringan prostitusi Tiongkok cukup banyak dan mengakar cukup lama.

Sin City di Cina

Ketika Han Yulai, seorang pengusaha di Dongguan, sebuah kota di jantung manufaktur China selatan, tengah dikunjungi klien, Han biasanya mengajak tamunya ke KTV, tempat karaoke sekaligus rumah bordil.

Rise of Olympus

Di tempat ini, para lelaki hidung belang bisa memilih “mamasan,” atau para wanita yang biasa menjajakan tubuhnya. Para “Mamasan” sebagian besar berasal dari China, namun ada juga yang datang dari Jepang, Korea dan Rusia yang mematok harga layanan paling mahal.

“Anda bisa memilih satu atau dua (mamasan), bernyanyi, menikmati minuman, dan sedikit bersenang-senang bersama mereka. Kemudian Anda bisa ke kamar di lantai atas untuk ‘berbisnis’. Bukan cinta, hanya bisnis,” kata Han, yang menggunakan nama samaran, dikutip dari CNN.

Praktik prostitusi merupakan hal yang ilegal di China. Pada Februari 2014 lalu, pemerintah China telah menggeledah dan menutup 2.000 hotel, sauna dan panti pijat yang melayani jasa prostitusi di kota yang dijuluki ‘Sin City’ ini.

Dalam penggeledahan itu, ribuan orang ditangkap, termasuk terduga mucikari bersama dengan sejumlah pejabat tinggi dan perwira kepolisian yang korup. Wakil Wali Kota Dongguan yang juga menjabat sebagai kepala biro keamanan kota, Yan Xiaokang, dipecat dari jabatannya.

Dilaporkan CNN, lebih dari setahun setelah penggerebekan tersebut, sejumlah panti pijat dan sauna masih ditutup di distrik Houjie, salah satu daerah yang terkenal akan praktik prostitusi di China.

Di sepanjang jalan, tidak terlihat satu pun “Xiaojie,” istilah dalam bahasa China untuk pekerja seks. Bisnis salon pun nampaknya hanya melayani jasa pemotongan dan perawatan rambut, tidak lebih.

Pakar keuangan publik dan perpajakan dari Sun Yat-Sen University di Guangzhou, Lin Jiang, memperkirakan penggeledahan tempat bisnis yang sekaligus berfungsi sebagai rumah bordil mengurangi pendapatan kota sekitar 50 miliar Yuan, atau sekitar Rp107 triliun, sepersepuluh dari total pendapatan Dongguan pada 2014.

Perekonomian Dongguan yang bergantung pada produk manufaktur berharga murah pun terpuruk pasca penggeledahan tersebut. Industri pabrik dan bisnis jasa lainnya menurun akibat ditutupnya rumah-rumah bordil. Sekitar 250 ribu pekerja seks pun mengganggur.

Meski restoran, panti pijat dan tempat sauna ditutup, bukan berarti praktik pelacuran hilang di Dongguan. Industri perdagangan seks disinyalir masih berjalan di ‘Sin City’ meski dilakukan dengan tertutup dan tidak mencolok seperti sebelumnya.

Sejumlah praktik pelacuran masih berjalan dengan mengontak langsung para mucikari dan “mamasan.” Dilaporkan CNN, dengan harga sekitar 1.000 Yuan, atau Rp2,1 juta, pria hidung belang bisa mendapatkan layanan pijat selama 90 menit dengan dua wanita China yang cantik.

Layanan ini umumnya ditawarkan oleh para supir maupun pesuruh hotel ketika wisatawan asing mengunjungi kota ini. Jika para wisatawan setuju, para sopir dan pesuruh hotel akan memesan wanita tuna susila untuk mereka.

Praktik pelacuran juga merambah media sosial, utamanya di WeChat, aplikasi media sosial yang terkenal di China. Tempat karaoke memang ditutup, tapi tetap dijadikan tempat menunggu oleh sebagian besar pekerja seks komersil, yang menggunakan WeChat untuk menjaring pelanggan.

Dengan mengklik ‘orang-orang terdekat’ dan ‘wanita’ di aplikasi tersebut, profil wanita tuna susila pun dapat diakses, yang biasanya menampilkan foto yang seronok. Namun, pemerintah China pun dilaporkan menindak keras konten seksual, sehingga bisnis pelacuran online ini pun terancam hilang.

Sejumlah media China melaporkan perdagangan seks telah bergeser hingga ke rumah-rumah dengan cara pemesanan. Human Rights Watch melaporkan sekitar 2.013 pekerja seks di China mengalami kekerasan dari polisi, berupa penahanan sewenang-wenang dan tes HIV yang koersif. Pihak kepolisian juga sering mengabaikan kasus kejahatan yang menimpa para pekerja seks.

Global Times, surat kabar Tiongkok yang pro-pemerintah menyatakan bahwa penggeledahan tersebut merugikan kelompok tuna susila dan menyatakan “kebebasan seksual merupakan hak asasi manusia.”

Juru bicara organisasi hak pekerja seks komersial, Ann Lee berharap bisnis prostitusi dapat menjadi “satu kegiatan usaha yang normal” dengan kontrol dan peraturan sehat. “Tapi di China, itu hanya mimpi. Ini masih terlalu kontroversial,” kata Lee.

Polisi Cina menggelar operasi di Dongguan setelah televisi pemerintah menurunkan laporan tentang bisnis seks di kota di Cina selatan tersebut.

Dalam operasi ini polisi menangkap 67 orang dan menutup 12 tempat, sementara dua pejabat polisi diskors, kata media resmi. Cina melarang prostitusi tetapi perdagangan seks meluas.

Satu surat kabar memberitakan ketua Partai Komunis di Dongguan menyerukan operasi besar-besaran untuk memberantas perdagangan seks di kota ini. Dongguan kadang disebut sebagai ‘ibukota seks’ karena reputasinya sebagai pusat perdagangan seks di Cina.

Laporan televisi pemerintah CCTV, yang disiarkan hari Minggu (09/02/2014), menyebutkan praktik prostitusi bisa ditemui di sejumlah pusat hiburan di Dongguan.

Seorang reporter yang menyamar memperlihatkan pekerja seks komersial (PSK) berbaris di panggung, sementara manajer menjelaskan tarif untuk para PSK ini.

Beberapa jam setelah disiarkan, polisi menggelar operasi besar-besaran dengan melibatkan tidak kurang 6.000 personil.

Beberapa kalangan mengatakan terdapat empat hingga enam juta PSK di Cina.

Investigasi BBC pada Oktober lalu menemukan bukti prostitusi yang dijalankan secara rapi di sejumlah spa dan hotel milik jaringan Barat.

Organisasi HAM, Human Rights Watch, tahun lalu mengeluarkan laporan tentang PSK di Cina yang mengalami pelecehan, serangan fisik, dan penahanan secara semena-mena oleh polisi.

7 Tingkatan PSK asal Cina

SIn City Kawasan Prostitusi Underground di Negara Tiongkok - DBAsia.club

Prostitusi sebuah pekerjaan yang dianggap haram, terlarang, namun seperti rumput yang tumbuh di tanah, dicabut berapa kalipun, bisnis akan terus tumbuh dan berkembang. Tidak berbeda keadaannya dengan di China, bisnis ini dianggap ilegal oleh undang-undang, namun tetap berkembang di Negeri Tirai Bambu tersebut.

China sendiri dikabarkan menjadi ‘rumah’ dari 1 juta ‘kupu-kupu malam’ yang mencari nafkah di Negeri Tirai Bambu ini. Bahkan banyak dari para PSK (Pekerja Seks Komersial) ini berasal dari luar China, dan sengaja masuk ke negara ini hanya untuk mencari nafkah di bisnis haram ini.

Namun, berbeda dengan negara lain, di China memiliki semacam tujuh kategori hirarki (tingkatan) yang termasuk ke dalam lingkup prostitusi.

Tingkatan Pertama (baoernai)

Para perempuan yang bertindak seperti istri kedua dari seseorang yang mempunyai harta dan tahta yang cukup berpengaruh, yang masuk ke dalam kategori ini adalah para pejabat pemerintah dan para wirausahawan.

Praktek baoernai termasuk ke dalam prostitusi, karena para perempuan ini terlibat dengan kegiatan di luar nikah, khusus dengan para pria yang mampu memberi mereka penghasilan ataupun akomodasi hidup (dianggap seperti membayar PSK atas jasanya).

Bahkan, praktek ini mulai masuk ke dalam ranah bisnis, ketika muncul di dunia maya situs yang bernama “College Concubine Agencies” (Jasa Gundik Mahasiswi), yang dimana situs ini akan menjadi perantara untuk mempertemukan pria hidung belang yang sedang mencari mahasiswi untuk dijadikan gundik.

Tingkatan Kedua (baopo)

Para perempuan yang khusus dibayar demi menemani klien dari kelas atas untuk beberapa waktu tertentu (seperti kawin kontrak), dengan contoh ketika klien tersebut melakukan perjalanan bisnis. Para perempuan ini juga akan berperan layaknya ‘istri’ dari kliennya, yang termasuk melayani kebutuhan seksual sang klien.

Kategori satu dan dua ini sering menjadi kontroversi di publik China, karena terkait dengan praktek korupsi yang dilakukan oleh para pejabat di pemerintahan. Para kelompok feminisme di China, Hong Kong dan Taiwan, secara aktif berusaha untuk menghilangkan bisnis ini.

Mereka menganggap bahwa praktek ‘gundik’ ini merusak kesucian pernikahan, karena hanya dilakukan demi ekonomi dan kepuasan sesaat tanpa terikat janji suci yang sebenarnya.

Tingkat Ketiga (santing)

PSK yang masuk ke dalam kategori ini adalah para perempuan yang menyediakan jasa seks pada para pria hidung belang di lokasi karaoke, bar, restoran, tempat minum teh. Biasanya, para PSK ini bekerja sama dengan pemilik lokasi, dan uang yang didapatkan akan dibagi rata antara PSK dan sang pemilik.

Para perempuan ini juga sering disebut dengan istilah hostes namun dalam bahasa China, kerap disebut sanpei xiaojie (Perempuan yang mengiringi tiga kegiatan). Secara teori, tiga kegiatan ini terdiri dari ngobrol, minum, dan menari bersama klien.

Namun, fakta di lapangan agak berbeda dengan teorinya, karena tiga kegiatan yang kerap dilakukan para perempuan ini adalah menari, minum dan diraba-raba oleh para kliennya. Para perempuan ini biasanya memulai jasa mereka dengan mengizinkan para kliennya untuk meraba dan membelai tubuh mereka Jika para kliennya sudah semakin menunjukkan ‘hasratnya’ maka aktivitas ini berujung dengan hubungan seksual.

Tingkat Keempat (doorbell girls)

PSK yang ini, biasanya menawakan jasanya dengan menelepon kamar dari para pria hidung belang yang sedang menginap di suatu hotel tertentu (yang terkenal menawarkan jasa PSK).

Tingkat Kelima (falangmei)

Prostitusi tingkat kelima ini biasanya melibatkan para perempuan yang menawarkan jasa seks kepada kliennya di panti pijat, terapi kesehatan pria, tempat potong rambut, sauna bahkan di tempat fitness pria.

Aktivitas yang paling sering dilakukan di lokasi-lokasi ini adalah praktek mastubasi dan oral sex yang dilakukan para penyedia jasa kepada klien mereka.

Tingkat Keenam (jienu). Para perempuan yang menawarkan jasa seks di jalanan kepada pria hidung belang.

Tingkat Ketujuh (xiagongpeng)

Para PSK yang khusus menawarkan jasa seks kepada pekerja kasar yang berada di pedesaan. Dua tingkat terbawah ini kerap masuk karateristik sebagai bisnis haram (jasa seks) yang terus terang tanpa adanya penyamaran atau modus tertentu.

This picture taken on February 9, 2014 shows an alleged sex worker and client during a raid on an entertainment center in Dongguan, in southern China's Guangdong province.

Jienu dan xiagongpeng sama sekali tidak terkait dengan korupsi pemerintah, ataupun di mediasi oleh pihak tertentu. Para perempuan yang terjun ke dalam dua tingkat terendah ini biasanya masuk ke bisnis haram ini bertujuan untuk mencari sedikit uang, sesuap nasi dan rumah untuk keluarganya.

Selain warga China sendiri yang terjerat untuk masuk ke bisnis haram ini, banyak para PSK yang berasal dari negara lain seperti Korea Utara, Korea Selatan. Jepang, dll. Dikabarkan, PSK yang berasal dari Jepang adalah para aktris film porno Negeri Sakura tersebut yang khusus melayani klien para pria China kaya.

Khusus yang berasal dari Korea Utara (Korut) para perempuan ini biasanya menjadi korban dari eksploitasi seks di China demi keluar dari kemiskinan yang mereka alami ketika masih di Korut.

Menurut The Washington Post, sebagaimana dilansir, sekira 10 ribu perempuan dilaporkan melarikan diri dari Korut ke China, dan menurut kelompok pemerhati Hak Asasi Manusia (HAM), banyak dari para mereka yang dipaksa menjadi PSK ketika tiba di Negeri Tirai Bambu.

Berdasarkan laporan dari Ji Sun Jeong dari organisasi A Woman Voice Internasional, ia mengatakan, “60 hingga 70 persen, orang-orang yang melarikan diri dari Korut ke China adalah perempuan, dan 70 hingga 80 persen dari para perempuan ini menjadi korban dari penjualan manusia,”.

Kota Dongguan, Surga Buat Para Playboy

Prostitutes Tianjin, Buy Hookers in Tianjin, Tianjin Shi

Dongguan adalah sebuah kota di provinsi Guangdong, China. Entah kenapa cowok disana terbiasa memiliki lebih dari satu cewek, kadang dua dan kadang sampai tiga cewek dalam waktu bersamaan. Hal ini jelas bikin para cowok yang haus belaian pada ngiler nih. Lucunya lagi nama kota ini adalah Dongguan, yang mana mirip sama nama Don Juan, sebuatan ikonik untuk para cowok playboy.

Iphone memang bukan buatan China,tapi pabriknya ada di negeri tirai bambu ini, lho. Pabrik iphone dan ipad ada di kota Dongguan, provinsi Guangdong selatan. Kota ini pun jadi terkenal karena terdapat industri global di dalamnya. Kebanyakan dari pabrik elektronik tersebut membutuhkan tenaga perempuan.

Sehingga sangat banyak pekerja perempuan di Dongguan. Fenomena dimana cowok rata-rata punya pacar lebih dari satu di kota ini bikin sebagian besar orang gagal paham. Alih-alih terkenal sebagai kota produsen elektronik, kota ini malah terkenal karena fenomena tersebut.

Industri elektronik di Dongguan ternyata lebih banyak membutuhkan pekerja cewek ketimbang cowok. Entah apa alasannya, yang jelas ini berdampak dengan populasi cowok di kota ini. Cowok di kota ini justru lebih sulit cari pekerjaan.

Dongguan, China: Inside the dark, seedy heart of China's Sin City | National Post

Dikutip dari news.com.au, seorang penduduk laki-laki bernama Li Bin mengaku memiliki tiga pacar yang saling kenal satu sama lain. Teman-teman kerjanya juga rata-rata memiliki pacar lebih dari satu orang. Hal ini sangat lumrah di Dongguan, bahkan mencari pacar adalah hal yang sangat mudah disana.

Cewek di Dongguan rata-rata adalah pekerja yang memiliki banyak uang. Berbeda dengan cowok disana yang susah cari pekerjaan dan nggak berduit. Sehingga kebanyakan cewek lah yang akan ngebayarin kamu makan, nonton, bahkan jalan-jalan. Cewek disana pengen punya cowok bukan karena butuh uang, tapi karena memang butuh hiburan.