Tentang Helenio Herrera, Sang Guru Catenaccio: Meracik Sepak Bola Pragmatis Menjadi Begitu Indah

Rabu, 28 Juli 2021, 11:19 WIB
59

Catenaccio dewasa ini kerap dianggap sebagai strategi sepak bola pragmatis yang amat membosankan. Namun kala awal dipopulerkan oleh Helenio Herrera pada masa lampau, Catenaccio justru mampu memancarkan permainan yang luar biasa indahnya.

Pecinta sepak bola selalu mengidentikkan strategi Catenaccio dengan Italia. Tidak salah, sebab di sanalah memang Catenaccio pertama kali dikembangkan. Pencetusnya ialah Helenio Herrera, pelatih legendaris asal Argentina yang eksis sekitar era 1940-an sampai 1980-an silam.

Gates Of Olympus

Dihimpun Edisi Bonanza88, inti dari strategi Catenaccio buatan Herrera adalah tentang seni bertahan. Kekuatan sebuah tim bertumpu kepada lini belakang yang tangguh, rapat, serta berlapis. Sembari bertahan sebaik mungkin, Catenaccio juga akan menusuk lawan lewat skema serangan balik cepat.

Herrera kali perdana mengembangkan strategi Catenaccio di klub Liga Italia, Inter Milan. Berkat inovasinya tersebut, Herrera sanggup memberikan Inter Milan kesuksesan besar. Tak heran kalau kemudian banyak klub lain, khususnya dari Liga Italia, yang rutin mengadaptasi prinsip pertahanan gerendel ala Catenaccio.

Perjalanan Helenio Herrera Menemukan Formula Catenaccio

The incomparable legacy of Helenio Herrera

Sejak kecil, Helenio Herrera terbiasa menjadi seorang yang pemikir. Ayahnya merupakan sosok terkemuka di masyarakat lantaran bertindak sebagai aktivitis yang menganut paham anarkis.

Rise of Olympus

Ideologi politik dan kultur lingkungan sekitar yang mengiringi masa tumbuh besar Herrera, memberikan dampak baik terhadap tingkat kecerdasannya.

Awalnya Herrera lahir dan menjalani masa kecil di Argentina. Berjalannya waktu, Herrera diajak kedua orang tuannya pindah ke Casablanca, daerah kekuasaan kolonial Prancis. Momen meninggalkan Argentina ini, jadi titik Herrera mulai memfokuskan kecerdasan otaknya ke ranah sepak bola.

Ketika meniti karier sebagai pemain, pencapaian Herrera sama sekali jauh dari kata mentereng. Sampai memutuskan pensin pada 1945, tidak satu pun nama klub besar yang pernah dibela Herrera. Paling keren hanya Red Star Olympique, klub sepak bola tertua ketiga di Prancis, yang diperkuat Herrera sedari 1940 sampai 1942.

Usai gantung sepatu, Herrera tidak meninggalkan arena lapangan hijau. Ia merangkak pelan membangun karier kepelatihan.

Klub pertama yang dibesut Herrera ialah tim terakhirnya semasa masih menjadi pemain, Puteaux. Herrera menukangi Puteaux sampai 1945, kemudian pindah ke mantan klub yang sempa dibelanya dalam periode 1942-1943, Stade Francais.

Memasuki tahun 1948, Herrera mendapat kesempatan meningkatkan jenjang karier kepelatihan dengan dipercaya menangani klub Liga Spanyol, Real Valladolid.

Tak banyak catatan yang bisa diperoleh terkait jejak tangan dingin Herrera selama melatih Valladolid hingga 1949. Satu-satunya hal yang bisa terekam, pasca masa bakti di Valladolid tuntas, Herrera pindah menuju Atletico Madrid.

Bersama Atletico, kecemerlangan taktik Herrera mulai mencuat ke permukaan. Musim 1949/50 dan 1950/51, Herrera sukses memberikan dua trofi juara Liga Spanyol beruntun untuk Atletico.

Tahun 1953, Herrera coba tantangan baru dengan menukangi klub-klub Liga Spanyol lainnya, seperti Malaga, Deportivo La Coruna, Sevilla, dan Belenenses. Kiprah Herrera di empat klub tersebut nihil gelar.

Sampai akhirnya datang tawaran melatih Barcelona pada April 1958. Ibarat menemukan hidup kedua, keampuhan taktik Herrera membuahkan hasil lagi. Barcelona diantarkan Herrera menjuarai Liga Spanyol 1958/59 dan 1959/60.

Begitu musim 1959 rampung, Herrera terlibat konflik internal dengan anak asuhnya sendiri, Ladislao Kubala. Enggan larut dalam konflik tak jelas, Herrera memutuskan angkat kaki dari Barcelona.

5-4-1 of Helenio Herrera for FM 14 | FM Scout

Kepergian Herrera langsung disambut pinangan klub Liga Italia, Inter Milan. Mulai 1 Juli 1960, Herrera resmi menduduki kursi kepelatihan Nerazzurri. Langkah yang kami yakin tak akan pernah disesalinya, sebab pada kemudian hari, Herrera mencatatkan sejarah manis bersama Inter Milan.

Awal datang ke Italia, Herrera masih mengandalkan skema sepak bola kreatif yang biasa diperagakannya di Spanyol. Permainan kolektif yang penuh keindahan pernah sukses di Barcelona, mungkin Herrera merasa hal yang sama juga berlaku ketika menukangi Inter.

Namun gaya sepak bola indah ternyata tak melahirkan prestasi apapun. Dua tahun melatih Inter, Herrera masih saja nihil gelar. Paling bagus hanya menduduki peringkat tiga klasemen Liga Italia. Pencapaian kurang mengesankan Herrera ini membuatnya dipanggil oleh petinggi klub, mendapat ancaman pemecatan jika musim berikutnya gagal mendulang trofi.

Teguran keras ternyata malah memunculkan ide Herrera untuk mengembangkan sebuah eksperimen. Dia coba mengadaptasi taktik Verrou yang telah lebih dulu dikembangkan oleh pelatih asal Austria, Karl Rappan. Herrera tahu jejak Karl Rappan yang sukses di Swiss berkat taktik Verrou.

Inovasi taktik Herrera dimulai. Ia membuat Inter bermain dengan lima bek; sektor bek sayap kiri ditugaskan menyerang; satu bek tengah diberikan tugas menjadi sweeper atau libero. Peran bek sayap kiri dan libero amat krusial dalam skema yang akhirnya tenar dengan nama Catenaccio.

Bek kiri dipercayakan Herrera kepada Giancinto Facchetti, sementara sweeper dijalankan oleh Armando Picchi yang posisi aslinya gelandang tengah. Kehadiran Faccheti sangat dibutuhkan ketika Herrera membutuhkan serangan cepat lewat bola vertikal ke depan.

Adapun Picchi mengemban dua tugas mulia, merapatkan barisan pertahanan sembari mengalirkan umpan-umpan matang.

Terlepas dari peran Faccheti dan Picchi, inti taktik Catenaccio meminta seluruh pemain Inter bertahan sedisiplin mungkin. Ketika ada kesempatan, skuat Inter bakal melancarkan serangan balik cepat lewat dua sampai tiga sentuhan supaya mengancam kotak penalti lawan.

Penerapan taktik Catenaccio didukung kebijakan baru Herrera yang merevolusi program latihan Inter. Herrera merancang latihan dengan porsi yang intens serta berlangsung keras.

Program latihan seperti itu sengaja dimaksudkan Herrera agar mental para pemain Inter bisa sekuat baja, tak gentar menghadapi lawan manapun.

Eksperimen Herrera ternyata sanggup mengantarkan Inter ke level prestasi fenomenal. Dua musim beruntun, 1963/64 dan 1964/65, Herrera dengan taktik Catenaccio membawa Iner merajai ajang Liga Champions. Kegemilangan bertambah lewat tiga trofi juara Liga Italia, musim 1962.63, 1964/65, dan 1965/66.

Periode kejayaan Inter dalam balutan Catenaccio ala Herrera sampai sekarang masih dianggap sebagai salah satu sejarah terbaik klub (sekaligus sepak bola secara keseluruhan) dan dijuluki “La Grande Inter”.

Hal menarik lainnya dari kesuksesan Catenaccio yang dikembangkan Herrera tertuang pada aksi Facchetti sebagai bek sayap kiri. Herrera bisa menyulap Facchetti menjadi bek sayap kiri yang tajam mencetak gol, sebuah catatan yang amat langka sampai sekarang.

Musim 1965/66, Faccehtti yang tampil 32 kali di pentas Liga Italia, mampu menyumbangkan total 10 gol.

Sejak Herrera menemui kegemilangan fantastis, sepak bola Italia tiba-tiba latah menggunakan konsep Catenaccio. Bahkan taktik Catenaccio perlahan menjadi identitas Italia yang terkenal punya pertahanan berlapis nan memukau.

Herrera meninggal dunia pada November 1997. Namun nama Helenio Herrera akan selalu hidup berkat warisan taktik Catenaccio yang dikembangkannya di masa silam.

Catenaccio di Era Sepak Bola Modern

Champions, la stampa spagnola boccia il catenaccio di Mourinho - La  Gazzetta dello Sport

Menengok era sepak bola modern, sebenarnya masih ada beberapa pelatih top yang gemar memainkan gaya pragmatis mirip Catenaccio, seperti Jose Mourinho dan Diego Simeone.

Tapi pandangan umum yang beredar luas hampir selalu menyudutkan Catenaccio. Berulang kali Catenaccio disebut taktik yang kuno, usang, dan pecundang.

Bahkan Jose Mourinho pernah dibuat kesal dengan strategi kesukaannya sendiri. Semasa melatih Manchester United, The Special One diketahui sempat melontarkan kritik terhadap permainan bertahan gerendel yang diperagakkan Chelsea dalam pertemuan kedua tim di laga final Piala FA, 19 Mei 2018.

Mourinho seakan tidak terima kalah 0-1 dari Chelsea yang sepanjang pertandingan mayoritas hanya bermain bertahan. Kebetulan, Chelsea waktu itu ditangani oleh Antonio Conte, pelatih berkebangsaan Italia yang tumbuh besar dengan kultur Catenaccio amat kental.

“Terasa sedikit sulit bagi kami untuk bermain tanpa Lukaku melawan tim yang bertahan dengan sembilan pemain. Anda membutuhkan kehadiran Lukaku,” ujar Jose Mourinho.

“Setiap kekalahan menyakitkan, tetapi saya pulang ke rumah dengan perasaan bahwa kami telah melakukan segalanya. Tak ada penyesalan,” tutur Mourinho lagi.

Kritikan Mourinho lebih kentara lagi ketika membesut Chelsea dan kalah di laga Community Shield dari Arsenal, 2 Agustus 2015. Pelatih asal Portugal menyindir Arsenal yang bermain bak pecundang karena menampilkan strategi bertahan gerendel.

“Ini medali untuk pecundang dan itu adalah memori yang baik baginya (Arsene Wenger),” kata Mourinho kepada BT Sport.

“Mereka menumpuk 10 orang pemain mereka di depan garis pertahanan mereka dengan organisasi yang sangat baik sehingga, selamat,” ucap pelatih berkebangsaan Portugal tersebut.

Kritik Mourinho jelas tampak sangat kontras dengan yang kerap dipraktekkanya. Dapat dimaklumi, mengingat Mourinho bukan orang pertama yang mempopulerkan strategi bertahan gerendel ala Catenaccio. Sepertinya Mourinho hanya iri melihat ada pelatih lain yang merenovasi Catennacio lebih baik ketimbang versinya.

Tidak ada yang salah menerapkan strategi Catenaccio untuk memenangkan pertandingan. Soal suka atau tidak suka, itu masalah sudut pandang masing-masing saja.

Boleh Anda menyukai gaya penguasaan bola indah ala Pep Guardiola, Jerman, Spanyol, dan Barcelona. Tapi sungguh kurang adil jika Anda membenci Catenaccio dan pengembangan permainan-permainan bertahan gerendel lainnya.

Faktanya, Italia asuhan Roberto Mancini yang mengandalkan ‘Catenaccio Modern’, baru-baru ini sukses menjuarai Euro 2020. Padahal tim yang dikalahkan Italia di final, yaitu Inggris, ikutan mengadaptasi strategi bertahan gerendel pula.

Lantas, apakah Anda termasuk penikmat sepak bola yang geram dan benci terhadap strategi Catenaccio? Kami sarankan, sebaiknya Anda merenungkannya kembali!