Timnas Imigran, Jejak Multienik di Sepak Bola Prancis

Kamis, 30 September 2021, 21:19 WIB
32

Perancis merupakan salah satu negara di dunia yang sering menjadi tujuan utama dari para imigran di berbagai belahan dunia, selain itu Perancis juga merupakan negara yang multikultural dan demokratis. Namun permasalahan migrasi sering menjadi isu utama baik didalam negeri itu sendiri maupun pada tahap Uni Eropa.

Perancis merupakan negara yang penduduk aslinya sejatinya berasal dari campuran orang Kert (Galia) dan Romawi. Negara yang terkenal dengan slogan “Liberte, Egalite, Fraternite” ini merupakan salah satu negara yang terkenal dengan sejarah kolonisasinya.

Gates Of Olympus

Negara jajahan Perancis sebagian besar merupakan negara- negara Afrika Utara seperti Maroko, Aljazair, Sengal dan masih banyak lagi. Masyarakat dari negara-negara jajahan itulah yang kelak membantu Perancis berperang melawan Jerman dan aliansinya dalam perang dunia ke-2.

Pasca perang dunia ke-2, Perancis membutuhkan banyak pekerja kasar untuk membangun negerinya yang porak poranda, sehingga semakin banyak imigran yang datang ke negeri itu untuk bekerja dan kemudian sekaligus menetap disana. Hal inilah yang melatarbelakangi multikulturalisme di Perancis.

Sepak Bola di Perancis

Zidane, Inspirasi Pesepakbola Prancis Kelahiran 1980 dan 1990-an : Okezone  Bola

Di Perancis sepak bola adalah salah satu olahraga paling populer. Federasi Sepak Bola Perancis (bahasa Perancis: Fédération Française de Football) atau yang biasa disingkat dengan FFF adalah badan nasional yang bertanggung jawab untuk mengawasi semua aspek dari olahraga sepak bola di Perancis, baik profesional maupun amatir.

Rise of Olympus

Federasi mengatur Piala Perancis (bahasa Perancis: Coupe de France, bahasa Inggris: French Cup) dan bertanggung jawab untuk menunjuk manajemen Tim nasional sepak bola Perancis baik untuk pria, wanita dan tim yunior. Federasi memberikan tanggung jawab Ligue 1 dan Ligue 2 kepada Liga Sepak Bola Profesional (bahasa Perancis: Ligue de Football Professionnel) atau yang biasa disingkat LFP untuk yang mengawasi, mengatur, dan mengelola atas dua liga negara itu.

LFP juga bertanggung jawab untuk mengatur Piala Liga Perancis (bahasa Perancis: Coupe de la Ligue) yaitu sebuah kompetisi piala liga di Perancis. Federasi sepak bola Perancis juga mengawasi klub sepak bola AS Monaco, klub sepak bola dari negara berdaulat Monako. Pada tahun 2006, FFF memiliki 2.143.688 lisensi, dengan lebih dari 1.850.836 pemain terdaftar dan 18.194 klub terdaftar.

Klub sepak bola pertama diperkenalkan ke Perancis pada tahun 1863 oleh imigran Inggris seperti yang dijelaskan dalam sebuah artikel surat kabar The Scotsman, yang menyatakan “Sejumlah pria Inggris yang tinggal di Paris akhir-akhir ini menyelenggarakan sebuah klub sepak bola”

Pertandingan sepak bola berlangsung di Bois de Boulogne, dengan izin dari pihak berwenang dan mengejutkan Perancis secara luar biasa. Sepak bola modern diperkenalkan sembilan tahun kemudian pada tahun 1872 oleh pelaut Inggris yang bermain di Le Havre pada tahun 1872.

Sepak bola telah menjadi metafora yang umum untuk kebangkitan kepercayaan diri nasional secara umum, sebuah pengakuan dan pengakuan yang masih rapuh bahwa Prancis muncul dari depresi jangka panjang karena negara tersebut telah sepakat dengan masa perangnya.

Kolaborator masa lalu, dengan dekolonisasi, dengan hilangnya status di dunia yang sekarang didominasi oleh ‘Anglo-Saxon’ dan bahasa Inggris, dan dengan ekonomi dan masyarakat dengan tingkat pengangguran yang tinggi. Melalui sepak bola, Prancis telah menemukan bahwa mereka bukanlah pecundang abadi.

Sejarah sepak bola Prancis penuh dengan catatan tentang kekalahan heroik (1958 dan 1982) dan pelatih nasional yang mendasarkan taktik pada individualisme esensial pemain mereka. Gambaran diri nasional berulang ini yang disorot melalui sepak bola sama dengan yang saya sebut setelah menggunakan istilah Alain Duhamel dalam konteks sosial dan politik (Duhamel 1985) di kompleks Asterix.

Ini mengacu pada harapan kekalahan yang tak terelakkan untuk ‘orang Prancis kecil’, seperti Gauls yang dipimpin oleh Asterix melawan legenda Romawi dapat dirayakan sampai tahun 1998. Jika tidak bisa diharapkan di panggung Eropa atau dunia, maka setidaknya Prancis bisa memainkan sepak bola ‘champagne’ di Kopa dan Platini.

Multikulturalisme di Sepak Bola Prancis

World Cup 2018: How Africa migrants dey help European teams for Russia -  BBC News Pidgin

Dampak sepak bola yang paling populer dan juga jelas salah satunya adalah dari hasil jajak pendapat Journal du Dimanche-IFOP terhadap 50 orang Prancis yang masuk ‘hitungan’. Tahun ini untuk pertama kalinya dalam 12 tahun sejak diresmikan, ia telah diungguli oleh seorang pesepakbola, Zinedine Zidane, mengalahkan Abbé Pierre, yang bersama dengan Jacques Cousteau, telah berbagi posisi teratas dalam setiap kali kesempatam sejak 1988.

Sejak Abbé Pierre telah melambungkan namanya di tahun 1950an dan Cousteau pada tahun 1960an dan 1970an, orang dapat mengatakan bahwa ini adalah indikasi jika orang Prancis akhirnya berhasil lolos dari waktu yang cukup lama dan dirasa sangat tepat meski sangat mengejutkan.

Tim Perancis yang mengikuti Piala Dunia FIFA 2006 sudah jauh berubah daripada saat menjadi Juara Dunia 1998 dan Euro 2000, walaupun Zinedine Zidane, Claude Makelele, Patrick Vieira, Thierry Henry dan Lilian Thuram masih ikut serta dalam tim nasional. Piala Dunia 2006 ini tak ubahnya seperti A Tribute to Zinedine Zidane, pemain terbesar yang pernah dimiliki Prancis saat ini.

Zinédine Yazid Zidane dilahirkan di Marseille dan dibesarkan di La Castellane. Walaupun lahir di Marseille, Zizou belum pernah bermain untuk Olympique de Marseille. Orang tua Zidane beragama Islam, dan mereka berimigrasi dari Aljazair ke Perancis pada tahun 1954. Zidane atau populer dengan panggilan Zizou adalah seorang mantan pesepak bola Perancis yang saat ini Ia melatih klub Real Madrid.

Zidane memulai karier sebagai pemain di klub AS Cannes, ia kemudian bermain di Bordeaux, Juventus dan terakhir Real Madrid. Ia pensiun dari sepak bola klub pada tahun 2006 dan pensiun dari Tim nasional Perancis setelah Piala Dunia 2006. Ia juga sempat memegang rekor sebagai pemain termahal di dunia saat ditransfer dari Juventus ke Real Madrid pada musim 2001-2002 dengan nilai 46 juta poundsterling sebelum dipecahkan oleh pemain Real Madrid lainnya Cristiano Ronaldo dan Gareth Bale.

Sebagai pesepak bola kelas dunia, Zidane telah mengenyam banyak prestasi, di antaranya dua gelar Serie-A bersama Juventus, satu gelar Liga Champions dan satu gelar La Liga bersama Real Madrid. Zidane juga sukses mengantar Perancis menjadi juara dunia Piala Dunia 1998 dan juara Piala Eropa 2000.

Bersama sahabatnya Ronaldo, Zidane menjadi pemain sepak bola yang mampu meraih gelar Pemain Terbaik Dunia FIFA sebanyak tiga kali. Ia juga pernah meraih Ballon d’Or pada tahun 1998.

Selain Zidane, Perancis juga memiliki beberapa pemain yang berasal atau memiliki keturunan dari beberapa negara diluar negara Perancis yang menganut agama muslim, diantaranya sebagai berikut:

Zlatan Ibrahimovic (Paris Saint Germain); Ia merupakan pemain muslim terbaik asal Swedia. Ia merupakan tombak utama AC Milan. Dia juga menjadi Serie A Footballer Of The year 2005, 2008, 2009, 2011.

Frank Ribery (Eks Bayern Munchen) yang merupakan salah satu pemain terbaik Perancis. Di Salah satu media Prancis dia di sebut sebut sebagi The next Zinedine Zidane. dan dia bermain untuk Bayern Munchen Tim Rakasasa Bundesliga jerman.

Samir Nasri (Manchester City); Ia merupakan seorang pemain sepak bola Perancis yang berposisi sebagai gelandang serang. Saat ini ia bermain untuk Manchester City di Inggris dan untuk tim nasional Perancis. kontribusinya di city juga sangat di perhitungkan.

Does French Soccer Have an Arab Problem? – Foreign Policy

Karim Benzema (Real Madrid) ); Ia merupakan seorang pemain sepak bola berkebangsaan Perancis keturunan Aljazair yang kini membela klub Real Madrid. banyak gol yang disumbangkannya untuk real madrid.

Nicolas Anelka (Shanghai Shenhua); Ia merupakan pemain sepak bola profesional berkebangsaan Perancis yang bermain sebagai penyerang untuk Shanghai Shenhua. Mantan manajer Chelsea Carlo Ancelotti menyatakan ia sebagai seorang pemain cepat dengan kemampuan duel di udara, teknik, tendangan ke gawang, dan pergerakan tanpa bola yang bagus.

Abou Diaby (Eks Arsenal); Ia adalah pemain sepak bola profesional asal Perancis keturunan Pantai Gading yang bermain sebagai gelandang di Arsenal dan tim nasional Perancis.

Hatem Ben Arfa (newcastle united); seorang pemain sepak bola berkewarganegaraan Perancis yang bermain untuk klub Newcastle United pada posisi gelandang sayap, dia juga salah satu pemain yang di perhitungkan di newcastle united.

Dari data dan fakta yang terdapat di lapangan ataupun yang dipaparkan diatas, dapat kita lihat bahwa Perancis dari bidang olahraga telah menerima pemain diluar dari negaranya yang mayoritas pemainnya berkulit hitam dan berasal atau memiliki keturunan Afrika dan Arab. Hal ini, setidaknya dari segi sportivitas yang juga menunjang dan menguntungkan pihak Perancis telah diterima di negara yang mayoritas menganut agama Khatolik tersebut. Hal ini juga yang menjadi cermin multikulturalisme di Perancis.

Kehadiran Lional Messi di Liga Prancis

Lihat Messi Rebahan di PSG, Bikin Miris atau Salut?

Datangnya Lionel Messi ke Ligue 1 sejatinya bakal mementahkan anggapan ‘Liga Petani’ untuk kompetisi tersebut. Tapi malah ada fans rusuh dan laga-laga ricuh.

‘Liga Petani’, atau Farmers League, adalah sebuah ledekan yang rutin mengiringi eksistensi Ligue 1. Kualitas kompetisi tertinggi Liga Prancis itu dianggap tak selevel dengan kompetisi teratas di liga-liga top Eropa lainnya.

Selain itu klub-klub Ligue 1 juga dipandang remeh karena lebih sering jualan pemain-pemain terbaik, baik ke rival domestik Paris Saint-Germain yang jadi sedemikian dominan maupun klub Eropa lain.

Perkara daya saing di Ligue 1, yang memunculkan PSG sebagai klub tunggal bertaburkan bintang, juga bikin stempel negatif melekat kian kuat — walaupun faktanya bisa saja ada kejutan seperti Lille yang jadi juara musim lalu.

Mengulik soal daya saing, divisi teratas Liga Prancis sebenarnya cukup kompetitif mengingat banyaknya tim yang silih berganti jadi kampiun. Ada 28 tim yang pernah jadi juara ajang itu. Jauh lebih unggul dibandingkan, katakanlah, Liga Spanyol yang cuma pernah menghadirkan 9 tim sebagai juara dengan Real Madrid dan Barcelona mendominasi.

Fakta itu sendiri tak menyurutkan ledekan ‘liga petani’ untuk Liga Prancis. Tapi kedatangan Lionel Messi, superstar sepakbola, dianggap bakal mematahkan anggapan tersebut. Pemain nomor 1 dunia tentu takkan mau main di ‘liga petani’, kan?

Dan datanglah La Pulga. Tapi angan-angan awal belumlah sesuai harapan.

Lionel Messi sejauh ini belum memperlihatkan taji di PSG. Yang ramai saat ini justru spekulasi bibit ketidakharmonisan dengan Mauricio Pochettino sang pelatih lantaran Messi cemberut saat diganti.

Kabarnya Pochettino bermaksud baik demi mengantisipasi potensi cedera La Pulga, yang akhirnya memang dinyatakan benar-benar cedera. Di sisi lain Messi sepertinya juga ingin segera buru-buru unjuk gigi dan pecah telur, entah itu bikin assist atau gol, di PSG.

Pada tengah pekan, Messi cuma bisa menonton saat rekan-rekan satu timnya meraih kemenangan 2-1 atas Metz. Achraf Hakimi, salah satu rekrutan baru PSG musim panas ini, tampil cemerlang dengan torehan 2 gol. Di awal musim ini Hakimi tercatat sudah bikin 3 gol dan 2 assist dari penampilannya buat PSG di seluruh kompetisi.

Laga Metz vs PSG itu sendiri sempat ricuh. Setelah Hakimi menggetarkan gawang Metz, ada Mbappe yang kabarnya mengejek kiper Alexandre Oukidja yang lagi kecewa. Kiper Metz itu tak terima dan coba melakukan konfrontasi ke Mbappe, yang kemudian mendorongnya hingga jatuh. Untung saja situasi ini tidak tereskalasi lebih jauh.

Bukan apa-apa, di awal musim ini Liga Prancis yang sudah kedatangan Messi selaku salah satu pesepakbola terbaik dalam sejarah justru malah memunculkan promosi buruk ke seantero dunia dengan adanya kericuhan di atas lapangan.

Akhir pekan lalu, babak kedua laga Lens Vs Lille sempat harus tertunda sampai lebih dari 30 menit akibat keributan suporter di stadion. Aksi saling lempar berujung sekumpulan fans garis keras merangsek masuk ke lapangan.

Laga Lens Vs Lille sejatinya memang cenderung panas lantaran ini adalah sebuah derby — tepatnya Derby du Nord atau Derby Utara. Kedua tim secara historis biasa adu gengsi sebagai yang paling sukses di wilayahnya. Boleh jadi pertemuan musim ini jadi makin sengit mengingat Lille adalah juara bertahan Ligue 1.

Namun, kericuhan yang hadir di laga Lens vs Lille tetap bikin geleng-geleng kepala. Pasalnya, di tengah ricu itu ada laporan kemunculan fans yang melakukan salam NAZI bahkan sampai melakukan masturbasi!

Dan bukan itu saja kericuhan suporter yang sudah mewarnai partai Ligue 1 di awal musim ini. Di akhir Agustus lalu, laga Nice Vs Marseille juga berlangsung rusuh, mulai dari aksi pelemparan sampai dengan serbuan ke lapangan.

Saat itu, situasi memanas saat Dimitri Payet yang hendak mengambil sepak pojok menjadi korban lemparan botol oleh suporter Nice. Situasi memanas dengan cepat, sampai akhirnya pecah keributan.

Jalannya pertandingan sempat tertunda akibat Marseille enggan melanjutkan pertandingan dengan alasan keamanan. Walaupun laga akhirnya bisa dituntaskan, beberapa pemain Marseille terlihat mengalami lebam akibat kekerasan fans.