Tradisi Panjang Spa di Indonesia, untuk Pengobatan hingga Esek-esek

Rabu, 29 September 2021, 12:08 WIB
18

Kata Spa berasal dari bahasa latin solus per aqua yang memiliki arti upaya kesehatan dengan memanfaatkan air. Secara Etimologi menurut kamus bahasa Inggris Meriem-Webster, kata SPA berarti tempat yang berair di kota kecil provinsi Belgia Liege, Belgia.

Di kota Spa ini, ada sebuah mata air terkenal yang mengandung mineral dan telah dikunjungi sejak abad ke-14, temperatur mata air panas sekitar 32°C.

Gates Of Olympus

Penggunaan Spa sebagai sarana pengobatan telah tercantum dalam suatu kepustakaan medis pada tahun 1500 SM dengan judul Rig Veda yang berarti “perawatan air untuk penyembuhan demam”.

Secara lebih rinci SPA didefinisikan sebagai suatu cara penatalaksanaan kesehatan dengan mempergunakan air dalam berbagai bentuk untuk mengobati suatu penyakit atau untuk mempertahankan kesehatan individu.

Pada jaman dahulu, Bangsa Yunani telah mengenal SPA sejak 377 SM. Hal ini dibuktikan pula dengan adanya kegiatan mandi orang Yunani jaman dahulu yang diyakini menjadi dasar  prosedur perawatan SPA modern saat ini, salah satu bukti yang bisa dilihat adalah adanya bathub dan baskom air untuk perawatan kaki.

Selain Bangsa Yunani pada jaman dahulu, aktivitas SPA saat ini juga dipercaya berasal dari kota kecil di Belgia yang bernama Spa di dekat Liege, dimana pada daerah tersebut memiliki mata air mineral yang merupakan tempat bagi orang Romawi melakukan relaksasi dengan berendam setelah beraktivitas.

Orang yang datang dan berendam di mata air kota Spa tersebut konon akan segera mengalami kesembuhan dari berbagai gangguan kesehatan yang dideritanya. Sejak itulah SPA kemudian dikenal sebagai bentuk terapi yang menggunakan kekuatan air mineral untuk menyembuhkan penyakit.

Rise of Olympus

Dengan seiring berjalannya waktu, orang Roma membawa kebiasaan tersebut ke Kota Roma, dimana SPA tertua di Roma terletak di Merano masih ada sampai sekarang, yang mampu memberikan bukti penggunaan hidroterapi sudah dilakukan sejak ribuan tahun yang lalu.

Kebiasaan Bangsa Romawi ini pula diyakini telah ditularkan kepada Cleopatra sang Ratu jelita dari Mesir yang sering melakukan aktivitas perawatan kecantikan dan relaksasi menggunakan media air atau dengan kata lain sang ratu tersebut telah melakukan kegiatan SPA.

Spa Terapi di Indonesia

Perawatan Spa So'oso Madura, Alternatif Tampil Cantik di Bulan Ramadhan -  aura.co.id

SPA di Indonesia sudah ada sejak jaman kerajaan Hindu – Budha, dimana pada jaman dahulu telah menjadi ritual-ritual tradisi adat di Indonesia. Hal ini dapat ditelusuri pada peninggalan bersejarah berupa tempat pemandian kuno (patirtan) berupa candi yang berfungsi sebagai tempat pemandian dan terlihat pula relief-relief candi seperti yang terlihat pada Candi Borobudur.

Perkembangan adanya SPA di Indonesia sendiri dibuktikan dengan sebuah literatur kuno pada 1872 yang menuliskan adanya tempat pemandian di kompleks Keraton Majapahit dan Medang. Terdapat Candi Tikus dan Kolam Segaranyang yang digunakan untuk membersihkan diri, jiwa dan raga.

Di Yogyakarta terdapat Taman Sari milik Sri Sultan Hamengkubuwono yang dibangun pada tahun 1789. Sedangkan di Bali terdapat Tirta Empul Tampaksiring, yaitu tempat pemandian yang sudah ada sejak zaman Kerajaan Gianyar.

Dari zaman dahulu masyarakat Indonesia memang sangat menyenangi mandi air yang mengandung banyak mineral atau belerang yang gunanya untuk menyembuhkan kulit, atau merilekskan otot dan persendian yang kaku.

Tempat tersebut dapat kita temuai di Tangkuban Perahu dan Ciater, Jawa Barat dll. Tanpa kita sadari spa merupakan bagian dari tadisi dan kehidupan social di Indonesia dan menjadi gaya hidup yang didasarkan pada kedekatan dengan alam.

Sejumlah gunung berapi di Indonesia kaya akan mineral yang bermanfaat untuk perawatan tubuh. Banyak masyarakat yang datang ke pegunungan untuk menikmati pemandian sumber air panas yang diyakini mempunyai daya penyembuhan yang mampu meningkatkan kesehatan baik fisik maupun fungsional serta menjaga kecantikan dan kebugaran tubuh.

Jadi tidak heran jika di Indonesia terdapat bermacam-macam upacara mandi yang secara ritual didasarkan pada siklus kehidupan seorang perempuan.

 

Manjain Diri Di Rumah Spa Palembang - Di Palembang

Tradisi spa ini juga ada sejak berdiri rumah sakit pertama di Batavia sejak 1622 sejatinya ada terapi kesehatan air panas.

Orang-orang Eropa yang datang ke Hindia Belanda gampang terserang penyakit tropis, dengan kematian yang sangat tinggi. Karena itu model tempat peristirahat di pegunungan dan spa Cipanas disebut-sebut sebagai asal mula terapi kesehatan berupa “perawatan spa”.

Seiring waktu spa menjadi sarana hiburan. Pada 22 Februari 1971, Gubernur Jakarta Ali Sadikin sengaja mengatur jam operasional bisnis hiburan dan rekreasi, dari 8 pagi hingga 12 malam, lantaran kental dengan stigma negatif.

Prasangka ini memakasa beberapa usaha jasa pijat tutup atau terkena sanksi karena ilegal maupun tidak “beriktikad baik”. Sampai tahun itu, di DKI Jakarta, sudah ada 500 kamar dari 28 panti pijat dan mandi uap.

Pada 1972, usaha jenis baru muncul, dengan mengadopsi praktik pijat ala Thailand. Perusahaannya bernama “Dusit Thani”—artinya “Kota Surga”. Manajemen dan bahkan pelayannya didatangkan dari Bangkok. Seperti ditulis harian Kompas edisi 7 Februari 1972, tamu bahkan bisa memilih “massage girl jang berkumpul dalam ruangan berkatja.”

Hal ini rupa-rupanya bakal jadi praktik umum usaha pijat dan mandi uap di kemudian hari. Perubahan dramatis terjadi pada 1978-an: pemerintah melarang panti mandi uap. Larangan ini mengacu pada radiogram Departemen Dalam Negeri. Namun, upaya memberangus usaha rekreasi dan hiburan ini nyaris tak mungkin.

Faktanya, pada 1981, pemerintah DKI Jakarta pernah memanggil salah satu usaha steambath dan pijat di Mangga Dua karena dituduh melakukan praktik body massage—yang jelas melanggar aturan bisnis hiburan dan rekreasi. Itu makin menegaskan stigma negatif terhadap bsinis panti pijat, mandi uap atau spa—sebagaimana bisnis ini kali pertama hadir di Jakarta pada era 1960-an.

Makin Cuan

Pernah Kerja di Spa Plus Sebelum Prostitusi Online, Dea: Canggung tapi Lama  Kelamaan Terbiasa

Pada 2009, lewat Undang-Undang No. 10 tentang Kepariwisataan, bisnis spa tergolong salah satu usaha jasa pariwisata. Aturan ini jalan baru bagi kehadiran bisnis spa untuk keluar dari stigma negatif, yang tergolong sebagai jasa rekreasi dan hiburan dan penyangga industri pariwisata.

Pada tahun yang sama Indonesia, terutama Pulau Bali, mendapatkan predikat sebagai “Destinasi Wisata Spa Terbaik di Dunia” dari sebuah majalah internasional.

Tak pernah seutuhnya menanggalkan stigma buruk, dua tahun sesudah predikat itu, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bersama Kementerian Kesehatan sepakat untuk “berkoordinasi dan menyusun program kerja” lewat nota kesepahaman tentang Wisata Kesehatan, termasuk menjadikan spa sebagai salah satu potensi pariwisata yang dapat diangkat secara global.

Dari sana, pada 2014, Kementerian Pariwisata merilis peraturan setingkat menteri untuk melakukan “standarisasi usaha jasa spa.”

Apa yang terjadi setelah tahun 2009? Publikasi dari Badan Pusat Statistik berjudul “Statistik Solus Per Aqua (Spa)” (2015) menawarkan sorotan menarik dari cacah survei kepada 1.236 usaha spa di seluruh Indonesia. Hasilnya, sampai tahun 2015, 17,88 persen usaha spa terbanyak berada di DKI Jakarta (atau sebanyak 220), disusul Jawa Timur (17,15 persen), Jawa Barat (10,03 persen), Bali (7,04 persen), dan Yogyakarta (6,72 persen).

Hasil survei ini juga menyatakan usaha komersial spa meningkat sekitar 64,97 persen setelah 2009; sebagian bahkan hadir pertama kali di beberapa daerah seperti di Bengkulu, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Papua Barat, dan Papua.

Data yang sama menyebutkan 57, 28 persen usaha spa di Indonesia tergolong kelompok usaha beromzet di bawah Rp500 juta/tahun; dan 20,55 persen beromzet antara Rp500 juta hingga Rp1 miliar/tahun. Sementara untuk segmentasi di atas Rp1 miliar atau Rp2 miliar per tahun masih terbatas.

Segmen terbatas itu mayoritas ada di Bali, yakni 42,53 persen untuk spa beromzet di atas Rp2 miliar/tahun, dan 16,09 persen untuk spa beromzet antara Rp1 miliar – Rp2 miliar/tahun.

Sebaliknya di Jakarta, mayoritas spa untuk kelas menengah. Rinciannya: ada 31,22 persen usaha spa beromzet Rp500 juta – Rp1 miliar/tahun; 25,79 persen spa beromzet di bawah Rp500 juta/tahun; dan 23,98 persen beromzet Rp1 miliar – Rp2 miliar/tahun.

Meski usaha spa tak cuma terapi pijat, tetapi hanya segelintir yang menyediakannya. Secara nasional, masih dari data BPS, 89,97 persen layanan usaha spa terkait terapi pijat. Di DKI Jakarta saja, layanan yang tersedia selain terapi pijat berkisar terapi air (26,70 persen), terapi rempah (24,43 persen), terapi pikiran (3,17 persen), dan hanya 6,79 persen yang menyediakan olah fisik.

Dari segi target konsumen, ada 64,81 persen usaha jasa spa untuk laki-laki dan perempuan. Khusus spa untuk perempuan ada 31,55 persen; sebaliknya hanya sekitar 3,64 persen usaha spa khusus untuk laki-laki.

Sebagai bisnis legal dan diatur dalam undang-undang, pajak bisnis spa dan pijat tergolong dalam kategori pajak hiburan. Berapa yang didapatkan Pemprov DKI Jakarta dari bisnis ini? Setoran pajak hiburan untuk DKI Jakarta hanya sekitar 2,13 persen sepanjang 2014-2016.

Pada 2016, dari total Rp31 triliun penerimaan pajak daerah, pajak hiburan menyumbang Rp769,53 miliar. Khusus untuk bisnis pijat menyumbang Rp56,40 miliar (7,33 persen), sementara bisnis spa menyetor Rp36,24 miliar (4,71 persen) dari total pajak hiburan. Jumlah ini masing-masing lebih kurang 0,18 persen dan 0,11 persen terhadap total pajak daerah.

Tags: