Tradisi Unik Bomber Buangan Barcelona yang Sukses Besar di Atletico Madrid

Senin, 21 Juni 2021, 09:33 WIB
56

Pemain yang dibuang oleh klub sebesar Barcelona, umumnya dianggap telah mengalami kemerosotan karier. Maklum, Barcelona memang memiliki standar tinggi, sehingga tak sembarangan pemain yang bisa merumput di sana.

Ada banyak faktor yang menyebabkan seorang pemain dapat dibuang Barcelona. Selain faktor performa yang ditampilkan kurang maksimal atau tidak sesuai kebutuhan pelatih, menuanya usia juga jadi alasan kuat yang mempengaruhi.

Gates Of Olympus

Salah satu contoh penggawa Barcelona yang terdepak akibat faktor performa kurang memuaskan ialah Ibrahim Afellay. Padahal waktu pertama kali datang ke Camp Nou pada bursa transfer musim dingin 2011, Afellay sejatinya punya teknik olah bola memukau.

Bayangkan, Afellay dibeli dari tim raksasa Liga Belanda, PSV Eindhoven ketika usianya baru 24 tahun. Kalau bukan karena kualitas menjanjikan Afellay, Barcelona pasti ogah mendatangkan pemain yang secara umur belum terlalu matang.

Seiring berjalannya wakti, Afellay ternyata malah lebih sering naik meja operasi dan berulang kali dibekap cedera. Ketika pulih, Afellay gagal mengembalikan sentuhan terbaiknya.

Sempat dipinjamkan ke Schalke dan Olympiakos, performa Afellay tetap tak sesuai dengan standar tinggi Barcelona. Akhirnya pada 2015, manajemen Barcelona terpaksa mengambil keputusan mendepak Afellay ke klub medioker Liga Inggris, Stoke City.

Keputusan Barcelona membuang Afellay rasanya tepat. Afellay kariernya anjlok drastis pasca dibuang Barcelona, sempat beberapa kali menganggur pula lantaran klub-klub enggan menampungnya.

Rise of Olympus

Sosok Afellay sendiri kini sudah gantung sepatu. Ia pensiun pada 31 Januari 2021 lalu setelah sejak 2020 meratapi karier tanpa klub.

Beralih ke faktor menuanya usia, Barcelona pernah mendepak dua legenda hidupnya, Xavi Hernandez dan Andres Iniesta. Jauh berbeda ketimbang Afellay, momen terdepaknya Xavi dan Iniesta dilakukan secara terhormat.

Perlakuan spesial untuk Xavi dan Iniesta wajar terjadi, mengingat jasa kedua pemain ini kepada Barcelona. Kinerja Xavi dan Iniesta sanggup mengantarkan Barcelona meraih banyak prestasi, termasuk gelar Liga Champions 2009 serta 2011.

Xavi yang sekarang sudah pensiun, meninggalkan Barcelona pada 2015 ketika usianya menginjak 35 tahun. Xavi kemudian pergi menuju klub Liga Qatar, Al-Sadd SC dengan status bebas transfer.

Sementara kepergian Iniesta tercipta pada 2018, kala usianya menyentuh angka 34 tahun. Iniesta hijrah ke klub Liga Jepang, Vissel Kobe.

Perlu ditekankan, Xavi dan Iniesta sama-sama tak lagi berada dalam level tertinggi sepak Benua Biru pasca meninggalkan Barcelona. Padahal mungkin secara teknik bermain keduanya masih pantas untuk membela klub-klub Eropa lainnya.

Namun tak selamanya pemain yang dibuang Barcelona langsung mendera kemerosotan karier. Jika belum percaya, tengoklah nasib yang dijalani dua bomber buangan Barcelona, David Villa dan Luis Suarez.

Villa serta Suarez justru tetap berhasil meraih prestasi mengesankan di level tertinggi Eropa pasca terdepak dari skuat Catalan. Bahkan catatan prestasi mereka sekaligus terbilang mampu ‘mempermalukan’ Barcelona.

Lebih jauh, kisah Villa dan Suarez seakan mencetuskan tradisi tersendiri. Berkat pengalaman Villa dan Suarez, belakangan muncul anggapan baru, yakni bomber-bomber buangan Barca yang pindahnya menuju Atletico Madrid pasti akan meraih kesuksesan besar.

David Villa Pensiun dari Lapangan Hijau Halaman all - Kompas.com

David Villa Memulai Tradisi

Nama David Villa memang tenar sebagai penyerang gahar yang rajin mencetak gol. Ketajaman Villa bahkan mampu dibuktikan bersama setiap klub yang dibelanya.

Naluri mencetak gol Villa pertama kali mencuat ke permukaan pada musim 2003/04. Kala itu Villa masih memperkuat klub medioker Liga Spanyol, Real Zaragoza.

Sepanjang satu musim, Villa mencatatkan 17 gol dari 38 penampilan. Usia Villa yang masih 23 tahun tentu memberikan efek kejut luar biasa bagi para penikmat sepak bola.

Raihan Villa musim 2003/04 ternyata bukan kebetulan semata. Villa kembali tajam di musim berikutnya, mempersembahkan 15 gol dari 35 laga untuk Zaragoza.

Musim 2005/06, Villa pindah ke klub yang lebih besar, Valencia. Karier Villa pun meningkat, karena ia tetap mampu menjaga konsistensi ketajamannya bersama Tim Kelelawar ini.

Per musimnya, Villa minimal bisa menghasilkan 15 gol di Liga Spanyol. Torehan menawan tersebut berlangsung sampai musim terakhir Villa di Valencia pada 2009/10.

Karier Villa makin menawan lantaran ia juga sukses mengantarkan Timnas Spanyol menjuarai Piala Eropa 2008 dan Piala Dunia 2010. Tak heran jika bursa transfer musim panas 2010 Villa menjadi rebutan banyak klub-klub besar.

Hati Villa sebenarnya masih ingin terus setia berkostum Valencia. Namun kondisinya Valencia membutuhkan dana segar yang salah satunya akan berasal dari hasil penjualan Villa.

“Jika Valencia tidak membutuhkan uang, saya bertahan di klub tersebut. Saya memiliki kontrak jang panjang,” tutur Villa, dinukil Edisi Bonanza88 dari ESPN.

Tawaran yang datang ke Valencia perihal transfer Villa datang dari mana-mana. Klub-klub besar Liga Inggris sampai sesama klub Liga Spanyol, Real Madrid, mengajukan proposal pembelian.

Real Madrid sebenarnya muncul sebagai klub terdepan dalam perburuan tandatangan Villa. Tapi kesepakatan akhirnya tidak terjadi dan Villa gagal hijrah menuju El Real.

“Saya bilang saya akan pergi ke manapun Valencia mau. Tapi proses transfer harus ada niat dari kedua belah klub, dan kondisi-kondisi untuk transfer ke Real Madrid tidak terpenuhi saat itu,” imbuhnya.

Pelabuhan Villa akhirnya tertuju kepada Barcelona. Villa pindah ke Camp Nou dengan mahar sebesar 40 juta euro.

Gabung Barcelona ternyata merupakan keputusan yang tepat bagi Villa. Selama di Barcelona, ia meraih banyak prestasi level klub, sesuatu yang belum pernah didapatkan Villa sebelumnya.

Meski sebenarnya cobaan turut menghampiri Villa. Beberapa kali Villa terlibat konflik kecil dengan anak emas Barcelona, Lionel Messi.

Villa harus rela digeser ke sayap kiri demi bisa terus mendapat bermain dan memberikan posisi penyerang tengah untuk Messi. Pernah pula Villa dimarahi langsung oleh Messi akibat gagal memaksimalkan peluang.

Musim perdana Villa berseragam Barcelona, ia total menyumbangkan 23 gol di berbagai ajang. Villa memberikan kontribusi besar atas gelar juara Liga Spanyol dan Liga Champions yang diraih Barcelona musim itu.

Memasuki musim kedua, Villa mengalami cedera yang cukup serius. Villa lantas harus istirahat panjang sejak pekan ke-18 sampai akhir Liga Spanyol 2011/12.

Berlanjut ke musim ketiga, status Villa perlahan mulai bergeser. Villa tak lagi dijadikan pemain kunci tim, malah berulang kali duduk manis di bangku cadangan.

Walau begitu, Villa tetap berhasil mengantarkan Barcelona menjuara Liga Spanyol 2012/13. Namun setelah musim rampung, Villa menyiratkan bahwa dirinya tak betah lagi bertahan di Camp Nou.

Bursa transfer musim panas 2013, Villa memutuskan pergi meninggalkan Barcelona. Villa memilih gabung ke rival Barcelona di Liga Spanyol, Atletico Madrid

“Tentu mudah untuk bertahan di Barcelona dan menjaga tren meraih gelar juara, prestise, dan reputasi. Namun, saya hanya ingin bermain. Karena itu, saya memilih pindah,” ucap pemain kelahiran 3 Desember 1981 itu.

Atletico Madrid memenuhi keinginan Villa perihal menit bermain. Villa hampir selalu diturunkan sebagai pemain utama mengisi posisi lini depan, berduet dengan Diego Costa.

Lebih jauh, Villa sanggup memberikan kepedihan terhadap Barcelona. Dua kali bertemu di Liga Spanyol, Villa selalu berhasil membuat Atletico Madrid menahan imbang Blaugrana.

Khususnya pada pertemuan kedua yang merupakan laga pekan terakhir Liga Spanyol 2013/14. Sebelum laga dimulai, Atletico Madrid dan Barcelona sedang bersaing ketat memperebutkan puncak klasemen sekaligus gelar juara.

Atletico Madrid menempati posisi pertama, unggul tiga poin dari Barcelona. Andai Barcelona menang, mereka akan menggusur posisi Atletico Madrid karena unggul head to head.

Namun pada akhirnya Barcelona gagal memenangkan laga. Villa membantu Atletico Madrid menahan Barcelona 1-1.

Hasil imbang lantas memastikan gelar juara Liga Spanyol 2013/14 menjadi milik Atletico Madrid. Villa pun resmi meraih sukses besar meski dirinya sudah didepak Barcelona.

Mengapa Barcelona Jual Luis Suarez ke Atletico Madrid? Halaman all -  Kompas.com

Dilanjutkan Luis Suarez

Sinar Luis Suarez sudah terbentuk sejak dirinya masih membela klub Liga Belanda, Ajax Amsterdam. Sedari 2007/08 sampai musim dingin 2010/11, Suarez menjadi penyerang Ajax yang subur menghasilkan gol.

Performa Suarez di Ajax yang paling menawan terjadi pada musim 2009/10. Kala itu Suarez berhasil mencetak 35 gol dari 33 penampilan di Liga Belanda.

Sukses di Ajax, Suarez lantas lantas melanjutkan kariernya ke klub Liga Inggris, Liverpool. Suarez dibeli Liverpool pada bursa transfer musim dingin 2011 dengan biaya 26,5 juta euro.

Ketajaman Suarez makin matang bersama Liverpool. Utamanya mulai musim 2012/13, Suarez menghasilkan 23 gol dan 11 assists dari 33 laga di Liga Inggris.

Musim 2013/14, Suarez lebih tajam lagi. 33 laga Liga Inggris yang dimainkan, Suarez berhasil mencetak 31 gol dan 17 assists.

Namun pasca musim 2013/14 yang sungguh mengesankan, Suarez tak bisa bertahan lagi di Liverpool. Rumor menyebut bahwa Suarez dipaksa pergi dari Liverpool akibat aksinya membela Uruguay di Piala Dunia 2014 membuat Timnas Inggris hancur.

Suarez menepis rumor tersebut. Menurutnya, gabung Barcelona adalah bentuk tindakan Suarez yang hendak mewujudkan cita-citanya menjuarai Liga Champions.

“Saya selalu ingin bermain di Barcelona. Ini seperti mimpi menjadi kenyataan dan segalanya berjalan dengan baik di sini. Dalam beberapa bulan pertama saya harus beradaptasi dengan rekan-rekan baru, itu normal,” ucap Suarez kepada UEFA, Rabu (15/4/2015).

“Tentu saja daya tarik untuk memenangkan Liga Champions adalah salah satu alasan saya gabung Barca. Klub ini selalu menjadi favorit, di klub sebelumnya mereka tidak selalu mendapatkan predikat seperti Barca,” tambahnya.

Musim 2014/15 pun menjadi musim perdana Suarez memperkuat Barcelona. Suarez terbilang mudah beradaptasi, meski sempat absen beberapa bulan lantaran sanksi FIFA yang diterimanya.

Pentas Liga Spanyol 2014/15, Suarez total menghasilkan 16 gol dan 16 assists. Suarez juga sukses mengantarkan Barcelona menjuarai kompetisi.

Kegemilangan Suarez mengisi lini depan Barcelona turut terasa di Liga Champions 2014/15. Ia mencetak tujuh gol dari 10 penampilan, sekaligus membantu Barcelona keluar sebagai juara.

Musim berikutnya, Suarez tetap tampil tajam. Suarez sanggup mencetak 40 gol dari 35 penampilan di Liga Spanyol 2015/16. Gelar Liga Spanyol pun kembali dipersembahkan Suarez untuk Barcelona.

Sampai musim 2019/20, Suarez terus menjaga konsistensi ketajamannya. Torehan gol per musimnya tak pernah di bawah angka 20 gol.

Sayang sekali, musim 2019/20 ternyata jadi musim terakhir Suarez menjadi bagian skuat Catalan. Bursa transfer musim panas 2020, Suarez pindah menuju rival Barcelona di Liga Spanyol, Atletico Madrid.

Manajemen Barcelona kabarnya yang memaksa Suarez pergi. Alasannya karena Barcelona butuh menghemat biaya gaji pemain. Maklum, gaji Suarez yang merupakan pemain kunci Barcelona terbilang amat besar.

Menariknya, penjualan Suarez ke Atletico Madrid tergolong begitu murah. Suarez dengan segala prestasinya, cuma ditebus lewat harga 7 juta euro saja oleh Atletico Madrid.

Momen emosional tercipta saat Suarez berpamitan dengan Barcelona. Saking sulitnya meninggalkan Barcelona, Suarez sampai tak ragu meneteskan air matanya.

Hidup harus terus berlanjut. Suarez sadar, dibuang Barcelona bukan akhir dari segalanya.

Suarez seakan menunjukkan bahwa Barcelona telah salah membuangnya. Ketajaman Suarez bersama Atletico Madrid sepanjang musim 2020/21 tetap terjaga kualitasnya.

Kiprah Suarez total menghasilkan 21 gol dari 32 penampilan berbagai ajang. Khusus di Liga Spanyol, Suarez mampu mendulang 21 gol.

Lebih manis lagi, Suarez berhasil mengantarkan Atletico Madrid keluar sebagai juara Liga Spanyol 2020/21. Bahkan peran Suarez sangat krusial, karena selalu mencetak gol di dua laga terakhir Liga Spanyol yang sungguh menentukan gelar juara Atletico Madrid.

Pencapaian Suarez pun resmi melanjutkan apa yang dulu telah dilakukan David Villa. Ketika ada penyerang hebat dibuang Barcelona, bergabunglah menuju Atletico Madrid, dan hasilnya nanti akan tetap sukses besar.