Transformasi Serpong dulu Kebun Karet Tempat ‘Buang Jin Buang Anak’ yang Kini Jadi Kawasan Elit Strategis

Kamis, 30 September 2021, 19:58 WIB
22

Sejak dibangunnya kota mandiri Bumi Serpong Damai (BSD), nama Serpong mulai kesohor seantero negeri. Sebab, tiba-tiba daerah yang semula agak terpencil dari Jakarta tersebut kini menjelma menjadi daerah elite.

Wilayah Serpong yang dulu dikenal sebagai kebun karet yang luas, sekarang menjadi kota metropolitan. Pertumbuhan ekonomi yang pesat mengubah wajah Serpong.

Di BSD kini berdiri bangunan-bangunan megah, tempat hiburan, mal, hingga pusat keramaian Belum lagi rumah-rumah mewah yang harganya mencapai miliaran hingga triliunan rupiah.

Sebelum ada BSD, almarhum BJ Habibie ketika menjabat Menristek memanfaatkan kawasan yang oleh orang kota dulu disebut daerah udik itu, bahkan menyebutnya dengan sebutan tempat jin buang anak, menjadi Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi atau Puspitek.

Berdasarkan catatan, nama Serpong diambil dari kata “semprong”, pipa bulat yang digunakan untuk meniup api ketika ibu-ibu sedang memasak dengan bahan bakar kayu atau arang. Biasanya pipa itu terbuat dari bambu.

Serpong punya sejarah yang patriotik. Di sini ada Makam Pahlawan Seribu.

Nama itu diberikan karena di tempat ini dimakamkan secara massal para pejuang rakyat yang tewas dalam pertempuram melawan NICA (Belanda) saat revolusi fisik 1945 berkecamuk. Sebelum masuk wilayah Banten, Serpong pernah diusulkan untuk menjadi ibu kota kabupaten Tangerang.

Kini Serpong masuk wilayah Provinsi Banten. Di Banten, khususnya Kota Tangerang Selatan, pembangunan dulu hanya terpusat di Bintaro, Kecamatan Pondok Aren, kini Serpong mulai menjadi destinasi utama.

Desa Lengkong di Serpong

Bosan PSBB, Warga Tangsel Ramai Wisata Gratis ke Situ Lengkong Wetan Serpong - Tribunjakarta.com

Kata Lengkong diambil dari asal tempat pendiri kampung ini, Raden Arya Wangsa Di Kara, di Sumedang. Raden Wangsa di Kara, atau Raden Arya Wangsakara adalah seorang ulama dan dapat dipastikan adalah Pangeran Arya Wiraraja II yang berasal dari Sumedang, yang memiliki benang merah dengan Kesultanan Cirebon.

Ia pindah ke Banten untuk menghindari dari tekanan Kerajaan Mataram dan dari Pemberontakan Dipati Ukur. Selain itu, kata Lengkong ini juga menunjukkan bahwa lokasi kampung ini berada pada sebuah lingkung air; sungai.

Raden Arya Wangsakara bergelar Pangeran Wiraraja II atau terkenal dengan julukan Imam Haji Wangsaraja. Ayahnya bernama Pangeran Wiraraja I atau bergelar Pangeran Lemah Beureum Ratu Sumedang Larang. Ibunya bernama Putri Dewi Cipta, anak Raden Kidang Palakaran cucu Pucuk Umun dari Banten. Berdasarkan silsilah tersebut, Arya Wangsakara berasal dari Sumedang dan Cirebon, sementara pihak ibu berasal dari Banten.

Setelah berpindah-pindah beberapa kali, akibat ancaman dari VOC, akhirnya Raden Arya Wangsakara mendapatkan lokasi yang tepat. Lokasi kampung ini strategis tersembunyi dan terlindungi oleh alam (hutan bambu) dan dilingkungi Sungai Cisadane dan kali kecil.

Dan uniknya, penentuan lokasi yang dilakukan beliau berdasarkan pemilihan bagian alur Sungai Cisadane yang secara kebetulan menghadap kiblat, yakni 25 derajat dari barat ke utara. Hal ini mempengaruhi posisi bangunan rumah-rumah santri yang berupa gubug panggung yang mengikuti posisi kiblat, serta bagian memanjang rumah tersebut menghadap sungai dan bukit. Bangunan yang pertama kali dibangun adalah masjid yang menjorok ke dekat sungai, lalu gubug-gubug para santri.

Akhirnya, lambat laun beberapa santri ada yang bermukim dan berkeluarga di sana. Gubug-gubug santri yang bertipe panggung dengan atap julang ngapak berubah menjadi rumah-rumah sehingga menjadi sebuah permukiman kampung.

Ketika wafatnya Raden Arya Wangsakara, beliau dimakamkan di bukit yang bersebelahan dengan kampung. Penempatan makam ini mirip dengan makam-makam sultan maupun sunan di masyarakat jawa pada umumnya.

Berkunjung Ke TMP Arya Wangsakara - Kab. Tangerang. - Kompasiana.com

Data arkeologis kampung ini adalah makam Raden Arya Wangsakara yang bertipe arkaik (abad ke-17) dan letaknya berada di atas bukit yang mengingatkan pada model makam para Sunan dan Sultan di Jawa, makam Kyai Mustaqim yang bertipe antefik (abad ke-18-19), bekas rumah istri kedua Raden Arya Wangsakara dan Masjid Raden Arya Wangsakara yang sekarang sudah dirombak habis menjadi lebih modern.

Kampung Lengkong telah melalui banyak peristiwa sejarah, terutama mewarnai sejarah Tangerang. Dari semenjak zaman Kerajaan Mataram, lalu perjuangan Sultan Ageng Tirtayasa terhadap VOC (Belanda), hingga juga pada masa kemerdekaan; terutama menjadi salah satu basis Masyumi dan juga menjadi area pertempuran Mayor Daan Mogot, yang dikenal sebagai “Pertempuran Lengkong”. Hal tersebut dikarenakan kampung ini terletak secara strategis di Sungai Cisadane untuk syiar Islam dan perdagangan.

Desa Lengkong, di masa kini terbagi menjadi 5 kelurahan yaitu Lengkong Kyai/Kulon, Lengkong Karya, Lengkong Wetan, Lengkong Gudang, dan Lengkong Gudang Timur. Lengkong Kyai atau kini dikenal dengan Lengkong Kulon, tempat pertama kali Raden Arya Wangsakara membangun masjid, kini menjadi bagian dari Kabupaten Tangerang – Kecamatan Pagedangan.

Sedangkan 4 kelurahan lainnya menjadi bagian dari Kota Tangerang Selatan; Lengkong Karya masuk wilayah Kecamatan Serpong Utara, sedangkan Lengkong Wetan, Lengkong Gudang, dan Lengkong Gudang Timur masuk wilayah Kecamatan Serpong.

Dimasa lampau, Desa Lengkong menjadi penting karena posisinya yang strategis di Sungai Cisadane untuk syiar Islam dan perdagangan. Kini, desa-desa Lengkong juga memiliki arti strategis. Karena posisinya yang terhimpit diantara BSD City dan Bintaro Jaya, tentu banyak pengembang ingin menguasainya. Semoga keberadaannya tetap lestari, baik lingkungan, penduduk asli, maupun situs sejarahnya.

Jadi kawasan elite

Ternyata Ini Bedanya Serpong dan Gading Serpong

Dari 20 tahun yang lalu, Serpong adalah hamparan hutan karet yang tidak produktif lagi. Tahun 1988, jalan menuju hutan karet ini hanya jalan tanah, tak beraspal. Kalau musim hujan, jalan berubah jadi kubangan, dan pada musim kemarau, debu-debu berterbangan di jalan itu.

Di kawasan Serpong, ada dua markas tentara. Markas Batalyon Kavaleri-8 Penyerbu merupakan tempat yang paling jauh, paling ujung. Setelah itu, yang terlihat hanya hamparan hutan karet. Pada malam hari, banyak orang enggan melintasi perkebunan karet ini yang gelap. Mungkin legenda Mat Item yang tersohor membuat warga takut berpergian malam hari.

Kawasan Serpong mulai berkembang ketika tahun 1989, Ciputra membangun kawasan Bumi Serpong Damai dan sejak awal sudah disebut sebagai kota mandiri. Peresmian pembangunan BSD pertama kali dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri (waktu itu) Rudini.

Di Bumi Serpong Damai, Ciputra memegang izin lokasi hingga 6.000 hektar. Akses ke Bumi Serpong Damai pun lambat laun mulai terbuka. Saat itu, baru ada jalan tol Kebon Jeruk-Tangerang-Merak. Jarak Bumi Serpong Damai masih relatif jauh dari pusat kota Jakarta. Bisa dijangkau dengan angkutan umum, seperti bus Patas tapi jumlahnya masih terbatas.

Ketika krisis ekonomi melanda negeri ini tahun 1997, industri properti termasuk yang mati suri. Pembangunan di Bumi Serpong Damai juga terhenti. Juga proyek-proyek properti lainnya, termasuk di Gading Serpong. Mungkin sekitar lima tahun lamanya, industri properti stagnan. Bangunan di Gading Serpong tak terurus lagi.

Bergairah kembali

Sinar Mas-Hongkong Land Kembangkan Proyek di BSD City - Ekonomi Bisnis.com

Tahun 2003-2004, Bumi Serpong Damai beralih kepemilikan. Setelah diambil alih grup Sinarmas, namanya menjadi BSD City. Sementara Gading Serpong diambil alih dua pengembang besar, Summarecon (yang sukses menyulap rawa-rawa di Kelapa Gading menjadi kawasan elit) dan Paramount (perusahaan modal asing dari Singapura, yang sebenarnya bergerak di bidang peralatan rumah sakit, lalu mendirikan perusahaan properti di Indonesia).

BSD dan Gading Serpong berganti kepemilikan. Dan hanya Alam Sutera yang tidak berganti kepemilikan. Setelah tahun 2004, industri properti di Serpong mulai bergairah kembali.

Sinarmas membangun cluster-cluster baru dengan nama asing, mulai dari De Latinos, The Icon, Sevilla, sampai Foresta. Pertimbangan mereka karena alasan permasaran. Lebih mudah memasarkan rumah dengan nama asing daripada nama Indonesia sendiri. Pendapat saya pribadi, nama-nama seperti Giri Loka, Puspita Loka, Griya Loka, Anggrek Loka, Nusa Loka, Kencana Loka, warisan pengembang Ciputra, merupakan nama-nama yang sarat makna.

Kawasan BSD makin berkembang pesat setelah jalan tol BSD-Bintaro-Pondok Indah-TB Simatupang dapat dilalui. Harga rumah di BSD langsung naik dua kali lipat. Dan ketika jalan tol BSD-Pondok Indah-TB Simatupang ini menyambung ke Cikunir, yang memudahkan orang yang akan ke tol Jagorawi maupun tol Cikampek, harga rumah di BSD naik kembali. Pembangunan infrastruktur ini betul-betul membuat BSD kian berkibar.

Sementara itu Grup Summarecon dengan gagah berani membangun mal, pusat perbelanjaan di kawasan permukiman itu. Padahal lokasinya relatif jauh. Sebelumnya memang sudah dibangun jalan tembus langsung dari jalan tol Km 18 Tomang-Tangerang-Merak, menuju permukiman ini. Mal yang diresmikan 28 Juni 2008 ini diisi dengan brand-brand terkenal. Agaknya Summarecon mengajak serta tenant-tenant yang sukses di Kelapa Gading, ke mal baru di Serpong.

Setelah sukses dengan mal tahap pertama, tahun 2010 ini Summarecon Mal Serpong (SMS) akan diperluas lagi, dibangun tahap kedua dengan ukuran kurang lebih sama. Presdir Summarecon Agung Tbk Johannes Mardjuki mengatakan SMS akan dikembangkan sampai tiga tahap.

Summarecon boleh berbangga karena kawasan ini kian berkembang. Grup Kompas Gramedia membangun kampus Universitas Multimedia Nusantara (UMN) di kawasan ini. Kampus UMN merupakan salah satu daya tarik dan pemacu kawasan ini berkembang.

Pengembang lainnya, Paramount Serpong, selain membangun rumah, juga mengembangkan kawasan komersial dengan membangun hotel bintang empat Aston Paramount dan kawasan pedestrian mirip Orchard Road di Singapura. Tanto Kurniawan yang sebelumnya tangan kanan Ciputra di Grup Jaya, kini memegang Paramount.

Broadway Alam Sutera, Destinasi Wisata Vintage Rasa Amerika

Bagaimana dengan Alam Sutera? Alam Sutera selain membangun rumah dan jalan tembus masuk dan keluar tol Tomang-Tangerang, kini sedang membangun mal yang relatif besar. Bangunan fisiknya sudah tampak. Minimal tahun 2011, mal ini sudah dibuka. Tapi sebelumnya, di Alam Sutera dibuka restoran Bandar Djakarta, cabang kedua setelah Ancol. Yang menarik bagi saya, ketika resto ini dibuka pada saat bulan puasa tahun 2009, pengunjung harus antre sampai satu jam!

Terkait dengan kuliner, Serpong kini merupakan daerah tujuan wisata kuliner. Mengapa? Saya amati, resto-resto terkenal kini buka di Serpong. Apalagi sejak tahun lalu, dibuka Teras Kota, semacam Citos, di kawasan BSD. Isinya sebagian besar restoran terkenal, mulai dari The Duck King sampai Red Bean.

Di sepanjang Jalan Raya Serpong, ada resto-resto terkenal seperti Bumbu Desa, Telaga Seafood, Pondok Kemangi, Bandar Djakarta, dj’s Kampoeng Aer, Waroeng Sunda, Gado-gado Boplo, Mang Kabayan, sampai makanan khas seperti Pempek Golden. Pempek Pak Raden, Pempek 161, dan aneka masakan lainnya.  Terlalu banyak resto dan warung terkenal untuk disebutkan satu persatu di kolom ini. Tetapi saya ingin menegaskan betapa Serpong saat ini sudah menjadi daerah tujuan wisata kuliner.

Lebih dari itu, Serpong kini merupakan magnet baru dalam dunia properti. Saat ini, dari Serpong, Anda dapat melanjutkan perjalanan melalui jalan tol JORR BSD-Bintaro-Pondok Indah-TB Simatupang yang menyambung ke Cikunir, dan langsung ke tol Cikampek maupun tol Jagorawi.  Dari Serpong juga Anda dapat melanjutkan perjalanan lewat jalan tol Merak-Tangerang-Jakarta, yang tentunya tembus ke tol dalam kota.

Serpong juga memiliki akses cepat yaitu jalur KRL. Setelah PT KA mengoperasikan KRL hingga malam hari, banyak warga Serpong dan sekitarnya yang memanfaatkan KRL ini untuk berangkat kerja dan pulang kerja. Untuk transportasi warga, BSD menyediakan shuttle bus ke Jakarta, yang diminati banyak pengguna.

Namun tidak semua proyek properti di Serpong sukses dan bersinar. Ada juga yang meredup karena pengembang salah membaca pasar dan demand.  Serpong Plaza misalnya, kini mati suri. Hidup segan mati tak mau. Untunglah ada restoran buffet Hanamasa yang membuat orang masih mau singgah di sana. Selain itu Serpong Town Square (yang kemudian diganti menjadi CBD Serpong), juga seakan hidup segan mati tak mau. BSD Junction termasuk salah satu yang kurang berhasil. Awalnya direncanakan menjadi pusat gaya hidup dengan banyak restoran ternama, tapi kini terpaksa berubah konsep menjadi supermarket bangunan.

Ketiga properti ini, semuanya menjual kios-kios. Tapi mengapa ITC BSD sukses? ITC bisa jadi pionir, tapi kios-kios model beginian sudah dianggap cukup. Tampaknya pangsa pasar Serpong tidak cocok jika dijejali dengan terlalu banyak kios.

Buktinya ketika TerasKota BSD mengedepankan konsep lifestyle (restoran, sinema, fitness center, toko buku, salon, hotel, tempat ngopi), tempat ini ramai dikunjungi. Blitz Megaplex, Celebrity Fitness, Toko Buku Gramedia, Hotel Santika, Starbucks Coffee, Bengawan Solo Coffee termasuk deretan tenant di TerasKota. Jajan Jazz, salah satu ikon pentas musik BSD,   kini hadir setiap Jumat malam di TerasKota, dalam suasana yang lebih elegan.

Agaknya warga Serpong dan sekitarnya lebih membutuhkan tempat nongkrong yang santai. Ini terbukti betapa ramainya Downtown Walk di Summarecon Mal Serpong pada malam hari. Suasana alfresco dining dengan hiburan live music, membuat banyak orang betah berlama-lama di sana. Suasana serupa juga dapat dinikmati di Flavor Bliss di Alam Sutera. Warga Serpong dan sekitarnya lebih membutuhkan tempat yang mencerminkan gaya hidup modern.

Secara keseluruhan,Serpong betul-betul sudah berubah menjadi kawasan emas. Serpong kini bagian wilayah dari Kota Tangerang Selatan, pecahan wilayah dari Kabupaten Tangerang. Serpong dan sekitarnya bakal berkembang lebih pesat bila jalan tol Serpong-Bandara jadi dibangun dalam beberapa tahun mendatang. Serpong betul-betul menjadi magnet. Perkembangan Serpong lebih cepat, lebih dahsyat dibandingkan daerah Bodetabek lainny