Tugas Rahasia Maria Butina: Mata-mata Rusia yang Tawarkan Seks ke para Pejabat Tinggi Amerika

Jumat, 02 Juli 2021, 18:12 WIB
53

Maria Butina, namanya mendadak mencuri perhatian setelah ditangkap aparat berwajib Amerika Serikat pada 15 Juli 2018. Biro Investigasi Federal AS (FBI) menangkap Maria Butina saat wanita kelahiran 10 November 1998 itu sedang bersantai di kediamannya yang ada di kawasan Washington DC.

Operasi penangkapan dilaksanakan FBI lantaran ada dugaan bahwa Maria Butina terlibat dalam kasus spionase. Maria Butina diyakini merupakan seorang agen mata-mata Rusia yag sedang menjalankan tugasnya di Amerika.

Gates Of Olympus

Sebelum menggelar penggerebekan, FBI sudah menyelidiki gerak-gerik Maria Butina. Bahkan penyelidikan dilakukan FBI sejak awal kedatangan Maria Butina yang hijrah dari Rusia ke Amerika pada 2016.

Keberadaan Maria Butina di Amerika disebut-sebut atas komando dari pejabat tinggi Rusia. Tugas Maria Butina adalah mempromosikan kepentingan-kepentingan Rusia kepada sejumlah kelompok konservatif Amerika saat momen pencalonan Presiden Donald Trump.

Intinya, Maria Butina jadi delegasi terselubung pemerintah Rusia untuk mempengaruhi kondisi politik Amerika. Tujuan besar dari segala pergerakan Maria Butina adalah memastikan kalau kebijakan-kebijakan Amerika nantinya selalu berjalan selaras dengan agenda pemerintahan Rusia.

Selain dakwaan membentuk konspirasi, Maria Butina juga ditangkap akibat melanggar hukum Amerika. Semua agen asing atau pejabat asing yang ada di Amerika harus mendapat izin Jaksa Agung negara, sedangkan Maria Butina tidak memiliki izin tersebut.

Izin resmi Maria Butina datang ke Amerika hanyalah sebagai mahasiswa saja. Maria Butina menggunakan paspor mahasiswa untuk mengambil pendidikan pascasarjana di American University.

Rise of Olympus

Bantahan boleh saja keluar dari pihak Maria Butina. Tapi penangkapan Maria Butina sungguh berdekatan dengan sejumlah kejadian yang sepertinya berkaitan.

Beberapa jam sebelum Maria Butina diciduk, Presiden Amerika, Donald Trump, baru menggelar pertemuan dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin. Pertemuan ini tercipta sebagai bentuk klarifikasi Donald Trump yang membantah ada campur tangan Rusia dalam kemenangan dirinya di pemilihan presiden Amerika pada 2016.

Kejadian lainnya yang berkaitan dengan penangkapan Maria Butina tertuang dari aktivitas hakim-hakim Amerika beberapa hari sebelumnya.

Para hakim menetapkan 12 agen intelejen Rusia sebagai tersangka dalam kasus peretasan sejumlah pejabat partai Demokrat (salah satu partai besar Amerika) ketika pemilihan presiden Amerika 2016 berlangsung.

Seorang petugas FBI bernama Kevin Helson menjelaskan hasil penyelidikannya tentang Maria Butina. Kevin Helson punya bukti-bukti kuat kalau Maria Butina sedang berupaya menjalin hubungan dengan para pejabat politik Amerika.

Lebih jauh, Kevin Helson mengungkap motif Maria Butina menjalankan aksi demikian. Menurut Kevin Helson, Maria Butina sengaja mempengaruhi pejabat politik Amerika demi memajukan kepentingan Rusia di pemerintahan Amerika.

Kevin Helson turut mengungkap kalau Maria Butina pernah menggelar sebuah acara yang didatangi oleh pejabat politik Amerika. Acara ini diyakini sebagai momen untuk memberikan pengaruh kepada pejabat politik yang diundang Maria Butina.

Ada pula pemaparan Kevin Helson soal sosok yang diduga menjadi atasan dalam tugas Maria Butina di Amerika. Kelvin Helson tidak menyebutkan nama atasan yang dimaksud secara langsung, dia hanya menjelaskan ciri-cirinya saja, yaitu seorang pejabat tinggi Rusia.

Bagaimana Maria Butina Menjalankan Aksinya?

Maria Butina: 'Agen Rusia tawarkan seks demi jabatan' - BBC News Indonesia

Sebelum membedah tuntas cara-cara Maria Butina menjalankan tugasnya di Amerika, mari kita tengok dulu tentang latar belakangnya. Edisi Bonanza88 sengaja mengajak kamu menengok latar belakang Maria Butina, karena yang dilakukannya pada masa lalu berkaitan erat dengan aktivitasnya sebagai mata-mata Rusia.

Maria Butina lahir 10 November 1988 di kawasan Siberia, daerah yang berjarak 210 mil dari perbatasan negara Kazakhstan-Rusia. Ibu kandung Maria Butina berprofesi sebagai engineer, sementara sang ayah, Valery Viktorovich Butin, merupakan pengusaha sukses di bidang furnitur.

Singkat cerita, ketika usia Maria Butin menginjak 17 tahun, dia lulus dari sekolahnya (SMA) dengan prestasi cemerlang. Maria Butina mampu membuat penelitian mendalam tentang bahasa Inggris kala itu.

Semasa masih sekolah, Maria Butina juga sangat aktif dalam kegiatan-kegiatan publik maupun sosial. Berbekal fakta demikian, jelaslah kalau kecerdasan otak Maria Butina tidaklah sembarangan.

Lulus SMA, Maria Butina melanjutkan pendidikan dengan mengambil jurusan ilmu politik di Altai State University. Sejak inilah Maria Butina mulai eksis dan semakin aktif ke ranah politik.

Memasuki usia 21 tahun, Maria Butina berhasil melahirkan bisnis yang mengikuti jejak ayahnya di bidang furnitur. Kalau ayahnya fokus ke manufaktur, bisnis Maria Butina lebih ke penjualan ritel.

Maria Butina: NRA member, lobbyist, and Kremlin spy? | Europe| News and  current affairs from around the continent | DW | 17.07.2018

Bisnis Maria Butina perlahan berkembang sampai dirinya mampu membuka tujuh toko. Tentu dari bisnis furnitur yang dijalankannya, Maria Butina bisa mengumpulkan banyak uang.

Namun dua tahun kemudian sejak pertama menjalankan bisnis, atau tepatnya pada 2011, Maria Butina malah menjual enam dari tujuh tokonya. Ia lantas menggunakan uang hasil penjualan enam toko tadi guna pindah ke Moskow dan membuka bisnis biro iklan.

Setelah pindah ke Moskow, Maria Butina juga masuk ke pergerakan Young Guard of United Rusia, yang merupakan binaan partai United Rusia. Lebih jauh, Maria Butina mendirikan sebuah organisasi hak senjata di Rusia yang dinamainya dengan istilah Right to Bear Arms.

Right to Bear Arms mempertemukan Maria Butina dengan sosok pria bernama Aleksandr Torshin. Sekedar catatan, Aleksandr Torshin pada kemudian hari sukses menjadi senator, bankir, dan pejabat politik Rusia.

Awalnya, Maria Butina dan Torshin melakukan pergerakan terkait misi organisasi Right to Bear Arms. Mereka berdua sering berpergian bolak-balik Rusia-Amerika demi memperluas hak-hak kepemilikan senjata.

Berkat aktivitas Maria Butina dan Torshin, organisasi Right to Bear Arms menjadi dekat dengan Asosiasi Senapan Nasional Amerika, NRA. Right to Bear Arms dan NRA menjalankan misi yang sama, memperluas hak kepemilikan senjata.

Tahun 2013, Maria Butina mulai jatuh cinta. Ia terlibat cinta lokasi dengan seorang pria asal Amerika Serikat bernama Paul Erickson.

Identitas Paul Ericskon sendiri ternyata merupakan orang penting dalam kegiatan politik Amerika. Paul Erickson yang umurnya dua kali lipat lebih tua dibanding Maria Butina, memegang jabatan tinggi di Partai Republik, salah satu partai politik besar di Amerika.

Tahun 2015, Torshin, rekan kerja Maria Butina dalam organisasi Right to Bear Arms, naik pangkat menjadi gubernur dari Bank Sentral Rusia. Torshin kemudian memperkerjakan Maria Butina sebagai asistennya.

Trump associate socialized with alleged Russian agent Maria Butina in final  weeks of 2016 campaign - The Washington Post

Masih di tahun 2015, Maria Butina memanfaatkan status pacarannya dengan Paul Erickson demi mempengaruhi NRA. Maria Butina meminta Paul Erickson agar Amerika mau bersahabat dengan Rusia, pertama-tama lewat organisasi NRA ini.

Tahun 2015 pula, Maria Butina menemani Torshin bertemu dengan Menteri Keungan Amerika. Pertemuan membahas hubungan kerjasama ekonomi antara Rusia dan Amerika.

Pergerakan Maria Butina pada tahun 2015 beberapa kali tampak dalam masa kampanye Donald Trump mencalonkan diri dalam pemilihan presiden Amerika. Salah satunya kala Maria Butina menghadiri Freedomfest yang mana Donald Trump membahas sanksi Amerika kepada Rusia.

Maria Butina menjadi salah satu tamu acara yang mengajukan pendapat tentang topik utama pidato Donald Trump. Maria Butina berkata bahwa Amerika tak perlu lagi menerapkan sanksi terhadap Rusia.

Berlanjut ke tahun 2016, Maria Butina terbang menuju Amerika. Dia berangkat dengan visa pelajar dan hendak melanjutkan pendidikan pasca sarjana di American University, Washington DC.

Hidup di Amerika, Maria Butina tinggal bersama kekasihnya, Paul Erickson. Hubungan mereka makin harmonis, bahkan sampai memulai sebuah bisnis bersama di kawasan South Dakota.

Apa yang sudah dikerjakan Maria Butina sebelum terbang ke Amerika, sungguh membantunya dalam menjalankan tugas mata-mata. Paul Erickson dimanfaatkan Maria Butina untuk mempengaruhi Partai Republik tentang agenda-agenda Rusia.

Partai Republik sendiri merupakan partai pengusung Donald Trump dalam pemilihan presiden Amerika pada 2016. Donald Trump memenangkan pemilu tersebut dan menduduki jabatan presiden Amerika.

Saat di Amerika, Maria Butina suatu kali pernah menggelar acara pesta ulang tahun pada 2016. Ia tentu mengundang pacarnya, Paul Erickson.

Bahkan Maria Butina turut mengundang sejumlah orang-orang partai Republik lainnya yang dulu menjadi tim sukses Donald Trump. Tugas Maria Butina yang hendak mempengaruhi pemerintahan Amerika dengan kepentingan Rusia jelas makin mudah.

Intinya, Maria Butina mendapat tugas membangun relasi dengan para pejabat politik Amerika. Tujuannya tentu mendoktrin agar pemerintahan Amerika mau menjalankan kebijakan yang sesuai kepentingan Rusia.

Saat menjalankan tugasnya membangun relasi, tak jarang Maria Butina mengandalkan kemolekan tubuhnya sebagai wanita. Maklum, Maria Butina tergolong punya paras rupawan, dan pejabat Amerika yang jadi targetnya kebanyakan laki-laki.

Maria Butina sering menawarkan hubungan seks gratis dengan pejabat-pejabat Amerika. Setidaknya itu yang dia juga lakukan kepada Paul Erickson.

Maria Butina ternyata tidak pernah sungguh-sungguh mencintai Paul Erickson. Ia rela hidup bersama, pacaran, dan bersenggama dengan Paul Erickson demi menunaikan tugasnya.

Segala tugas Maria Butina dikomandoi langsung oleh Torshin yang akhirnya menjadi pejabat tinggi Rusia. Torshin dan Maria Butina diketahui menjalin komunikasi terselubung lewat media sosial Twitter.

Tanpa menyertakan nama akun satu sama lain, Maria Butina dan Torshin saling memberikan cuitan tentang misi yang hendak dijalankan. Kadang mereka mengirim pesan singkat melalui sarana Direct Message atau DM Twitter.

Dinyatakan Bersalah, Dipenjara, dan Dideportasi

Pengadilan AS Vonis Agen Rusia Maria Butina 18 Bulan Penjara

Sejak ditangkap FBI pada awal Juli 2018, Maria Butina harus menunggu masa persidangan di dalam penjara. Pengacara Maria Butina terus melayangkan pembelaan bahwa kliennya tidak bersalah seperti yang dituduhkan.

Hakim yang mengadili Maria Butina memberikannya dua dakwaan. Maria Butina melanggar hukum Amerika karena tidak melaporkan diri sebagai pejabat atau agen asing; serta bersalah dalam tindak konspirasi mempengaruhi pemerintahan Amerika.

Pemeriksaan mendalam dan persidangan terus berlangsung demi mengungkap fakta yang sebenarnya. Bulan Desember 2018, Maria Butina akhirnya mengaku kalau dirinya memang berada di Amerika untuk menjalankan misi mempengaruhi pejabat Amerika supaya mau berjalan sesuai kepentingan Rusia.

Tepat pada 26 April 2019, hakim menjatuhkan vonis masa hukuman kurungan penjara selama 18 bulan kepada Maria Butina. Namun Maria Butina hanya menjalani 10 bulan penjara, karena masa hukumannya dikurangi dengan masa kurungannya sebelum vonis jatuh.

Setelah bebas dari penjara, Maria Butina dipulangkan alias dideportasi ke Rusia. Tapi sekali lagi, Maria Butina dan petinggi-petinggi pemerintahan Rusia tak terima dengan apa yang dilakukan Amerika.

Maria Butina menceritakan betapa tragisnya perlakuan yang diterimanya saat menjalani masa hukuman penjara. Dia menuangkan kisahnya lewat buku berjudul Prison Diaries.

“Empat ratus enam puluh tujuh hari dibalik jeruji besi Amerika. Empat bulan di sel isolasi. Saya menjadi sasaran penyiksaan, penghinaan, tidak diizinkan berkomunikasi dengan orang tua saya dan diisolasi total. Kondisi penahanan saya hampir sama dengan teroris serangan 11 September dan pembunuh berantai,” ujar Maria Butina.

Sementara pemerintah Rusia, dengan tegas menyebut hukuman yang diterima Maria Butina hanyalah akal-akalan Amerika. Kementrian Luar Negeri Rusia menyebut kalau Maria Butina dipaksa otoritas hukum Amerika untuk membuat pengakuan palsu.

BERITA TERKAIT