Vaksin Sinovac Tidak Akan Digunakan Lagi di Thailand, Apa Penyebabnya?

Rabu, 20 Oktober 2021, 18:43 WIB
47

Thailand berencana berhenti menggunakan vaksin Covid-19 Sinovac setelah stok dosis yang tersisa habis. Keputusan ini diambil Bangkok setelah pemerintah menegaskan bahwa hanya akan membeli dan menggunakan vaksin yang efektif melawan varian baru corona.

Pejabat kesehatan Thailand, Opas Karnkawinpong, mengatakan pemerintah akan beralih menggunakan vaksin AstraZeneca dan Pfizer/BioNTech ketika stok Sinovac habis.

Power of Thor Megaways

“Kami berharap dapat mendistribusikan semua dosis vaksin Sinovac pekan ini,” kata pejabat kesehatan Thailand, Opas Karnkawinpong, kepada Reuters

Thailand merupakan salah satu negara yang menggunakan Sinovac secara luas dalam program vaksinasi Covid-19 nasionalnya.

Sejak Februari lalu, Thailand telah menggunakan lebih dari 31,5 juta dosis vaksin buatan China itu kepada pekerja garda depan, kelompok berisiko tinggi, dan penduduk di pulau Phuket demi menghidupkan kembali pariwisata negara tersebut.

Pada Juli lalu, Thailand mulai menginokulasi warga dengan Sinovac untuk dosis pertama dan mencampurnya dengan AstraZeneca untuk dosis kedua. Thailand adalah negara pertama yang menggabungkan suntikan vaksin China dengan buatan negara Barat. Pejabat kesehatan Thailand mengklaim pencampuran dosis vaksin itu terbukti efektif.

Chronicles of Olympus X Up

Tahun depan, Thailand berencana membeli total 120 juta dosis vaksin. Pemerintahan Perdana Menteri Prayut Chan-O-cha dikabarkan telah memesan 60 juta dosis AstraZeneca sejauh ini.

Thailand juga akan memproduksi AstraZeneca secara lokal.

Salah satu negara di Asia Tenggara itu memiliki tren infeksi Covid-19 yang cukup tinggi di Asia. Thailand mencatat total hampir 1,8 juta kasus Covid-19 dengan 18.336 kematian.

Sekitar 98 persen kematian akibat Covid-19 terjadi selama tujuh bulan terakhir

Saat ini, Thailand terus berencana menerapkan sederet aturan relaksasi pembatasan Covid-19, salah satunya menghapus aturan karantina bagi pendatang asing ke 17 provinsi. Para pendatang tersebut harus sudah divaksin dan berasal dari negara-negara berisiko rendah penularan Covid-19.