Warna Warni Kehidupan di ‘Kota Terkejam Dunia’ Tijuana

Senin, 04 Oktober 2021, 21:25 WIB
36

Media lokal menyebut, Kota Tijuana dianggap sebagai salah satu kota terkejam di dunia. Dengan tingkat kekerasan yang dikaitkan dengan perdagangan manusia dan narkoba yang dijalankan oleh berbagai kelompok kriminal dan persaingan antara Kartel Sinaloa dan Tijuana.

Kartel Tijuana atau dikenal dengan Arellano-Felix, kartel narkoba Meksiko yang berbasis di Tijuana, digambarkan sebagai kelompok kriminal terkejam di dunia. Rata-rata ada enam pembunuhan terjadi di setiap kota.

Gates Of Olympus

Kordinator negara dari institusi Cesar Raul Gonzalez Vaca awalnya menolak mengonfirmasi foto-foto yang beredar tersebut. Dia mengatakan “Mereka terlalu buram untuk dikenali jika mereka berasal dari Tijuana.”

Namun, ia sekarang mengakui bahwa fasilitas di Tijuana memang penuh dengan mayat-mayat yang berserakan di lantai, itu juga dikonfirmasi oleh para wartawan.

Seorang kerabat yang membawa orang yang mereka cintai ke lokasi tersebut menggambarkan pemandangan itu layaknya adegan dalam perang.

2nd year running, Tijuana named 'most violent city in the world'

Wanita bernama Nancy misalnya, dia mengatakan “mereka menunjukkan kondisinya yang sangat kritis.

Rise of Olympus

“Karena mereka tidak memiliki kulkas, dia sudah hancur dan orang-orang tidak lagi dikenali, itu sangat tidak manusiawi.”

Dalam beberapa pekan,  bisa lebih dari 190 mayat tiba di pusat itu, padahal fasilitas kesehatan itu hanya memiliki kapasitas sekitar 150 saja.

Presiden Pengadilan Tinggi Kehakiman Negara, Salvador Juan Oartiz Morales mengklaim bahwa lemari es tersebut perlu dibersihkan. Morales juga mengatakan bahwa pusat kesehatan tersebut perlu menjalani proyek ekspansi.

Baku Tembak Kartel Generasi Baru Dengan Polisi di Meksiko

Menurut angka dari Sistem Keamanan Publik Nasional, ada satu tahun paling kejam dalam sejarah Tijuana dengan lebih dari 2000 pembunuhan yang rata-rata enam pembunuhan per-hari.

Sementara itu, Kartel Sinaola adalah perdagangan narkoba internasional, pencucian uang, dan sindikat kejahatan terorganisir yang berbasis di kota Culiacan, Sinaola. Mereka juga beroperasi di beberapa negara bagian Meksiko diantaranya Baja California.

Pernah Dijuluki Kota AIDS

16 Deeply Haunting Photos That Capture Tijuana's AIDS Epidemic

Tijuana dulunya adalah tempat tujuan wisatawan selama lebih dari satu abad. Juga salah satu kota dengan pertumbuhan tercepat di Amerika Utara.

Namun, dengan kian majunya Tijuana, demikian halnya dengan masalah yang ditimbulkan para pendatang yang masuk ke perbatasan Meksiko setiap tahun. Epidemi AIDS kian berkembang karena merajalelanya prostitusi, seks tanpa pengaman, dan ketergantungan narkoba.

Epidemi AIDS terkonsentrasi pada kelompok-kelompok tertentu, seperti laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki, transgender, dan orang-orang yang memakai narkoba suntik atau penjaja seks.

Dilaporkan oleh Daily Mail, berdasarkan studi pada 2006, satu dari 125 laki-laki dan perempuan berusia antara 15 dan 49 tahun mungkin terinfeksi HIV. Ini tidak termasuk anak-anak yang didiagnosis mengidap virus HIV karena orang tua mereka.

Beberapa fasilitas kota pun diubah untuk pengobatan pasien. Seorang fotografer bernama Malcolm Linton dan penulis Jon Cohen menangkap gambar dan cerita tentang Tijuana untuk menunjukkan kenyataan yang terjadi di sana.

AIDS epidemic in Tijuana | From the book "Tomorrow Is A Long… | Flickr

Dalam buku mereka yang berjudul Tomorrow Is a Long Time, Linton dan Cohen mengikuti puluhan pengidap HIV dan orang-orang yang berisiko tinggi terinfeksi virus tersebut. Narkoba digunakan oleh sebagian besar pekerja seks, termasuk Fernanda Sanchez.

Dalam foto yang diambil Linton, Fernanda tampak bersender di sebuah pohon besar berbaju merah muda dengan dandanan tebal.

Dia bekerja di wilayah Red Light District. Fernanda tahu bagaimana melindungi dirinya dari HIV/ AIDS, tapi mengaku kadang pelanggan sangat nakal dan ingin berhubungan seks tanpa kondom.

Foto lain karya Linton menampilkan seorang lelaki bernama Sergio Borrego. Borrego adalah petugas kesehatan yang membantu rumah sakit AIDS di Tijuana. Dalam foto tersebut, Borrego terlihat meletakkan sebuah jaring di wajah pasien bernama Pedro Robles (51) agar lalat tidak mengerubungi pasien itu ketika meninggal.

Pedro sudah berada di rumah sakit sejak enam hari sebelumnya. Namun, birokrasi yang berbelit-belit membuat Pedro tertunda mendapat pengobatan.

Jalur Bawah Tanah Selundupkan Narkoba

El Chapo's' reputed tunnel builder extradited to San Diego - Los Angeles Times

Terowongan bawah tanah itu membentang sepanjang 1.313 meter. Salah satu ujungnya ada di San Diego, California, Amerika Serikat (AS), dan ujung lainnya di Tijuana, Meksiko. Itu bukan terowongan biasa. Badan Perlindungan Perbatasan dan Bea Cukai AS meyakini bahwa terowongan tersebut dipakai untuk menyelundupkan manusia dan narkoba dari Meksiko ke AS.

BBC melaporkan bahwa terowongan dengan tinggi 1,6 meter dan lebar 0,60 meter itu diketahui sejak Agustus tahun lalu. Petugas kemudian memetakannya sebelum akhirnya diungkap ke media.

Tidak diketahui dengan pasti kapan terowongan tersebut dibuat. Yang jelas, fasilitasnya tergolong lengkap. Di dalamnya ada lift, rel, drainase, sistem ventilasi udara, lampu, dan kabel listrik.

”Kecanggihan dan panjangnya terowongan ini menunjukkan bahwa organisasi kriminal transnasional mau melakukan upaya yang memakan waktu untuk penyelundupan lintas perbatasan,” terang Cardel Morant, agen khusus divisi penyelidikan keamanan dalam negeri di Penegakan Imigrasi dan Bea Cukai San Diego.

Pintu masuk terowongan di sisi AS ditutup dengan ratusan karung pasir untuk menyamarkan. Letaknya sekitar 800 meter dari pelabuhan Otay Mesa, San Diego. Terowongan itu memiliki cabang di dekat Kota San Diego. Namun, konstruksi cabang tersebut sepertinya tidak dilanjutkan.

Setelah disusuri, tidak ada narkoba yang ditemukan di dalam terowongan tersebut. Pun, tidak ada orang yang ditangkap. Belum diketahui milik kartel narkoba manakah terowongan tersebut.

Mexico finds 2 border tunnels leading from Tijuana into US - 660 NEWS

Namun, selama ini wilayah Tijuana dikuasai kartel narkoba Sinaloa yang dipimpin Joaquin Guzman. Penjahat yang dikenal dengan nama El Chapo itu kini dihukum seumur hidup di penjara dengan pengamanan maksimum di Fremont County, Florence, Colorado.

Terowongan San Diego–Tijuana itu adalah yang terpanjang jika dibandingkan dengan temuan selama ini. Pada Agustus 2015 petugas menemukan terowongan yang belum selesai dikerjakan di Tijuana. Fasilitasnya sama dengan terowongan yang baru ditemukan itu.

Maret 2016 petugas perbatasan kembali mendapati terowongan yang membentang dari sebuah restoran di Meksiko ke rumah di California. Hanya berselang sebulan, kembali ditemukan terowongan di San Diego yang dipakai untuk menyelundupkan kokain dan ganja.

Sisi lain kota Tijuana

Islam di Meksiko - Wikipedia

Menariknya di Pantai Tijuana, menjadi tempat subur bagi berkembangya para mualaf. Populasi Muslim terus mengalami peningkatan jumlah. Mereka pun mengaku bahagia tinggal di kota tersebut.

Profesor Studi Islam di Universitas San Diego, Dr Khaleel Mohammed, mengatakan, banyak penduduk Meksiko yang melihat Islam menawarkan hal berbeda dari agama lain. Muslimin di sana sangat toleransi pada nilai tradisional setempat. Sehingga, banyak warga yang tertarik kemudian mempelajari Islam.

Untuk fasilitas beribadah, para mualaf juga diterima baik di Masjid Al Islam yang baru saja berdiri di kota tersebut. Pusat Islam pun kemudian dibangun di sana sebagai tempat para Muslimin menempa ilmu agama dan membina para mualaf.

Salah seorang mualaf asal California, Amir Carr, mengaku bahagia menjadi mualaf. Istrinya merupakan warga Meksiko sehingga Carr pun kemudian memilih tinggal di negeri Latin tersebut. Keduanya kemudian tinggal di Tijuana dan mengenal Islam. “Islam benar-benar mengubah hidup saya,” ujar Carr.

Mualaf lain, Samuel Cortes, juga merasakan hal sama. Ia merupakan seorang imigran. Saat berkunjung ke Tijuana, justru ia kemudian mendapatkan hidayah. Ia pun enggan kembali ke rumahnya di AS dan masih berkeinginan tinggal di kawasan pantai Meksiko tersebut. Hanya saja, ia harus kembali karena keluarganya berada di AS.

Berdasarkan survei tahun lalu oleh WhyIslam, masyarakat Latin memang mengambil 19 persen dari jumlah konversi Islam di Amerika. Para mualaf Latin tersebut didominasi wanita. Sejak 2000, mualaf latin wanita bahkan terus mengalami peningkatan sebanyak delapan persen.