Wisata Seks Bawah Tanah di Angeles City Filipina

Selasa, 05 Oktober 2021, 05:24 WIB
26

Prostitusi di Filipina merupakan kegiatan ilegal walaupun begitu kegiatan ini ditoleransi, penegak hukum sangat jarang melakukan tindakan hukum kepada pekerja seks. Hukuman terkait prostitusi mulai dari penjara seumur hidup untuk pelaku yang terlibat dalamperdagangan manusia yang tercantum dalam Undang-Undang Anti Perdagangan Orang tahun 2013.

Prostitusi bisa ditemui di bar, bar karoke (KTVs), panti pijat, rumah bordil (casa), prostitusi jalanan, dan jasa escort.

“Studi Kesuburan dan Seksualitas Remaha Dewasa” pada 2002 yang dilakukan oleh Institut Populasi University of the Philippines dan Yayasan Penelitian dan Pengembangan Demografi menemukan bahwa 19% dari pemuda membayar untuk kegiatan seks dan 11% menerima pembayaran terhadap kegiatan yang berhubungan dengan kebutuhan seks.

Pada 2013, diperkirakan terdapat lebih dari 500.000 pekerja seks di Filipina, dari total populasi sekitar 97,5 juta jiwa. Mengutip sebuah penelitian pada 2005, Senator Pia S. Cayetano menegaskan pada “Undang-Undang Anti Prostitusi”-nya (Undang-Undang Senat No. 2341 s.2010) bahwa jumlah orang yang dieksploitasi sebagai pekerja seks di Filipina bisa mencapai jumlah 800 ribu orang.

Undang-Undang tersebut diperkenalkan kembali pada 2013 sebagai RUU Senat No. 3382 dan pada 2015 sebagai RUU Senat No. 2621.

Red Distrik di Filipina

Angeles City: Nightlife on Fields Avenue 2018 - video Dailymotion

Prostitusi di negara kepulauan ini jadi salah satu daya tarik pariwisata tersendiri di berbagai destinasi turisme, seperti Olongapo City, Legazpi City, Pasay City, Olongapo City, Angeles City, Cebu dan tentunya di Ibu Kota Manila.

Masyarakat Filipina sendiri secara umum menolelir – tidak hanya prostitusi, tapi juga terhadap pasangan sesama jenis dan membicarakan tentang prostitusi, bukan barang tabu di Filipina.

Pada 2011 lalu, bahkan pernah ada pernyataan Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Filipina, Harry Thomas Jr. yang mengatakan bahwa 40 persen turis pria yang pelesiran di Filipina punya tujuan utama berwisata seks.

Perihal bisnis prostitusi itu sendiri, di Filipina pertumbuhan bisnis seks ini tak lepas dari eksistensi Pangkalan Angkatan Laut dan Udara AS di Angeles City (Pangkalan AL Subic Bay) dan Manila (Pangkalan AU Clark).

Di era 1960an ketika AS masih gencar bergelut senjata di Vietnam, kedua pangkalan ini jadi markas besar dan juga jadi lokasi penempatan sejumlah besar tentara AS. Hadirnya sejumlah PSK dirasa penting oleh pihak AS untuk disediakan pada para pasukannya.

Tak lama kemudian pada 1970an, mulai bermunculan sejumlah bar yang menyajikan tarian-tarian striptis, hingga akhirnya pangkalan AS itu ditutup pada 1992.

Akan tetapi penutupan Pangkalan Subic Bay, bukan berarti berhenti pula bisnis seks di Angeles City. Para PSK dan mucikari yang “kehilangan” klien langganan tentara AS, beralih pencarian konsumen pada para turis.

Lokasi utama “red light district” di Angeles City sedikit bergeser dari sekitar pangkalan ke Fields Avenue, di mana bar-bar baru bermunculan sebagai “atraksi” lain bagi para wisatawan.

Sementara bisnis prostitusi di Ibu Kota, juga tak lepas dari pengaruh Pangkalan AU Clark. Industri seks tumbuh di sebuah sudut Kota Manila bernama Ermita. Akan tetapi, kawasan Ermita itu langsung ditutup pada 1992 oleh Wali Kota Manila saat itu, Alfredo Lim.

Angeles City, Kota Tanpa Ayah

Behind the photographs of Angeles City bar girls

ota ini bernama Angeles. Lokasinya sekitar 80 kilometer sebelah utara Manila, Filipina. Di Kota Angeles inilah generasi anak-anak hasil “wisata seks” tumbuh tanpa tahu siapa ayah biologis mereka.

Wajah dari generasi anak-anak ini muncul dalam rangkaian foto patah hati berjudul “Dad is Gone”.

Fotografer Stephanie Borcard dan Nicolas Metraux pernah menghabiskan banyak waktu di Angeles pada tahun 2014. Mereka mengambil gambar anak-anak yang lahir dari “wisata seks” itu.

Di beberapa wilayah tertentu dari Filipina dikenal sebagi distrik “lampu merah”. Sampai tahun 1991, salah satunya menjadi pangkalan militer Clark Air, sebuah pangkalan militer Amerika Serikat (AS) yang berjarak 3 mil dari Angeles. Di sekitar kota itu pula marak rumah bordil dan “bar girlie” yang akhirnya mengubah kota ini menjadi salah satu tujuan wisata seks paling populer di Filipina. Hari ini, sekitar 12 ribu perempuan yang bekerja di bar di kawasan Angeles.

Fenomena ini mirip dengan “wisata seks” di Thailand. Bedanya, parapelanggan internasional di Filipina cenderung mencari “pacar berpengalaman” yang dapat berlangsung selama beberapa minggu atau bulan.

Setiap tahun, ribuan anak-anak lahir dari hubungan berbayar ini. Ayah-ayah mereka berasal dari berbagai negara, seperti Amerika, Australia, Inggris, Jerman, Swiss, Korea atau Jepang. Ribuan anak itu ditinggalkan ayah biologis mereka.

Di negara dengan mayoritas penduduknya beragama Katolik ini, aborsi dianggap sebagai kejahatan dan dihukum berat.

Anak-anak ini tumbuh mencari identitas mereka sendiri, di mana figur ayah masih menjadi tanda tanya. Jayvee, 5, misalnya. Ibunya masih bertukar e-mail dengan ayah biologis Jayvee, warga Wisconsin, AS berusia 45 tahun. Namun, ibu dan anak ini tidak mendapatkan dukungan keuangan dari pria AS tersebut.

SEA Games: Foreign Tourist Surge to Philippines Sees Rising Risk of Sex  Trafficking | The Fuller Project

Contoh lain, Angela Paula, 4 tahun, yang mulai sekolah di Mabalacat. Ayahnya adalah seorang arsitek asal Korea berusi 47 tahun. Sang ayah biologis ingin bertemu putrinya, tapi ibu Angela menolak karen takut putrinya dibawa ke Seoul.

Ada lagi, Samantha Elise, 6 tahun, dan adik satu ibu-nya, Briana Louise, yang berusia 3 tahun. Ayah Samantha adalah pria India, sedangkan ayah Briana adalah pria Kanada.

Kemudiaan, Benny, yang berusia 3 tahun. Ayahnya adalah pria asal Australia dan masih memberikan uang 10.000 peso per bulan. Ibu Benny sendiri terus bekerja di Fields Avenue, sebuah bar di Angeles. Ada 12 ribu perempuan yang bekerja di Fields Aveneu.

Tak hanya anak kecil, generasi yang lahir dari “wisata seks” di kota ini sudah ada yang tumbuh dewasa. Sara Jane, 20, contohnya. Ayahnya adalah pria Amerika. Dia tidak memiliki informasi tentang sang ayah dan ibunya tidak ingin membicarakannya. Ibunya hidup di klub malam bernama Las Vegas untuk membiayai hidup Sara hingga gadis itu lulus perguruan tinggi. Sara yang merupakan ahli pemrograman komputer dari Universitas Angeles kini sedang mencari pekerjaan.

Ada lagi Mary Grace, yang berusia 16 tahun. Dia tidak pernah bertemu ayahnya, seorang warga negara Swiss, tapi tahu namanya. Mary pernah menyimpan foto ayahnya tapi sudah hancur karena lembab. Dia dibesarkan oleh bibinya.

Sejumlah besar perempuan yang datang ke Angeles rata-rata dari Samar, Leyte dan Visayas. Mereka terpikat datang ke Angeles setelah melihat teman-teman mereka yang menjalani “kehidupan yang lebih baik” karena pekerjaan mereka di industri prostitusi.

Perempuan muda lainnya beralih ke prostitusi setelah mereka menjadi ibu yang tidak menikah. Alat kontrasepsi seperti kondom jarang digunakan di Filipina karena Gereja Katolik menentangnya.

Kedatangan Pria Hidung Belang dan Perdagangan Manusia

A scene from Fields Avenue, the red light district in Angeles City,  notorious for its sex tourism. In the wake of typhoons, women and girls  wind up in the sex trade after

Perdagangan seks wanita dan anak-anak di dalam negeri tetap menjadi masalah yang besar. Wanita dan anak-anak dari komunitas asli dan area terpencil Filipina merupakan pihak yang paling rentan menjadi korban perdagangan seks.

Orang-orang yang kehilangan tempat tinggal karena konflik di Mindanao, warga negara Filipina yang kembali dari negara-negara perbatasan tanpa dokumen, dan komunitas masyarakat lokal yang kehilangan tempat tinggal karena bencana topan merupakan pihak yang rentan atas perdagangan seks di daerah metropolitan Manila, metropolitan Cebu, utara dan tengah bagian pulau Luzon, dan daerah urban di Mindanao.

Perdagangan seks juga muncul di daerah turis seperti Boracay, Angeles, Olongapo, Puerto Galera, dan Surigao, dimana terdapat permintaan yang tinggi untuk aksi seks komersial. Walaupun keberadaan korban prostitusi anak di tempat-tempat komersial menurun di beberapa area urban, perdagangan seks anak tetap menjadi masalah yang meluas, biasanya didukung dengan pengemudi taksi yang memiliki pengetahuan mengenai tempat-tempat rahasia tersebut.

Pin by Siva nandham on my life in 2021 | Angeles city philippines, City,  Walking street

Selain itu, keterlibatan anak muda pria dan wanita Filipina pada kegiatan pornoaksi langsung melalui internet kepada orang asing semakin meningkat, kegiatan ini biasanya ditemukan di rumah pribadi dan kafe internet kecil, dan mungkin difasilitasi oleh anggota keluarga dan tetangga korban. LSM melaporkan jumlah yang tinggi dari pariwisata seks anak di Filipina, yang kebanyakan berasal dari Australia, Jepang, Amerika Serikat, Kanada, dan beberapa negara lain di benua Eropa.

Pria Filipina juga membeli aksi seks komersial dari korban perdagangan anak. Sindikat organisasi kriminal diduga mentransportasikan korban perdagangan seks dari TIongkok melalui Filipina untuk menuju negara lain.

Seorang pejabat Amerika Serikat di Manila Filipina menyatakan Filipina telah menjadi salah satu tujuan wisata seks di dunia. Sebanyak 40 persen pria asing yang berkunjung ke Filipina bermaksud memperoleh layanan seks.

Dubes AS Harry Thomas mengatakan dalam sebuah forum hakim dan pejabat Filipina bahwa peran para pejabat korup dalam perdagangan seks sangat jelas. Dia menantang profesi hukum untuk menghilangkan ‘momok’ tersebut.

“Kita tahu 40 persen dari pria asing yang datang ke Filipina, termasuk dari AS, datang untuk wisata seksual. Itu bukan sesuatu yang saya banggakan. Itu bukan sesuatu yang harus dibanggakan,” kata Thomas.

Dia menyoroti banyaknya karaoke dan klub di sepanjang Roxas Boulevard, salah satu jalan utama Manila yang disebut sebagai ‘jalur seks’. Di tempat ini pula letak kantor kedutaan AS.

“Korupsi memungkinkan perusahaan terus beroperasi. Pejabat lokal akan mencari cara lain memperoleh keuntungan. Para pejabat ini memiliki kesalahan berganda.”

Philippine Police Rescue Chinese, Vietnamese Women from Prostitution Ring —  BenarNews

Thomas memuji Filipina untuk meningkatkan upaya melawan perdagangan manusia, tetapi menekankan harus terus dilakukan dan berjanji AS akan memberi bantuan.

“Setiap warga AS yang tertangkap dan terlibat dalam kejahatan atau cybersex harus dituntut sejauh penuh hukum dan kami akan membantu (Anda),” kata Thomas katanya kepada Menteri Kehakiman Leila de Lima.

Pelacuran merupakan hal ilegal di Filipina yang merupakan negara katolik di Asia. Tetapi aktivitas perdagangan seks berkembang secara terbuka di daerah perkotaan, termasuk Manila.

Pemerintah Filipina membantah pernyataan Thomas. “Tentu saja itu adalah sesuatu yang kami ingin kami kurangi. Kami tidak yakin dari mana statistik ini berasal,” kata asisten sekretaris Pariwisata Domingo Enario kepada kantor berita AFP seperti dikutip dari news.au.com.

Juru bicara departemen pariwisata Benito Bengzon juga menekankan bahwa pariwisata seks bukan bagian dari kampanye pemerintah.

Filipina mencatat, jumlah wisatawan pada 2010 sebesar 3,5 juta orang. Pemerintah menargetkan untuk memperoleh kunjungan 6 juta wisatawan asing pada 2016.

BERITA TERKAIT